
Detik waktu terus berjalan, seiring siang, dan malam yang terus berputar dalam garis edarnya. Hari demi hari, bulan demi bulan, telah berlalu meninggalkan satu masa yang suram.
Tanpa terasa waktu telah berjalan selama dua tahun. Kairi sudah kembali pulih, ia bisa berjalan seperti sedia kala. Sejak Kairi sembuh, Bu Halimah kembali ke negara Indonesia, beliau menjalani kehidupannya seperti yang dulu.
Billa kini telah tumbuh menjadi bocah yang sangat cantik, dan cerdas. Dan Suci, dengan usaha keras, dan doa yang selalu dipanjatkan, mu'jizat Tuhan benar-benar menyertainya.
Setelah sekian lama menjalani perawatan intensive, akhirnya Suci bisa sembuh total. Kanker darah yang pernah hinggap di tubuhnya, kini sudah tiada. Namun meski demikian, kondisinya belum pulih seperti dulu. Tubuhnya masih kurus, dan sedikit pucat. Dokter menyarankan agar ia tidak terlalu berharap untuk memiliki keturunan.
Namun semua itu tidak menggoyahkan niat Andra, ia tetap pada pendiriannya. Ia akan menikahi Suci, dan membahagiakannya. Ia tidak peduli nanti akan memiliki keturunan, atau tidak.
Dan hari ini adalah hari bahagia untuk Andra, dan Suci. Mereka akan melangsungkan pernikahannya di Paris. Suci sudah tidak memiliki keluarga di Indonesia. Jadi Andra menikahinya di Paris, mengingat kondisi Suci yang belum stabil, memang lebih baik jika tidak melakukan perjalanan panjang.
Pak Louis, Bu Mirna, Kairi, dan Ella, mereka semua berkumpul di rumah utama. Mereka membantu menyiapkan untuk acara nanti malam. Bukan pesta yang mewah, melainkan hanya pesta yang sederhana. Semua ini adalah permintaan dari Suci, ia tidak menginginkan pesta besar, cukup sah saja ia sudah sangat bahagia.
Saat ini Andra, dan Suci sedang duduk di taman, dibelakang rumah. Mereka sedang bersantai sambil menunggui Billa yang sedang belajar melukis. Billa memang sangat senang melukis. Meskipun sekarang hasilnya hanya sebuah coretan warna warni, namun Ella sangat mendukungnya.
Ella selalu membelikan cat air, dan kanvas untuk Billa. Ia juga menyimpan semua hasil lukisannya. Mungkin menurut orang lain itu hanya coretan tak berguna, tapi bagi Ella itu adalah lukisan yang sangat indah. Ella akan selalu mendukung bakat anaknya, siapa tahu suatu saat nanti, bakat itulah yang akan membawa Billa dalam kesuksesan.
"Dia sangat menggemaskan." kata Suci sambil menatap Billa yang asyik dengan lukisannya, bibirnya sampai mengerucut saking seriusnya.
"Iya, semakin hari dia tampak semakin gendut." ucap Andra sambil tersenyum.
"No Papa! Aku cantik, aku tidak gendut." teriak Billa sambil menoleh, menatap Andra.
Andra dan Suci tertawa keras melihat reaksi Billa, bocah itu selalu saja kesal, jika ada yang mengatakan dirinya gendut.
"Gendut itu menggemaskan, kenapa kau tidak suka?" tanya Andra sambil mengusap puncak kepla Billa.
"Kata Mama gendut itu jelek." jawab Billa.
Andra menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari dulu sampai sekarang, dari yang tua sampai yang muda, yang namanya wanita selalu saja seperti itu. Seolah gendut adalah sebuah momok yang sangat menyeramkan. Seakan gendut adalah sebuah kekurangan yang sangat fatal. Padahal tidak semua lelaki menyukai wanita langsing, banyak diantara mereka yang lebih menyukai wanita gendut.
"Kamu kenapa Ndra?" tanya Suci sambil mengernyitkan keningnya. Sedikit heran saat melihat Andra, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Heran saja dengan wanita, suka ribet." jawab Andra.
"Maksud kamu?"
"Takut sekali dengan gendut, padahal itu tidak buruk lho." ucap Andra.
"Pendapat orang berbeda-beda Ndra." kata Suci.
"Iya, termasuk kamu juga kan sayang. Sangat takut dengan yang namanya gendut." sindir Andra. Ia teringat saat dulu, Suci selalu membatasi porsi makannya, hanya karena takut berat badannya bertambah.
__ADS_1
"Itu dulu Ndra, sekarang tidak. Justru sekarang aku sangat ingin berat badanku naik, agar tidak kurus kering seperti ini." ucap Suci sambil mengangkat lengannya, dan menunjukkannya pada Andra.
"Bersyukur sayang, seperti apapun keadaan kamu, aku selalu mencintai kamu." kata Andra sambil menggenggam tangan Suci.
"Iya, aku selalu bersyukur Ndra." jawab Suci.
"Aku sangat bersyukur, penyakitku bisa disembuhkan, dan aku diberi kesempatan untuk bersama dengan kamu. Menikah denganmu, dan mendapatkan cinta darimu, adalah sebuah harapan yang aku impikan sejak dulu Ndra." ucap Suci dalam hatinya.
"Ini Papa, ini Tante!" teriak Billa dengan tiba-tiba.
Andra dan Suci menoleh, mereka menatap sebuah coretan warna warni yang sedikit berantakan. Suci mengernyitkan keningnya, mencoba memahami maksud dari lukisan Billa.
