Tentang Rasa

Tentang Rasa
Rahasia Suci


__ADS_3

"Meskipun kritis, tapi Suci masih bisa diselamatkan kan Mas? Aku tidak akan pernah memaafkan lelaki yang bernama Andra itu, jika terjadi sesuatu dengan Suci." sebaris kalimat yang membuat Andra tersentak kaget. Apakah Suci yang mereka maksud adalah Suci yang ia kenal? Kenapa mereka juga menyebut nama Andra? Sebenarnya apa yang terjadi?


Dengan hati yang berdebar-debar, Andra memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Selang beberapa detik, pintu ruangan dibuka lebih lebar. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang yang sedikit bergelombang. Wanita yang kemarin mengantarkan Kairi. Wanita itu mengernyit heran, melihat Andra berdiri didepan ruangan suaminya. Apa yang ia lakukan di sini?


"Kamu! Untuk apa kamu datang kesini?" tanya wanita itu dengan nada ketusnya.


"Saya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin." jawab Andra.


"Lupakan saja!" kata wanita itu.


"Saya juga ingin membahas yang lain, bolehkah saya masuk?" tanya Andra.


"Masuklah!" kata wanita itu masih dengan nada yang tidak bersahabat.


Andar melangkah masuk kedalam ruangan. Ia melihat sosok lelaki bermata biru dengan rambut berwarna pirang, sedang duduk di kursinya. Lelaki itu tersenyum saat menatap Andra, dan dia mempersilkan Andra untuk duduk didepannya. Dilihat dari wajahnya, sepertinya ia orang asli Prancis, namun dari suara yang tadi ia dengar, lelaki itu sangat fasih berbicara dalam bahasa Indonesia. Sarah saat itu langsung melenggang pergi, ia keluar ruangan meninggalkan Anston, dan Andra.


"Apakah benar Anda Bapak Anston?" tanya Andra mengawali pembicaraannya.


"Iya, saya Anston. Silakan perkenalkan diri Anda, dan apa keluhan Anda!" jawab Anston sambil tersenyum.


"Maaf Pak, tapi saya kesini bukan untuk berobat. Saya adalah adiknya Kairi. Lelaki yang Bapak tolong selama ini." ucap Andra.


"Oh adiknya Kairi, senang bertemu dengan Anda. Apakah terjadi sesuatu dengan Kairi?" tanya Anston.


"Tidak Pak, saya kesini karena hal lain. Yang pertama, saya ingin meminta maaf kepada istri Bapak. Kemarin saya salah paham dengannya, saya sudah mengatakan kalimat yang tidak mengenakkan padanya. Saya benar-benar meminta maaf untuk hal itu." kata Andra sambil menunduk.


"Sarah sudah menceritakan semuanya pada saya. Tidak apa-apa, hanya kesalahan kecil. Jangan terlalu difikirkan." ucap Anston sambil terkekeh.


"Terima kasih Pak." jawab Andra.


"Iya, itu hanya salah paham, dan Anda tidak sengaja melakukannya. Seharusnya tidak perlu repot-repot datang kesini untuk meminta maaf." kata Anston.


"Anda sudah menolong kakak saya, saya merasa tidak enak hati." ucap Andra.


"Baiklah, kalau begitu saya berterima kasih atas kebaikan hati Anda. Oh ya apa ada hal yang lainnya?" tanya Anston sambil menatap Andra.


"Sebenarnya iya, tapi lagi-lagi saya meminta maaf. Saya tadi tidak sengaja mendengar istri Bapak menyebutkan nama Suci. Apakah itu Suci yang berasal dari Indonesia, apakah nama lengkapnya Suci Regina Hilmy?" tanya Andra dengan jantung yang berdetak dengan semakin cepat.


Anston tersentak, ia tidak menyangka jika ada orang luar yang mengenali pasiennya. Anston menghela nafas panjang, dan membuangnya dengan perlahan. Lalu ia menegakkan duduknya, dan menatap Andra lekat-lekat.


"Iya dia Suci Regina Hilmy, dia berasal dari Indonesia, dia adalah sahabat dekat istri saya. Apakah Anda mengenalnya?" Anston balik bertanya.


Andra sedikit tersentak, ternyata benar Suci yang dikenalnya. Lalu apa maksudnya ini, tadi Sarah bilang dia kritis, apa yang terjadi padanya.


"Dia teman saya Pak waktu di Indonesia, kalau boleh tahu apa yang terjadi padanya, apakah dia kecelakaan?" tanya Andra dengan harap-harap cemas.


