Tentang Rasa

Tentang Rasa
Kejutan Besar Untukmu


__ADS_3

"Kau gadis yang luar biasa Gabriella," gumam Kairi sambil tersenyum.


Ella diam dan tersipu malu kala mendengar ucapan Kairi, entah kenapa hanya kalimat seperti itu saja, bisa membuat pipinya merona.


"Siapa yang mengajarimu memasak soto?" tanya Ella setelah jeda beberapa detik.


"Ponsel." Jawab Kairi singkat.


"Hah...."


"Kenapa kau kaget?" tanya Kairi sambil terkekeh.


"Jawabanmu aneh," gumam Ella sambil memotong apel, dan meletakkannya di atas piring.


"Apanya yang aneh, aku memang belajar memasak dari ponsel. Di youtube banyak kan tutorialnya," jawab Kairi.


"Tapi menurutku tidak begitu," gumam Ella sambil meracik kopi hitam, dan matcha latte.


"Lalu seperti apa menurutmu?" tanya Kairi sambil menatap Ella.


"Kau seperti familiar dengan negaraku. Apa itu benar?" tanya Ella dengan ragu-ragu.


"Itu hanya perasaanmu saja Gabriella." Jawab Kairi sambil memalingkan wajahnya. Ia mengaduk-aduk kuah soto yang hampir mendidih.


"Maaf Gabriella, aku belum bisa menceritakan tentang masa laluku. Tapi aku janji, suatu saat nanti, aku akan memberitahumu, tanpa terkecuali." Ucap Kairi didalam hatinya.


"Gabriella," panggil Kairi.


"Iya," jawab Ella sambil menoleh.


"Aku ingin tahu tentang sahabatmu,'' ucap Kairi tiba-tiba.


Ella menatap Kairi lekat-lekat, jantungnya kembali berdetak cepat. Haruskah dia menceritakan tentang Andra kepada Kairi?


"Apa yang ingin kau tahu, tidak ada yang menarik darinya," kata Ella sambil melangkah pergi. Ia membawa segelas kopi hitam, dan secangkir matcha latte ke meja makan.


Kairi tersenyum, sambil melangkah mengikuti Ella. Ia tahu ada sesuatu antara Ella dan sahabatnya.


"Jika tidak ada yang menarik, kenapa kau selalu menghindar, setiap kali aku bertanya tentangnya?" tanya Kairi di belakang Ella.


Ella terpaku di tempatnya, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku ingin tahu banyak tentang kamu, dan juga masa lalu kamu," ucap Kairi sambil menyelipkan rambut Ella ke belakang telinganya.


Dan ia maju selangkah, hingga kini ia berdiri tepat di depan Ella.


Ella menunduk, jantungnya semakin tidak karuan. Dan tidak bisa dipungkiri, sikap Kairi berhasil membuatnya jatuh hati.


"Kita hanya bersahabat, itu saja." Ucap Ella sambil mencoba untuk tersenyum. Sesungguhnya saat ini ia luar biasa gugupnya.


"Kau tidak mau jujur Gabriella," kata Kairi sambil meraih pinggang Ella, dan memeluknya dengan erat.


Napas Ella seakan tercekat di tenggorokan, saat Kairi meraih dagunya, dan memaksanya untuk mendongak. Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


Bahkan Ella bisa merasakan deru napas Kairi menghangat di wajahnya. Ella berusaha melepaskan diri, namun sia-sia, tangan kekar itu memeluk pinggangnya dengan sangat erat.


"Jawablah dengan jujur, nanti aku akan melepaskanmu," ucap Kairi sambil tersenyum lebar. Ini adalah satu-satunya cara, untuk membuat Ella jujur. Ia benar-benar penasaran dengan masa lalunya Ella.


Ella memejamkan matanya, ia tak ingin melihat wajah ataupun senyuman Kairi yang berada tepat di hadapannya. Karena itu akan membuat dirinya semakin terpesona, dan terbuai olehnya.


"Aku pernah mencintainya, tapi kita tidak pernah pacaran. Apa kau sudah puas?" ucap Ella dengan suara yang pelan.


"Apakah sekarang kau masih mencintainya?" tanya Kairi ingin tahu.


"Tidak." Jawab Ella singkat.


"Lalu siapa yang...." belum sempat Kairi meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Ella sudah mendorong dadanya.


"Jangan banyak bertanya, aku akan melihat masakannya," kata Ella sambil mendorong dada Kairi, hingga lelaki itu melongggarkan pelukannya. Dan tak mau melewatkan kesempatan, Ella langsung berlari menuju dapur. Ia melihat kuah soto yang masih berada di atas kompor.


