Tentang Rasa

Tentang Rasa
Andra Dan Perasaannya


__ADS_3

Sinar surya mulai menyeruak masuk kedalam kamar Kairi, saat ia menyibakkan tirainya dengan lebar. Kairi menggosok rambutnya yang basah, dengan handuk kecil yang ia bawa dari kamar mandi. Ia melirik jarum jam yang menggantung di dinding kamarnya, sudah jam 08.00 pagi. Lalu pandangannya beralih pada tubuh istrinya yang masih terlelap dalam mimpinya. Kairi tersenyum, melihat wajah cantik Ella yang sedang memejamkan matanya.


Kemudian Kairi melangkahkan kakinya mendekati ranjang, ia duduk disebelah istrinya. Lagi-lagi Kairi menyunggingkan senyum di bibirnya. Mengingat semalam, ahh rasanya sangat manis. Jika boleh jujur, sebenarnya Kairi sangat ingin membangunkan istrinya, dan mengajaknya untuk mengulanginya lagi. Tapi tidak, Kairi tidak seegois itu, ia sangat mencintai Ella, ia tahu jika wanitanya itu sekarang sedang lelah.


"Tidurlah sayang, aku akan tetap di sini menemani kamu. Aku tahu kau lelah, maaf ya jika semalam aku sedikit berlebihan. Kau sangat manis, kau membuatku selalu ingin mengulanginya, lagi dan lagi." ucap Kairi sambil mengusap pipi Ella dengan lembut.


Ella menggeliatkan tubuhnya, saat merasakan sentuhan diwajahnya. Ia mengerjapkan matanya, dan kemudian membukanya dengan pelan. Tatapannya langsung tertuju pada Kairi yang sedang tersenyum manis dihadapannya.


"Selamat pagi sayang." sapa Kairi sambil menggenggam tangan Ella.


"Pagi Kai." jawab Ella dengan suara seraknya.


"Apa kau masih lelah?" tanya Kairi sambil menatap Ella.


Sontak Ella langsung menarik selimutnya, dan menutupi wajahnya. Pertanyaan Kairi membuatnya teringat dengan kejadian semalam. Ella merasa sangat malu. Semalam dia mendesah, dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Kairi diseluruh tubuhnya.


"Hei apa yang kau lakukan?" tanya Kairi sambil terkekeh.


"Jangan banyak tanya!" bentak Ella.


"Aduh malu sekali rasanya, semalam bahkan aku sempat memuji tubuhnya yang sempurna. Sekarang mau ditaruh dimana mukaku ini." batin Ella dalam hatinya.


"Sayang!" panggil Kairi sambil berbaring disamping Ella, tangannya menarik selimut yang menutupi wajah Ella. Hingga sekarang wajah istrinya terlihat dengan jelas.


"Aku malu Kai." ucap Ella sambil menenggelamkan wajahnya di bantal.


"Aku suamimu, kenapa malu." kata Kairi sambil terkekeh. Lalu ia merangkul Ella dengan erat, dan menciumi lehernya.


"Jangan Kai, aku lelah." ucap Ella.


"Aku hanya menciummu sayang, tidak lebih." kata Kairi.


"Bohong!" bentak Ella, mengingat semalam, Kairi selalu meminta untuk mengulanginya lagi. Ahh rasanya pagi ini Ella sudah tidak bertenaga, bahkan untuk bangun saja ia merasa kesulitan.


"Kalau begitu menghadap kesini, dan lihat aku." kata Kairi.


"Aku tidak mau." jawab Ella.


"Baiklah, kalau tidak mau berarti..." ucap Kairi.


"Kau menyebalkan Kai!" teriak Ella sambil menoleh.


Kairi tersenyum saat melihat istrinya yang sudah menatapnya dengan pelototan tajam.


"Berendamlah dalam air hangat, aku akan membantumu menyiapkannya. Nanti tubuhmu akan terasa lebih baik sayang. Maaf ya kalau semalam aku sedikit berlebihan." ucap Kairi sambil merapikan rambut Ella.


"Bukan sedikit berlebihan, tapi terlalu berlebihan." kata Ella masih denga nada tinggi. Dan Kairi, ia hanya menanggapinya sambil tersenyum nyengir.


Ella hendak bangkit dari tidurnya, namun rasa sakit dibawah sana, membuat gerakannya tertahan. Kairi yang menyadari hal itu, ia langsung bangkit, dan merangkul tubuh Ella.


"Apakah sakit sayang?" tanya Kairi sambil menatap istrinya yang hampir menangis.


"Tidak, kamu pergilah sana! Aku mau ke kamar mandi!" kata Ella dengan cepat.


"Aku akan membantumu." ucap Kairi.


"Aku tidak mau."