"Tidak, dia sakit." jawab Anston.


"Sakit apa dia?" tanya Andra.


"Apakah Anda benar-benar temannya? Sebenarnya kondisi pasien itu bersifat privasi. Kami sebagai dokter wajib menjaga informasi ini, tidak boleh memberitahukannya, kecuali kepada keluarga dekatnya." ucap Anston sambil menatap Andra.


"Hubungan kita lebih dari teman Pak, dan sejak Kairi kecelakaan, saya kehilangan kabar tentang dia. Selama ini saya kebingungan mencari tahu bagaimana kabarnya, dan apa yang terjadi padanya." kata Andra sambil menghela nafas panjang.


"Sebenarnya Suci menderita kanker darah, sudah sangat lama dia mengidap penyakit itu. Dan sekarang kondisinya sedang kritis, sangat kritis. Bahkan saya tidak berani mengatakan, kalau dia masih bisa diselamatkan. Itu sebabnya saya kemarin tidak bisa ikut mengantarkan Kairi." ucap Anston dengan serius.


Kalimat yang Anston ucapkan, bagaikan petir yang menyambar tepat di ulu hati Andra. Kanker darah, kenapa Suci menyembunyikan semua itu darinya? Jadi selama ini dia berada di Paris, pantas saja waktunya sama dengan di London. Kenapa Suci tidak jujur dengannya?

__ADS_1


Andra mengusap wajahnya dengan kasar, bintik-bintik keringat mulai membasahi keningnya. Kabar yang baru saja ia terima, benar-benar mengejutkannya.


Belum sempat Andra mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba Sarah berlari masuk kedalam ruangan. Dengan nafas yang terengah-engah, ia berteriak memanggil suaminya.


"Mas, Mas Anston!" panggil Sarah.


"Ada apa sayang, kenapa kau berlari?" tanya Anston sambil beranjak dari duduknya. Sedikit heran saat melihat istrinya masuk dengan raut wajah yang sangat panik.


"Suci, Suci Mas. Detak jantungnya melemah, kamu harus menolongnya Mas." ucap Sarah dengan cepat.


"Apa! Pak bolehkah saya ikut melihatnya, saya ingin tahu bagaimana keadaannya." sahut Andra sambil menggenggam lengan Anston.


"Kamu siapa, apa kamu kenal dengan Suci? Tunggu! Jangan bilang kalau kamu, kamu adalah Andra yang dimaksud Suci." kata Sarah seraya jari telunjuknya menunjuk ke arah Andra.


"Iya." jawab Andra dengan pelan.


"Kamu laki-laki berengsek! Kamu sudah menghancurkan hidup Suci, pergi kamu dari sini! Jangan pernah menemui Suci lagi, hidupnya sudah hancur karena kamu!" bentak Sarah sambil mendorong tubuh Andra.


"Sayang tenanglah, jangan seperti ini! Kamu ingat, waktu itu keadaan Suci mulai membaik, karena hubungannya dengan Andra juga membaik. Tidak ada salahnya kita biarkan dia menemuinya, mungkin itu bisa membuat Suci lebih baik." kata Anston sambil memegang kedua bahu Sarah. Ia juga mengusap air mata istrinya yang mulai menetes.


"Ayo!" ajak Anston sambil melangkah keluar ruangan.


Sarah, dan Andra langsung mengikutinya dibelakang. Mereka melangkah tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan ruang ICU. Anston membuka pintunya, mengajak Andra masuk kedalam ruangan. Sedangkan Sarah, ia menunggunya di luar. Anston, dan Andra melangkah mendekati ranjang, dan Anston langsung memeriksa kondisi Suci.


Hati Andra teriris sakit, melihat Suci yang terbaring tak berdaya. Matanya terpejam rapat, tubuhnya kurus kering, dan pucat. Ventilator, selang infus, dan beberapa alat lainnya, tampak terpasang di tubuh Suci.


"Suci, kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku?" ucap Andra dengan pelan, seraya menggenggam tangan Suci dengan erat.


Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca, luka dihatinya kembali menganga. Begitu menderitanya hidup Suci, dan sedikit banyak ia ikut andil dalam penderitaan itu. Andra menuduk, mengusap rambut Suci yang kusut. Lalu ia mencium keningnya cukup lama, dan meneteskan buliran-buliran bening di sana.


"Saya akan memeriksanya lebih lanjut, sekarang silakan tunggu diluar!" kata Anston sambil menatap Andra.


