Tentang Rasa

Tentang Rasa
Salsabilla Dela Vinci


__ADS_3

Ella masih menatap Andra tanpa kedip. Lelaki itu berdiri dengan pandangan mata yang datar, kedua tangannya tampak mengepal. Ella memegang lengan Andra, ia tahu jika sahabatnya itu juga sedang hancur. Mereka sama-sama rapuh, tidak ada salahnya jika saling menguatkan. Namun belum sempat Ella mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba perutnya terasa sakit. Tangan kanannya tetap memegang lengan Andra, dan tangan kirinya memegangi perutnya. Ella mengeratkan genggamannya pada lengan Andra, rasa sakit di perutnya semakin menjadi, hingga keringatnya mulai mengucur membasahi wajahnya.


"El, kenapa El?" tanya Andra dengan cepat, ia memegang kedua bahu Ella sambil menatapnya lekat-lekat.


"Ah...sakit Ndra, rasanya sangat sakit." jawab Ella sambil menjatuhkan dirinya di pelukan Andra, ia tak sanggup lagi untuk berdiri. Rasa sakit di perutnya seakan menguras tenaganya, hingga ia tak berdaya.


"Apa kamu akan melahirkan El?" tanya Andra dengan panik. Ia merangkul tubuh Ella, dan menahannya agar tidak terjatuh.


"Aku tidak tahu, sakit Ndra, ahh sakit sekali." jawab Ella sambil mencengkeram lengan Andra dengan keras.


"Tahan sebentar El, aku akan membawamu ke rumah sakit!" teriak Andra sambil merogoh ponselnya. Ia menelfon satpam yang bekerja di apartemennya. Meminta tolong padanya untuk mengabari Bu Halimah, dan mengantarkan mobilnya ke sana.


Andra mengangkat tubuh Ella. Ia menggendongnya, dan membawanya ke tepi jalan. Ella menyandarkan kepalanya di dada Andra, seraya tangannya masih tetap mencengkeram lengannya.


Tak lama kemudian, Andra sudah sampai di tepi jalan. Ia menunggu pak satpam sambil menenangkan Ella yang sedang kesakitan.


"Sabar ya El, sebentar lagi mobilnya akan datang, aku akan secepatnya membawamu ke rumah sakit." kata Andra sambil menatap Ella yang meringkuk didalam pelukannya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, pak satpam sudah datang, dan menghentikan mobilnya didepan Andra. Andra langsung membuka pintu mobilnya, dan membaringkan Ella di kursi belakang, dengan kepalanya disandarkan di pangkuan Bu Halimah.


"Ella, tahan sebentar ya nak, ada Ibu di sini." kata Bu Halimah sambil mengusap kepala Ella dengan lembut.


Andra bergegas duduk didepan kemudi, dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pak satpam kembali dengan berjalan kaki, karena kebetulan jaraknya dengan apartemen tidak terlalu jauh.


Andra terus menambah laju kecepatannya, ia semakin panik saat mendengar Ella merintih kesakitan. Dan sekitar setengah jam kemudian, Andra menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit. Dengan cepat ia turun dari mobilnya, dan mengangkat tubuh Ella. Ia menggendong tubuh Ella sambil berteriak keras memanggil perawat.


Tak lama kemudian, dua orang perawat menghampiri Andra. Mereka membantu Ella, dan membawanya ke ruang persalinan. Bu Halimah, dan Andra menunggunya diluar ruangan.


Ella merasakan sakit, dan nyeri diseluruh tubuhnya, terutama dibagian punggung. Keringatnya mengucur dengan deras, rasa sakit itu semakin lama semakin menguras tenaganya. Ella mulai menitikkan air matanya, seperti inikah rasanya melahirkan?


Ella mencengkeram selimutnya dengan sangat erat, rasa sakit itu seakan membelah tubuhnya. Belum pernah Ella merasakan sakit seperti saat ini. Ella merintih disela-sela isakannya, dalam hatinya ia berdoa pada Yang Maha Kuasa. Semoga bayi yang ada dalam kandungannya bisa lahir dengan selamat.


Sudah hampir satu jam Ella berjuang menahan sakit yang menerpa seluruh tubuhnya. Dan kini ia bisa bernafas lega saat dokter mengatakan bahwa sudah saatnya ia mengejan. Ella mengambil nafas dalam-dalam, ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong bayi yang hendak keluar dari rahimnya. Namun ternyata melahirkan itu tidaklah mudah, tidak cukup dengan satu kali, atau dua kali mengejan.


Ia berjuang antara hidup, dan mati selama hampir satu jam. Ia semakin tidak berdaya, tenaganya sudah terkuras habis. Dan entah sudah mengejan untuk yang keberapa kalinya, ia baru mendengar suara tangisan bayi yang membuat hatinya lega.


