Tentang Rasa

Tentang Rasa
Bonus Chapter 1


__ADS_3

Sang fajar baru saja menyingsing di kaki langit timur. Cahaya jingganya menyemburat indah, mewarnai mega-mega yang ada di sekitarnya.


Ella menyibakkan tirai kamarnya lebar-lebar, menatap fajar yang terlihat samar-samar, memandang menara besi yang masih tetap menjulang tinggi.


Lima tahun sudah berlalu, sudah selama itu Ella hidup di kota impian. Sebuah kota yang menjadi tempat, dimana Menara Eiffel berdiri dengan kokohnya.


Ella mengulas senyuman manis di bibir ranumnya, hatinya berdesir setiap kali mengingat tentang kisah cintanya. Seorang Kairi Da Vinci, menyatakan cintanya, dan kini menjadi pasangan hidupnya, benar-benar anugerah terindah yang pernah Tuhan kirimkan padanya.


Puas menatap keindahan pagi, Ella melangkah mendekati ranjang. Sang suami masih terlena dalam mimpi. Tubuh kekarnya bersembunyi di balik selimut tebal, mata yang menyimpan manik biru, kini masih tertutup rapat, hanya bulu lentik yang tampak menghiasi kelopaknya.


Dengan senyuman yang masih mengembang, Ella duduk di sebelah suaminya, menatap wajah tampannya yang tak pernah pudar, meski usia semakin menua. Perlahan Ella mengusap rahangnya, ia merasakan bulu-bulu halusnya yang serasa menggelitik di telapak tangannya.


Kairi menggeliat pelan, kala merasakan hangat tangan Ella yang menyentuh wajahnya. Ella tersenyum, ia benar-benar merasa hidupnya begitu sempurna. Setiap pagi ia bisa menatap wajah tampan bak malaikat. Setiap tidurnya ia ditemani sosok lelaki yang memiliki sejuta pesona.


"Kebiasaanmu masih tidak berubah Gabriella," ucap Kairi dengan suara yang serak, seraya tangannya menggenggam jemari Ella yang menempel di rahangnya.


"Kau, kau sudah bangun Kai?" tanya Ella dengan pipi yang memerah.


Meskipun sudah bertahun-tahun ia hidup bersama Kairi, namun kenyataannya lelaki itu selalu saja membuatnya merona.


Apakah seperti ini yang disebut cinta?


"Berbaringlah!" kata Kairi.


"Tidak, aku mau masak Kai," jawab Ella.


"Berbaringlah sayang!" kata Kairi sambil menatap Ella.


"Tidak."


"Sayang," ucap Kairi sambil tersenyum.


Perlahan Ella mulai merebahkan tubuhnya, terlalu sulit untuk menolak keinginan si mata biru itu. Kini mereka saling berhadapan, dengan jarak yang sangat dekat.


Kairi melingkarkan tangannya di pinggang Ella, dan membawa wanita ke dalam pelukannya.


Ella tak menolak, ia justru menyandarkan kepalanya di dada Kairi.


"Kai, aku mau masak, kau hari ini bekerja, kan?" tanya Ella, saat mereka sudah berpelukan untuk beberapa saat lamanya.


"Kan ada Bibi," jawab Kairi.


"Aku lebih suka, jika kau makan masakanku," ucap Ella.


Mereka memang ditemani dua orang pelayan, namun mereka jarang memasak, karena Ella yang selalu mengerjakan tugas itu. Melihat Kairi dengan lahap menikmati masakannya, adalah pemandangan yang menyenangkan bagi Ella.


"Sekali saja, aku nyaman dengan posisi seperti ini," ucap Kairi sambil mengeratkan pelukannya.


Ella tersenyum dalam dekapan Kairi, pelukannya memberikan rasa nyaman, dan tentram.


Setelah cukup lama saling berpelukan erat, kini Ella kembali membuka suara.


"Kai!" panggil Ella.


"Hmmm," gumam Kairi.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," ucap Ella dengan senyum manisnya. Tangannya menggenggam erat saku piyamanya, di dalam sana ada sebuah benda kecil yang membuatnya hatinya berbunga-bunga.


"Oh ya, apa itu?" tanya Kairi tanpa melepaskan pelukannya.


"Lepaskan aku, dan aku akan menunjukkannya padamu," jawab Ella.


Lalu Kairi melepaskan pelukannya, dan menatap istrinya lekat-lekat.


"Apa sayang?" tanya Kairi dengan tidak sabar.


"Duduklah!"


"Seperti ini saja sayang," jawab Kairi sambil menguap.


"Duduk Kai," kata Ella sambil bangkit dari tidurnya. Mau tidak mau, Kairi mengikutinya. Ia ikut bangkit, dan kini ia duduk saling berhadapan dengan istrinya.


"Apa sayang?" tanya Kairi untuk yang kedua kalinya.


Ella tersenyum, lalu ia merogoh benda pipih yang sejak tadi ia simpan dalam sakunya. Ella menggenggam benda itu dengan erat, dan menunjukkannya pada Kairi.


"Apa kau menyukainya Kai?" tanya Ella sambil tersenyum lebar.


Kairi membelalakkan matanya, ia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benarkah Tuhan kembali menitipkan anugerah dalam rumah tangga mereka?


"Sayang kau, kau hamil, kau hamil Gabriella?" tanya Kairi dengan cepat.


"Iya, ada adiknya Bylla di sini Kai," jawab Ella sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Terima kasih, terima kasih Ya Allah," ucap Kairi sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu ia memeluk istrinya dengan sangat erat.


"Aku juga tidak menyangkanya Kai, kamu tahu, aku tadi sangat bahagia saat melihat garisnya ada dua." Ella bicara sambil tersenyum riang.