"Ini tangan Papa, dan ini tangan Tante, lalu ini Billa yang sedang melukis. Apakah begitu sayang?" tanya Andra sambil menatap Billa.
"Yeeee, Papa hebat!" teriak Billa bersorak senang. Ia tersenyum lebar, sambil bertepuk tangan.
"Billa sangat lucu, dan Andra, ia terlihat sangat menyayanginya. Andai saja masih boleh meminta, aku sangat ingin punya anak lagi." batin Suci sambil tersenyum getir.
"Kau bisa memahaminya Ndra?" tanya Suci dengan pelan.
"Tentu saja sayang. Karena aku melihatnya bukan hanya dengan mata." jawab Andra.
"Lalu?"
"Kau menyebalkan!" gerutu Suci dengan kesal.
"Kenapa kau jadi kesal seperti ini, hmm?" tanya Andra sambil menaikkan alisnya.
"Aku butuh penjelasan, bagaimana caranya kau bisa memahaminya." jawab Suci.
"Dengarkan aku, tadi aku melihat dia bolak-balik melirik kita sambil memainkan kuasnya. Jadi kufikir dia sedang melukis kita, dan ternyata dugaanku benar." bisik Andra.
"Jadi sebenarnya kau tidak bisa memahaminya?" tanya Suci.
"Tentu saja tidak, hanya seperti itu siapa yang bisa mengerti." jawab Andra sambil melirik lukisan Billa sekilas.
"Aku fikir kau hebat." ucap Suci.
"Kehebatanku bukan dalam hal itu." kata Andra.
"Iya, kehebatanmu hanya dalam hal merayu wanita." sindir Suci.
"Tidak hanya itu, di ranjang aku juga hebat." sahut Andra dengan cepat.
__ADS_1
"Hus, ada anak kecil, jangan sembarangan berbicara!" kata Suci sambil menutup mulut Andra.
"Sorry." jawab Andra sambil tersenyum miring.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Pak Louis sekeluarga sudah berkumpul di ruang tengah. Anston, Sarah, Reymond, dan Angelina, mereka juga hadir dalam acara ini. Rencana Tuhan memang tak pernah salah. Dulu Angelina berusaha keras untuk mendapatkan kembali cinta Kairi. Ia sampai menghalalkan segala cara, namun semua itu sia-sia. Kairi tetap memilih Ella, dan Angelina terpiar dalam keterpurukan.
Ditengah kelukaan, ternyata Tuhan mengirimkan lelaki lain yang menggantikan posisi Kairi dalam hatinya. Lelaki yang bisa mencintainya, menerima kekurangannya, dan bisa menerima anak yang sedang dikandungnya. Dia adalah Reymond, lelaki yang menjadi teman sekaligus tangan kanannya Kairi.
Reymond menikahi Angelina, dua bulan setelah Angelina melahirkan. Ia menganggap bayi itu seperti anak kandungnya sendiri. Kini bayi itu sudah tumbuh menjadi bocah lelaki yang sangat tampan.
Tak berapa lama kemudian, Suci dan Andra sudah keluar dari kamar. Suci terlihat sangat cantik dengan balutan gamis putih berenda, kerudungnya yang berwarna putih dihiasi mahkota kecil dengan permata yang berwarna warni. Sedangkan Andra, ia juga terlihat tampan dengan balutan celana putih, dan kemeja panjang warna putih.
Andra dan Suci bergabung dengan keluarganya. Mereka duduk di depan penghulu. Lalu Bu Mirna menutup kepala mereka dengan kerudung panjang warna putih. Karena tidak ada lagi keluarga, maka Suci melaksanakan pernikahannya dengan wali hakim.
"Apakah sudah siap, bisa kita mulai sekarang?" tanya Pak penghulu yang berasal dari negara Indonesia.
"Siap." jawab Andra dengan tegas.
"Baik, kita mulai sekarang ya Mas Andra." ucap Pak penghulu sambil menjabat tangan Andra.
Jantung Andra berdetak lebih cepat, ia berusaha keras menekan rasa gugupnya. Ternyata seperti ini rasanya menikah, fikir Andra kala itu.
Keringat Andra mulai bercucuran, saat penghulu mulai mengucapkan basmallah. Jantungnya berdetak semakin cepat, rasa gugup semakin menguasai dirinya. Hingga tak lama kemudian, ia tersadar dari lamunannya saat penghulu menggoyangkan tangannya.
"Saya...saya terima nikahnya Suci Regina Hilmy Binti Almarhum Sugia, dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai." ucap Andra dengan sedikit gugup. Keringatnya mengucur semakin deras, bahkan kini ia merasakan punggungnya mulai basah.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah...!" jawab mereka dengan serempak.
"Alhamdulillah."
Andra bernafas lega, akhirnya ia berhasil melaksanakan ijab qabul. Akhirnya sekarang Suci sah menjadi istrinya.
"Terima kasih Ya Allah." ucap Andra dalam hatinya.
Lalu Suci menyalami tangan Andra, dan kemudian menciumnya. Andra tersenyum, dan mencium kening Suci cukup lama.
"Semoga semua ini menjadi awal yang indah. Aku memutuskan untuk menikahi Suci, semoga aku bisa membahagiakan dia, dan kita berdua bisa melangkah ke jalan yang lebih baik." ucap Andra dalam hatinya.
"Terima kasih Ya Allah. Aku sangat bersyukur bisa menikah dengan Andra, semoga aku bisa menjadi istri yang baik baginya. Ya Allah, aku sangat ingin memberikan keturunan untuk dia." ucap Suci dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung.....