Tentang Rasa

Tentang Rasa
Ungkapan Cinta Dan Lamaran


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan sekarang El, aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Kau lihat, Suci sangat menderita, karena aku dia mengalami semua itu El. Sekarang kau tahu bagaimana perasaanku. Jika terjadi apa-apa dengan Suci, aku tidak mau hidup lagi. Daripada hidup dalam penyesalan, lebih baik aku mati bersama dia." kata Andra sambil mencengkeram rambutnya dengan lebih erat.


"Ndra kamu jangan bodoh, kamu tidak boleh seperti ini! Suci akan kecewa jika melihat kamu selemah ini!" bentak Ella sambil menarik tangan Andra, dan memaksa lelaki itu untuk mengangkat wajahnya.


Dan Ella bisa melihat dengan jelas, bagaimana hancurnya Andra saat ini.


"Aku jauh-jauh datang kesini, hanya untuk menemui kamu. Aku meninggalkan Kairi yang masih sakit, aku juga meninggalkan Billa yang masih kecil. Aku melakukan semua itu demi kamu, aku ingin memberikan dukungan untuk kamu. Agar kamu tidak sendirian dalam melewati semua ini, kau tidak ingin menyia-nyiakan usahaku kan Ndra. Kamu pasti akan menghargaiku kan Ndra." kata Ella sambil menatap Andra.


Andra terdiam, entah apa yang sedang difikirkannya. Ella menghela nafas panjang, sebelum kembali berbicara.


"Pasti ada jalan disetiap kesulitan. Selalu ada hikmah dibalik musibah. Percayalah Ndra, apapun yang ditakdirkan Allah untuk kita, itulah yang terbaik. Serahkan semua ini pada-Nya. Jangan mengeluh, dan jangan merutuki takdir. Tetaplah dalam keyakinan, bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, Allah akan selalu mendengarkan doa kita." sambung Ella sambil tetap menatap Andra.


Andra belum bicara, hanya air matanya yang kembali menetes. Dengan perlahan Ella mengangkat tangannya, dan mengusap air mata Andra dengan kedua jemarinya.


"Menangislah dalam sujudmu, dan mintalah ampunan kepada Allah, Tuhan dari seluruh alam. Gantungkan harapanmu pada-Nya, dan yakinlah apapun yang terjadi, itulah yang terbaik." ucap Ella dengan tegas.


"Aku..."


"Pergilah, cari masjid, dan menghadaplah pada Sang Pencipta. Aku akan tetap di sini, aku akan menemani Suci." kata Ella sambil tersenyum.


Andra tak menjawab sepatah katapun, namun perlahan ia beranjak dari duduknya. Ella juga ikut berdiri, ia menatap Andra yang masih terpaku di hadapannya. Andra menunduk, kemudian ia menyeka air matanya. Lalu ia mendongak, menatap Ella yang juga sedang menatapnya.


"Terima kasih untuk waktumu El, aku akan mencoba mengikuti kata-kata kamu." ucap Andra dengan pelan.


"Tidak perlu berterima kasih, kita teman. Kemarin kamu yang menguatkan aku, tidak salah kan jika sekarang aku yang menguatkan kamu." jawab Ella sambil tersenyum.


"Kamu benar, tapi koreksi kata-kata kamu. Kita sahabat, bukan teman." kata Andra sambil membalas senyuman Ella. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Ella yang masih menatapnya.


"Kamu benar Ndra, kita sahabat. Dari dulu hingga nanti, kita hanya sahabat. Itu sebabnya perasaan kita datang dimasa yang berbeda, karena takdir kita hanya sahabat, bukan pasangan." ucap Ella dengan pelan.


Lalu Ella membalikkan badannya, ia melangkah mendekati Suci yang masih terbaring di ranjang. Anston yang saat itu sedang memeriksa detak jantung Suci, menoleh, dan menatap Ella sambil tersenyum.


"Anda sangat luar biasa, Anda bisa menenangkan Andra dengan begitu mudahnya, padahal tadi Ibunya saja tidak sanggup menenangkan dia." kata Anston.


"Saya tidak sehebat itu, hanya kebetulan saja." jawab Ella.


