
" Apa kamu sudah selesai, boy!" tanya wanita itu.
" Belum, mommy!" jawab anak laki-laki itu sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
" Kita pergi!" kata wanita itu.
" Tapi aku..."
" Dia belum selesai, Ta dan kamu juga makan hanya sedikit saja!" kata pria itu cemberut karena dia baru makan 1 sl8ce saja dan perutnya masih lapar.
" Aku tidak selera! Kamu suruh bungkus saja punya Axon dan jangan lupa bungkuskan buat Mikaela!" jawab wanita itu lalu berdiri.
" Ayo, boy!" ajak wanita itu.
" Daddy bagaimana?" tanya anak itu.
" Daddy akan menyusul!" sahut wanita itu.
Pria itu menatap Netta dengan penuh selidik.
" Ada apa denganmu?" tanya pria itu kesal.
" Kalau kamu masih ingin disini, aku akan kembali duluan!" kata wanita itu tanpa menunggu persetujuan dari pria itu.
" Tata! Ckkk!" panggil pria itu kesal.
Tapi yang dipanggil terus saja tidak perduli.
" Mommy! Kenapa kita meninggalkan Daddy?" tanya anak laki-laki itu.
" Daddymu masih ada urusan!" jawab Netta yang langsung masuk ke dalam sebuah taksi dan pergi meninggalkan resto itu.
Wanita itu adalah Netta, Mike dan putra mereka, Axon. Netta mengantar anaknya pulang ke rumah terlebih dahulu, baru dia pergi lagi ke kantornya untuk bertemu dengan relasinya. Netta menatap dokumen yang ada ditangannya dengan wajah datar. Dia menatap sekretarisnya dengan mata tajam.
" Apa seperti ini bentuk proposal pengajuan kerjasama dengan perusahaan besar?" tanya Netta kesal, lalu melempar proposal itu ke mejanya. sudah ke tiga kalinya mengalami revisi, Boss!" kata Aris, asisten Netta.
" Suruh revisi lagi! Kalau dia tidak bisa melakukan, suruh resign dan ganti saja dengan yang lebih ahli!" kata Netta tegas.
" Baik, Bos! Saya akan mengatakan itu pada Pak Max! Permisi!" kata Aris terkejut, dia mengambil kembali proposal itu dan keluar dari ruang rapat.
" Salah lagi?" tanya Ayu, sekretaris Nettasaat mereka bertemu diluar ruangan.
Aris menaikkan bahunya.
" Kasihan Pak Max!" sahut Ayu pelan.
" Kamu kasihan ato ..."
" Ckkk! Pergi sana! Dasar labil!" umpat Ayu lalu berjalan masuk ke ruang rapat.
" Apa mereka sudah datang?" tanya Netta.
" Sudah, Boss! Mereka di lobby! Proposalnya?" tanya Ayu.
" Ini kamu presentasikan ke mereka!" kata Netta memberikan dokumen pada Ayu.
Ayu membuka dokumen tersebut.
Deg! Ini kan dokumen punya Max kemarin! Batin Ayu.
" Apa ada yang salah?" tanya Netta yang tahu apa yang ada di dalam otak sekretarisnya.
" Tidak ada, Boss!" jawab Ayu takut.
Sementara Aris pergi menuju ke lantai 5 bagian perencanaan untuk menemui secara langsung orang yang membuat proposal itu sesuai araham Netta.. Tok! Tok!
" Masuk!" jawab yang ada di dalam ruangan.
__ADS_1
" Pak Max!" kata Aris saat masuk ke dalam ruangan Max.
" Ya?" jawab Max.
" Kata Bos proposal kamu masih butuh revisi!" kata Aris.
" Apa?" seluruh rekan kerja Max terkejut mendengar perkataan Aris.
" Ini sudah yang ketiga kalinya lho, Pak! Dan menurut kami Pak Max sudah sangat bagus membuatnya!" kata salah seorang pegawai. Aris menaikkan bahunya. Max menghembuskan nafasnya.
" Apa boleh saya menemui, Boss?" tanya Max.
" Untuk apa?" tanya Aris.
" Agar saya tahu bagian mana yang salah, bagaimana dan apa yang diinginkan beliau!" kata Max sabar.
" Saya akan mencoba membantu!" kata Aris.
" Terima kasih, Pak Aris!" kata Max.
Aris keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruangannya.
" Bapak yakin Boss mau?" tanya seorang bawahan Max.
" Semoga saja!" jawab Max.
Setelah rapat selesai, Aris mengutarakan maksud Max pada Netta.
" Dia bilang begitu?" tanya Netta.
" Iya, Boss!" jawab Aris.
Netta terdiam sejenak dan wajahnya mendadak menggelap.
