Tentang Rasa

Tentang Rasa
Kematian Adit


__ADS_3

"Andra!" panggil Bu Mirna dengan suara yang cukup keras.


Andra tersentak kaget, hingga tak sengaja, ia menumpahkan segelas air putih yang sedang dipegangnya. Bu Mirna menatap putranya dengan heran, ditanya tentang kabarnya Ella saja, Andra langsung mematung, memangnya ada apa dengan Ella?


"Kamu kenapa?" tanya Bu Mirna sambil memegang tangan Andra.


"Aku tidak apa apa Ma, tadi....tadi gelasnya licin." jawab Andra dengan gugup.


"Tadi kamu melamun, kenapa?" tanya Bu Mirna.


"Aku tidak melamun kok Ma." jawab Andra.


"Ya sudah kalau begitu jawab pertanyaan Mama, bagaimana kabarnya Ella, dia baik baik saja kan?" Bu Mirna mengulangi pertanyaannya.


"Baik, dia baik Ma, sangat baik." jawab Andra sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu." gumam Bu Mirna.


"Iya Ma. Oh ya, aku berangkat sekarang ya, nanti titip salam buat Om Adit. Aku pergi dulu Ma." ucap Andra sambil beranjak dari duduknya, ia melangkah meninggalkan meja makan dengan terburu buru.


Bu Mirna merasa ada yang aneh dengan anaknya.


"Mudah mudahan kamu memang mencintai Nadhira Ndra, dan perasaanmu untuk Ella memang hanya sebatas sahabat. Tapi aku ragu, gadis itu terlalu sempurna untuk tidak kau cintai, takutnya kamu hanya belum menyadari perasaanmu saja. Jika memang kau memiliki perasaan lain untuk Ella, semoga kau segera menyadarinya Ndra, sebelum semuanya terlambat." gumam Bu Mirna sambil menatap kepergian Andra.


****


Andra terduduk lesu di kursi kerjanya, berkas yang menumpuk dihadapannya, belum disentuh sama sekali. Andra tidak bisa fokus pada pekerjaan, fikirannya melayang jauh pada bayangan seseorang yang jauh disana.


Pertanyaan dari Ibunya, sukses membuat hatinya kacau. Kenangan demi kenangan tentang masa lalunya bersama Ella, berputar putar dalam ingatannya. Ada apa dengan dirinya?


Andra mendengus kesal, kemudian ia meraih ponselnya, dan menghubungi seseorang. Namun sayang nomor yang Andra tuju sedang tidak aktif.


"Argghhh!!" geram Andra sambil meletakkan ponselnya. Ia kecewa saat tak berhasil menghubungi Ella.


Lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkah mendekati jendela.


Andra menatap keluar, tampak suasana perkotaan yang sangat padat, dengan sinar sang surya yang mulai menyengat. Andra sedikit mendongak, menatap hamparan langit biru yang membentang luas.


Dikejauhan sana, dibawah langit yang sama, ada seseorang yang sangat ia rindukan, sedang apakah dia gerangan? kapankah dia akan kembali menginjakkan kakinya dinegara ini?


Andra menarik nafas panjang, dan menghembuskannya dengan pelan. Seperti inikah rasanya rindu?


"Cepatlah kembali El, aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin melalui hari hari bersamamu lagi. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, ternyata Om Adit adalah kekasihnya Mama, tapi sekarang beliau sedang sakit, doakan semoga cepat sembuh ya. Dan sebentar lagi aku tunangan, aku harap kamu bisa hadir diacaraku nanti." ucap Andra sambil tersenyum. Seolah ia menitipkan pesannya pada semilir angin yang sedang berhembus perlahan.


Disaat Andra masih larut dalam lamunannya, tiba tiba ada yang menyentuh bahunya.


Andra tersentak kaget, dan langsung menoleh, kekasihnya sudah berdiri disebelahnya, entah sejak kapan dia datang, Andra tidak mendengar derit pintu yang dibuka.