"Iya saya mengerti." ucap Anston. Ia tidak lagi berbicara banyak dengan Ella. Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Ella, sepertinya wanita itu tidak terlalu suka, jika masalah pribadinya diusik.


"Silakan jika ingin melihatnya, saya akan keluar dulu, sebentar lagi saya akan kembali." kata Anston sambil melangkah pergi.

__ADS_1


"Baik, terima kasih." jawab Ella sambil mengangguk.


Kemudian Ella melangkah lebih mendekat, ia berdiri tepat di sebelah Suci. Ella mengulurkan tangannya, ia menggenggam tangan Suci yang kurus, dan pucat. Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca, bayangan tentang masa lalu tiba-tiba melintas dalam ingatannya. Kehadiran Suci di sekolah waktu itu, benar-benar mematahkan hatinya. Namun kini, hatinya lebih patah saat melihat Suci terbaring lemah, dan Andra terpuruk dalam perasaan bersalah.


"Bangunlah, jika kau memang mencintai Andra! Lihatlah dia, dia terpuruk dalam penyesalan, dan perasaan bersalah. Dia sangat hancur melihatmu seperti ini." ucap Ella sambil menatap mata Suci yang masih tertutup rapat.


"Aku sangat berharap kalian bisa bersama, saling mencintai dalam ikatan yang halal. Aku sangat ingin melihatmu membuka mata, lalu tersenyum, dan mengobati luka dalam hati Andra. Dia sangat takut kehilangan kamu, dia sangat menginginkan kamu. Tidakkah kau merasa, jika sekarang dia benar-benar mencintai kamu." kata Ella sambil mengusap-usap lengan Suci, ia terus berbicara seakan wanita itu bisa mendengarkan semua ucapannya.


"Dulu aku pernah kecewa denganmu, karena kau hadir disaat hubunganku dengan Andra mulai menghangat. Tapi, sekarang aku akan lebih kecewa, kalau kau tidak membuka matamu." kata Ella.


"Apa kau ingin membuatku kecewa untuk yang kedua kalinya?"


Lalu Ella duduk di kursi, ia menopang dagunya sambil menatap tubuh Suci yang penuh dengan alat bantu. Selang beberapa detik, Ella dikejutkan oleh gerakan pelan dari jemari Suci. Ella tersentak kaget, matanya melotot menatap jemari Suci yang kini kembali diam.


"Pakah tadi hanya ilusiku saja." gumam Ella dengan pelan. Ia menyentuh jemari Suci, dan kemudian menggenggamnya, tidak ada gerakan lagi. Tangan itu tetap saja diam.


"Tapi tadi sepertinya sangat nyata." ucap Ella dengan jantung yang berdetak cepat. Ia sangat berharap, jika tadi ia tidah salah lihat.


Namun hingga beberapa menit kemudian, Suci yang tak menunjukkan gerakan apapun. Ella memejamkan matanya, sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Mungkin aku yang terlalu berharap, hingga tanpa sadar aku berhalusinasi." ucap Ella dengan pelan.


Disaat Ella sedang memejamkan matanya, ia merasakan ada gerakan di jemari Suci. Dengan cepat Ella membuka matanya, ia menatap jemari Suci yang masih ada dalam genggamannya. Jari telunjuk, dan jari tenghnya tampak bergerak pelan. Ella tersenyum lebar, ternyata semua ini bukan halusinasi.


"Dokter! Dokter!" teriak Ella.


Tak lama kemudian Anston masuk ke dalam ruangan. Sorot matanya berbinar senang saat melihat Suci sudah membuka matanya.


"Biarkan saya memeriksanya, tolong tunggu diluar!" kata Anston.


"Baik, tolong selamatkan dia, saya percaya Anda pasti bisa." jawab Ella sambil tersenyum.


"Saya akan berusaha." kata Anston sambil mengangguk.


Lalu Ella melangkah keluar ruangan. Ia menemui Sarah, dan Bu Mirna yang duduk di kursi tunggu.


"Suci sudah membuka matanya." ucap Ella sambil menatap mereka.


"Kamu serius?" tanya sarah dengan cepat, begitu terkejutnya, ia sampau beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Iya, kita doakan saja, semoga ia lekas membaik." jawab Ella.


