Tentang Rasa

Tentang Rasa
Kenyataan Pahit Tentang Suci


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, namun Andra masih duduk termenung di kursi kerjanya. Setelah Vino pergi, ia berdiam diri sambil menopang dagunya. Bingung, resah, gelisah, marah, juga sedih semuanya bercampur menjadi satu, dan mengacaukan hatinya. Nadhira dan Vino akan menikah, dan mereka mengundangnya. Sebenarnya Andra sangat enggan untuk datang, namun ia juga merasa tidak enak dengan Vino, mereka bersahabat dekat, masa iya Andra tidak datang dipesta pernikahannya. Tapi mau datang, dengan siapa ia kesana, tidak mungkin satang sendirian, memalukan.


Saat Andra masih larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu ruangan kembali diketuk. Andra mendengus kesal, siapa yang berani mengganggunya disaat hatinya tidak nyaman.


"Masuk!" teriak Andra.


Pintu ruangan terbuka, dan ternyata yang datang adalah Nafa. Wanita cantik yang sudah lama bekerja di kantornya.


"Permisi Pak Andra, ini ada kiriman makan siang dari Pak Louis. Beliau ada rapat diluar, dan tidak bisa makan siang bersama Anda." ucap Nafa sambil meletakkan makanannya diatas meja.


"Iya." jawab Andra dengan singkat.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak." kata Nafa sambil melangkah pergi.


"Tunggu Nafa!" teriak Andra.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Nafa sambil menoleh, menatap Andra.


"Duduk!" perintah Andra.


Nafa menurut, ia duduk di kursi, didepan Andra.


"Kau sudah menikah?" tanya Andra tanpa basa basi.


"Belum Pak." jawab Nafa sambil menggeleng.


"Sudah punya kekasih?" Andra kembali bertanya.


"Beluk Pak, kenapa ya?" Nafa balik bertanya.


"Saya butuh bantuan, saya butuh pasangan untuk menghadiri pernikahan mantan. Saya akan menaikkan gaji kamu dua kali lipat, dengan syarat kamu harus menenami saya, dan berpura-pura menjadi pacar saya." kata Andra sambil menatap Nafa.


"Dia adalah wanita yang anggun, dan cantik. Cukup layak untuk menjadi pasanganku. Tidak mungkin kan aku datang ke pernikahan Nadhira sendirian." batin Andra dalam hatinya.


"Permintaan Pak Andra aneh sekali, dan kenapa harus aku. Bisa hancur reputasiku kalau menjadi pasangannya Pak Andra. Pak Andra terkenal sangat playboy, bisa-bisa aku tidak laku, jika orang tahu aku pernah menjadi pasangannya." ucap Nafa dalam hatinya.


"Maaf Pak saya tidak bisa." ucap Nafa dengan pelan.


"Kenapa?" tanya Andra sambil mengernyitkan keningnya.


"Saya takut Pak, kalau nanti orang-orang menganggapnya kita benar-benar menjalin hubungan. Itu tidak baik buat saya. Nanti kalau ada yang menyukai saya, mereka akan minder, karena saya dekat dengan Pak Andra. Akhirnya mereka menjauh, dan saya jadi gagal mendapatkan jodoh Pak." jawab Nafa dengan panjang lebar.


"Astaga ada apa dengan wanita ini, kenapa fikirannya bisa sejauh itu." gerutu Andra dalam hatinya.


"Iya sudah kalau begitu, silakan keluar!" kata Andra sambil mengibaskan tangannya.


"Pak Andra marah?" tanya Nafa.


"Tidak."


"Saya tidak dipecat kan Pak, saya juga tetap digaji kan Pak?" tanya Nafa. Melihat wajah Andra yang sedikit kusut, Nafa tahu jika bosnya itu sedang kesal.


"Tidak, asalkan kamu keluar sekarang juga. Paham!" kata Andra sambil menatap Nafa dengan tajam.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Nafa sambil melangkah pergi.


"Untung saja cuma diusir keluar, tidak sampai dipecat. Lagipula ada-ada saja sih Pak Andra ini. Hanya datang ke pernikahan mantan kan, untuk apa repot-repot mencari pasangan, aneh." batin Nafa sambil berjalan menuju ruangannya.


