Tentang Rasa

Tentang Rasa
Bab 27


__ADS_3

Albian tampak sibuk di dapur. Ia sedang membuatkan bubur labu permintaan Aruni. Dengan cekatan dia memotong-motong labu setelah terlebih dahulu di kupas. Merebus labu itu dengan air yang tidak terlalu banyak. Setelah sudah matang Albian mematikan kompor dan mengambil susu. Albian juga mengambil hand blender untuk menghaluskan labu yang sudah matang itu di dalam panci.


Labu yang telah halus di beri sedikit susu, gula dan tepung beras yang sudah dicampur dengan air.


Dengan api kecil bubur labu terus diaduk hingga meletup-letup. Kemudian Albian menuangkan bubur itu ke sebuah mangkuk yang telah ia siapkan. Dia memberi garnish dengan beberapa potongan kacang panggang.



Aroma wangi labu yang sedari tadi memenuhi dapur. Begitu menggoda untuk cepat menyantapnya. Albian meletakkan semangkuk bubur labu di atas baki setelah membersihkan dapur. Senyumnya terus tersungging, puas akan hasil masakannya. Albian melangkah ke kamar Aruni dengan semangat. 


Ceklek….


Dengan hati-hati Albian kembali menutup pintu. Aruni yang sedang membaca buku pun menoleh. Ia tersenyum kemudian menutup bukunya dan meletakkannya di atas nakas. 


"Waaah harumnya" seru Aruni ketika aroma labu yang wangi terhirup indra penciumannya.


"Bubur spesial permintaan bunda ratu telah siap. Selamat menikmati" ucap Albian dengan gaya ala-ala pelayan kerajaan. Aruni tertawa, begitu pula dengan Albian.


Albian duduk di tepi ranjang Aruni. Dengan perlahan ia menyuapi Aruni. "Hmmm enaknya" Aruni sampai memejamkan matanya karena lezatnya bubur itu. "Masakan kamu memang tak pernah gagal" puji Aruni kemudian.


"Bunda mulai deh terlalu memujiku" Albian menggelengkan kepalanya. "Syukurlah kalau bunda suka. Berarti semangkuk bubur ini harus habis" sambung Albian.


Aruni mengangguk semangat. " Tentu bunda habiskan sayang"


****


"Kak ayo ke wahana arum jeram" Cindy masih begitu bersemangat untuk menaiki wahana lainnya meskipun mereka sudah melewati jam makan siang.


"Ga deh, baju kakak udah basah gara-gara masuk wahana tadi" 


"Maka dari itu kakak, sudah kepalang basah. Yuk ah" Cindy terus memaksa. Rena pun tidak bisa menolak itu.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju wahana arum jeram. Cindy dan Rena terus bergandengan tangan. Cindy yang selalu bersemangat, membuat Rena terseok-seok mengikuti langkahnya. Benar-benar menyenangkan.


Langkah Rena tiba-tiba berhenti. Dan membuat genggaman tangan mereka terlepas. Cindy menoleh, begitu kagetnya ia mendapati kakanya terpaku dengan wajah yang pucat pasih. Cindy dengan cepat menghampiri Rena. "Kak, kakak kenapa?" Cindy yang begitu panik menggenggam tangan Rena. Tangannya tremor begitu dan begitu dingin. 


Kemudian Cindy mengikuti arah pandangan Rena. Cindy terkejut bukan main ketika ia melihat sosok yang menjadi alasan kakaknya begitu terpuruk. 


Bruk…


Tiba-tiba Rena tak sadarkan diri. Cindy berlutut dan menopang kepala Rena di pahanya. "Kak…! Kak Rena bangun…!". Cindy menepuk-nepuk pipi Rena. 


Suasananya pun jadi ramai. Banyak orang mengelilingi mereka berdua. 


***


Disisi lain keramaian yang tak jauh darinya menarik perhatian Rio dan istrinya. "Ada apa?" Tanya Rio pada istrinya.


"Sepertinya ada yang pingsan" 


"Iya bisa jadi"


Kemudian pandangan mereka kembali tertuju pada anak mereka yang sedang menaiki wahana permainan. Mereka melambaikan tangannya kepada anak mereka.


****


Kini Rena dan Cindy berada di klinik terdekat. Setelah ada pria yang membantu menggendong Rena ke klinik. Rena masih belum sadarkan diri. Lengan kirinya sudah terpasang infus. Cindy terus menggenggam tangan kanan Rena.


Sreeek…


"Bagaimana keadaan Rena?" Tanya Albian setelah menyibakkan tirai pembatas di ruangan dimana Rena dirawat.


Albian langsung pergi menghampiri mereka, ketika Cindy menelepon dengan suaranya yang panik. Beruntungnya rumah bundanya tak jauh dari wahana permainan itu.

__ADS_1


Cindy menoleh dan menggelengkan kepalanya. "Masih belum sadarkan diri" jawab Cindy sendu.


Albian berdiri di samping brankar Rena. Tangan kanannya menggenggam tangan Rena dan tangan kirinya mengusap lembut puncak kepala Rena.


"Maaf ya kak ganggu waktunya. Aku ga tau harus hubungi siapa?. Mama dan papa sedang diluar kota" 


"Tak masalah Cindy. Aku senang kamu mau menghubungiku. Apa kata dokter?"


"Kadar gulanya rendah, karena memang kita belum makan apapun sejak kita sampai dan…." 


Albian menatap Cindy tanda meminta penjelasan lebih.


Kemudian Cindy menceritakan bagaimana semua bisa terjadi. Albian semakin mengeratkan genggaman tangannya yang menggenggam tangan Rena. Dadanya begitu sesak melihat Rena yang kembali rapuh.


Tak lama Rena tampak mengerjapkan matanya. Perlahan matanya mulai terbuka. Pandangan pertama kali yang ia lihat adalah wajah Albian. Cindy sedang pergi ke toilet. 


"Akhirnya kamu sadar" kata Albian lega.


Rena berusaha untuk bangun dan dibantu oleh Albian. "Kenapa kamu bisa disini?" 


"Cindy menghubungiku" sahut Albian.


Tangan Albian masih menggenggam tangan Rena. Begitu Rena mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Air matanya menetes di atas salah satu pipinya. Tangannya pun semakin erat meremas jemari Albian.


Albian kemudian memeluk Rena tanpa mengatakan apapun. Rena membalas pelukan Albian. Dan membenamkan wajahnya di dada bidang Albian. Ia menangis dalam pelukan Albian. 


Setelah cukup tenang merenggangkan pelukannya dan mendongakan kepalanya. " Aku melihat dia Al" ucapnya lirih dengan wajahnya yang masih terdapat sisa air mata.


Albian mengangguk dan menangkup kedua pipi Rena. Ia menghapus jejak air mata Rena dengan ibu jarinya. "Semua akan baik-baik saja" ucap Albian kemudian kembali memeluk Rena dengan erat.


Cindy yang baru kembali dari toilet tidak berani mengganggu. Cindy memberikan waktunya untuk mereka berdua. Ia lalu memutuskan untuk keluar dan menunggu di ruang tunggu.

__ADS_1


__ADS_2