Namun belum lama ia mendengar tangisan itu, tiba-tiba ia merasa dunianya mulai gelap. Penglihatan, dan pendengarannya tidak bisa menangkap apa yang ada disekitarnya. Lalu dokter menyerahkan bayi itu kepada perawat untuk dibawa ke ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Meskipun keadaan bayi itu sehat, namun ia lahir prematur, jadi harus dirawat di NICU untuk beberapa waktu. Sedangkan dokternya, beliau menolong Ella yang tiba-tiba pingsan. Perawat itu menggendong bayi Ella sambil tersenyum, seorang bayi yang cantik, dengan mata biru bening, dan rambut tebalnya yang berwarna hitam kecoklatan.


***


Andra, dan Bu Halimah mondar-mondir di depan ruang persalinan. Mereka menanti dokter, atau perawat yang keluar ruangan dengan harap-harap cemas. Bagaimana kondisi Ella, bagaimana kondisi bayinya. Menurut perkiraan Ella melahirkan masih kurang dua puluh hari lagi, kalau bayinya prematur bagaimana?


Berbagai macam dugaan melintas didalam fikiran mereka, membuatnya semakin panik, dan kacau.


"Kamu harus baik-baik saja, kamu dan bayimu harus selamat. Kau wanita yang hebat, aku yakin kamu pasti bisa. Semangat Ella, semangat, aku menunggumu di sini." batin Andra dalam hatinya.


"Kamu pasti bisa nak, kamu harus kuat, kamu dan bayimu harus baik-baik saja. Ibu di sini, Ibu menunggumu sambil mendoakan kamu." batin Bu Halimah sambil menggigit bibirnya.


Andra melirik kembali jarum jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir lima jam, kenapa belum ada yang keluar. Andra mengusap wajahnya dengan kasar, keringat dinginnya mengucur membasahi bajunya. Apa yang terjadi, bagaimana keadaan Ella sekarang?


Bu Halimah juga tidak kalah paniknya, beliau menautkan kedua tangannya sambil mondar-mandir, seraya bibirnya terus melantunkan doa untuk Ella. Matanya tampak berkaca-kaca, sesekali air matanya menetes, membasahi pipinya yang mulai keriput.


"Ya Allah berikanlah kemudahan untuk Ella, lancarkanlah segala urusannya." ucap Bu Halimah dalam hatinya.


Dan tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Andra, dan Bu Halimah langsung menghambur, mendekati dokter yang sedang berdiri di ambang pintu.


"How is Ella doctor (bagaimana keadaan Ella dokter)?" tanya Andra dengan cepat.

__ADS_1


"Gave birth to her going well, the baby is healthy despite being born prematurely, but... (persalinannya berjalan dengan lancar, bayinya sehat meskipun lahir prematur, tapi...)" jawab dokter itu menggantungkan kalimatnya.


"What's up doctor (ada apa doctor)?" tanya Andra dengan jantung yang berdetak cepat, apa yang terjadi pada Ella, kenapa dokter seperti enggan untuk mengatakannya.


Bu Halimah menatap Andra, dan dokter itu secara bergantian. Meskipun tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan, namun melihat ekspresinya sepertinya itu bukanlah hal yang baik.


"Mrs.Ella fainted. She was too tired, she was exhausted to push (Nyonya Ella masih pingsan. Dia terlalu lelah, tenaganya habis untuk mengejan)" jawab dokter itu.


"But she's fine, right doctor (tapi dia baik-baik saja kan dokter)?" tanya Andra.


"She's fine, soon will wake up (dia baik, sebentar lagi akan sadar)"


"Can we see her doctor (apakah kita bisa melihatnya dokter)?" tanya Andra.


"Of course, come with me (tentu saja, mari ikut saya)" jawab dokter itu.


Lalu dokter itu kembali masuk kedalam ruangan, Andra dan Bu Halimah mengikutinya dibelakang. Mereka berjalan mendekati Ella yang terbaring diatas ranjang, dengan mata yang terpejam. Selang infus tampak menancap di lengan kirinya, juga ventilator yang terpasang di hidungnya.


Bu Halimah langsung memeluk Ella seraya mencium keningnya cukup lama. Buliran-buliran bening mulai menetes, membasahi kening dan rambut anaknya. Rasa bahagia, dan sedih bercampur menjadi satu. Bahagia karena Ella melahirkan bayinya dengan selamat, namun juga sedih melihat Ella yang pingsan seperti ini. Dan mengingat Kairi, ahh hati Bu Halimah semakin terasa pilu.


Sedangkan Andra, ia menggenggam tangan Ella, dan mengusapnya dengan perlahan. Memberikan semangat, dan dukungan agar Ella segera sadar. Tadi ia sudah mengabari orang tuanya, kini Bu Mirna, dan Pak Louis sudah dalam perjalanan menuju ke Paris. Mereka tidak hanya berdua, namun berempat, karena Garnis dan Ariel ikut pergi bersama mereka.


