Tentang Rasa

Tentang Rasa
Bab 33


__ADS_3

Hari ini sama seperti biasanya di jam makan siang. Restoran selalu full table. Suasana dapur pun benar-benar panas. Yanto yang berlari ke sana kemari untuk memberikan bahan masakan yang sudah disiapkan kepada para koki.


Albian sedang sibuk di meja plating sebelum makanan diantarkan ke meja para tamu. 


Terlihat Yoga memasuki dapur. Wajahnya tampak bingung. Beberapa staf dapur dan pelayan yang berada di dapur menyadari kehadiran Yoga. 


"Ada apa Pak Yoga?" tanya seorang pelayan.


Albian yang mendengar itu pun menoleh. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat Yoga.


Yoga tersenyum canggung. "Itu chef maaf ganggu. Ada sepasang suami istri yang mencari Bu Rena."


Albian terdiam dan tampak sedang berpikir. "Dimana mereka sekarang?"


"Ada di meja nomor 7," kata Yoga.


"Apa ruang VIP ada yang kosong?" tanya Albian.


"Ada yang kosong di ruangan nomor 2, itu reservasi untuk pukul 1 siang chef," ucap Yoga.


Albian melihat jam tangannya. Masih ada waktu 15 menit lagi sampai waktu reservasi. "Ajak mereka ke ruangan VIP itu. Nanti saya menyusul."

__ADS_1


"Baik chef," ucap Yoga lalu bergegas melaksanakan apa yang diminta Albian.


Albian berbicara dengan Adrian. Ia meminta Adrian untuk mengambil alih sebentar. Lalu ia pergi ke ruang VIP.


Ceklek…


Albian tidak langsung masuk. Ia diam sejenak demi menenangkan hati dan pikirannya. 


"Selamat siang," sapa Albian sambil menganggukan kepala.


Mereka masih tampak bingung, karena mereka diarahkannya ke ruangan VIP. 


"Siang," balas mereka berdua.


"Iya kami mencari Ibu Serena,perkenalkan saya Rio dan ini istri saya Debby," ucap pria itu yang berada di kursi roda. Yang tak lain adalah Rio. Lalu mereka saling berjabat tangan.


Dugaan Albian ternyata benar, mereka pasti akan menemui Rena di restoran seperti saat ini.


Untung saja Rena sedang keluar untuk janji temu dengan psikiater.


"Maaf sebelumnya karena saya yang menemui kalian. Ini demi kebaikan Ibu Serena." ucap Albian.

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana?" tanya Debby.


"Saya harap kalian jangan dulu menemui Ibu Serena. Trauma yang dialaminya belum sepenuhnya hilang. Dengan kehadiran kalian sekarang akan memperburuk keadaan Ibu Serena," kata Albian tegas.


Rio cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan Albian. Ternyata dia tidak hanya meninggalkan luka tapi trauma juga. Semakin besar rasa bersalah Rio.


"Baiklah kami akan mencarinya lain kali," ucap Rio.


Itu sangat disyukuri Debby karena Rio tidak ngotot untuk menemui Rena seperti saat tadi masih di rumah.


"Tapi maaf sebelumnya, kenapa anda yang menemui kami? Apa hubungan Anda?" tanya Debby yang merasa aneh dengan sikap Albian. Terkesan sedang melindungi wanitanya.


"Saya hanya seorang chef di bawah pimpinan Ibu Serena Pradipta," sahut Albian.


Mereka pun terdiam, tampak tidak ingin kembali bertanya. " Kalau begitu kami permisi dulu."


"Baiklah, mari saya antarkan," ucap Albian. Ia tidak lagi peduli, apa mereka jadi makan atau tidak. Saat ini tugas Albian membawa mereka keluar dari restoran tanpa diketahui Rena.


Albian benar-benar memastikan agar mereka tidak bertemu dengan Rena.


Albian bernapas lega. Setidaknya Rena tidak akan kembali drop. Albian harus memastikan kesembuhan Rena, baru  mereka bisa bertemu. 

__ADS_1


Ia pun kembali ke dapur melanjutkan pekerjaanya. Kondisi dapur masih aman terkendali.


__ADS_2