"Kali ini aku tidak akan meninggalkanmu Gabriella. Aku tidak peduli meskipun ada pekerjaan yang menggiurkan, aku akan tetap di sini menemani kamu. Maafkan aku yang dulu tidak bisa menemanimu saat mengandung Bylla, sekarang biarkan aku memperbaiki kesalahanku sayang," ucap Kairi dengan panjang lebar.


"Kai, itu bukan salah kamu, itu musibah. Tidak perlu memperbaiki, karena kamu adalah yang terbaik bagiku," jawab Ella dengan sorot mata yang berbinar senang.


"Tapi aku merasa bersalah sayang, karena mementingkan pekerjaan, akhirnya semua itu terjadi."


"Tidak Kai, itu adalah takdir. Sudah ya, jangan membahas masa lalu," ucap Ella. Ia tak ingin mengingat hari kelam itu, air mata selalu menitik setiap kali ingatannya melintas pada masa itu.


"Baiklah," jawab Kairi sambil menghela nafas panjang.


"Sayang!" panggil Kairi sambil melepaskan pelukannya.


"Hari ini aku tidak pergi bekerja, aku akan mengajak kamu jalan-jalan," kata Kairi sambil menatap istrinya.


"Kemana?"


"Ke suatu tempat yang selalu kau suka. Sebuah tempat yang menjadi awal kisah kita." Kairi menjawab pertanyaan Ella sambil tersenyum lebar.


"Anak Papa, tumbuh dengan baik ya di sana. Jangan nakal, dan cepatlah besar. Papa sangat menantikan kehadiran kamu. Kelak kau akan bermain dengan seorang kakak yang sangat penyayang," kata Kairi sambil mengusap perut Ella dengan lembut.


Kemudian ia menunduk, dan menciumnya cukup lama.


Ella tersenyum haru, seindah ini rasanya dicintai. Perlahan ia menggerakkan jemarinya, dan mengusap rambut kecoklatan milik Kairi.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Kai."


"Aku juga mencintaimu sayang, dan cinta ini tak akan pernah lekang oleh waktu. Cinta ini akan selalu ada, hingga batas umurku telah tiba," jawab Kairi sambil mengangkat wajahnya, dan menatap Ella lekat-lekat. Ella tersipu malu, saat menatap pantulan dirinya di dalam mata biru milik Kairi.


***


Semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi, berpadu dengan sinar surya yang mulai menghangat.


Dua insan sedang duduk bersama di atas bangku panjang, di tengah taman. Sesekali mereka berbincang, sesekali juga tertawa, kala menatap kelucuan tingkah bocah yang ada di hadapannya.


Bocah cantik berumur lima tahun itu sedang berlarian kesana kemari, memetik bunga-bunga yang tumbuh mekar di sana.


"Aku tidak pernah menyangka, kisah hidupku akan dimulai dari tempat yang kuimpikan. Dan bahkan sekarang aku menghabiskan keseharianku di tempat ini. Rasanya ini seperti mimpi Kai," kata Ella sambil menatap menara besi yang menjulang tinggi di hadapannya.


"Aku senang bisa membuatmu bahagia Gabriella, kau tahu, dulu aku sangat sakit waktu melihatmu berjuang sendirian di London. Kala itu, aku sangat ingin menolongmu, tapi kau sangat keras kepala, kau selalu menolaknya," ucap Kairi.


"Tidak bagus menggantungkan hidup pada orang lain," sahut Ella sambil tertawa.


"Aku bukan orang lain."


"Saat itu kau masih orang lain."


"Sayang!"


"Hmmm."


"Sejak kapan kau mulai jatuh cinta padaku?" tanya Kairi sambil menatap Ella.


"Entahlah, aku tidak tahu Kai. Yang jelas, sejak bertemu denganmu waktu tender itu, hatiku selalu berdebar-debar, aku tidak tahu itu cinta atau bukan," jawab Ella.


"Waktu dengan Andra, apa hatimu juga berdebar-debar?" tanya Kairi.


"Jangan menyebut nama Andra, nanti ujung-ujungnya kau akan cemburu. Itu masa lalu Kai, dia hanya sahabatku."


"Aku tidak cemburu sayang, aku sekadar ingin tahu," ucap Kairi.


"Terserah kau saja," kata Ella sambil memutar bola matanya.


"Aku kagum dengan persahabatan kalian," ucap Kairi setelah hening untuk beberapa saat lamanya.


Ella tidak menjawab, dia hanya menoleh, dan menatap Kairi lekat-lekat.


"Jarang sekali persahabatan bisa sampai selama itu, saling mendukung, dan saling memberikan pengaruh positif. Padahal biasanya persahabatan akan memudar, ketika perasaan mulai berperan," kata Kairi dengan pelan.


"Apa gunanya memutus persahabatan, hanya karena sebuah perasaan. Cinta itu datangnya dari hati, kita tidak bisa memaksa kemana akhirnya hati akan memilih. Percuma membenci, jika memang rasa itu tidak ada, apa yang bisa dikata. Takdir itu selalu indah Kai, jika kita bisa memandangnya dari sisi yang baik. Aku pernah kecewa, tapi dari situ, aku bisa menemukan jalan untuk menemukanmu. Dan kau, kau jauh lebih indah, daripada hal yang mengecewakan aku dimasa lalu," jawab Ella sambil tersenyum, seranya menggenggam jemari Kairi dengan lembut.



Kisah tentang Salsabylla Dela Vinci.


Sudah mulai publish ya!!


Jika berkenan silakan mampir, aku tunggu saran dan dukungannya.


Terima kasihh!!

__ADS_1


__ADS_2