
"Johan yang mengatakannya padaku." ucap Dimas. Ia tidak mengatakan, jika Yura juga terlibat.
"Om Johan, apa Kak Dimas sudah bertemu dengannya? lalu dimana Om Johan sekarang?" tanya Ella.
"Dia sudah dipenjara. Dia sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dilakukannya." jawab Dimas sambil menghembuskan nafas panjang.
Meskipun semua ini bukan murni kesalahannya Johan, tapi bagaimanapun juga dia sudah berkhianat, dan hampir mencelakai Ella, dia pantas mendapatkan hukuman ini.
"Syukurlah kalau begitu Kak, semoga kedepannya bisnis Kak Dimas selalu lancar, dan tidak ada kendala." ucap Ella sambil tersenyum.
"Iya El, semoga saja. Terima kasih ya sudah mau memaafkan aku." kata Dimas.
"Tidak perlu berterima kasih Kak, sudah seharusnya aku memaafkan Kak Dimas." jawab Ella.
"Sayang bisakah kau bicara denganku, apa belum cukup kau mengacuhkanku sejak tadi." gerutu Kairi dengan kesal.
"Apa kau merajuk Kai." goda Ella sambil tersenyum, dan menatap Kairi.
"Tidak, aku hanya ingin menegaskan, jika kekasihmu itu adalah aku, bukan dia." jawab Kairi sambil melirik Dimas.
Dimas tersenyum mendengar ucapan Kairi.
"Sepertinya dia benar-benar mencintaimu El. Syukurlah, akhirnya kau mendapatkan pasangan yang baik, tidak seperti sahabatmu yang ada di Indonesia. Aku lebih tenang jika kau merasa bahagia El." ucap Dimas didalam hatinya.
"Kamu jangan berlebihan Kai." kata Ella.
"Ini tidak berlebihan Gabriella." jawab Kairi tidak mau kalah.
"Lalu apa namanya." sindir Ella.
"Ya biasa saja. Kamu mau tahu seperti apa yang namanya berlebihan itu." ucap Kairi sambil menatap Ella.
"Apa?" tanya Ella sambil mengernyitkan keningnya.
"Mencium bibir kamu." jawab Kairi dengan santainya.
"Kairi!" teriak Ella sambil mencubit lengan Kairi dengan keras.
"Aw... Kau sangat agresif sayang." teriak Kairi sambil mengusap lengannya.
"Aku tidak suka kau bicara seperti itu." kata Ella dengan ketus.
"Kalau langsung menciumnya, apa kau akan suka?" goda Kairi.
"Diam!" bentak Ella sambil menunduk. Pipinya sudah memerah menahan malu, bisa-bisanya Kairi mengatakan hal itu disaat mereka sedang tidak berdua. Kalau seperti ini, jadi malu kan sama Kak Dimas.
Kairi tertawa keras melihat sikap Ella, wanitanya ini sangat pemalu, dan ia sangat senang menggodanya. Ahh rasanya sudah tidak sabar untuk segera menghalalkannya.
Sekitar satu jam kemudian, Dimas menepikan mobilnya dengan perlahan. Mereka berhenti dipinggir jalan didekat gang kecil yang menuju kontrakannya Ella.
"Kau tunggu disini saja, biar aku yang mengantarkan Ella." ucap Kairi sambil bersiap turun dari mobil.
"Baik." jawab Dimas singkat.
__ADS_1
"Kak Dimas terima kasih ya, aku pulang dulu, Kak Dimas nanti hati-hati." kata Ella sebelum turun dari mobil.
"Iya, kamu juga hati-hati ya El." jawab Dimas sambil tersenyum.
"Ya Kak." ucap Ella.
Kemudian Ella, dan Kairi turun dari mobil, lalu mereka mulai melangkah menyusuri gang kecil yang padat dengan perumahan.
Dimas menatap kepergian mereka dari dalam mobilnya.
"Semoga Kairi Da Vinci bisa membahagiakan kamu El, setelah kamu menikah nanti, aku akan bebas dari perasaan bersalahku. Maafkan aku Ella, dari dulu aku selalu saja menyulitkanmu." ucap Dimas sambil menatap Ella, dan Kairi yang berjalan semakin menjauh.
Ella, dan Kairi berhenti didepan rumah kecil, dan sederhana yang berada diujung gang. Ella mengambil kunci dari dalam tasnya, dan membuka pintu rumahnya.
"Terima kasih ya Kai." ucap Ella sambil tersenyum.
"Gabriella." panggil Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.
"Kenapa?" tanya Ella.
"Jujur aku tidak tega membiarkan kamu tinggal disini sendirian, Gabriella tinggallah di apartemenku, aku berjanji tidak akan menyentuhmu. Aku hanya ingin menjagamu, dan memastikan kamu selalu baik-baik saja." ucap Kairi sambil menggenggam tangan Ella.
"Kai, jangan terlalu khawatir, aku tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja tinggal disini. Kau lihat, disini banyak tetangga, aku pasti aman." kata Ella meyakinkan Kairi.
"Tapi aku tidak tega Gabriella, kenapa kamu menolak tinggal di apartemenku, kamu tidak percaya padaku ya." kata Kairi sambil mengusap wajahnya. Entah kenapa hatinya sangat tidak tenang meninggalkan Ella sendirian disini. Setiap kali ia menatap rumah ini, hatinya teriris sakit, rumah yang sudah tidak layak untuk dihuni, dan kekasihnya tinggal didalamnya.
"Kai, bukannya aku tidak percaya, tapi aku hanya merasa tidak nyaman saja. Bagaimanapun juga kau laki-laki, dan aku perempuan, tidak baik tinggal dalam satu atap, apalagi dalam jangka waktu yang lama." ucap Ella sambil menatap Kairi. Berharap lelaki itu mau mengerti dengan pendapatnya.