"Ckk, terus bagaimana ini. Sama siapa aku datang ke pernikahannya Vino. Semuanya menyebalkan!" gerutu Andra sambil memijit pelipisnya.


Andra melirik kotak makanan yang berada diatas meja, ia meraihnya, dan kemudian membukanya dengan pelan.


"Papa sangat perhatian, meskipun aku bukanlah anak kandungnya. Aku jadi ingat Ayah, dulu Ayah juga sangat perhatian padaku, tapi aku tak pernah menghargainya. Aku selalu saja menganggapnya sebagai bawahan." ucap Andra sambil mengaduk-aduk makannya.


Mengingat nasibnya yang sangat pahit, ia jadi tidak bernafsu untuk menyantap makanannya.


Cukup lama Andra terdiam, sambil menopang dagunya, dan menatap makanan yang terbuka dihadapannya. Dan beberapa menit kemudian, ia dikagetkan oleh suara ponselnya yang berdering. Andra meliriknya dengan malas, ternyata Pak Louis yang menelfonnya. Lalu Andra meraih ponselnya, dan mengangkat telfonnya.


"Hallo Pa." sapa Andra.


"Hallo Andra, makanannya sudah sampai kan?" tanya Pak Louis.

__ADS_1


"Sudah Pa, sudah aku makan. Terima kasih ya Pa." jawab Andra dengan sedikit gugup.


"Iya, maaf ya Papa tidak bisa menemani kamu. Ini Papa sedang rapat, baru saja selesai." kata Pak Louis.


"Iya Pa tidak apa-apa. Papa sudah makan belum?" tanya Andra.


"Belum, setelah ini Papa akan makan." jawab Pak Louis.


"Oh begitu, jangan sampai telat makan ya Pa." ucap Andra.


"Iya. Ya sudah Papa tutup ya telfonnya."


"Iya Pa."


Andra meletakkan kembali ponselnya, ia menatap makanan dihadapannya dengan perasaan bersalah. Papanya saja belum makan, namun beliau sudah mengirimkan makanan untuknya. Dan dirinya, malah mengabaikan makanan itu sampai dingin. Anak macam apa dia. Lalu Andra menyendok makanannya, dan menyuapnya kedalam mulut. Ia tidak peduli walaupun makanan itu sudah dingin, ia harus menghabiskannya, ia harus menghargai perhatian dari Papanya.


***


Andra melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. Baru pukul 03.00 sore, namun ia sudah sangat penat, ia sudah tidak sabar untuk meninggalkan kursi kerjanya. Kemudian Andra membereskan mejanya, dan beranjak dari duduknya. Ia menyambar kunci mobilnya, dan melangkah meninggalkan ruangannya.


Andra berjalan menuju parkiran, ia masuk kedalam mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatam sedang. Ia tidak langsung pulang, melainkan ia akan mampir sebentar ke pemakaman. Ia ingin mengunjungi Ayahnya yang sudah terbaring dibawah tanah.


Sekitar setengah jam perjalanan, Andra menghentikan mobilnya didepan pintu masuk TPU Kota Surabaya. Andra keluar dari mobilnya, dan melangkah menuju pemakaman Ayahnya.


Andra terus berjalan, dan tak lama kemudian dia berpapasan dengan seorang wanita berpakaian hitam lengkap dengan kerudungnya. Wajah wanita itu terlihat familiar, sepertinya Andra pernah mengenalnya, tapi siapa? Antara ingat, dan tidak Andra terus menatap wajah wanita itu.


"Andra!" panggil wanita itu sambil melepaskan kaca mata hitamnya.


Andra tersentak, kini ia sudah ingat siapa wanita itu. Dia adalah Suci, wanita cantik yang dulu pernah menjadi bagian dari masa lalunya.


"Suci, kamu kenapa di sini?" tanya Andra.


"Aku mengunjungi seseorang yang sudah damai dalam tidurnya, kau sendiri kenapa di sini?" Suci balik bertanya.


"Aku ingin mengunjungi Ayahku." jawab Andra.


"Oh."


"Bagaimana kabarmu?" tanya Andra, melihat Suci yang terus menatapnya, rasanya tidak enak jika ia langsung melangkah pergi begitu saja.