"Kau kesakitan sayang, biarkan aku membantumu." ucap Kairi.


"Aku tidak mau. Aku tidak memakai baju Kai, kau nanti akan melihatku." kata Ella dengan kesal.


"Aku sudah melihatmu!" jawab Kairi dengan cepat.


"Diam Kai!" teriak Ella sambil memukul dada Kairi yang tidak tertutup baju.


Dan tiba-tiba Kairi mencekal tangan Ella dengan erat.


"Diamlah! Jangan banyak bicara, dan biarkan aku membantumu." kata Kairi sambil satu tangannya meraih kaki Ella. Kairi mengangkat tubuh Ella, dan membawanya turun dari ranjang.


"Kai lepaskan aku, apa yang kau lakukan!" teriak Ella sambil mengalungkan tangannya di leher Kairi.


"Gabriella, sejak kapan kau menjadi secerewet ini." kata Kairi sambil terus membawa tubuh Ella menuju ke kamar mandi. Ella menyembunyikan wajahnya di dada Kairi. Tubuhnya memang masih dibungkus selimut coklat bermotif beruang, namun dibalik selimut itu, tak ada sehelai benangpun yang melekat ditubuhnya.


Kairi menurunkan tubuh Ella didekat bath up. Lalu ia mengisi bath up itu dengan air hangat hingga penuh. Ella masih berdiri terpaku, menatap Kairi yang begitu perhatian padanya. Semalam lelaki itu juga memperlakukannya dengan lembut, hanya saja memang sedikit berlebihan. Dan mungkin karena ini masih pertama kali bagi Ella, jadi ia merasa sangat sakit, dan lelah.


"Lepaskan selimutnya sayang, dan berendamlah di sini!" kata Kairi sambil mendekati Ella.


"Kamu keluarlah Kai!" ucap Ella sambil tetap memeluk selimutnya.


"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, kalau kau kesulitan untuk melakukan sesuatu bagaimana." jawab Kairi dengan tegas.


"Tapi Kai..."


"Kau harus terbiasa sayang, lepaskan selimutnya, dan berendam di sana!" kata Kairi sambil mendekati Ella, dan perlahan mulai menarik selimutnya.


Ella menunduk, membiarkan Kairi melepaskan selimutnya, dan membantunya melangkah menuju bath up. Ella merendam tubuhnya dalam air hangat. Sedangkan Kairi, ia duduk berjongkok didepan Ella.


Ella melirik suaminya sekilas, pipinya mulai memerah kala kejadian semalam kembali terlintas dalam ingatannya.

__ADS_1


"Kapan kau akan keluar Kai?" tanya Ella dengan pelan, ia merasa kurang nyaman saat melihat Kairi didekatnya, dengan bertelanjang dada.


"Aku akan menemanimu sampai kau selesai." jawab Kairi.


"Keluarlah Kai, aku tidak apa-apa." ucap Ella.


"Tidak."


"Kai!"


"Tidak sayang."


Ella menghela nafas panjang, suaminya ini benar-benar keras kepala.


"Aku lapar Kai." ucap Ella setelah terdiam beberapa detik lamanya.


"Kau lapar?" tanya Kairi.


Dan Ella menjawabnya dengan anggukan.


"Selesaikan dulu mandimu, dan nanti aku akan mengambilkan sarapan untukmu." ucap Kairi.


"Aku mau sekarang Kai." kata Ella sambil menatap Kairi.


"Tapi sayang."


"Ya sudah kalau begitu, aku tidak mau makan, biarkan saja lapar seharian." gerutu Ella dengan kesal.


Kairi mengernyitkan keningnya, sedikit heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba kesal tanpa alasan yang jelas. Apa itu karena bawaan hamil? Tapi masa iya, membuatnya saja baru semalam, masa sekarang sudah hamil. Mungkinkah bisa secepat itu?


Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kairi beranjak dari duduknya.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan turun, dan mengambilkan sarapan untukmu." ucap Kairi sambil melangkah keluar.


Ella menghela nafas panjang, hatinya sangat lega saat Kairi sudah benar-benar keluar dari kamar mandi.


"Akhirnya kamu pergi juga Kai, aku malu, dan juga gugup kalau kamu ada di sini." ucap Ella sambil meraih sebotol sabun cair yang ada disebelahnya.


"Ternyata seperti ini ya rasanya menikah, bahagia sih, tapi juga sakit." gerutu Ella seorang diri.


Sementara itu, Kairi sedang berjalan menuruni anak tangga sambil bersiul. Dengan balutan baju pendek warna putih, yang dipadukan dengan celana kasual selutut. Penampilan yang tampak sederhana, namun tetap membuatnya terlihat tampan. Rambutnya masih sedikit basah, membuat wajahnya terlihat lebih segar.