"Baik, saya percaya Anda bisa, tolong selamatkan Suci." ucap Andra dengan pelan.


"Saya akan berusaha semampu saya." jawab Anston sambil menghela nafas panjang.


Dengan langkah gontainya Andra keluar dari ruangan. Ia terduduk lesu di kursi tunggu. Sarah yang saat itu juga duduk di sana, menatap Andra dengan tajam. Seolah ada banyak hal yang mengganggu hatinya, dan ingin sekali ia katakan pada Andra.


Andra menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyeka sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Lagi-lagi ia menyesali perbuatannya dimasa lalu. Kecerobohan, kesalahan, dan kebodohan yang ia lakukan, benar-benar fatal, dan sulit untuk dimaafkan.


"Kau tahu apa yang terjadi pada Suci?" tanya Sarah dengan tiba-tiba.


Andra menurunkan kedua tangannya, ia menoleh, menatap Sarah yang duduk di sebelahnya.


"Dia sakit kanker darah." jawab Andra.


"Kau tahu apa yang terjadi dimasa lalu, seperti apa kesulitannya dia?" tanya Sarah.


"Keluarganya pernah bangkrut, dan dia pernah hamil." jawab Andra.


"Hanya itu yang kau tahu?" Sarah kembali bertanya.


"Anaknya sudah tiada." jawab Andra.


"Kau tahu kenapa anaknya meninggal?" tanya Sarah dengan nada yang lebih tinggi, seraya matanya menatap Andra dengan tajam.

__ADS_1


"Dia sakit." jawab Andra dengan pelan. Jujur sebenarnya ia juga ragu dengan jawabannya. Melihat Sarah yang emosi, Andra takut jika ada hal lain yang Suci sembunyikan darinya.


"Anaknya meninggal itu gara-gara kamu!" teriak Sarah dengan nafas yang memburu.


"Apa, apa maksudnya ini?" tanya Andra dengan gugup.


"Suci sangat bodoh, mencintai lelaki berengsek seperti kamu!" ucap Sarah dengan pandangan yang datar.


"Kau tidak ada disampingnya, disaat keluarganya nyaris bangkrut. Dia berjuang sendirian demi keluarganya, hingga ia tidak menyadari jika ada janin yang mulai tumbuh dalam perutnya. Dia datang padamu, meminta pertanggungjawabanmu, namun kau malah menolak. Kau memberikan beban yang sangat besar disaat ia sedang berada dalam kesulitan." sambung Sarah dengan pandangan yang lurus kedepan, ia tak sedikitpun melirik Andra.


"Maafkan aku, waktu itu aku memang salah. Aku fikir Suci punya hubungan dengan pria lain." ucap Andra sambil mengacak rambutnya.


"Dimana hatimu, kenapa kau tidak bisa melihat perasaan Suci yang begitu tulus mencintaimu? Dari dulu yang dia cintai hanyalah kamu. Tidak peduli seburuk apa kepribadian kamu, tidak peduli sebesar apa kau melukainya, perasaannya padamu tidak pernah pudar." kata Sarah sambil menatap Andra lekat-lekat.


Andra menunduk lesu, lagi-lagi ia merutuki kebodohannya.


"Jangankan Suci yang jarang bersama. Ella yang setiap hari selalu bersama saja, aku tidak bisa melihat perasaannya. Ahh aku memang bodoh, kenapa hatiku selalu buta." ucap Andra dalam hatinya.


"Dia hamil sendirian, dia menerima amukan dari kedua orang tuanya juga sendirian. Aku melihat sendiri, bagaimana Ayahnya menampar wajahnya dengan keras, itu sangat menyakitkan. Belum lagi dengan sikap orang-orang disekitarnya. Mereka memandang Suci dengan sebelah mata, mereka menghinanya, dan merendahkannya, karena ia hamil diluar nikah." kata Sarah sambil menunduk.


Andra masih diam, ia mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan oleh Sarah.


"Sampai tiba saatnya ia melahirkan, kala itu kondisi keluarganya belum pulih. Mereka masih dalam kesulitan. Sedangkan aku, aku hanyalah orang miskin, aku tidak bisa membantu Suci, aku hanya berusaha untuk selalu ada disamping dia." sambung Sarah sambil menyeka air matanya yang mulai menetes.


