
Tepat jam delapan pagi Rena sudah siap untuk pergi. Hari ini ia ada janji bersama Cindy. Mereka berniat mengunjungi wahana permainan. Mereka berdua selalu menyempatkan diri untuk bertemu. Melakukan kegiatan yang menyenangkan.
Rena menutup pintu unit apartemen bersamaan Adrian yang baru saja kembali dari minimarket.
"Pagi Bu" sapa Adrian sambil menganggukan kepala.
"Pagi," sahut Rena tersenyum.
"Tumben ga bareng Albian?," Sambung Rena yang melihat Adrian sendirian kerepotan membawa belanjaan.
"Dia sudah pergi dari jam tujuh kayaknya. Habis dapat kabar kalau wanita tercintanya yang sedang sakit, langsung pergi dia," jelas Adrian.
Rena membulatkan bibirnya sambil menganggukan kepalanya. Hatinya tiba-tiba rasanya tak nyaman ketika mendengar Albian memiliki wanita yang amat dicintainya. Dia bertanya-tanya siapakah wanita itu.
"Yasudah saya jalan dulu ya," ucap Rena mengalihkan pikirannya.
__ADS_1
"Ya Bu," jawab Adrian sambil menganggukan kepalanya.
Dalam perjalanan menemui Cindy benar-benar tak sesemangat biasanya. Pikirannya sungguh terganggu. Hatinya benar-benar tak nyaman. Pikiran berkecamuk. Rena mencoba menyangkal rasa yang ada. Albian adalah teman yang baik menurut Rena. Hanya sebatas teman. Dan dia yakin tak memiliki rasa itu. Rena meyakini rasa tidak nyaman itu hanya rasa penasaran berlebihan.
*****
Klek….
Albian membuka pintu kamar bundanya. Dengan langkah cepat ia menghampiri bundanya. Raut wajah tampak kekhawatiran.
Albian langsung mencium punggung tangan dan kening bundanya. Albian duduk di pinggir ranjang di samping bundanya. Albian menggenggam tangan bundanya.
"Bunda bagaimana?," Tanya Albian lirih penuh kekhawatiran melihat wajah pucat bundanya.
"Ga apa-apa sayang. Cuma demam kok karena kelelahan," jawab Aruni tersenyum dengan wajahnya yang pucat namun tak mengurangi kecantikannya.
__ADS_1
"Bunda selalu saja begitu. Sudah tahu tidak bisa kelelahan. Bunda masih saja melakukan kegiatan yang begitu banyak,'" gerutu Albian.
"Maafkan bunda ya, sudah buat putra kesayangan bunda khawatir," ucap Aruni lirih sambil tersenyum dan mengusap pipi Albian.
"Iya pasti di maafkan kok," jawab Albian tersenyum.
Albian memegang tangan Aruni yang menyentuh pipinya sambil memejamkan matanya. Merasai kasih sayang bundanya.
Albian amat sangat menyayangi Aruni. Lahir ke dunia tanpa memiliki ayah. Perjuangan Aruni membesarkan Albian seorang diri sungguh luar biasa. Albian tidak peduli ia tidak memiliki sosok ayah dan tak ada keinginan untuk mencari tahu siapa ayahnya. Untuknya saat ini bundanya saja sudah cukup.
Hingga saat ini Aruni tidak sedikitpun menyinggung tentang sosok ayah Albian. Dan bersyukurnya ia, karena Albian tidak pernah bertanya apapun tentang siapa dan dimana ayahnya. Walaupun ia tahu selama ini Albian sering mendapatkan perlakuan buruk karena lahir tanpa memiliki ayah. Bukan Aruni tidak ingin memberitahu siapa ayahnya. Ia sendiri pun tidak tahu siapa ayah Albian.
Aruni adalah korban pelecehan seksual sekelompok teman kuliahnya. Ia tidak tahu benih siapa yang tumbuh di rahimnya. Aruni juga tidak mencoba mencari tahu. Menurutnya mereka tidak pantas menjadi seorang ayah. Perjuangan Aruni sungguh berat. Trauma besar dalam dirinya, belum lagi harus menerima kenyataan dirinya hamil.
Beberapa kali ia melakukan percobaan bunuh diri dan mencoba menggugurkan kandungannya. Tetapi setelah ia mendengar detak jantungnya yg pertama kali. Sejak saat itu dia bertekad untuk bangkit demi sang anak yang ada di kandungannya.
__ADS_1