Tentang Rasa

Tentang Rasa
Romansa Cinta Dibawah Menara


__ADS_3

Kairi terus melajukan mobilnya, sambil sesekali melirik Ella yang sedang terlelap disebelahnya.


"Kau terlihat lebih cantik saat tertidur. Gabriella izinkan aku memilikimu, agar aku bisa menemanimu saat terjaga, ataupun terlena." gumam Kairi sambil tersenyum menatap Ella.


Mobil terus melaju, namun Kairi tidak menuju apartemen, ia membelokkan mobilnya mendekati menara. Dan beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat didekat menara.


Kairi menatap Ella, dan mencoba membangunkannya.


"Gabriella...." panggil Kairi sambil menggoyangkan bahu Ella.


Ella masih terdiam, rupanya ia masih enggan untuk meninggalkan dunia mimpi.


"Gabriella...." Kairi kembali memanggilnya.


Ella menggeliat pelan, dan membuka matanya dengan perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah senyuman Kairi, yang berada tepat dihadapannya.


"Maaf aku ketiduran." ucap Ella sambil membenarkan duduknya. Ia mengucek ucek matanya yang masih sayu.


"Tidak apa apa, aku tahu kamu lelah." kata Kairi sambil merapikan rambut Ella yang sedikit berantakan.


"Apa kita sudah sampai ?" tanya Ella.


"Sudah, lihatlah !" jawab Kairi sambil menunjuk ke arah depan.


Ella melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Kairi. Dan matanya menatap takjub, sebuah menara besi yang menjulang tinggi, dengan lampu lampunya yang bersinar terang, sangat memukau.


"Kai, kau mengajakku kesini." ucap Ella sambil menatap Kairi. Rasanya tidak percaya, jika lelaki itu membawanya ke tempat impiannya.


"Ya, apa kau suka ?" tanya Kairi sambil tersenyum.


Ella mengangguk, sambil membalas senyumannya Kairi.


Lalu Kairi turun dari mobilnya, dan membukakan pintu untuk Ella.


"Ayo kita kesana !" ajak Kairi sambil menatap Ella.


Ella mengangguk, dan kemudian turun dari mobil. Mereka berjalan tepat ke bawah menara.


Ella menghentikan langkahnya, dan mendongak, menatap Menara Eiffel yang berdiri kokoh dihadapannya.


"Ini sangat indah Kai." gumam Ella sambil tersenyum senang. Hatinya benar benar bahagia, menara itu terlihat lebih indah jika dilihat dari jarak yang begitu dekat. Cahayanya berpendar sangat menawan, membuat Ella tak bisa memalingkan pandangannya walau hanya sedetik saja.


"Menara ini memang indah, tapi ada hal lain, yang jauh lebih indah." ucap Kairi dibelakang Ella.


"Benarkah, apa itu ?" tanya Ella tanpa menoleh. Ia masih enggan untuk mengalihkan pandangannya. Menara itu seakan mampu menghipnotisnya.


"Menikahlah denganku." ucap Kairi sambil memeluk Ella dari belakang. Satu tangannya memegang kotak perhiasan yang berisi cincin yang sangat manis.


Ella menutup mulutnya, ia tidak percaya dengan apa yang terjadi, mungkinkah semua ini hanya mimpi ?


Ella menatap cincin itu, ukiran daun, dan bunga kecilnya terlihat sangat cantik dengan hiasan satu permata warna biru.


Tapi sepertinya bentuk cincin ini sangat familiar, apakah Ella pernah melihatnya, tapi dimana ?


Dan jantungnya berdetak semakin cepat saat ia mengingat tentang cincin itu, bentuknya sama persis dengan cincin yang ia desain tiga hari yang lalu.

__ADS_1


Ella merasa sangat bahagia, meskipun Kairi melamarnya tidak dengan cara berlutut, tapi nyatanya cara seperti ini juga tidak kalah romantisnya. Hanya saja Ella masih belum percaya, benarkah Kairi ingin menikahinya ?


Ia hanya gadis sederhana, tidak punya kelebihan apa apa, sedangkan Kairi, ia ibarat bintang yang bersinar di langit tinggi.