" Besok pagi saya tunggu diruangan saya!" ucap Netta santai.
" Iya!" jawab Netta yang berdiri dan masuk ke dalam ruangannya.
Aris dan Ayu saling menatap tidak percaya. Aris segera menelpon Max.
" Halo, Pak Aris!"
" Pak Max, besok pagi Boss menunggu bapak di ruangannya!"
" Bail, Pak Aris! Trima kasih banyak atas bantuannya!"
Max menutup panggilan Aris setelah Aris mematikannya.
" Gimana, Pak?" tanya bawahan Max.
" Boss bersedia menemui saya!"" kata Max.
" Serius?" tanya yang lain kaget, karena selama ini yang tahu wajah Boss mereka hanyalah Aris dan Ayu saja selaku asisten dan sekretarisnya.
" Hebat Pak Max! Sejak Boss baru kita datang setahun yang lalu, baru kali ini dia mau bertatap muka dengan pegawainya.
" Iya!' jawab yang lain.
" Nanti beritahu ya pak, gimana orangnya!" kata bawahannya.
" Iya!" jawab Max.
Sementara Netta berdiri di depan dinding kaca ruangannya. Apakah sudah saatnya? Batin Netta. Apakah dia akan mengenaliku? Tanya Netta lagi. Kita lihat saja besok! Batin Netta.
Keesokan harinya Netta memakai pakaian yang cukup seksi, seperti saat dia remaja dulu. Hanya saja ini kali ini kemeja tanpa lengannya sedikit transparan saja, dengan dada sedikit terbuka walau nanti akan dia tutup dengan blazer diluar. Dipadankan dengan rok 3/4 tapi memiliki belahan pinggir yang cukup panjang. Dia berjalan keluar dari kamarnya dengan membawa mantel panjang dilengannya.
" Tata?" sapa Mike melotot saat melihat penampilan wanita itu yang menurutnya sangat seksi.
__ADS_1
Hampir saja kopinya tumpah jika dia tidak segera sadar.
" Tutup matamu, boy! Kalian juga!" teriak Mike pada putranya dan para bodyguard.
Semua memutar tubuhnya dan anaknya menutup matanya.
" Gimana Axon mau makan kalo kamu suruh tutup mata? Ckkk!" decak Netta yang duduk di kursi makan dan meletakkan mantelnya disandaran kursi.
Diana dan putrinya hanya melongo melihat penampilan Netta.
" Tutup juga matamu, Mike!" teriak Diana kesal.
" Aku..."
" Apa?" tantang Diana.
Sial kamu, Ta! Kamu membuat aku harus bermain solo! Batin Mike kesal, karena miliknya yang perlahan memberontak. Astaga, jangan sampai Diana melihatnya! Batin Mike merapatkan kakinya.
" Aunty terlihat sangat seksi!" ucap Ella santai.
" Sweety!" panggil Mike geram.
" Apa ada acara khusus, Netta?" tanya Diana.
" Ada undangan nanti dari relasi besar!" jawab Netta berbohong.
" Tapi pakaianmu kurang sopan, Ta!" protes Mike.
" Sudah! Di, kalo dia masih saja begitu, potong aja adiknya!" kata Netta kesal pada Mike.
" Apa yang kamu katakan, Tata! Bagaimana aku menjenguk putraku kalo adikku tidak ada!" protes Mike kesal.
" Diam, Mike!" teriak Diana kesal.
" Kamu jadi pemarah, baby!" protes Mike lagi.
" Daddy! Apa Aku sudah boleh buka mata? Aku ingin makan!" tanya Axon.
" Tentu saja, boy!" jawab Netta.
" Pakai blazermu, Ta!" ucap Mike.
" Kau seperti tidak pernah melihat Diana memakai pakaian begini saja!" sergah Netta.
" Itu hanya saat di ranjang, Ta!" sahut Mike.
" Sudah! Aku jadi malas sarapan! Ayo, boy, kita pergi!" kata Netta.
" Biar dia pergi denganku!" kata Mike membuka matanya.
Ternyata Netta sudah memakai blazernya.
" Nggak usah!" sahut Netta.
Mereka pergi dengan keluarga masing-masing, Netta dengan Axon, Mike dengan Diana dan Ella putri pertamanya.
" See you, boy!" ucap Netta.
" Bye, Mommy!" sahut Axon.
" Bye, Di!" kata Netta pada Diana.
" Bye! Netta!" sahut Diana.
Netta menatap wajahnya dipantulan kaca mobil. Memang kenapa dengan pakaian ini, hanya sedikit seksi aja! Batin Netta. Netta masuk ke dalam lift dan menuju ruangannya.
" Bo...ssss?" sapa Ayu terkejut saat melihat penampilan Netta pagi ini.
__ADS_1