"Nadhira." gumam Andra dengan gugup.


"Kamu kenapa Ndra?" tanya Nadhira, ia merasa aneh dengan sikap Andra. Tadi ia berkali kali mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari Andra. Dan saat ia masuk, ternyata Andra sedang berdiri didekat jendela sambil tersenyum sendiri, entah apa yang difikirkannya, dan sekarang Andra terlihat gugup saat menyadari kehadirannya.


"Aku tidak apa apa, kamu sejak kapan datang?" jawab Andra.


"Sudah dari tadi aku mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari kamu. Lalu aku masuk, dan melihat kamu melamun disini, apa yang kamu fikirkan?" tanya Nadhira sambil menatap Andra.

__ADS_1


"Aku tidak memikirkan apa apa, aku hanya sedikit lelah, jadi aku beristirahat sebentar disini." jawab Andra sambil tersenyum.


"Beristirahat dengan berdiri didekat jendela, kamu sedikit lucu Ndra." sindir Nadhira.


Andra tidak menjawab ucapan Nadhira, ia melangkah, dan kembali duduk di kursinya.


"Duduklah!" kata Andra sambil menatap Nadhira yang terpaku didekat jendela.


"Aku selalu percaya sama kamu Ndra, aku harap kamu jangan pernah mengecewakan aku. Aku mencintai kamu, aku ingin bersama kamu selamanya." gumam Nadhira didalam hatinya.


Kemudian Nadhira duduk didepan Andra, ia memainkan ponselnya sambil menunggu kekasihnya yang sedang bekerja.


Disela sela kerjanya, Andra sempat melirik Nadhira, ia melihat wanita itu sedang asyik dengan gamenya.


"Maafkan aku Nad, aku sudah merindukan wanita selain kamu. Tapi dia adalah Ella, sahabat kita. Kamu tidak akan marah kan." ucap Andra didalam hatinya.


Andra tenggelam dalam pekerjaannya hingga waktu makan siang, masih banyak berkas yang belum ia selesaikan. Namun Andra berniat untuk menundanya, ia harus segera meninggalkan ruangan itu, dan mencari cincin bersama kekasihnya. Andra tidak mau lagi mengecewakan Nadhira, kasihan wanita itu sudah bertahan, dan bersabar atas semua sikap buruknya.


"Ayo makan siang dulu sayang, setelah itu kita mencari cincin, dan gaunnya!" ajak Andra sambil beranjak dari duduknya.


"Kamu sudah selesai?" tanya Nadhira sambil tersenyum.


"Sudah." jawab Andra sambil membalas senyuman Nadhira.


Kemudian Nadhira beranjak dari duduknya, dan mereka berjalan bergandengan keluar dari ruangan.


***


Dua jam kemudian.


Andra tersenyum saat melangkah memasuki toko itu. Ini adalah ketiga kalinya ia berkunjung ke tempat ini, yang pertama saat ia membeli kalung berliontin apel untuk Ella, dan yang kedua saat ia memesan kalung berliontin menara eiffel, juga untuk Ella. Dan yang ketiga adalah saat ini.


Seorang gadis yang cukup cantik, menyambut mereka dengan tersenyum ramah, Nadhira membalas senyuman gadis itu dengan lebih ramah. Hatinya benar benar bahagia saat ini, rasanya ia masih tidak percaya, jika sebentar lagi lelaki yang sangat dicintainya, akan menjadi tunangannya.


"Mas Andra." sapa gadis lain yang baru saja melihat mereka. Dia adalah karyawan yang paling lama di toko ini, sudah lima tahun ia bekerja disini, namanya adalah Diana.


"Iya." jawab Andra singkat.


"Mau cari apa Mas?" tanya Diana.


"Sepasang cincin." jawab Andra.


"Mas Andra mau menikah ya?" tanya Diana.


"Tunangan." jawab Andra sambil tersenyum.


