
"Nadhira!" panggil Vino sambil memegang lengan Nadhira.
"Kenapa?" tanya Nadhira dengan tatapan heran.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Vino balik bertanya.
"Tentu saja boleh." jawab Nadhira sambil tersenyum.
"Kamu terlihat murung, Andra tidak macam-macam kan padamu?" tanya Vino dengan hati-hati.
"Ap...apa maksud kamu?" tanya Nadhira dengan gugup.
"Aku hanya bertanya, kalau kamu keberatan, dan tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa. Kita berangkat saja yuk!" ajak Vino sambil melangkahkan kakinya. Tampaknya Nadhira tidak mau mengatakan apapun padanya, tapi ya wajar saja, dia bukan siapa-siapanya Nadhira.
Namun langkah Vino terhenti, saat ia sadar jika Nadhira masih terpaku ditempatnya. Vino menoleh dan kembali menghampiri Nadhira yang sedang menunduk.
"Kamu kenapa?" tanya Vino.
"Aku tidak apa-apa." jawab Nadhira dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan saja.
"Nadhira!" panggil Vino sambil memegang kedua bahu Nadhira.
"Aku mau ke kamar saja." ucap Nadhira sambil melangkahkan kakinya, ia meninggalkan Vino yang masih berdiri mematung ditempatnya.
"Nadhira tunggu!!" teriak Vino sambil berlari mengejar Nadhira.
Namun Nadhira tak menghiraukannya, ia mempercepat langkahnya dan menuju ke kamarnya.
"Nadhira!" panggil Vino sambil meraih tangan Nadhira. Mereka sudah sampai didepan pintu kamar Nadhira.
"Lepaskan aku Vin." ucap Nadhira, suaranya terdengar serak, dan Vino tahu kalau Nadhira sedang menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Vino sambil menatap Nadhira.
"Aku tidak apa-apa." jawab Nadhira sambil menunduk.
"Kamu masih menganggap aku teman kan Nad." kata Vino.
"Apa yang kamu lakukan Ndra, sampai Nadhira menangis seperti ini." batin Vino dalam hatinya.
"Nadhira!" panggil Vino dengan pelan.
Nadhira masih tetap menunduk, namun air matanya terlihat jelas mengalir di pipinya.
"Nadhira jawab aku, kamu kenapa?" tanya Vino sambil mengguncang bahu Nadhira.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat." jawab Nadhira sambil membuka pintu kamarnya.
"Apa Andra sudah menidurimu?" tanya Vino saat Nadhira sudah melangkah masuk. Suaranya sedikit tinggi, ia merasa kesal karena Nadhira tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Apa maksud kamu?" tanya Nadhira sambil menoleh, nada suaranya terdengar bergetar.
"Aku tahu siapa Andra, tidur dengan wanita bukanlah hal yang baru baginya. Kau terlihat murung dan bersedih hari ini, pasti itu karena Andra sudah melakukan sesuatu padamu." kata Vino sambil menatap Nadhira.
"Apa yang kamu bicarakan Vin, asal kamu tahu ya, aku tidak melakukan apapun dengan Andra." bentak Nadhira sambil menatap Vino dengan tajam.
"Bohong!! Aku melihat banyak bekas kemerahan di lehermu, kenapa Nadhira, kenapa kamu mau melakukannya? Cinta yang sebenarnya itu seharusnya bisa menjaga, bukan malah merusak." teriak Vino. Emosinya tersulut saat tahu jika Andra sudah melakukannya dengan Nadhira. Bayangan tentang Andra yang sedang menatap foto Ella waktu di rumah sakit, kembali terlintas dalam ingatannya.
"Aku takut Andra benar-benar menyimpan rasa untuk Ella. Dan jika itu memang kenyataannya, aku takut Andra akan meninggalkan kamu Nad. Kenapa kamu bisa semudah itu merelakan tubuh kamu untuk lelaki seperti Andra." batin Vino didalam hatinya.