"Baiklah kalau begitu. Tapi jika kau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menelfonku, aku akan berusaha untuk selalu ada, saat kau butuhkan." kata Kairi sambil tersenyum. Akhirnya ia mengalah, dan membiarkan Ella tinggal disini.
"Itu bagus, oh ya Gabriella, aku tahu kamu pasti capek, besok kamu istirah saja, tidak usah bekerja." ucap Kairi.
"Ya." jawab Ella sambil mengangguk.
"Dan satu lagi, hati-hati dengan Yura." ucap Kairi.
"Apa maksud kamu?" tanya Ella dengan heran.
"Dia tidak sebaik yang kamu kira, berhati-hatilah." ucap Kairi dengan serius.
"Aku mengerti." jawab Ella sambil tersenyum.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya." ucap Kairi sambil merengkuh pinggang Ella, dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. Ella juga membalas pelukan Kairi, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kairi dengan erat.
Kairi mengecup keningnya cukup lama, Ella memejamkan matanya, menikmati perlakuan mesra dari kekasihnya.
Beberapa detik kemudian Kairi melepaskan pelukannya, ia tersenyum, sambil mengusap pipi Ella dengan lembut.
"Selamat beristirahat, i love you sayang." ucap Kairi dengan senyum manisnya.
"I love you too Kai." jawab Ella sambil membalas senyuman Kairi.
"Ulangi, dan panggil aku sayang." kata Kairi sambil tersenyum jahil.
__ADS_1
"Aku tidak mau." jawab Ella sambil memalingkan wajahnya, pipinya mulai merona.
"Baiklah kalau begitu aku tidak akan pulang." kata Kairi dengan santainya.
"Kai, jangan aneh-aneh Kak Dimas sudah menunggumu." ucap Ella dengan suara yang sedikit keras.
"Biarkan saja." kata Kairi dengan asal.
"Kai ayolah." ucap Ella dengan pelan.
"Panggil aku sayang, dan aku akan pulang." kata Kairi sambil mendekatkan wajahnya, kini jarak mereka cukup dekat, bahkan Ella sudah bisa merasakan hangatnya nafas Kairi.
"Katakan sayang." ucap Kairi dengan pelan.
Jantung Ella berdetak dengan sangat cepat, wajah kekasihnya berada tepat dihadapannya. Ella tak punya pilihan lain, mau tidak mau ia harus menuruti keinginan Kairi.
"I love you sayang." ucap Ella sambil memejamkan matanya, ia kelewat malu saat mengatakan kalimat itu.
"I love you too my baby." jawab Kairi sambil mendaratkan ciumannya di pipi Ella.
Spontan Ella langsung menunduk, ia tak ingin Kairi melihat pipinya yang semakin memerah.
"Aku pulang sayang, baik-baik disini." kata Kairi sambil mengusap rambut Ella.
"Hati-hati." ucap Ella dengan pelan.
Kairi mengangguk, dan mulai melangkah pergi. Ella menatapnya sambil tersenyum, kehadiran Kairi benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga.
***
Yura Esterina Collin.
Ia sedang duduk di kursi ruangannya. Ia menatap layar komputernya, dan memeriksa beberapa tugas dari anak didiknya, yang sudah dikirimkan padanya.
Disaat Yura sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya bergetar, ada notif pesan yang baru saja masuk.
Yura mengalihkan pandangannya, dan menatap ponselnya, ia melihat siapa pengirim pesannya.
Yura tersenyum lebar saat melihat nama pengirimnya.
Dengan cepat Yura meraih ponselnya, dan membuka pesannya. Ia tersenyum semakin lebar saat membaca pesan itu.
"Keberuntungan memang berpihak padaku." ucap Yura dengan pelan sambil meletakkan kembali ponselnya.
Lalu ia beranjak dari duduknya, dan menatap pohon rindang yang berada di taman kampus lewat jendela ruangannya.
"Berbahagialah Ella, selagi Kairi masih ada disampingmu. Aku ingin tahu bagaimana caranya kamu menangis, saat lelaki yang kamu cintai lebih memilih pergi, dan kembali pada kekasih lamanya. Ella, Ella, kau sungguh naif, kau fikir dirimu siapa, berani bermimpi untuk menjadi pasangannya Kairi Da Vinci." ucap Yura sambil tersenyum licik.
Ia melangkah mendekati jendela ruangannya, menikmati semilir angin yang berhembus menerpanya.
Kilasan balik tentang masa lalu, berputar dalam ingatannya. Saat Ella datang kesini, Dimas selalu saja mengistimewakannya, bahkan terkadang sampai menomor duakan dirinya. Dan saat ia datang ke Indonesia, keluarganya Dimas selalu membicarakan Ella, memuji kecerdasannya, dan juga kepribadiannya. Bahkan saat hari pernikahannya pun, orang tuanya Dimas masih mengeluh, mereka meyayangkan ketidak hadirannya Ella. Sepenting itukah posisi Ella dalam keluarganya Dimas?
Tidak, seharusnya tidak seperti itu, seharusnya mereka lebih melihat Yura daripada Ella. Karena Yura adalah menantu mereka, bahkan kini dia sudah melahirkan cucunya. Sedangkan Ella, dia hanyalah orang lain. Dia tidak pantas mendapatkan perlakuan sebaik itu.
__ADS_1
"Kau yang lebih dulu mengusik hidupku, jadi jangan salahkan aku, jika aku menyulitkan hidupmu. Kau tunggu saja Ella, aku sudah menyiapkan kejutan manis untukmu." ucap Yura sambil memainkan ujung rambutnya dengan jemarinya.
Bersambung.......