Kairi menatap Ella sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku penasaran seperti apa lelaki itu, sampai bisa membuatmu jatuh cinta. Tapi yang membuatku lebih penasaran, kenapa kalian tidak pacaran. Apa lelaki itu tidak mencintaimu? Ahh jika memang benar, bodoh sekali dia, menyia-nyiakan gadis luar biasa sepertimu," gumam Kairi sambil duduk di kursi meja makan.


Tak berapa lama kemudian, Ella datang sambil membawa nampan. Lagi-lagi Kairi menatapnya sambil tersenyum, kapan ya gadis itu bisa menjadi istrinya, dan menyiapkan makanan untuknya setiap hari.


Wah betapa sempurna hidupnya, jika hal itu benar-benar terjadi.


Kairi menyesap kopinya, sambil menatap Ella yang sedang menyajikan makanan untuknya.


"Ini manis Gabriella, tidak seperti di kantor waktu itu," ucap Kairi sambil meletakkan secangkir kopinya yang tinggal setengah.


"Maksud kamu?" tanya Ella dengan heran, ada apa dengan kopi di kantor?


Lalu ia duduk di depan Kairi, dan bersiap menyantap makanannya.


"Pertama kali kamu membuatkan kopi untukku, itu sangat pahit Gabriella, apa kamu lupa memasukkan gulanya, atau memang sengaja?" tanya Kairi menggoda Ella.


Ella menatap Kairi sambil melotot, "itu tidak mungkin Kai," ucap Ella tidak percaya.


"Yah itu memang salahku, seharusnya aku menyuruhmu untuk mencicipinya waktu itu," ucap Kairi sambil menyendok makanannya.


"Maaf aku tidak sengaja." Gumam Ella.


"Tidak apa-apa, aku juga menikmatinya kok," kata Kairi sambil tersenyum.


"Tapi itu juga karena kamu, aku jadi lupa memasukkan gula, aku terlalu memikirkan arti dari kata-kata kamu saat mengenalkan aku, kenapa kamu harus bicara dalam bahasa Perancis?" tanya Ella dengan memasang wajah kesal.


"Itu sudah menjadi kebiasaanku," jawab Kairi dengan entengnya.


"Lalu apa artinya?" tanya Ella.


"Sekarang habiskan saja makananmu. Suatu saat nanti kamu juga akan tahu apa artinya," jawab Kairi sambil terkekeh.


Ella mendengus kesal, selalu saja seperti itu. Ahh sepertinya dia harus belajar bahasa Perancis, sebelum Kairi membuatnya mati penasaran.


"Klien kita ada urusan mendadak, dia tidak bisa menemui kita. Dia menyuruh kita langsung melihat ke lokasi saja," ucap Kairi tiba-tiba serius.


"Baiklah, aku terserah kamu saja," jawab Ella.


"Baik." Jawab Ella.


Setelah sarapannya habis, Kairi masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Ella, dia membawa piring-piring yang kotor ke dapur, dan kemudian mencucinya.


Lalu dia menunggu Kairi sambil duduk di sofa ruang tamu.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Kairi keluar dari kamarnya. Ella kembali merona saat menatap Kairi yang begitu tampan. Dengan balutan kemeja panjang warna putih yang lengannya sedikit digulung. Dipadu dengan celana jeans panjang warna hitam. Rambutnya yang masih sedikit basah, membuat wajahnya terlihat sangat segar.


Tatapan mata birunya yang jernih, membuat Ella ingin berlama-lama memandangnya.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku Gabriella?" tanya Kairi menggoda Ella.


Sontak Ella langsung tersentak, wajahnya memanas, ia merasa malu, karena Kairi memergoki dirinya yang sedang menatapnya.


"Tidak." Jawab Ella dengan gugup.


Kairi tersenyum melihat Ella yang salah tingkah. Ahh gadisnya ini sangat pemalu rupanya.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang," kata Kairi.


"Baik." Jawab Ella sambil beranjak dari duduknya.


Lalu mereka keluar dari apartemen, dan menuju parkiran. Ella kembali tersenyum, saat menatap menara besi yang berdiri kokoh menantang langit. Rasanya ia masih tidak percaya, bisa melihat Menara Eiffel dalam jarak yang begitu dekat.


"Apakah lokasinya jauh?" tanya Ella saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Lumayan." Jawab Kairi singkat.


Ella menatap tangan kekar Kairi yang sedang memegang kemudi mobil. Lalu Ella menghela napas panjang, kenapa semua hal yang Kairi lakukan, seperti sangat menarik baginya. Ella Ella ada yang salah dengan dirimu.


Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di lokasi. Ella menatap heran, kenapa bukan lahan kosong yang sangat luas?


Kenapa malah sebuah rumah yang sangat besar?

__ADS_1


"Kai, kita tidak salah tempat?" tanya Ella saat mobil sudah berhenti di pelataran rumah itu.