"Aku tidak melakukannya Vin." ucap Nadhira sambil terisak. Ia tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya.
"Maaf aku sudah berbicara kasar padamu, aku percaya kau tidak melakukannya, sekarang diamlah jangan menangis." kata Vino sambil mengusap air mata Nadhira. Hatinya kembali luluh saat melihat wanita yang dicintainya menangis sesenggukan.
"Aku memang bodoh Vin." ucap Nadhira sambil memeluk Vino. Vino tersentak kaget, ia tak menyangka jika Nadhira akan memeluknya, dan menumpahkan tangisnya di dadanya.
"Apa maksudmu?" tanya Vino sambil mengusap punggung Nadhira.
"Entah apa yang terjadi diantara kamu dan Andra, tapi aku yakin itu bukanlah hal yang baik. Kenapa kamu sebodoh itu sih Ndra. Kamu tahu, sudah ada dua wanita yang menumpahkan tangisnya di dadaku karena ulahmu." batin Vino dalam hatinya.
Ia teringat saat sekolah SMA dulu, Ella juga pernah menangis di dadanya, karena bersedih saat mendengar kabar bahwa Andra menghamili Suci.
"Aku tidak melakukannya, tapi aku sudah membantunya." ucap Nadhira disela-sela tangisnya.
Vino mulai mengerti dengan apa yang dimaksudkan Nadhira.
Vino menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dasar lelaki berengsek, selalu saja mementingkan nafsunya.
"Meskipun itu bukanlah hal yang baik, tapi setidaknya kamu tidak kehilangan kesucian kamu Nad. Aku hanya berharap, kau bisa menjaganya hingga kalian menikah. Dan kalian akan melakukannya saat sudah menjadi suami istri." batin Vino sambil mengusap rambut Nadhira dengan lembut.
"Maafkan aku ya Vin, baju kamu jadi basah." ucap Nadhira sambil melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa, sekarang tenangkan fikiran kamu, dan jangan bersedih. Usahakan agar kamu tidak mengulanginya lagi." kata Vino sambil tersenyum.
"Terima kasih ya Vin." ucap Nadhira sambil membalas senyuman Vino.
"Iya, sekarang tidurlah, selamat malam semoga mimpi yang indah." kata Vino.
"Kau juga." ucap Nadhira sambil melangkah masuk, dan menutup pintu kamarnya.
Vino tersenyum sambil menunduk, ia menatap bajunya yang sudah basah.
"Ini tidak seberapa Nad, dibandingkan dengan Ella dulu." ucap Vino sambil melangkah menuju ke kamarnya.
"Andra Andra lelaki macam apa sih kamu ini, bisanya cuma menyakiti wanita, nanti kalau sudah kualat, dan ketiban karma, baru tahu rasa kamu!" gerutu Vino sambil membuka pintu kamarnya.
***
Pukul 06.00 pagi waktu London.
Ella sudah berdiri diruangan dapur sambil mengiris daging ayam, ia akan membuat bubur ayam untuk menu sarapan hari ini.
Dengan balutan piyama panjang bermotif beruang, dan rambut yang digulung asal-asalan, Ella terlihat sangat cantik, dan manis.
__ADS_1
Disaat Ella sedang sibuk mengiris daging ayam, tiba-tiba ponselnya berdering. Ella mengambil ponselnya yang berada disaku celananya, ia menggeser tombol hijaunya sambil tersenyum.
"Assalamu'alaikum Mas Gilang." sapa Ella.
"Waalaikumsalam El, bagaimana kabar kamu?" tanya Gilang diseberang sana.
"Alhamdulillah aku baik Mas, Mas Gilang sendiri bagaimana?" ucap Ella balik bertanya.
"Aku baik El, Ibu dan anak-anak juga baik." jawab Gilang.
"Alhamdulillah kalau begitu Mas. Bagaimana usaha Ibu, masih lancar kan?" tanya Ella.
"Sangat lancar El, sekarang Ibu sudah punya tiga karyawan." jawab Gilang.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu Mas." kata Ella sambil tertawa senang.
