
Zain saat ini baru sampai di hotel dimana dia menginap selama di Jakarta. Zain menelepon seseorang sebelum membersihkan diri.
"Halo Rio"
"Bagaimana Zain?"
"Sangat sulit, luka yang kamu torehkan terlalu dalam untuknya"
"Ya aku tau itu"
"Tenang aja, aku tetap akan bantu kamu. Tapi kamu harus sabar, butuh waktu jika ingin memperbaiki semua"
"Iya Zain, terima kasih ya sudah mau membantu"
"Kamu ini bicara apa sih?. Ingat tidak ada kata terima kasih diantara kita" sahut Zain terkekeh.
"Iya...iya…" jawab Rio terdengar suara tawa ringannya.
Mereka pun mengakhiri telepon mereka. Zain meletakan ponselnya di nakas samping tempat tidur dan ke kamar mandi untuk bebersih. Setelah beberapa menit Zain keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobenya.
Zain duduk di tepi ranjang. Dia masih kepikiran dengan Rena. Masih jelas di ingatannya bagaimana wajah Rena begitu pucat saat mendengar nama Rio.
…
Seorang wanita yang tak lain adalah istrinya Rio,mengusap pundak suaminya yang duduk di kursi rodanya. Dia menatap Rio dan tersenyum.
"Yang sabar ya mas" ucap Debby.
"Iya… terima kasih dan maaf ya " sahut Rio tersenyum kemudian menggenggam tangan Debby.
"Terima kasih dan maaf untuk apa?"
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu masih disisiku walaupun dulu aku begitu menyakitimu, dan maaf mungkin ini membuka lukamu kembali" ucap Rio.
"Mas kita kan sudah sepakat ga akan membahas hal ini. Mari kita jalani rumah tangga kita dengan baik. Jadikan masa lalu pelajaran yang baik untuk kedepannya. Aku ikhlas dan lagi mungkin bukan aku yang begitu tersakiti, tapi dia" ujar Debby.
"Sungguh aku merasa ga pantas memiliki kamu. Kamu terlalu baik untukku" ucap Rio menundukan kepala.
Debby berjalan dan bersimpuh di depan suaminya. Dia menggenggam tangan suaminya erat. Senyumnya yang teduh menghiasi wajahnya.
"Mas jangan pernah mengatakan itu lagi ya. Justru aku merasa beruntung. Aku bisa memiliki Ayla dan kamu. Sekarang mas Rio harus fokus untuk sembuh" ucap Debby yang kini tangannya beralih mengusap pipi Rio.
Rio menggenggam tangan Debby yang menyentuh wajahnya. Kemudian dia mengecup telapak tangannya.
Sungguh Rio merasa beruntung memiliki Debby. Disaat Rio dalam posisi terpuruk, Debby selalu ada disisinya. Tak pernah sekalipun Debby mengeluh. Begitu banyak luka yang di torehkan Rio pada Debby. Namun Debby begitu setia.
Kebanyakan wanita pasti akan meninggalkan prianya, jika berada pada posisi Debby. Kini Rio bertekad untuk memperbaiki semua. Menjadi suami dan ayah yang baik.
Rasanya hari ini Albian tidak semangat untuk bekerja. Melihat bagaimana Rena tersenyum manis dengan laki-laki lain.
Dan saat ini hatinya semakin gelisah ketika asisten Rena mengatakan kalau Rena pulang lebih awal. Wajahnya terlihat pucat.
"Adrian, tolong antar saya pulang" ujar Albian yang kini sudah ada di ruang ganti staff dapur.
Adrian menaikan satu alisnya menatap Albian.
"Saya ada urusan, bisa cepat tidak"
"Siap chef. Ayo jalan" jawab Adrian
Tak butuh waktu lama mereka sampai ke apartemen Albian. Sepanjang perjalanan Albian sedikit menceritakan kegelisahannya pada Adrian.
__ADS_1
"Chef, perlu saya temani ga?" Tanya Adrian.
"Ga perlu" jawab Albian sambil memberikan kepada Adrian.
"Terima kasih ya" ucap Albian menepuk bahu Adrian.
Adrian hanya mengangguk.
Albian dengan langkah cepatnya masuk ke dalam gedung apartemen. Albian langsung ke unit apartemen Rena.
Sesampainya di depan unit apartemen Rena, Albian menekan bel. Dengan tak sabar Albian menunggu pintu terbuka. Ketiga kalinya Albian menekan bel, Rena membuka pintunya.
Wanita yang sangat Albian khawatirkan telah menampakan wajahnya. Rena masih menggunakan pakaian kerjanya. Dengan rambut yang sedikit berantakan. Tatapannya begitu sayu.
"Are you ok?" Tanya Albian lirih.
Alih-alih menjawab pertanyaannya, Rena masuk kembali dalam apartemennya. Da duduk di sofa kembali.
Albian mengikuti Rena masuk ke apartemen Rena. Sepatu dan tas Rena terlihat berserakan di ruang tv. Albian duduk bersisian dengan Rena. Rasanya hatinya perih melihat Rena menitikan air matanya.
Cukup lama mereka dalam diam. Tatapan Rena yang menerawang jauh. Entah apa yang dipikirkan. Air matanya pun terus membasahi pipinya.
"Sejak kecil aku melihat bagaimana mamaku tersakiti. Entahlah, papaku yang menggoda atau yang tergoda wanita. Mama hanya diam ketika papa membawa wanitanya ke rumah. Dan aku menyaksikan bagaimana papaku mencumbu wanita itu" Rena memejamkan matanya." Sungguh menjijikan" ucapnya lagi
"Aku begitu membenci wanita-wanita seperti itu" ucap Rena membuka matanya dan tertawa menyeringai. "Dan ternyata aku bagian dari mereka. Aku sudah menyakiti dua orang wanita. Sungguh aku membenci diriku. Aku mengira akulah yang terkhianati. Namun kenyataannya, aku penyebab mereka suaminya berkhianat" suara Rena bergetar mengucapkan itu.
"Sudah tujuh tahun berlalu Al, tapi kenapa rasa sakitnya tetap sama. Apa ini hukuman untukku?" Ucap Rena semakin lirih.
Bruk..
Tiba-tiba Rena jatuh dengan mata yang terpenjam. Beruntung Albian cepat menangkap tubuh Rena.
__ADS_1
"Ren… Rena bangun" Albian panik membangunkan Rena denan menepuk pipinya namun tak kunjungan bangun.