"Kairi apa maksudnya ini ?" tanya Ella dengan suara yang pelan. Rasa gugup seakan membuat tenggorokannya tercekat, hingga ia kesulitan untuk mengeluarkan suaranya.


"Je que je t'aime Gabriella. Aku mencintaimu Gabriella." jawab Kairi sambil mengeratkan pelukannya. Ia mengucapkan setiap kata katanya dengan sangat jelas.


"Kai, lepaskan aku dulu." ucap Ella, posisi seperti ini membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih.


"Jawab dulu pertanyaanku, maukah kau menikah denganku ?" tanya Kairi tepat ditelinga Ella.


"Kita duduk disana, dan aku akan memberikan jawabannya. Aku tidak nyaman dengan posisi seperti ini Kai." kata Ella sambil menunjuk bangku yang berada didepan mereka.


Kairi meluluskan permintaan Ella, ia melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tangan Ella, dan mengajaknya duduk di bangku. Cincin yang tadi, masih tetap ia genggam di tangannya.


Mereka duduk bersebelahan, namun Ella tak berani mengangkat wajahnya, antara bahagia, sedih, terharu, dan khawatir menjadi satu, mengaduk aduk perasaannya. Bahkan ia sudah lupa, dengan keindahan menara yang masih berdiri ditempatnya.


Ella bahagia, karena sebenarnya hatinya memang sudah berlabuh pada Kairi.


Namun ia juga merasa takut, dan khawatir. Benarkah cinta Kairi tulus untuknya, atau ini hanya permainannya saja ?


Karena sepertinya mustahil, jika seorang Kairi jatuh cinta padanya, mengingat perbedaan mereka yang terlampau jauh.


"Apa jawabanmu Gabriella ?" tanya Kairi sambil menatap Ella yang masih menunduk.


"Bolehkan aku menjawabnya nanti Kai. Beri aku waktu satu, atau dua hari, biarkan aku memikirkannya dulu." jawab Ella.


"Aku menerima penolakan, tapi aku tidak menerima harapan Gabriella. Jika kau menerimaku, katakan 'ya' sekarang, jangan malu malu. Dan jika kau menolakku, katakan 'tidak' sekarang, tak perlu kau takut.


"Kenapa kau menganggap itu harapan palsu ?" tanya Ella dengan heran.


"Karena meskipun aku memberimu waktu, bukan berarti kamu akan menerimaku kan." kata Kairi.


Ella mengangguk, ia mulai mengerti dengan apa yang ada difikiran Kairi. Ia tidak mau menunggu sesuatu yang belum pasti. Ia tak mau diberi harapan, jika akhirnya dikecewakan.


Ella menarik nafas panjang, ia mencoba menata hatinya, agar bisa memberikan jawaban yang benar.


"Tapi pernikahan bukan hanya tentang dua insan, tapi dua keluarga Kai, kita tidak bisa memutuskannya begitu saja, tanpa memikirkannya terlebih dahulu." kata Ella mencoba mengutarakan pendapatnya.


"Asal kita saling mencintai, apa lagi yang perlu difikirkan. Yang menikah kan kita, keluarga hanya tinggal merestui saja." ucap Kairi.


"Apa kau fikir semudah itu meminta restu Kairi ?" tanya Ella sambil memberanikan diri, untuk menatap Kairi.


"Apa maksudmu ?" tanya Kairi ingin tahu.


"Kita berbeda." jawab Ella dengan singkat.


"Berbeda ?" tanya Kairi.


Ella menjawabnya dengan anggukan.


"Berbeda seperti apa maksudmu ?" tanya Kairi kurang mengerti.


"Tidak perlu aku jelaskan, kamu pasti mengerti dengan maksudku Kai." jawab Ella.

__ADS_1


"Apa perbedaan status sosial yang kau maksud ?" tanya Kairi sambil menatap Ella.


"Ya." jawab Ella sambil mengangguk.


Kairi membuang nafasnya dengan kasar, lalu ia menggenggam tangan Ella.