"Aku juga baik. Kau sendirian?" Andra kembali bertanya.


"Iya." jawab Suci sambil mengangguk.


"Tidak bersama suami?" tanya Andra, sudah sangat lama mereka tidak pernah bertemu, pasti sekarang Suci sudah menikah. Dia pernah hamil, jadi tidak mungkin jika sampai sekarang Suci masih sendiri.


"Suami yang mana Ndra, aku belum pernah menikah." jawab Suci sambil tertawa.


"Benarkah, lalu lelaki yang waktu itu?" tanya Andra.


"Om Jimmy maksudmu? Dia sudah punya keluarga Ndra, lagipula aku juga tidak punya hubungan apa-apa dengan dia." jawab Suci sambil menghela nafas panjang.


"Jadi lelaki itu tidak mau bertanggungjawab. Dia sudah menghamili Suci, tapi tidak mau menikahinya. Benar-benar pria berengsek." batin Andra dalam hatinya.


"Jadi dia tidak bertanggungjawab?" tanya Andra.


"Bertanggungjawab untuk apa?" Suci balik bertanya.


"Bukankah dia yang sudah..." ucap Andra.


"Banyak hal yang tidak kamu tahu Ndra, dan aku rasa kamu tidak perlu tahu. Minggirlah, aku mau lewat." sahut Suci dengan cepat. Ia tidak memberi kesempatan pada Andra untuk meneruskan kalimatnya. Ia tahu apa yang akan Andra ucapkan, itu menyangkut tentang masa lalunya yang menyakitkan.


"Tunggu Suci!" kata Andra sambil memegang lengan Suci.


"Ada apa Ndra?"


"Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Andra.


"Tidak penting Ndra. Minggirlah, biarkan aku lewat. Aku harus segera pulang." ucap Suci sambil berusaha melepaskan pegangan Andra.


"Percuma kamu tahu Ndra, tidak akan pernah merubah keadaan. Kamu hanya menyukai tubuhku, kamu tidak pernah menyukaiku dengan hatimu. Perasaanmu yang sesungguhnya bukan untukku Ndra." batin Suci sambil menunduk.

__ADS_1


"Suci tunggu!" kata Andra sambil tetap memegang lengan Suci.


Suci tidak menjawab, ia hanya menatap Andra dengan nanar. Mata beningnya tampak berkaca-kaca, sepertinya ada hal menyakitkan yang berusaha ia sembunyikan.


"Jelaskan apa maksudmu? Aku merasa kau menyembunyikan sesuatu Ci." ucap Andra sambil menatap Suci.


"Tolong jangan desak aku Ndra." jawab Suci dengan pelan.


"Aku tidak akan mendesakmu, jika itu tidak ada hubungannya denganku. Sekarang jawab aku, yang kau sembunyikan, berhubungan denganku atau tidak?" tanya Andra sambil memegang kedua bahu Suci.


Suci terdiam sambil menggigit bibirnya. Ia kesulitan menjawab pertanyaan Andra.


"Suci jawab aku!" kata Andra.


Namun Suci masih tetap terdiam, ia malah memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Andra.


"Jika kau diam, berarti itu memang ada hubungannya denganku. Apa aku benar Suci?" tanya Andra.


"Untuk apa kau menanyakan hal itu sekarang Ndra, bukankah dulu kau sudah mencari sendiri, kebenarannya seperti apa. Jika dulu kau tidak percaya padaku, untuk apa sekarang kau masih bertanya. Jika aku menjawabnya, apa kira-kira kau akan percaya?" kata Suci dengan nada yang sedikit tinggi.


Andra tersentak kaget, apa maksudnya ini?


"Katakan dengan lebih jelas Suci! Kali ini aku akan percaya padamu." kata Andra sambil tetap menatap Suci.


Suci melepaskan tangan Andra yang sedang memegang bahunya. Lalu ia merogoh sesuatu dari dalam tas selempangnya. Ternyata yang ia ambil adalah dompet, kemudian Suci mengambil sesuatu dari dalam dompet itu. Sebuah kertas putih yang dilipat kecil, yang kemudian ia serahkan pada Andra.


"Bacalah!" kata Suci sambil menatap Andra.


