Tentang Rasa

Tentang Rasa
KERJA LAGI


__ADS_3

" Kenapa nggak bilang sendiri?" tanya Mike.


" Dia nggak mungkin mau ketemu denganku!" kata Max menundukkan kepalanya.


" Mana Max yang aku kenal dulu? Yang sangat tangguh dan sombong?" tanya Mike yang terdengar bagai sindiran di telinga Max.


" Heh! Aku sekarang sudah tidak memiliki apa-apa, Tuan! Bahkan aku tidak tahu bagaimana akan hidup!" kata Max pelan.


" Bukankah kamu masih memiliki keluarga?" tanya Mike.


" Keluarga! Aku tidak mau menjadi beban untuk mereka!" kata Max.


" Ok, aku pergi dulu!" kata Mike.


" Ya, maaf mbuatmu tertahan! Kamu sangat beruntung memiliki dia, Tuan!" kata Max datar.


" Tentu!" jawab Mike.


" Aku harus kembali ke rumah sakit! Dr. Dewa menungguku untuk pemeriksaan terakhir sebelum aku diperbolehkan pulang!" kata Max.


" Ok! Good luck!" kata Mike.


Max menganggukkan kepalanya, dengan langkah gontai dia berjalan keluar dari ruang sidang dan menuju ke rumah sakit dengan diabtar Maman.


Saat sampai di rumah sakit, dilihatnya Dewa sedang berbicara dengan Netta. Dalam pandangan Max, mereka terlihat dekat dan sangat mesra.


" Setelahbpemeriksaan terakhir hasilnya baik, maka dia bisa pulang!" kata Dewa yang sedang duduk dengan Netta di kantin.


" Bagaimana dengan proses penyembuhan itu sendir?" tanya Netta.


" Asalkan semua dipatuhi dan dilakukan, kesembuhan akan cepat terjadi!" kata Dewa lagi.


" Trima kasih dokter!" kata Netta sambil memegang tangan Dewa.


Max yang melihat merasa sakit dan kecewa. Langkahnya dipercepat saat melewati kantin rumah sakit.


" Pak Max?" panggil Dewa.


Shittt! batin Max kesal. Ternyata Dewa melihat dia yang lewat disitu.


" Dokter Dewa! Nyonya Banner!" sapa Max mendekati mereka.


" Apakah anda akan melakukan pemeriksaan terakhir?" tanya Dewa.


" Iya, Dok!" kata Max.


" Baiklah, ikut dengan saya!" kata Dewa.


" Baik, Dok!" kata Max lagi.


" Kalo begitu saya pergi dulu!" kata Netta.


" Sampai ketemu, Dokter!" kata Netta dengan tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.


" Pak Max?" tegur Dewa yang melihat Max melamun.


" Eh, iya, Dok!" sahut Max malu.


Max melakukan semua pemeriksaan pada tubuhnya seharian penuh. Setelah hasilnya keluar, dia dipanggil oleh Dewa di ruangannya.


" Pak Max harus berterima kasih pada Nyonya Greyson!" kata Dewa.


" Nyonya...Greyson?" tanya Max membeo.


" Iya! Dia khusus menyuruh saya menjadi Dokter yang menangani anda secara pribadi dan juga membiayai semuanya!" kata Dewa.


" Benarkah? Tapi kenapa namanya Greyson? Bukannya dia menikah dengan Tuan Banner?" tanya Max kepo.


" Mereka sudah lama bercerai!" kata Dewa.


" Apa? Anda serius?" tanya Max.


" Iya! Kita lihat hasil dari pemeriksaan anda!" kata Dewa.


Sementara Max masih memikirkan semua perkataan Dewa tentang Max.

__ADS_1


" Semua sudah banyak mengalami kemajuan, anda hanya perlu terus hidup sehat dan olahraga secara teratur. Jangan lupa kontrol!" kata Dewa.


" Baik, Dok!" kata Max.


" Trima kasih banyak, Dokter!" kata Max.


" Sama-sama! Satu lagi, anda beaok ditunggu Nyonya Greyson di kantornya!" kata Dewa.


" Saya? Tapi saya sudah dipecat!" kata Max.


" Saya kurang paham! Tapi anda juga bisa menyampaikan tetima kasih anda!" kata Dewa.


" Apa saya sudah bisa bekerja lagi?" tanya Max.


" Sudah, asal jangan terlalu diforsir!" kata Dewa.


" Baik, Dokter! Kalo begitu saya permisi!" kata Max.


" Silahkan!" jawab Dewa.


Max melangkah keluar dengan berbagai macam pikiran di kepalanya.


Keesokan harinya Max pergi ke perusahaan Netta. Semua orang senang melihat kedatangan Max kembali disana.


" Selamat datang kembali Pak Max" kata Wenny.


" Terima kasih, Wen! Tapi saya belum tentu bekerja disini lagi!" jawab Max.


" Serius, Pak?" tanya Wenny.


" Iya! Saya ke Boss dulu, kalian juga harus kembali kerja atau nanti kena sanksi!" kata Max.


" Iya! Ayo bubar!" kata Dimas, rekan kerja Max dulu.


