Tentang Rasa

Tentang Rasa
PINGSAN


__ADS_3

Lalu dengan cemberut Netta berjalan ke arah meja kebesarannya diikuti oleh Max. Dia mengambil sebuah kertas yang berisi tentang pemberian kekuasaan pada seseorang untuk mengatur perusahaannya. Netta menandatangani surat tersebut begitu juga dengan Max, lalu dia masuk ke dalam kamar dan berbaring. Max menutupi tubuh wanitanya dengan selimut dan mengecup keningnya.


" Awas, jauh-jauh dari Ayu!" kata Netta dengan mata terpejam.


" Kamu meragukanku, sayang!" sahut Max.


" Hmmm!" balas Netta.


Max hanya tersenyum lalu membawa surat dan dokumen dari Ayu.


Beberapa saat setelah kepergian Max, Netta yang tertidur tiba-tiba mual dan langsung berlari ke arah closet duduk di kamar mandi. Hoekkkk! Hoekkkk! Ah! Hoekkkk! Hoekkkk! Semua makanan yang dimakannya keluar begitu saja. Hoekkkk! Hoekkkk! Dia terduduk diatas closet dengan tubuh lemas. Ada apa denganku? Kenapa mual sekali? batin Netta. Wajahnya terlihat pucat dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Netta mencoba berjalan pelan kearah ranjang, tapi kembali rasa mual itu menyerangnya. Hoekkk! Hoekkk! Netta akhirnya duduk di closet lagi untuk beberapa lama. Setelah dirasa mualnya sedikit hilang, dia kembali berbaring di ranjang dan mencoba tidur.


" Sayang?!" panggil Max setelah selesai memimpin meeting selama 2 jam lebih.


" Ya, sayang!" sahut Netta yang masih berbaring di ranjang


Max berjalan menuju ke kamar Netta dan melihat kekasihnya itu berbaring sambil memejamkan matanya.


" Kenapa kamu...astaga! Kenapa wajahmu pucat sekali, sayang?" tanya Max panik saat melihat wajah pucat Netta.


" Aku baru aja muntah-muntah lagi, Max! Semua yang aku makan tidak tersisa!" jawab Netta.


" Apa makanan itu beracun? Aku akan menuntut resto itu jika memang benar!" kata Max marah.


" Entahlah!" jawab Netta.


" Apa kita ke dokter saja?" tanya Max.


" Tapi kamu kan nggak apa-apa, Max. Kamu juga makan!" tanya Netta.


" Ah, iya! Tapi kenapa kamu..."


" Aku mungkin hanya masuk angin saja! Beberapa hari ini aku memang selalu terlambat makan!" kata Netta.


" Kita ke Rumah Sakit saja, ya!" ajak Max khawatir.


" Nggak perlu, sayang! Ini aku sudah baikan! Peluk aku saja!" pinta Netta yang merasa sehat jika Max di dekatnya.


Max memeluk wanita di hadapannya itu dengan erat, seakan takut wanita itu akan menghilang dari hidupnya.


" I love you, darling! Kamu harus selalu baik-baik saja!" ucap Max lembut.


" I love you more!" jawab Netta, seakan apa yang dirasakannya tadi hilang tak berbekas.


" Istirahatlah lagi! Aku akan membereskan pekerjaanmu dan kita bisa pulang!" kata Max.

__ADS_1


Netta mengangguk melepaskan pelukannya pada Max. Karena Netta bilang memuntahkan semua makanannya, Max memesan kembali beberapa makanan untuk dimakan oleh Netta. Dengan lahap lagi Netta memakan semuanya.


" Apa perutmu masih mual?" tanya Max sesekali sambil beres-beres..


" Nggak, sayang! Aku malah merasa sehat sekali!" ucap Netta tersenyum.


" Baiklah! Sejam lagi kita pulang!" kata Max lalu mengecup puncak kepala Netta dan keluar dari kamar itu. Mereka pulang setelah Max membereskan semua pekerjaan Netta.


Mereka pulang saat keadaan kantor sudah sepi, Max tidak mau timbul gosip di kalangan pegawai. Max mengambil mobil dan berhenti di depan lobby karena hujan turun sedikit deras. Pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Netta dan mengemudikan sendiri mobil besar itu.


" Apa kamu lelah?" tanya Max sambil memegang tangan Netta lalu mengecup punggung tangan wanita itu.


