
Hari dimana dinanti para staf dapur pun tiba. Pemilihan menu baru yang akan dibuat oleh para staf dapur. Semua orang tampak antusias walaupun dilaksanakan malam hari.
Tampak terlihat beberapa peserta yang masih memasak dan ada pula sudah memulai plating. 30 menit waktu mereka untuk menyajikan masakannya. Waktu yang tersisa tinggal 5 menit lagi.
Rena dan Albian yang sejak dimulai acara berputar di dapur memperhatikan mereka memasak sudah kembali di depan meja plating.
"Saya hitung mundur ya" seru Albian ketika waktu sudah di 10 detik terakhir.
"10...9...8...7...6...5...4...3...2...1….Stop semua tangan di atas"
Sorak sorai para pendukung yang tak lain para karyawan restoran pun riuh memenuhi dapur.
Para peserta satu persatu menaruh hasil masakannya di meja plating. Rena dan Albian pun memulai penilaian.
Albian cukup puas dengan hasilnya. Memang tidak diragukan lagi kemampuan mereka.
"Hasilnya sudah ada di tangan saya. Bagi kalian yang tidak memenangkannya jangan berkecil hati. Tetap semangat terus melatih diri. Buat saya kalian sudah menjadi pemenang"seru Rena.
Para peserta terlihat gugup begitu juga dengan pendukung mereka.
"Pemenangnya adalah Gerry"
Kembali sorak sorai para karyawan restoran terdengar. Gerry sang pemenang pun bersujud syukur.
Rena dan Albian menghampiri Gerry lalu mengucapkan selamat.
"Selamat ya Ger" ucap Rena sambil berjabat tangan dengan Gerry. Disusul oleh Albian yang mengucapkan selamat.
"Selamat bro, kamu ga mengecewakan saya" ucap Albian sambil menepuk pundak Gerry.
__ADS_1
"Terima kasih bu Rena , chef Albian sudah memberikan kesempatan pada kami" kata Gerry yang matanya mulai berkaca-kaca.
Gerry merasa terharu, bagaimana tidak dengan chef sebelumnya bukan hanya dia semua staf dapur seperti tak di anggap. Merasa semua kesuksesan adalah hasil jerih payah chef. Sedangkan saat ini bersama Albian dapur terasa menyenangkan. Dan kini Albian pun memberikan kesempatan untuk staf dapur meningkatkan diri. Gerry amat merasa bersyukur.
"Sama-sama Gerry, saya hanya memberikan jalan untuk kalian berkembang. Saya melakukan ini karena yakin dengan kemampuan kalian. Dan benar saja kalian benar-benar luar biasa. Saya harus berhati-hati kayanya. Posisi saya bisa-bisa tergantikan" ucap Albian yang disambut tawa yang lainnya.
"Chef Albian ga tergantikan kok. Iya kan bu Rena?" Celetuk Adrian.
"Iya … chef Albian tetaplah chef Albian" ucap Rena yang entah mengapa merasa canggung dengan pertanyaannya Adrian.
Albian hanya tersenyum menanggapi ucapan Rena. Ia mengedikkan bahunya ketika Rena menatapnya.
Karena besok pagi adalah hari libur untuk restoran. Beberapa dari mereka masih berkumpul di restoran hingga dini hari. Mereka mengobrol dan menikmati makanan bersama.
"Saya pulang duluan ya" ucap Rena yang sudah beranjak berdiri.
"Yah bu kita barengan aja" sahut Serli.
"Iya bu…" sahut mereka serentak.
"Saya juga pamit undur diri dulu ya" ucap Albian.
"Loh chef Albian juga mau pulang?" Tanya Gerry.
"Ya ga mungkinlah chef Albian biarin Rena pulang sendirian" sahut Adrian yang di balas pukulan di belakang kepala Adrian oleh Albian.
"Aduuuh… penganiayaan nih" gerutu Adrian sambil mengusap kepalanya.
"Udah buruan kamu mau ikut pulang atau tidur di emperan?" Tanya Albian lalu beranjak berjalan mengejar Rena.
__ADS_1
"Ya iya aku ikut pulang" ucap Adrian.
"Yah ga seru nih kok kalian pada pulang?" Sahut Yanto.
"Next time kita kumpul lagi. Bye…" ucap Adrian.
"Mas hati-hati biasanya kalau ada yang berduaan yang ketiganya itu setan" seru Serli.
"Sembarangan kamu, ganteng-genteng gini disamain sama begituan" gerutu Adrian yang disambut gelak tawa lainnya.
"Yaudah mas hati-hati" ucap Yanto.
"Ok sip" jawab Adrian dan berlari menyusul Albian dan Rena.
….
"Kamu pulang juga?" Tanya Rena ketika Albian berhasil menyusul Rena.
"Mana mungkin aku biarin kamu pulang sendirian" jawab Albian.
"Aku sudah terbiasa pulang sendirian kok. Lagi pula daerah sini jam berapapun selalu ramai"
Rena dan Albian menoleh ketika mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari. Adrian datang dengan nafas yang memburu akibat kelelahan.
"Ngapain kamu lari-lari begitu?" Tanya Rena.
Adrian mengatur nafasnya terlebih dahulu. " Ya ngejar kalian lah. Aku terancam tidur di emperan kalau aku ga ikut pulang" jawab Adrian dengan nada sedikit kesal.
Rena menatap Albian meminta jawaban. Namun Albian hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum.
__ADS_1
Rena hanya geleng-geleng kepala menanggapi kelakuan mereka.
Mereka berjalan bertiga menyusuri jalan yang bisa dibilang cukup ramai. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol tentang banyak hal dan yang pasti juga diiringi candaan-candaan Albian dan Adrian.