Sambil mengernyit heran Andra meraih kertas itu. Lalu ia membukanya dengan cepat, ia sangat penasaran dengan apa yang diberikan Suci padanya.


Tubuh Andra seakan membeku saat itu juga, kala matanya menatap tulisan demi tulisan yang terukir rapi diatas kertas itu. Lima tahun silam, Suci Regyna Hilmy melahirkan seorang bayi lelaki yang diberi nama Bintang Anggara Hilmy di RSU Kota Surabaya. Bukan tempatnya, ataupun nama bayinya yang membuat Andra terpaku, melainkan hasil tes DNA.


Dalam lembaran itu tertulis jelas, bahwa Andra Dwi Anggara adalah ayah biologis dari bayi yang bernama Bintang Anggara Hilmy. Mata Andra terus menatap lembaran itu, berharap ada kesalahan dalam penglihatannya. Tapi tidak, berkali-kali Andra membacanya, bunyi tulisan itu tetaplah sama. Lalu ia menatap stempel resmi yang berada dipojok atas, itu artinya lembaran ini benar-benar diberikan oleh rumah sakit, bukan hanya rekayasa perorangan saja.


"Jika kau tidak percaya, coba kau datangi rumah sakit itu, dan tanyakan kebenarannya. Kau tahu kan, aku bukan jajaran orang paling kaya di Indonesia, jadi aku tidak akan mampu menyuap rumah sakit sebesar itu, hanya demi sebuah tulisan." sindir Suci. Menatap Andra yang terpaku cukup lama, Suci yakin jika Andra meragukan kenyataan yang sebenarnya.


"Aku percaya, tapi...tapi dulu aku selalu menggunakan pengaman, jadi bagaimana bisa seperti ini. Dan kenapa dulu kau tidak bilang padaku?" kata Andra dengan gugup.


"Apa maksudmu Ndra? Aku sudah bilang padamu, tapi kamu yang tidak percaya padaku. Bahkan kamu mengira aku hamil dengan Om Jimmy. Aku tahu, kau hanya menyukai tubuhku, kau tidak pernah tulus mencintaiku. Itu sebabnya kau tidak pernah tahu, dengan apa yang aku alami. Pahit manisnya hidupku, kau tidak pernah peduli Ndra." ucap Suci sambil menatap Andra dengan tajam.


"Kau bilang kita kekasih, tapi sebenarnya bukan Ndra, aku hanya seperti baby sugar kamu. Asalkan aku terlihat cantik, terlihat sexi, dan bersedia tidur dengan kamu. Sudah, kau tidak peduli lagi dengan yang lainnya. Kau tidak mau tahu dengan hidupku, dengan masalahku, ataupun dengan kesulitanku. Yang ada dalam fikiranmu hanyalah tidur, tidur, dan tidur." sambung Suci sambil meneteskan air matanya.


"Suci maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu. Aku...aku..." ucap Andra.


"Sudahlah, aku juga yang bodoh. Begitu mudahnya jatuh kedalam rayuan lelaki seperti kamu Ndra. Dan lebih bodohnya lagi, aku juga mau tidur denganmu, disaat kamu sedang mabuk berat. Aku memang tidak lebih dari pelampiasan saja, buktinya kau juga lupa bahwa kita pernah melakukannya tanpa pengaman, dan kau mengeluarkannya didalam." kata Suci.


Andra tersentak kaget. Ia teringat pada suatu malam, ia sedang mabuk berat bahkan sudah tidak sanggup untuk pulang. Ia merasa seperti ada wanita yang menolongnya, dan mengantarnya ke apartemen. Lalu samar-samar ia juga mengingat, kalau dirinya melakukannya bersama wanita itu. Namun saat ia bangun keesokan harinya, ia hanya seorang diri, dan tak mendapati sosok wanita disebelahnya. Andra juga masih berpakaian lengkap, jadi ia menganggap bayangan itu hanyalah ilusinya saja, bukan kejadian nyata.


Namun sekarang Andra juga menganggap dirinya bodoh. Jika memang ilusi, seharusnya ia masih berada di club malam, bukan di apartemennya. Dan lagi, waktu itu hanyalah Suci yang bisa keluar masuk kedalam apartemennya. Ahh, kenapa dia bisa sebodoh ini, kenapa ia tidak bisa berfikir dengan logikanya.