"Kamu tahu tidak, bulan lalu Ibu membeli apa?" tanya Gilang.
"Beli apa Mas?" Ella balik bertanya.
"Bulan lalu Ibu membeli mobil El, tapi cuma mobil bekas, dan baru dibayar separuh, sedangkan yang separuhnya lagi masih hutang. Sekarang usaha Ibu sudah cukup besar, pesanannya juga cukup banyak, lebih mudah jika punya mobil El." kata Gilang menjelaskan.
"Alhamdulillah Mas, aku ikut senang mendengarnya. Nanti kurangannya biar aku bantu Mas, kebetulan pekerjaanku di sini cukup lancar." ucap Ella.
"Sangat lancar malahan Mas, sampai-sampai bosnya menjadi kekasihku." batin Ella sambil tersenyum.
"Jangan El." kata Gilang.
"Kenapa Mas?" tanya Ella dengan sedikit heran.
"Sebenarnya Ibu melarangku untuk memberitahukan hal ini padamu. Ibu akan membayarnya sendiri, dengan uang hasil usahanya. Ibu tidak mau membebani kamu El, kau tahu sebenarnya Ibu sudah sangat merindukan kamu, Ibu menunggu kepulangan kamu El." kata Gilang dengan panjang lebar.
"Aku juga merindukan Ibu Mas, rencananya dua bulan lagi aku akan pulang." ucap Ella.
"Tidak bisa dipercepat kah El, Ibu sangat merindukanmu lho. Sudah hampir 5 tahun kamu pergi, sudah 4 kali lebaran kamu tidak ada bersama kami." kata Gilang.
"Aku tahu Mas, tapi aku masih ingin membantu Ibu. Oh ya, kurangannya mobil berapa Mas?" tanya Ella.
"Cuma sedikit, jangan difikirkan. Ibu akan lebih senang, kalau kamu segera pulang." kata Gilang.
"Gabriella akan segera pulang kok Mas." sahut Kairi yang tiba-tiba muncul disebelah Ella. Tanpa permisi Kairi mengambil ponselnya, dan berbicara dengan Kakaknya.
"Kai jangan." bisik Ella.
"Ssstt...jangan berisik." ucap Kairi sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Ella.
"Hallo El, dia siapa? Suaranya seperti laki-laki." kata Gilang kebingungan.
"Hallo Assalamu'alaikum Mas Gilang, perkenalkan saya Kairi, saya temannya Gabriella. Dalam waktu dekat saya akan membawa Gabriella pulang ke Indonesia, saya akan meminta restu dari Ibu, dan meminta izin untuk menikahinya." kata Kairi sambil melangkah menjauhi Ella.
"Aduh Kairi apa yang kau lakukan, aku belum menceritakan tentang kamu pada Ibu." batin Ella sambil menggaruk kepalanya.
Lalu ia melangkah membuntuti Kairi. Ia mencuri dengar, mencari tahu apa saja yang akan dibicarakannya.
"Iya Mas, dan saya berniat untuk segera menikahinya. Apakah boleh Mas?" tanya Kairi dengan nada yang sangat sopan.
"Ibu...sini Bu, Ella punya pacar, dia sedang menelfon Bu!" teriak Gilang dikejauhan sana.
Kairi menatap ponselnya sambil tersenyum lebar.
"Heboh banget ya saat tahu kalau Gabriella punya pacar." batin Kairi dalam hatinya.
"Ada apa?" suara Bu Halimah terdengar sedikit lirih.
"Pacarnya Ella, Ibu silakan berbicara sama dia." jawab Gilang.
"Ahh akhirnya anakku bisa jatuh cinta." teriak Bu Halimah kegirangan.
Dan Kairi mendengarkannya sambil tersenyum lebih lebar.
"Hallo Assalamu'alaikum." sapa Bu Halimah.
"Waalaikumsalam Bu." jawab Kairi.
"Kamu siapa?" tanya Bu Halimah.