"Oh begitu ya." gumam Diana sambil menunjukkan beberapa model cincin pada Andra, dan Nadhira.


Gadis itu menjelaskan satu persatu model cincin yang ia pamerkan, Andra tidak terlalu mempedulikannya, ia membiarkan Nadhira memilihnya sendiri, ia hanya menemani disebelahnya, sambil menjawab bagus, cantik, keren, saat Nadhira menanyakan pendapatnya.


Tak lama kemudian, Nadhira sudah menentukan pilihannya, sebuah cincin dengan ukiran yang sederhana, tapi cukup menarik. Andra tersenyum, menyetujui pilihan Nadhira.


"Yang ini saja ya Mbak." ucap Nadhira pada Diana.


"Baik Mbak." jawab Diana. Kemudian ia menaruh cincin itu kedalam kotak perhiasan.

__ADS_1


Dan Andra mengeluarkan kartu kreditnya, dan membayar administrasinya.


"Apa mbaknya ini adalah wanita sederhana, yang pernah Mas Andra ceritakan waktu itu?" tanya Diana sambil memberikan kotak perhiasannya.


"Wanita sederhana." gumam Nadhira sambil menatap Diana dengan penuh selidik, siapa wanita sederhana yang ia maksud?


Diana tampak salah tingkah saat Nadhira menatapnya dengan tajam.


"Aduh saya salah ya, maaf Mas Andra saya tidak sengaja." ucap Diana dengan gugup.


Andra tidak menjawab, ia hanya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Memangnya wanita sederhana itu siapa, ngomong saja jangan takut." kata Nadhira sambil mendekati Diana.


"Sa....saya juga tidak tahu Mbak." jawab Diana.


"Memangnya Andra bilang apa?" tanya Nadhira.


"Tidak bilang apa apa Mbak." jawab Diana.


"Pilih ngomong, atau aku akan lapor ke atasan kamu, agar kamu dipecat." kata Nadhira dengan nada kesal.


"Jangan Mbak, saya butuh pekerjaan ini." jawab Diana.


"Kalau begitu ngomong." bentak Nadhira. Ia yakin jika wanita sederhana itu bukan dirinya, karena dari dulu sampai sekarang, ia sangat glamour dalam penampilan.


"Mas Andra pernah membeli kalung disini, katanya untuk wanita yang sederhana." jawab Diana sambil menunduk.


"Siapa namanya?" tanya Nadhira.


"Saya tidak tahu Mbak." jawab Diana.


Nadhira mendengus kesal, sambil melangkah pergi meninggalkan toko. Andra langsung mengekorinya dibelakang. Andra tahu jika Nadhira sangat kesal, terbukti saat ia menutup pintu mobil, suaranya terdengar cukup keras ditelinga Andra.


"Jangan marah sayang, itu hanya masa lalu." ucap Andra saat mereka sudah duduk bersebelahan didalam mobil.


"Siapa dia?" tanya Nadhira.


"Hanya masa lalu." jawab Andra.


"Aku ingin tahu namanya." ucap Nadhira. Ia sangat penasaran dengan wanita itu, pasti sangat istimewa bagi Andra, buktinya sampai dibelikan kalung segala.


"Dia...." belum sempat Andra meneruskan kalimatnya, tiba tiba ponselnya berdering, ternyata Ibunya yang menelfon.


"Hallo Ma." sapa Andra.


"Saya Bik Surti Tuan." jawab Bik Surti.


"Ada apa Bik?" tanya Andra dengan was was, kenapa Bik Surti menelfonnya dengan ponsel Ibunya.


"Nyonya sekarang dirumah sakit Tuan, Nyonya pingsan, saat dokter mengatakan kalau Tuan Adit meninggal." jawab Bik Surti.


"Apa...." teriak Andra kaget.


Sontak Nadhira langsung menatap Andra, dari raut wajah, dan nada bicaranya, sepertinya Andra mendapatkan kabar buruk.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2