"Tentu saja tidak." Jawab Kairi.


"Tapi kau bilang dia menginginkanku untuk mendesain rumahnya," kata Ella.


"Ya, tapi bukan membangun, melainkan merenovasi." Jawab Kairi sambil tersenyum.


"Oh." Gumam Ella.


Lalu mereka berdua keluar dari mobil, dan melangkah masuk ke dalam rumah itu.


Rumah mewah dengan tiga lantai itu, memang terlihat seperti bangunan lama.


"Rumah ini sudah dibangun sejak lama. Lihatlah, desainnya terlihat kuno. Pemiliknya ingin merubah rumah ini menjadi lebih modern. Dan dia ingin, kamu yang mendesainnya," ucap Kairi sambil menggulung lengan kemejanya lebih tinggi. Ahh jadi lebih memesona kan, Ella semakin salah tingkah dibuatnya.


Lalu Ella memalingkan wajahnya, ia mencoba menepis semua pikiran-pikiran konyol dalam otaknya.


"Tapi sepertinya rumah ini tidak kosong." Kata Ella sambil memandang ke sekeliling. Perabotan di rumah ini masih terawat dengan baik.


"Ada beberapa orang yang bertugas merawat rumah ini." Jawab Kairi.


"Oh begitu. Lalu orangnya ingin desain yang seperti apa?" tanya Ella.


"Dia bilang terserah, asal bagus, dan nyaman." Jawab Kairi.


"Tapi desain itu banyak macamnya Kai. Bagaimana bisa aku mendesain, jika petunjuknya hanya bagus, dan nyaman. Lalu aku harus mendesain dengan gaya seperti apa. Kamu tanya lagi dong sama orangnya, minta penjelasan yang lebih detail," kata Ella dengan panjang lebar.


"Sudah Gabriella, dan dia bilang terserah. Jadi kau desain saja sesuai dengan selera kamu, seperti cincin yang waktu itu. Buktinya dia juga suka kan?" jawab Kairi.


Ella menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Klien yang aneh, pikirnya. Biasanya klien itu banyak permintaan, jangan begini, jangan begitu, harus seperti ini, harus seperti itu. Tapi ini malah cuma terserah, apa memang orangnya sesantai itu.


"Tapi dia ingin kau mendesainnya hari ini juga," sambung Kairi sambil mengajak Ella menaiki tangga.


"Maksud kamu?" tanya Ella.


"Malam ini desainnya harus sudah selesai." Jawab Kairi.


"Apa?" teriak Ella kaget. Yang benar saja, rumah sebesar ini harus selesai dalam satu hari. Benar-benar klien yang aneh.


"Jangan kaget, aku akan membantumu," kata Kairi sambil tersenyum.


"Meskipun kita mengerjakannya berdua. Tapi ini bukan pekerjaan yang ringan Kai, kau lihat rumahnya sebesar ini," protes Ella.


"Aku tahu. Tapi orangnya kan tidak meminta desain yang rumit. Percaya saja padaku, kita pasti bisa menyelesaikannya," jawab Kairi.


"Terserah kau saja," ucap Ella dengan kesal. Bagaimana tidak, rumah yang begitu besarnya, harus didesain dalam waktu singkat. Memangnya dia robot apa.


Namun meskipun dalam hati menggerutu kesal, Ella tetap mengikuti Kairi mengelilingi rumah itu.


Dan setelah selesai, mereka duduk di kursi taman di belakang rumah, dan mereka mulai mengerjakan desainnya.


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Ella, dan Kairi masih berkutat dengan coretan coretan sketsa diatas kertas putih. Desain yang mereka rancang belum mencapai 50%. Ella sudah menguap beberapa kali. Hari ini memang cukup melelahkan, hingga rasa kantuk begitu cepat menghampirinya.


"Kita pulang saja Gabriella." ucap Kairi sambil menggenggam tangan Ella yang masih memegang pensil.


"Tapi ini belum selesai." jawab Ella.


"Masih ada hari esok." jawab Kairi.


"Kau terlalu lugu Gabriella." batin Kairi dalam hatinya.


"Baiklah." ucap Ella. Lalu kemudian mereka mengemasi barang barangnya, dan keluar meninggalkan rumah itu.


Rasa kantuk kembali menghampiri Ella, saat ia sudah berada dalam mobil. Dan Kairi melajukan mobilnya dengan perlahan, hingga Ella merasa seperti dalam ayunan. Lambat laun matanya mulai terpejam, dan ia mulai terlena dalam dunia mimpi.


"Hari ini kau cukup lelah. Sekarang tidurlah yang nyenyak, setelah itu aku akan memberikan kejutan besar untukmu." ucap Kairi sambil tersenyum, dan membelai rambut Ella.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2