" Sedikit!" jawab Netta tersenyum, digerakkannya tubuhnya untuk sedikit menghadap pada Max. Ditatapnya wajah tampan itu tanpa bosan-bosannya dengan sesekali mencium punggung tangan Max.


" Apa aku sangat tampan? Tanya Max.


" Ehmmm!" jawab Netta mengangguk.


Max tersenyum dan mengecup kembali tangan Netta.


" Apa membuatmu senang dengan terus memandangku?" tanya Max.


Netta terkejut dan pipinya sedikit merona, dia tersenyum.


" Entahlah! Tapi aku merasa sejak melihatmu tadi selama sebulan lebih nggak ketemu, kamu terlihat sangat tampan dan menarik!" jawab Netta terus terang.


" Iya! Itulah salah satunya kenapa aku jatuh cinta dan sangat mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu!" kata Netta mengenang saat dirinya pertama melihat Max.


" Apa kamu tahu jika aku juga sudah menyukaimu saat pertama kita bertemu?" tanya Max.


" Benarkah? Ini sangat mengejutkan!" jawab Netta tidak percaya.


" Ehmmm! Kamu begitu muda dan cantik! Terutama kamu sangat seksi, sayang!" jawab Max jujur.


" Tapi kenapa kamu menolakku saat aku rayu? Kau bahkan mendorongku hingga jatuh!" tutur Netta cemberut. Max mencium punggung tangan Netta.


" Aku pria yang memiliki tunangan dan akan menikah, sayang! Dan hal yang terakhir yang aku inginkan adalah sebuah skandal besar! Kamu pikir aku tidak merasa sakit menahan hasratku padamu?" kata Max panjang lebar.


" Salah sendiri! Pada hal saat itu aku siap jika kamu minta aku melepaskan semuanya saat itu juga!" kata Netta.


" Apa kamu akan melakukannya saat ini?" tanya Max menggoda Netta.


" Hentikan mobilnya!" kata Netta seketika.


" Untuk apa?" tanya Max.

__ADS_1


" Hentikan saja!" ucap Netta lagi.


" Tapi ini sudah malam, sayang. Perjalanan kita masih cukup jauh!" kata Max lagi.


" Sudah, turuti saja!" kata Netta.


" Masuk ke pom bensin di depan!" tunjuk Netta pada sebuah Pom Bensin dan Max menuruti apa kata wanitanya itu.


" Berhenti di pojok sebelah sana! Disitu agak sepi!" kata Netta.


Max masih menuruti apa yang disuruh oleh Netta dan tidak bertanya lagi. Memang keadaan Pom tersebut lumayan sepi, mungkin karena hujan keras yang sedang turun. Max menghentikan mobilnya sesuai arahan Netta. Dia sangat terkejut saat melihat Netta melepaskan pakaiannya.


" Apa yang kamu lakukan, sayang?" tanya Max.


Max menelan salivanya melihat tubuh Netta yang masih sangat sempurna walau telah memiliki seorang anak. Netta duduk dipangkuan Max.


" Bukankah kamu ingin melihatku?" bisik Netta dengan memeluk Max.


Perlahan Netta memundurkan tempat duduk Max dan mendorong sedikit sandaran Max ke belakang. Dibukanya dasi kekasihnya itu sambil mencumbu Max.


" Apa kita tidak bisa pindah ke hotel saja?" tanya Max disela kegiatan panas itu.


" Diam dan nikmati saja!" perintah Netta.


Max mengusap punggung Netta.


" Kenapa dengan dirimu, sayang?" goda Netta yang telah membuat tubuh pria itu bergetar.


" Aku akan membalasmu, sayang!" rintih Max.


" Aku belum melakukan apa-apa, sayang!" kata Netta dengan suara manjanya.


Tidak menunggu lama, Max menekan tombol agar kantong udara mengembang, kemudian dia menyandarkan punggung Netta disana dan membalas perlakuan wanita itu.


" Kamu memancingku, sayang!" balas Max.


Max sudah tidak tahan lagi, dan menyatukan tubuhnya dengan wanita yang sangat dicintainya itu.


" Dance!" ucap Max berbisik.


Netta merasa perutnya sedikit sakit akibat gerakan Max yang sedikit kasar.


" Maxxx!" teriak Netta merasa sakit pada perutnya bersamaan dengan Max yang melepaskan benihnya.


Netta terkulai lemas dipelukan Max.

__ADS_1


" Trima kasih, sayang! Kita harus melakukannya lagi kapan-kapan!" bisik Max.


__ADS_2