Kairi berjalan mendekati keluarganya yang sedang duduk bersama di meja makan. Mereka baru saja menyelesaikan sarapan paginya.


"Selamat pagi." ucap Kairi sambil duduk disebelah Bu Mirna.


"Selamat pagi Kai, Ella mana?" tanya Bu Mirna sambil menatap Kairi.


"Kairi terlihat sangat bahagia, dan Ella sekarang masih ada didalam kamar. Apa yang mereka lakukan semalam." batin Andra sambil melirik Kairi.


"Kenapa tidak diajak sarapan Kai?" tanya Pak Louis sambil menatap Kairi yang sedang menyentong nasi.


"Ingin sarapan di kamar Pa." jawab Kairi sambil tersenyum miring.


"Jangan berlebihan Kai!" kata Pak Louis dengan tegas.


"Tidak Pa, masih wajar kok." jawab Kairi sambil terkekeh.


Pak Louis hanya menggelengkan kepala, melihat Kairi yang cengengesan tidak jelas. Begitu bahagianya dia setelah menikah.


"Sekalian bawakan buahnya Kai." sahut Bu Mirna sambil menyodorkan irisan buah apel pada Kairi.


"Terima kasih Ma." jawab Kairi.


"Butuh bantuan?" tanya Andra saat melihat Kairi kerepotan membawa nampan yang sudah penuh.


"Tidak usah, masih bisa kok." jawab Kairi.


"Minumnya belum Kai." kata Bu Mirna.


"Biar aku bawakan, itu sudah tidak muat." sahut Andra.


"Baiklah." jawab Kairi sambil melangkah pergi meninggalkan meja makan.


Andra juga beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju ke dapur. Di sana, ia menyeduh secangkir matcha latte, minuman kesukaan Ella. Lalu ia mengambil sebotol air mineral, dan membawanya ke lantai atas.


Andra terus berjalan, dan akhirnya berhenti didepan kamar Kairi. Ia mengetuk pintunya dengan pelan, dan tak lama kemudian Kairi membukanya.


"Kau yang membuat ini?" tanya Kairi sambil meraih secangkir matcha latte hangat yang disodorkan Andra padanya.


"Iya." jawab Andra dengan singkat.


"Terima kasih." ucap Kairi.


Andra mengangguk, dan kemudian melangkah menuju ke kamarnya.


Kairi membawa minuman itu kedalam kamarnya, dan meletakkannya diatas meja. Dan tak lama kemudian, Ella keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih dibalut handuk, dengan rambut panjangnya yang masih sangat basah.


"Kok kamu sudah ada di sini Kai!" teriak Ella.

__ADS_1


"Jangan berteriak sayang, cepat ganti baju, setelah itu kita sarapan." kata Kairi sambil beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati Ella.


"Kau sangat wangi Gabriella." ucap Kairi sambil memeluk Ella dari belakang, dan mulai menciumi lehernya.


"Kai aku capek." kata Ella sambil berusaha melepaskan pelukan Kairi.


"Aku hanya ingin memelukmu seperti ini, sebentar saja." ucap Kairi sambil mengeratkan pelukannya.


Ella diam, ia tidak punya pilihan lain. Ia membiarkan Kairi memeluk tubuhnya, dan menciumi lehernya.


Ella mencengkeram ujung handuknya dengan kedua tangannya. Meskipun ia masih sangat lelah, namun tubuhnya semakin terasa panas saat bibir Kairi terus menempel dikulit lehernya.


"Kai, kau benar-benar menyebalkan." batin Ella sambil menggigit bibirnya.


"Apa kau menginginkannya sayang?" goda Kairi saat melihat Ella yang sedang menggigit bibirnya.


"Tidak, kau jangan macam-macam Kai." jawab Ella dengan cepat.


"Katakan saja jika kau menginginkannya, aku akan memperlakukanmu dengan sangat lembut, lebih lembut dari semalam." bisik Kairi tepat ditelinga Ella.


"Aku minum dulu Kai!" teriak Ella sambil memejamkan matanya. Sentuhan Kairi benar-benar membuatnya tenggelam dalam rasa panas yang semakin menjalar diseluruh tubuhnya.


"Baiklah, minumlah dulu." kata Kairi sambil melepaskan pelukannya.


Ella melangkah menjauhi Kairi, ia mendekati meja, dan meraih secangkir matcha latte hangat yang ada di sana. Ella menyesapnya dengan pelan, kemudian ia menoleh, menatap Kairi sambil tersenyum.


"Sangat enak Kai, terima kasih ya." ucap Ella sambil kembali menyesap minumannya.


"Sangat enak." kata Kairi mengulangi ucapan Ella.