"Kenapa waktu itu kau langsung meninggalkan aku, tanpa membangunkan aku terlebih dahulu?" tanya Andra sambil mengusap wajahnya. Ternyata Ella benar, mabuk-mabukan bisa mengakibatkan kesalahan yang sangat fatal.


"Aku pergi, karena Papa menelfonku. Perusahaan yang Papa bangun sejak dulu mengalami kebangkrutan. Aku tidak tahu siapa yang menjebaknya, yang jelas Papa bangkrut, dan kita nyaris menjadi gelandangan. Aku tidak menemui kamu, karena aku sibuk, aku kelabakan mencari bantuan kesana kemari demi menyelamatkan perusahaan Papa." jawab Suci sambil mengusap air matanya.


"Saat keluargaku dalam kesulitan, semua orang pergi menjauh. Rekan bisnis Papa, teman Mama, dan juga sanak saudara, mereka tidak ada yang peduli dengan Papa. Mereka asyik sendiri dengan dunianya, tanpa peduli dengan kesulitan kita. Hanya Om Jimmy, satu-satunya orang yang mau membantu Papa. Dia adalah teman dekat Papa, dan dialah orang yang mengulurkan tangannya, dan membantu kita untuk bangkit kembali." sambung Suci.


Andra masih diam, ia membiarkan Suci menjelaskan tentang masa lalunya.


"Mendapati kenyataan bahwa bisnisnya bangkrut, Papa sempat drop, dan dia dirawat di rumah sakit. Itu sebabnya hanya aku yang yang bekerja dengan Om Jimmy. Kau mendapatkan fotoku saat keluar masuk hotel bersama Om Jimmy. Itu tidak seperti yang kamu kira Ndra, beberapa hotel itu milik Om Jimmy, dan aku kesana bersama dia itu untuk urusan kerja, bukan yang lainnya." sambung Suci sambil menatap Andra.


"Kenapa dulu kau tidak menjelaskannya Suci, kenapa kau menyimpan semuanya sendirian?" ucap Andra sambil menggenggam tangan Suci.


"Bagaimana caranya aku menjelaskannya padamu Ndra, kau sudah jalan dengan wanita lain, disaat aku tidak menemuimu hanya beberapa hari saja. Aku sedang kacau waktu itu, bahkan aku tidak menyadari, jika ada janin yang mulai tumbuh dalam perutku. Itu sebabnya aku mengabarimu sedikit terlambat. Mungkin kedatanganku waktu itu sedikit mengagetkan, tapi aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Disaat keluargaku sedang diuji, aku malah mengalami hal sepahit itu, aku sangat kacau Ndra. Itulah kenapa waktu itu aku datang dengan penuh emosi, karena aku sangat terluka Ndra." kata Suci sambil tetap menangis.


Andra mengeratkan genggamannya, sambil menatap Suci dengan lekat-lekat.


"Aku berharap kau bisa menikahiku, tapi ternyata semua itu hanya menjadi harapan hampa. Kau malah menemukan fotoku bersama Om Jimmy. Semua kebenaran yang kau bawa sangat memojokkanku Ndra, aku tidak kuasa lagi untuk menuntut tanggungjawabmu. Jadi aku menyerah, aku tidak lagi mengejar kamu. Karena kufikir percuma juga menikah, jika kau sama sekali tidak mencintaiku." sambung Suci.


"Maafkan aku Suci, maafkan aku. Lalu sekarang dimana anak kita?" tanya Andra sambil mengusap air mata Suci.


"Dia sudah damai dalam tidurnya. Aku memang menyayanginya, tapi ternyata Tuhan lebih sayang padanya. Dialah seseorang yang baru saja aku kunjungi Ndra." jawab Suci sambil menunduk. Air matanya menetes semakin deras, kala mengingat tentang anaknya.

__ADS_1


"Andai saja waktu itu kamu ada untukku Ndra, mungkin sekarang dia masih hidup. Dia lahir saat keluargaku masih dalam masa sulit, aku tidak punya biaya yang cukup untuk mengobatkannya hingga sembuh." batin Suci dalam hatinya.


Bersambung......


__ADS_2