"Saat Suci melahirkan, aku tahu satu fakta pahit tentang dia. Ternyata dia menderita kanker darah, dan penyakit itu juga menurun pada bayinya. Sejak lahir Bintang sakit-sakitan, dan Suci tidak punya cukup uang untuk mengobatkannya." ucap Sarah dengan suara yang serak, dan pelan.


"Andai saja kau mau bertanggungjawab, Bintang tidak akan meninggal. Kau punya cukup uang untuk mengobatkan dia! Tapi apa yang kau lakukan, kau benar-benar lelaki berengsek. Kau yang menyebabkan anakmu meninggal!" teriak Sarah sambil beranjak dari duduknya. Ia terus menangis sambil menunjuk-nunjuk wajah Andra.


"Apa!" kata Andra tidak percaya. Jadi itu yang menyebabkan Bintang meninggal, kenapa, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Satu lagi fakta pahit yang terlambat Andra ketahui, kenapa takdir sangat senang menghancurkan hatinya.


"Tapi dia bodoh, dia masih saja mencintaimu. Banyak lelaki lain yang lebih bermoral, yang ia tolak hanya demi menunggu kamu. Tapi apa balasan kamu, disaat ia berjuang melawan penyakitnya, kau tiba-tiba menghilang. Kau kembali menyakiti dia, dan dia drop karena itu. Dia tidak lagi punya keinginan untuk sembuh, kau yang sudah membuatnya seperti ini!" bentak Sarah sambil menatap Andra dengan tajam.


Ia tidak peduli dengan tatapan banyak orang yang berlalu lalang. Saat ini emosinya benar-benar membuncah, ingin sekali ia memukul wajah Andra saat itu juga.


"Aku tidak bermaksud meninggalkan dia. Saat Kairi kecelakaaan aku langsung terbang ke London, aku terburu-buru sampai aku melupakan ponselku. Dua hari setelah itu, aku mencoba menghubungi dia, tapi nomornya sudah tidak aktif. Aku kehilangan kabar tentang dia." ucap Andra dengan panjang lebar, ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Sarah menghela nafas panjang, sepertinya Andra tidak berbohong. Karena keadaan Suci yang drop, itu bertepatan dengan saat dia menemukan Kairi di Mauritius.


"Tapi seharusnya kau mengabari dia. Dia kelabakan menghubungi kamu namun tidak berhasil, dan akhirnya dia drop. Dia tidak rela, jika kembali kehilangan kamu." ucap Sarah sambil kembali duduk di sebelah Andra.


"Dia tidak pernah menceritakan tentang penyakitnya padaku. Bahkan dia bilang padaku, kalau saat ini dia sedang berada di Thailand." kata Andra sambil mengusap wajahnya.


"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku Ci, kenapa kau menyimpannya sendirian? Aku ingin menebus kesalahanku, aku ingin menjadi tempat sandaranmu. Aku akan belajar mencintai kamu, tapi kenapa? Kenapa takdir malah memberikan jalan yang seperti ini." batin Andra dalam hatinya.


Sesak, sakit, perih bercampur menjadi satu dalam relung hatinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang, bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Suci? Masih bisakah ia memaafkan dirinya sendiri?


"Dia menyembunyikan semua ini, karena dia takut kehilangan kamu. Dia penyakitan, dengan kondisinya yang seperti itu, dia akan kesulitan untuk memiliki anak. Dia takut kau akan meninggalkan dia. Dia takut kau tidak bisa menerima kekurangannya." kata Sarah sambil menatap Andra.


"Aku tidak seperti itu, aku akan menerima dia apapun kondisinya. Aku akan mencintai dia, aku akan selalu ada untuk dia, aku tidak akan pernah meninggalkannya." ucap Andra dengan cepat.


"Entah ini cinta, atau karena perasaan bersalah. Yang jelas untuk saat ini, aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia." ucap Andra dalam hatinya.


"Dengan semua sifatmu dimasa lalu, kau fikir Suci bisa menganggapmu begitu? Kau sudah terlalu sering menyakiti dia." kata Sarah dengan nada yang sinis.


Belum sempat Andra menjawab ucapan Sarah, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


Anston tampak berdiri tegap dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke saku. Tidak ada senyuman sedikitpun di bibirnya. Hanya bintik-bintik keringat yang tampak membasahi keningnya.

__ADS_1


Andra, dan Sarah beranjak dari duduknya, mereka bergegas menghampiri Anston yang masih berdiri terpaku. Anston menghela nafas panjang, sambil menatap mereka secara bergantian.


Bersambung......


__ADS_2