Semua karyawan bubar setelah Max memberikan peringatan. Max masuk ke dalam lift dan naik ke lantai dimana Netta berada.


Tok! Tok! Tok!


" Masuk!" kata Netta.


" Suruh masuk+" kata Netta yang merapikan pakaian dan duduknya.


" Masuk, Pak!" kata Ayu.


" Trima kasih, Bu Ayu!" jawab Max.


" Sama-sama, Pak!" balas Ayu dengan memasang senyum paling manis.


" Ehmmm!" Netta berdehem cukup keras hingga menyadarkan Ayu yang masih melihat Max masuk.


Dengan cepat dia keluar dan menutup pintu. Pelit amat si Boss! Nggak bisa liat orang seneng! Batin Ayu sebel.


" Selamat Pagi, Boss!" sapa Max.


" Pagi!" jawab Netta.


" Saya..."


" Kembalilah kerja mulai besok! Dan saya mau kamu jadi OB!" kata Netta datar.


Deg! Max terkenut mendwngar perkataan Netta. Bukannya dia tidak mau, tapi...Astaga! OB? Malang bener nasib gue! Seumur-umur gue nggak pernah bikin apa-apa sendiri! batin Max sambil menatap sendu pada Netta dan Netta bisa melihat itu.


" Kalo kamu nggak mau juga nggak apa-apa!" kata Netta.


" Kata Dokter Dewa kamu sudah bisa kerja!" kata Netta saat melihat Max hanya diam saja.


Apakah kamu saat ini sedang dekat dengan dia? Batin Max. Hati Max merasa cemburu dan sedih jika membayangkan semua itu.


" Baik, saya setuju! Trima kasih atas semua bantuan Boss pada saya, saya hanya bisa membalasnya dengan bekerja semampu saya!" kata Max.


" Kamu bisa menemui Pak Joko di pantry!" kata Netta mengabaikan pernyataan Max dan tidak melihat pria itu.


" Baik, permisi!" pamit Max.


Dia kembali menatap Netta dengan penuh kerinduan, sayangnya wanita itu hanya asyik dengan dokumennya.

__ADS_1


Max melangkah keluar ruangan Netta.


Sial! Kenapa jantung gue mendadak kenceng banget detaknya! Batin Netta. Dia bersandar di kursinya dan memegang dadanya. Pintu ruangannya terbuka.


" Dasar kebiasaan!" gerutu Netta.


" Gimana?" tanya Mike sambil berjalan ke kursi di depan Netta.


" Apanya?" jawab Netta cuek.


" Ckk! Max!" kata Mike kesal.


" Nggak papa!" jawab Netta.


" My God! Maksudku apa dia mau kerja lagi?" tanya Mike sedilit keras.


" Gue nggak tuli Mikeeee!" sahut Netta.


" Baguslah! Dia hebat banget disana!" kata Mike lega.


" Sapa bilang dia masih disana?" kata Netta.


Mike mengerutkan keningnya menatap Netta dengan tajam.


" Apa maksud kamu?" tanya Mike.


" Dia kerja jadi OB!" kata Netta.


" Apaaaa?" teriak Mike.


" Gila lo ya? Telinga gue masih normal!" teriak Netta.


" Serius?" tanya Mike melihat Netta.


" Apa?" tanya Netta marah.


" OB?" tanya Mike.


" Iya! Daripada Cleaning Service!" jawab Netta.


" Dia... mau?" tanya Ken ragu.


" Iya!" jawab Netta.


" Serius? Sampe segitunya kamu, Ta?" tanya Mike lagi.


" Udah, pergi lu! Cari kerjaan sono!" kata Netta kesal.


Mike masih berpikir.


" Benar-benar buta tu si cinta!" kata Mike pelan tapi Netta masih bisa mendengarnya.


Netta terdiam, pikirannya melayang pada malam pesta ulang tahun perusahaan dan perkawinan mereka. Mike melamar Vina dengan mesra dan mengumumkan jika wanita itu sedang hamil. Pasti anak mereka sudah sebesar Axon, tapi kemana Vina kemarin saat suaminya sakit? Apa dia berbohong agar istrinya tidak khawatir? batin Netta.


" Apa kamu akan menagih biaya rumah sakitnya? Dia sudah jatuh bangkrut saat ini!" kata Mike.


" Ide yang menarik!" jawab Netta.


" Astaga! Dia bahkan tidak memiliki apa-apa lagi!" kata Mike.


" Orang tuanya sangat kaya, Mike!" kata Netta.


" Dia dibuang oleh keluarganya, Ta! Dia tidak dianggap oleh mereka!" kata Mike lagi.


Sejak Mike berhubungan dengan Diana, dia merasa jika dirinya adalah orang yang jahat. Karena itu dia berusaha untuk merubah semua kelakuannya di masa lalu demi Diana dan putrinya.


" Apa maksud lu?" tanya Netta terkejut.


" Kamu yang memintaku menghancurkan dia, bukan?" kata Mike


" Tapi dia masih punya keluarga kan?" sahut Netta.


" Aku udah bilang, dia dibuang!" kata Mike.


" Serius? Apa lu yakin, Mike?" tanya Netta.

__ADS_1


__ADS_2