Setelah cukup lama mereka menemani Ella, akhirnya dokter datang menghampiri mereka. Rupanya mereka sudah diizinkan untuk melihat bayinya.


"You want to see the baby (Anda ingin melihat bayinya)?" tanya dokter itu sambil menatap Bu Halimah.


"Of course (tentu saja)" jawab Andra.


"Ayo kita melihat bayinya Budhe!" ajak Andra sambil menatap Bu Halimah.


"Ayo." jawab Bu Halimah sambil tersenyum lebar.


"This is Mrs.Ella's baby (ini bayi dari Nyonya Gabriella Tamara)" ucap perawat itu sambil tersenyum.


"Thank you (terima kasih)" jawab Andra sambil berjalan lebih mendekat, Bu Halimah juga mengikuti langkah Andra.


Bu Halimah menangis haru melihat bayi yang sedang menggeliat didalam inkubator. Kulitnya merah, matanya biru bening, dan rambutnya tebal berwarna hitam kecoklatan.


"Cucuku sudah lahir." ucap Bu Halimah sambil menatap Andra. Beliau tersenyum sambil menitikkan air mata.


Bu Halimah sangat bahagia melihat bayi yang dikandung Ella lahir dengan sehat. Tidak ada cacat, ataupun cela sedikitpun. Mengingat kondisi Ella selama mengandung, dan ia bahkan nyaris keguguran. Merupakan anugerah yang sangat besar bisa melihatnya lahir secantik ini.


"Iya Budhe, dia sangat cantik." jawab Andra dengan pelan.


Perasaannya bercampur aduk, disatu sisi ia bahagia melihat keponakannya lahir dengan selamat. Namun disisi lain ia juga merasa terpukul, bayi itu mengingatkannya pada Suci. Andai saja dirinya tidak bodoh, ia pasti bisa menemani Suci saat melahirkan. Ia juga bisa melihat putranya yang baru lahir, menemaninya, dan menjaganya hingga tumbuh menjadi anak-anak.


Andra menunduk, matanya masih terus menatap bayi mungil itu. Wajahnya sangat mirip dengan Kairi, apalagi mata dan rambutnya, benar-benar sama persis. Kairi sekarang entah dimana, Suci juga entah dimana. Kenapa takdir bisa sekejam ini, tak adakah sedikit saja kebahagiaan untuk ia, dan keluarganya.


Cukup lama mereka terpaku, menatap sosok mungil yang baru beberapa jam yang lalu menatap terangnya dunia. Bayi itu membuka matanya lebih lebar, memperlihatkan warna biru beningnya yang sangat mempesona dengan lebih jelas. Menggeliat dengan pelan, sambil mengerucutkan bibirnya.


Andra, dan Bu Halimah layaknya dua orang anak yang baru saja mendapatkan mainan baru. Mereka tak mengalihkan pandangannya sedikitpun, mereka tetap menatap bayi itu lekat-lekat. Terkadang ikut tersenyum, terkadang juga ikut mengerucutkan bibirnya.


Hingga tak lama kemudian, perawat datang menghampiri mereka. Waktu berkunjung sudah habis, mereka diharapkan untuk keluar. Dengan berat hati Andra, dan Bu Halimah mengikuti arahan sang perawat. Mereka melangkahkan kakinya, dan keluar dari ruang NICU.


***


Keesokan harinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi waktu Paris. Ella sudah tersadar dari pingsannya, dan bayinya juga sudah dibawa keluar dari ruang NICU. Meskipun prematur, namun keadaanya cukup sehat, dan beratnya juga tidak kurang dari 2,5 Kg. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk merawatnya di sana.

__ADS_1


Saat ini Ella sedang duduk diatas ranjang sambil menyandarkan punggungnya. Tubuhnya terasa remuk redam, nyeri, ngilu, dan juga sakit. Disetiap tulang sendinya rasanya sangat sulit untuk digerakkan, bahkan untuk ke kamar mandi saja ia nyaris tidak mampu. Tadi Andra yang menggendongnya, menurunkannya di kursi didalam kamar mandi, lalu menungguinya diluar.


"Makan dulu ya El." kata Andra sambil membawa sepiring nasi, dan membawanya duduk disebelah Ella. Bu Halimah sedang tidak ada di ruangan itu, beliau ikut perawat ke ruang NICU, untuk mengambil bayinya.


"Aku makan sendiri saja Ndra." ucap Ella, terlalu merepotkan Andra rasanya ia juga tidak nyaman. Meskipun mereka adalah sahabat, namun mengingat perasaan yang Andra simpan untuk dirinya, Ella merasa tidaklah baik jika hubungan mereka terlalu dekat.