"Saya Kairi Bu, saya temannya Gabriella. Dalam waktu dekat saya ingin membawa Gabriella pulang ke Indonesia. Saya ingin meminta restu sama Ibu, dan meminta izin untuk menikahinya. Apakah boleh Bu?" kata Kairi dengan sopan. Ia mengulang ucapannya seperti saat berkenalan dengan Gilang.
"Kamu serius nak?" tanya Bu Halimah.
"Saya serius Bu." jawab Kairi.
"Kamu sudah tahu siapa Ella? Dia hanya gadis sederhana, dan tidak punya apa-apa, kamu yakin nak bisa menerima dia?" tanya Bu Halimah.
"Sangat yakin Bu, saya mencintai Gabriella dari kepribadiannya. Dia adalah wanita yang sangat baik Bu." jawab Kairi.
"Baiklah kalau begitu, Ibu akan memberi restu jika kamu sudah datang kesini. Lebih cepat lebih baik nak, jujur Ibu juga sudah merindukan Ella." kata Bu Halimah.
"Iya Bu, saya usahakan secepatnya." jawab Kairi.
"Bagus kalau begitu, oh ya nak sekarang Ella dimana?" tanya Bu Halimah.
"Ada Bu, Gabriella sedang berbicara dengan atasannya." jawab Kairi.
"Kalian sedang bekerja?" tanya Bu Halimah.
"Iya Bu, kebetulan ada pekerjaan tambahan, jadi kita berangkat lebih awal." jawab Kairi.
"Oh begitu, tapi ngomong-ngomong atasannya Dimas kan?" Bu Halimah kembali bertanya.
"Iya Bu, hmmm ini Gabriella Bu, silakan berbicara dengan dia." kata Kairi sambil menyodorkan ponselnya kepada Ella.
Ella menerimanya sambil melotot.
__ADS_1
"Hallo Assalamu'alaikum Bu." sapa Ella.
"Waalaikumsalam, kamu keterlaluan ya El punya pacar tidak bilang-bilang sama Ibu." kata Bu Halimah mengomeli Ella.
"Maaf Bu, belum lama kok, dan rencananya Ella juga mau memberitahukannya pada Ibu." jawab Ella.
"Dia laki-laki baik kan El?" tanya Bu Halimah.
"Sejauh ini sih kelihatannya baik Bu." jawab Ella dengan asal. Ia tertawa pelan saat melihat Kairi menatapnya dengan kesal.
"Bukan orang kaya kan?" tanya Bu Halimah.
"Memangnya kenapa Bu?" Ella balik bertanya.
"Kita ini orang miskin El, kalau bisa carilah pasangan yang sama-sama miskin, biar kita tidak dihina. Kamu tidak mau kan, punya mertua seperti orang tuanya Mas Ariel. Kamu juga tidak mau kan menjadi seperti Mbakmu, yang selalu dihina dan direndahkan." kata Bu Halimah menasihati Ella.
"Tidak semua orang kaya seperti itu Bu." ucap Ella.
"Ibu tahu, tapi alangkah baiknya jika kamu mencari yang miskin saja, biar imbang El." kata Ibunya.
"Iya Bu, dia bukan orang kaya kok." ucap Ella sambil tersenyum.
"Itu lebih bagus." kata Bu Halimah.
"Oh ya Bu, kurangannya mobil berapa?" tanya Ella.
"Gilang!! Kamu bicara apa sama Ella?" teriak Bu Halimah diseberang sana.
"Ops keceplosan." batin Ella.
"Ella jangan fikirkan tentang mobil, Ibu cuma mengharap kamu segera pulang." ucap Bu Halimah.
"Tapi Bu." jawab Ella.
"Tidak ada tapi, Ibu rindu sama kamu, Ibu ingin kamu pulang. Kamu sudah berhasil membangunkan toko buat Ibu. Sekarang saatnya kamu pulang dan menikah, pacar kamu sudah serius lho sama kamu, dia berencana menikahi kamu." kata Bu Halimah.