"Iya, kau sangat tahu seleraku Kai." jawab Ella sambil duduk di sofa. Ia kembali menyesap minumannya hingga tandas.


Kairi menatapnya dengan perasaan yang tidak nyaman. Entah cemburu, atau entah apa namanya, yang jelas perasaan itu benar-benar mengganggu hatinya.


"Aku akan segera menyiapkan pesta pernikahan kita, setelah pesta itu selesai, aku akan segera membawamu ke Paris. Aku tidak bisa lama-lama mengajakmu tinggal di sini Gabriella." ucap Kairi dalam hatinya.


"Kau kenapa Kai?" tanya Ella saat melihat suaminya diam terpaku.


"Tidak apa-apa. Cepat ganti baju, dan setelah itu kita sarapan." ucap Kairi sambil duduk disebelah Ella. Lalu ia meraih ponselnya, dan memeriksa beberapa pesan dari Reymond.


"Kairi kenapa, apa ada yang salah denganku?" batin Ella sambil melirik Kairi.


"Kai, kau kenapa?" tanya Ella sambil memegang lengan Kairi.


"Aku tidak apa-apa, cepatlah ganti baju, aku tahu kau lelah." jawab Kairi sambil mengusap pipi Ella, dan kemudian mencium keningnya.


"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Ella.


"Tidak sayang." jawab Kairi sambil berusaha tersenyum.


"Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya, kau tidak tahu jika minuman itu adalah buatan Andra. Tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman Gabriella." ucap Kairi dalam hatinya.


***


Tiga hari kemudian.


Andra sudah kembali bekerja di kantornya, bersama Pak Louis. Sedangkan Bu Mirna, beliau belum pergi ke kantor, karena masih membantu Kairi untuk mempersiapkan pesta pernikahannya, yang akan diselenggerakan lima hari lagi.


Pagi ini, Andra sudah duduk di kursi kerjanya. Ia sengaja datang lebih awal, karena ada beberapa tugas yang harus segera ia selesaikan. Andra ingin fokus dengan pekerjaannya, dan berusaha melupakan urusan cintanya. Sebisa mungkin Andra menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan. Itu semua ia lakukan untuk menghibur hatinya.


Meskipun Andra sadar, bahwa ia sudah tidak ada harapan lagi untuk bersama dengan Ella. Namun Andra masih mencintainya, dan entah berapa tahun lagi, ia baru bisa menghapus perasaannya untuk Ella.


Disaat Andra sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dari luar.


"Masuk!" kata Andra dengan suara yang cukup keras.


Pintu ruangan terbuka, dan ternyata yang datang adalah Vino. Dia langsung melangkah masuk, dan duduk didepan Andra.


"Tidak biasanya kamu kesini Vin, ada apa?" tanya Andra sambil menatap Vino.


"Sorry Ndra." jawab Vino sambil menyodorkan selebaran kertas berwarna coklat yang dihiasi pita dengan warna yang senada.


Andra meraih kertas itu, yang ternyata adalah undangan pernikahan. Andra membukanya dengan pelan, dan membacanya dalam hati. Dua minggu lagi, Vino dan Nadhira akan menikah.


Andra menghela nafas panjang, ada sedikit rasa sesak dalam hatinya, saat teringat dengan nasibnya saat ini. Vani, Ella, dan sekarang Nadhira, wanita yang pernah disakitinya, kini mereka sudah menemukan pasangan hidupnya. Sedangkan dirinya, ia masih sendiri, ia masih larut dalam penyesalannya. Kesalahannya dimasa lalu, membuat ia kehilangan sosok wanita yang sempurna, wanita yang selalu ada dalam hatinya.


"Kau dan Nadhira akan menikah?" tanya Andra sambil menatap Vino.


"Maaf Ndra, tapi aku memang mencintainya." jawab Vino.


"Tidak perlu meminta maaf Vin. Aku senang kalau kau bisa membahagiakan dia, Nadhira adalah wanita yang baik." ucap Andra.


"Kau menyesal telah melepaskan dia?" tanya Vino.


"Tidak, itu adalah keputusan yang tepat Vin. Dia memang wanita yang baik, tapi kau tahu, aku tidak bisa mencintainya." jawab Andra sambil tersenyum hambar.


"Apa kau masih mencintai Ella? Dia sekarang sudah menjadi kakak iparmu Ndra." kata Vino sambil menatap Andra.


"Tentu saja tidak." jawab Andra dengan cepat.

__ADS_1


"Cukup aku yang tahu, bahwa perasaanku untuk Ella masih jelas ada. Aku tahu dia adalah kakak iparku, tapi dia juga wanita yang namanya selalu bertahta dalam hatiku." batin Andra dalam hatinya.


Bersambung.......


__ADS_2