
Tok! Tok! Pintu ruangan Netta diketuk.
" Masuk!" kata Netta tanpa melihat ke arah pintu.
" Permisi, Boss!" kata Max.
Deg deg! Deg deg! Jantung mereka berdua berdetak kencang. Suaranya masih sama, tetap seksi saja setelah sekian lama! batin Netta. Ponselnya berdering, nama Dewa tertera di layar ponselnya.
" Saya membawakan Boss kopi yang masih panas!" kata Max yang berdiri di depan pintu.
" Letakkan di sini!" kata Netta menunjuk mejanya.
" Halo, Dokter'!"
( Hati Max cemburu, pasti Netta sedang menelpon Dr. Dewa. Apa mereka akan jadi kekasih? Batin Max.)
" Hasil kesehatan putra anda sudah keluar!"
" Ya, Dokter! Kapan kita bisa ketemuan?"
" Besok pagi juga bisa!"
" Maaf, Boss, saya permisi!" potong Max setelah meletakkan kopi dan kue Netta di mejanya. Tapi tangan Netta dinaikkan sebagai tanda menyuruh menunggu. Max menghembuskan nafasnya malas. Dadanya terasa sesak mendengar kemesraan Netta dan Dewa. ( padahal mereka nggak ngapa-ngapain)
" Ok!"
" Ok, Nyonya greyson! Sampai jumpa!"
" Iya, Dokter!"
Dewa mematikan panggilannya.
" Saya senang sekali, jam 7 malam? Ok! Bye, Dokter!"
Netta mematikan panggilan yang memang sudah mati. Deg! Deg! Oh, My God! Ada apa dengan ku? Ckkk! Apa Pak Joko gak ada pakaian lebih besar? gerutu Netta yang dadanya jadi bergemuruh. Dia menelan salivanya, tubuhnya serasa panas dingin melihat pakaian Max yang sangat pas melekat dan memperlihatkan keliatan tubuh pria itu.
" Apa ada yang Boss perlukan?" tanya Max yang melihat Netta menatapnya tajam. Apa ada yang salah sama diriku? Batin Max melihat dirinya.
" Ehm! Saya mau kamu...belikan saya nasi campur. Tanya Pak Joko, dia tahu langganan saya!" kata Netta terbata.
" Baik, Boss!" jawab Max.
Netta mengeluarkan selembar uang 100 ribuan dan melemparnya diatas meja.
" Kamu boleh ambil kembaliannya!" kata Netta seakan merendahkan Max.
Max dengan perasaan sedih berjalan menuju ke meja Netta dan mengambil uang itu.
" Permisi, Boss!" kata Max.
" Bilang Joko suruh berikan kamu pakaian yang lebih besar! Saya tidak suka ada orang pamer di kantor saya!" kata Netta ketus.
" Kata Pak Joko ini yang paling besar, Boss!" jawab Max.
" Apa? Masak tidak..."
__ADS_1
Netta baru sadar jika OBnya rata-rata bertubuh biasa dan lebih pendek dari Max.
" Ya, sudah! Tapi jangan berkeliaran!" kata Netta lagi.
" Iya, Boss!" jawab Max.
Tok! Tok! Bersamaan itu, ada yang mengetuk pintu ruangan Netta.
" Masuk!" kata Netta.
Ternyata Aris yang mengetuk pintu, dia melihat Max dengan pakaian OB.
" Pak ...Max?" ucap Aris kasihan.
" Pak Aris!" sapa Max.
" Ada apa, Ris?" tanya Netta.
" Eh, itu, Boss! Wenny membawa laporan yang Boss minta!" kata Aris.
" Suruh masuk!" kata Netta.
" Iya!" jawab Aris yang membuka pintu dan menyuruh Wenny masuk.
" Wen! Masuk!" kata Aris.
" Iya, Pak!" jawab Wenny.
Max berjalan menuju pintu saat Wenny masuk.
" Wenny!" jawab Max.
Netta yang melihat hal itu tiba-tiba merasa kesal dan sangat tidak nyaman. Dasar pria mata keranjang! Gak bisa lihat wanita muda dan cantik, langsung aja genit! Huh! batin Netta kesal.
" Tunggu apa lagi? Aku sudah lapar!" kata Netta mengejutkan Max dan Wenny.
" Iya!, Boss, maaf" jawab Max.
" Sampai ketemu lagi, Pak!" kata Wenny tersenyum mesum.