"Iya Bu." ucap Ella.
"Jangan cuma iya, pulang secepatnya." kata Bu Halimah.
"Iya Bu, ya sudah aku tutup ya Bu, baik-baik di rumah." ucap Ella.
"Iya, kamu juga ya nak." jawab Bu Halimah.
"Iya Bu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Lalu Ella mengakhiri sambungan telefonnya. Ia menatap Kairi dengan kesal.
"Kamu kenapa melakukan itu?" tanya Ella sambil melipat tangannya di dada.
"Aku benar-benar serius dengan kamu sayang." jawab Kairi dengan santainya.
"Tapi kenapa kamu berbohong?" tanya Ella.
"Kalau aku jujur kita masih ada dirumah, dan kita tinggal dalam satu atap. Aku yakin Ibu kamu akan menyuruhmu pulang, dan menikahkan kita saat ini juga. Memangnya kamu mau, kalau aku sih siap-siap saja." kata Kairi sambil tersenyum miring.
"Tapi tetap saja, Ibu juga menyuruhku untuk segera pulang kan, padahal kau tahu Ibu masih punya hutang." ucap Ella.
"Aku bisa membantumu sayang." kata Kairi sambil mendekati Ella.
"Tidak, aku ingin membantu Ibu dengan uang hasil kerjaku sendiri." jawab Ella.
"Sayang mengertilah, aku benar-benar ingin menikah denganmu, aku sangat mencintai kamu." ucap Kairi sambil menggenggam kedua tangan Ella.
"Aku juga mencintai kamu Kai, aku senang jika kamu mau menikahiku. Tapi aku belum siap untuk pulang, aku takut jika kau berpaling dariku setelah bertemu lagi dengan cinta pertamamu." batin Ella dalam hatinya.
"Sekarang kau tahu pandangan Ibu tentang kamu, Ibu tidak terlalu suka dengan orang kaya, bagaimana tanggapan kamu?" tanya Ella.
"Aku akan membuat Ibu merubah pandangannya, mungkin aku memang kaya, tapi aku tidak seperti yang beliau fikirkan." jawab Kairi.
"Ya sudahlah dibahas nanti lagi, ayo bantu aku memasak aku sudah lapar." kata Ella sambil melangkah menuju dapur.
Kairi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia mengikuti langkah Ella.
***
Ella dan Kairi baru saja tiba di kantor. Kini mereka sedang duduk di kursinya masing-masing, dan fokus menyelesaikan pekerjaannya. Kairi menyesap kopinya dengan pelan, dan kemudian ia kembali fokus dengan pekerjaannya.
Disaat Kairi sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba telfon di mejanya berdering. Kairi mengangkatnya, dan ternyata dari salah satu karyawan, yang mengatakan jika ada tamu yang mencari Gabriella Tamara.
Kairi mengernyit heran saat menanyakan siapa tamunya, yang ternyata Tuan Aliensky.
Bukan hanya Kairi, tapi Ella juga mengernyit heran saat mendengar Kairi menyebut nama Aliensky.
"Dia mau kesini menemuiku, tapi untuk apa?" batin Ella sambil melirik Kairi yang baru saja meletakkan gagang telefonnya.
"Kau duduklah di sini sayang!" perintah Kairi sambil menepuk kursi disebelahnya.
"Untuk apa?" tanya Ella dengan heran.
"Sudah duduk saja." jawab Kairi dengan muka yang ditekuk.
Mau tidak mau Ella menuruti keinginan Kairi, ia beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya, lalu duduk disebelah Kairi.
Ella menatap wajah Kairi yang terlihat kesal.
"Ahh lelaki ini, ternyata cemburuan juga." batin Ella dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan terbuka. Tampak di sana seorang karyawan sedang tersenyum kearah mereka. Lalu seorang lelaki tampan muncul disebelahnya, lelaki itu juga tersenyum saat menatap Kairi, dan Ella.
Bersambung.....
__ADS_1