"Jangan memaksakan diri, aku tahu kau lelah!" kata Andra sambil menyendok nasi, dan menyuapkannya pada Ella.


"Aku tahu apa yang kau fikirkan. Aku bukan lagi Andra yang dulu El, aku pasti bisa mengendalikan perasaanku. Aku tahu kau kakak iparku, dan perasaanmu hanya untuk kakakku. Aku menemanimu, dan menjagamu sebagai sahabat, dan keluarga, bukan yang lain." ucap Andra sambil menatap Ella.


Ella terdiam, mendengar ucapan Andra ia bahkan menghentikan kunyahannya. Secepat itu Andra berubah menjadi lelaki yang sangat dewasa. Ella menatap Andra lekat-lekat, tidak ada kebohongan dari sorot matanya. Andra mengucapkan kalimat itu tulus dari dalam hatinya.


"Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu yang tidak bisa mengendalikan perasaanmu. Cepat makan!" kata Andra sambil terkekeh.


Ella merengut kesal, ia kembali mengunyah makanannya, dan kembali menerima beberapa suapan dari Andra.


Baru saja Ella menghabiskan makanannya, Bu Halimah dan seorang perawat sudah masuk ke ruangan itu. Ella tersenyum bahagia melihat bayi yang berada dalam gendongan Ibunya.


"Itu anakku Bu?" tanya Ella sambil tersenyum lebar.


"Iya, gendonglah dia!" jawab Bu Halimah sambil mendekati Ella, dan membantu dia menggendong bayinya.


Ella menitikkan air matanya, bukan air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagiaan. Satu nyawa yang pernah bersemayam dalam rahimnya, kini sudah lahir menjelma menjadi bayi mungil yang sangat cantik. Ia sudah menjadi wanita yang sempurna, ia kini sudah menjadi seorang ibu.


Ella mengusap kepala anaknya, menyisir pelan rambut coklatnya dengan jemarinya. Bayi itu membuka matanya, mata birunya menatap Ella tanpa kedip. Seakan ia merekam sosok wanita yang kelak akan menjadi malaikat dalam hidupnya.


"Salsabilla Dela Vinci." ucap Ella dengan pelan. Ia memberikan nama untuk anaknya.


Salsabilla adalah nama mata air di surga, Ella berharap anaknya akan menjelma seperti mata air. Menyejukkan hati dan jiwanya, yang gersang dan hampir mati, karena kehilangan sosok yang sangat penting dalam hidupnya.


"Nama yang sangat cantik, siapa nama panggilannya?" tanya Bu Halimah sambil menatap Ella.


"Billa, aku akan memanggilnya Billa." jawab Ella.


"Selamat datang di dunia ini Billa, tumbuhlah dengan sehat, dan jadilah wanita yang hebat seperti Ibumu." ucap Andra sambil menyentuh kaki-kaki mungilnya.


"Dia akan lebih hebat dariku Ndra." ucap Ella sambil tersenyum.


"Iya, dia juga akan lebih cantik darimu. Lihat mata birunya sangat indah, kelak pasti banyak lelaki yang akan jatuh cinta padanya." kata Andra sambil terkekeh.


"Doamu jelek Ndra!" sahut Ella dengan cepat.


"Kok bisa?"


"Dicintai banyak lelaki itu tidak enak, lebih enak dicintai satu lelaki yang tidak akan pernah berpaling pada cinta yang lain. Dan lagi, cinta akan lebih tulus jika datangnya tanpa alasan, bukan karena kecantikan." jawab Ella.


"Iya kau benar." ucap Andra sambil menggaruk kepalanya, jawaban Ella seakan melukiskan kisah hidupnya sendiri.


Tak lama kemudian, perawat menyuruh Ella untuk menyusuinya. Meski semalam bayinya sempat diberi susu formula, namun sangat dianjurkan untuk menyusu pada ibunya sendiri. Ella sedikit canggung, ia menatap Andra yang sedang duduk disebelahnya. Andra tersenyum, ia mengerti apa sedang Ella fikirkan.


"Aku akan keluar." kata Andra sambil beranjak dari duduknya.


"Terima kasih Ndra." jawab Ella.


Melihat Andra yang sudah menghilang dibalik pintu, Ella mulai menyusui bayinya. Ada perasaan lain yang menyeruak didalam hatinya. Ella juga tidak tahu itu perasaan apa, sangat nyaman, dan membahagiakan. Sebuah perasaan yang sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Melihat bayinya menatap matanya, sambil menyusu di dadanya. Seakan perasaan sedih dan luka yang ia pendam menghilang saat itu juga.


"Billa kau adalah cahaya dalam hidup Mama." batin Ella sambil membelai rambut anaknya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2