"Alhamdulillah El, Mama sangat senang mendengarnya." sahut Bu Mirna.


"Iya Ma, aku juga sangat senang." kata Ella.


"Jika Suci selamat, Andra tidak akan hancur lagi. Aku ingin melihat dia bahagia, seperti aku, yang saat ini juga bahagia bersama orang yang kucintai." ucap Ella dalam hatinya.


***


Satu minggu kemudian.


Keadaan Suci sudah mulai membaik. Ella, dan Bu Mirna, mereka sudah kembali ke Paris, sehari setelah Suci membuka matanya. Untuk hari-hari berikutnya, Pak Luois yang terkadang datang menemui Andra. Keadaan Andra juga sudah kembali normal, melihat Suci sadar, dan ada harapan untuk sembuh, semangat Andra kembali menggebu.


Pagi ini, sang surya belum merangkak naik. Masih di ufuk timur, dengan cahaya jingganya yang mempesona. Andra mengajak Suci jalan-jalan ke taman rumah sakit. Menikmati semilirnya angin pagi, di antara bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya.


Di atas kursi rodanya, Suci menunduk sambil tersenyum. Ia bersyukur masih diberi anugerah untuk tetap hidup sampai saat ini. Dan ia juga sangat bersyukur, dengan kehadiran Andra yang memperlakukan dirinya dengan begitu hangat.


"Suci, apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Andra sambil duduk berjongkok di depan Suci.


"Aku bahagia, aku masih diberi kesempatan untuk menatap dunia. Meskipun aku tidak tahu, ini akan lama, atau hanya sementara." jawab Suci. Jujur dalam hatinya ia juga ragu, kanker darah yang ia derita sudah mencapai tingkat akut. Mungkinkah ia masih bisa disembuhkan?


"Jangan berbicara seperti itu. Yakinlah jika kamu akan sembuh, jangan pernah menyerah. Suci, kamu tidak ingin kan meninggalkan aku sendirian." kata Andra sambil menggenggam tangan Suci.


"Meski aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi aku tidak bisa melawan takdirku." jawab Suci.


"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?" tanya Andra.


"Maaf aku egois, tapi aku tidak ingin kau meninggalkan aku Ndra. Aku masih mencintai kamu, aku masih ingin bersama kamu." jawab Suci sambil menunduk.


"Biarlah kau tahu tentang semua perasaanku Ndra. Aku tidak tahu umurku akan bertahan berapa lama lagi. Disaat aku tiada, setidaknya kau sudah tahu tentang perasaanku padamu." ucap Suci dalam hatinya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan menjadi tempat sandaranmu." kata Andra dengan serius.


Suci masih diam, ia belum menjawab ucapan Andra. Lalu Andra merogoh sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah benda kecil yang Suci tidak tahu apa itu. Lalu Andra meraih tangan Suci, ia menatap wanita itu sambil tersenyum.


"Maafkan aku, aku yang bodoh, begitu terlambat dalam menyadari perasaan ini. Saat kau koma, aku sangat takut kehilangan kamu. Saat itulah aku baru sadar, jika sebenarnya aku sangat mencintaimu. Suci menikahlah denganku!" kata Andra sambil menyematkan cincin indah di jari manisnya Suci.


Suci menutup mulutnya, ia tidak percaya dengan apa yang Andra lakukan padanya. Menyatakan cinta, sekaligus melamarnya. Disatu sisi ia sangat bahagia, ia sangat mencintai Andra, dan ternyata lelaki itu juga mencintainya. Namun disisi lain ia juga sedih, dirinya kini sudah banyak kekurangan. Umurnya entah tinggal berapa lama, dan kondisinya yang penyakitan, ia akan sulit memberikan keturunan untuk Andra. Dengan keadaannya yang seperti ini, mungkinkah keluarganya Andra akan menyetujuinya?

__ADS_1


Mata Suci berkaca-kaca, ia terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Sesungguhnya, ditemani Andra disaat-saat terakhirnya itu saja sudah cukup. Sejak ia sadar dengan kondisinya yang semakin parah, ia tak berani lagi berharap untuk menikah dengan Andra.


Bersambung......


__ADS_2