" Iya!" kata Max membalas senyuman Wenny lalu meninggalkan ruangan Netta.
Sedangkan Wenny masih menatap Max hingga tubuh pria itu hilang. Sialan! Beraninya mereka janjian didepanku! batin Netta marah.
" Apa kamu akan berdiri terus disitu?" kata Netta kesal.
" Maaf, Boss!" jawab Wenny kaget.
Dia berjalan menunduk dan mendekati meja Netta.
" Apa yang kamu lihat?" tanya Netta tiba-tiba.
" Ya?" Weeny kaget mendapat pertanyaan yang menurutnya ambigu.
" Apa yang ada dipikiranmu saat melihat Max?" tanya Netta lagi.
__ADS_1
Wajah Wenny memerah karena malu karena dia merasa Netta tahu apa yang dia pikirkan tentang Max. Sial! Wanita ini, dia pasti punya pikiran mesum pada Max! Batin Netta.
" Kamu menyukainya?" tanya Netta dengan raut wajah kesal.
Aris yang duduk di sofa hanya diam saja mendengar percakapan keduanya tanpa berani ikut berbicara.
" Hah?" jawab Wenny terkejut karena pertanyaan Netta.
" Jawab ato aku pecat!" kata Netta lagi.
" Iy,...iya, Bos!" sahut Wenny cepat.
Aris terkejut dan merasa sedikit gemetar mendengar suara keras Bossnya.
" Iya apa?" tanya Netta.
" Iy...iya! Saya menyukai Pak Max!" jawab Wenny dengan gugup.
Wajah Netta sangat merah menahan amarah. Dia menatap wajah pegawainya itu dari atas sampai bawah.
" Berapa usiamu?" tanya Netta.
" 22 Boss!" jawab Netta.
Ckkk! 22 tahun, masih kenceng ternyata! batin Netta miris.
Wenny memang cantik, mengingatkan Netta akan dirinya saat pertama kali menggoda Max dulu. Sekarang dirinya sudah melahirkan seorang anak, pasti menurut Max tubuhnya sudah tidak seindah dulu. Ingin rasanya Netta melempar Wenny keluar dari kantornya agar tidak bisa bertemu dengan Max lagi. Apa dia juga sepertiku yang menggoda Max? Apa Dia membalas godaannya? Apa mereka...Arghhh! Gue mikir apa, sih? Kenapa juga gue perduli? batin Netta kesal.
" Ini dokumen yang Boss minta!" kata Wenny yang melihat Bosnya hanya diam saja.
" Berikan pada Aris saja dan pergilah! Jangan pacaran di kantor! Apalagi dengan teman satu kantor sampe nikah segala, saya akan pecat kalian berdua!" kata Netta sebel.
" Ya?" Wenny dan Aris terkejut dengan ucapan Bossnya.
Mana ada aturan seperti itu diperusahaan ini? Dari dulu juga nggak ada aturan gitu, malahan banyak yang nikah dengan rekan sejawatnya! Batin Wenny dan Aris.
" Apa lagi?" tanya Netta sebel, membuat Wenny terkejut.
" Eh, nggak Boss! Saya permisi!" kata Wenny lalu menyerahkan dokumennya pada Aris.
" Ingat ucapanku! Itu berlaku untuk semua pegawai disini!" teriak Netta. Aris lalu berjalan mendekati meja Netta dan meletakkan dokumen itu di sana setelah Wenny pergi.
" Umumkan peraturan itu sekarang!" kata Netta.
" I...iya, Boss!" jawab Aris.
Sial! Aku gak bisa lagi main-main sama pegawai sini! batin Aris. Dia berjalan meninggalkan Bossnya yang seenaknya sendiri membuat peraturan. Netta tersenyum penuh kemenangan, dia merasa sangat puas.
Max pergi ke restoran nasi campur langganan Netta dengan naik motor online setelah bertanya pada Joko. Pada saat di lampu merah, mereka berhenti sejenak. Sosok dari dalam mobil melihat ke arah Max yang sedang kepanasan diatas motor.
" Mom Di!" panggil sosok itu.
" Yes, Son!" sahut wanita yang dipanggil Di, yang duduk disebelahnya.
" Kenapa wajah orang itu sangat banyak bulunya? Apa dia penjahat?" tanya anak itu takut.
__ADS_1
" Mana, son?" tanya Diana kaget lalu mendekati anak itu dan melihat ke arah orang yang dilihat anak itu.