"Aku tidak pernah menilai seseorang dari status sosialnya. Aku mencintai kamu, karena kepribadian kamu, bukan dari wajah, ataupun statusmu. Jadi aku tidak pernah peduli dengan perbedaan kita." ucap Kairi meyakinkan Ella.


"Itu menurutmu, tapi bagaimana dengan keluargamu ?


Mungkinkah mereka menerimaku begitu saja ?" tanya Ella.


"Papaku pasti menerimamu, aku yakin beliau akan merestui kita. Papa sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu, Papa sudah sangat menginginkan aku untuk menikah." jawab Kairi sambil tetap menggenggam tangan Ella.


"Sebenarnya...." gumam Ella.


"Katakan saja apa yang mengganjal dihatimu, memang lebih baik, jika kita saling terbuka." ucap Kairi.


"Sebenarnya aku masih ragu dengan perasaan kamu." kata Ella sambil memejamkan matanya, butuh keberanian besar untuk mengucapkan kalimat itu.


"Apa yang membuatmu ragu, aku sudah tertarik denganmu sejak pertama kali kita bertemu di bandara. Aku memang tidak pernah mendekatimu, karena aku tidak mau memaksakan cinta. Itu sebabnya aku mengejarmu dengan cara yang wajar, bukan menindasmu, dan memaksakan kehendakku. Bukan pernikahan seperti itu yang aku inginkan Gabriella, aku ingin pernikahan yang didasari cinta, aku tidak ingin diantara kita ada yang terpaksa." ucap Kairi dengan panjang lebar.


"Disekitarmu pasti banyak wanita yang lebih baik dariku, tapi kenapa kau malah memilihku ?" tanya Ella.


"Sudah kubilang aku mencintaimu, karena kepribadianmu, dan selama ini aku belum pernah menemukan seorang wanita yang punya kepribadian sepertimu." jawab Kairi, yang sukses membuat Ella tersipu malu.


"Lalu bagaimana dengan Angelina ?" tanya Ella, tidak salah kan mengorek banyak informasi tentangnya.


"Dia hanya masa lalu. Aku memang pernah punya hubungan dengannya, tapi itu dulu. Belum genap setahun hubungan kita sudah kandas." jawab Kairi.


"Kenapa kandas ?" tanya Ella.


"Kau sungguh ingin tahu alasannya ?" tanya Kairi sambil menatap Ella.


Ella mengangguk dengan cepat.


"Karena aku tidak pernah menidurinya, dia beranggapan kalau aku tidak tertarik dengannya, dan tidak tulus mencintainya, itu sebabnya dia memilih pergi. Dan aku menghargai keputusannya." jawab Kairi.


"Hah...." Ella menoleh kaget. Biasanya wanita itu takut ditiduri, tapi kok ini malah berharap ditiduri, aneh. Apa kehidupan zaman sekarang memang sudah sehoror itu. Karena dulu pacar pacarnya Andra, juga begitu mudahnya memberikan hal seperti itu pada Andra.


"Sekarang kamu percaya kan, jika kepribadian sepertimu itu sudah langka." ucap Kairi sambil tersenyum.


"Lalu siapa lagi masa lalumu ?" tanya Ella.


"Tidak ada, hanya Angelina." jawab Kairi.


"Kau hanya punya satu kekasih, apa kau sangat mencintainya ?" Ella kembali bertanya, ia sangat penasaran dengan kisah asmaranya Kairi.


"Mungkin, tapi itu dulu. Sejak ia memutuskan untuk pergi, aku juga memutuskan untuk menghapus perasaanku." jawab Kairi dengan lancar. Sepertinya yang dia ucapkan, memang benar adanya.


Ella mengangguk angguk, masih ada ya lelaki kaya, yang kepribadiannya seperti dia. Bisa dicintainya, mungkin itu adalah anugerah terindah dalam hidupnya.


"Kau sendiri, kenapa tidak pernah punya kekasih ?" tanya Kairi yang sontak saja mengagetkan Ella.


"Aku sudah bertanya banyak tentang masa lalunya, sudah pasti dia balik bertanya tentang masa laluku. Aduh bagaimana ini, haruskah aku menceritakan tentang Andra padanya." gumam Ella dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2