
"El maafkan aku, waktu itu aku benar-benar tidak menyangka jika itu memang anakku." ucap Andra sambil menatap Ella.
"Untuk apa meminta maaf padaku, minta maaflah pada Suci, juga pada mereka yang pernah kamu sakiti. Meskipun mereka tidak hamil, tapi jika kesuciannya sudah kamu ambil, masa depan mereka akan hancur Ndra. Apalagi Suci, dia sudah kamu hamili, dan kamu tinggalkan begitu saja. Dimana hati nurani kamu Ndra, kamu benar-benar pengecut!" teriak Ella sambil menatap Andra dengan tajam.
"Sayang tenanglah, biar aku yang bicara dengannya." ucap Kairi sambil mengusap lengan Ella.
Ella menghela nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Ndra?" tanya Kairi sambil duduk disebelah Andra.
"Aku juga belum tahu, tapi yang jelas, aku akan berusaha untuk selalu ada buat Suci. Mungkin Ella benar, aku harus belajar mencintai dia." jawab Andra sambil menghela nafas panjang.
"Bukan mungkin, tapi harus. Kamu memang harus belajar mencintai dia. Kamu fikir mudah menanggung semua itu sendirian. Pasti sulit, pasti berat Ndra." sahut Ella dengan nada yang masih tinggi.
"Aku kembali mengecewakan Mama, sepertinya kali ini Mama sudah tidak bisa memaafkan aku." ucap Andra dengan pelan.
"Itu tidak benar Ndra, Mama hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Kenyataan ini terlalu mengejutkan Ndra buat Mama. Kau punya anak, dan kau baru tahu setelah sekian tahun, disaat anak itu sudah tiada. Berjanjilah untuk berubah Ndra, berusahalah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mama pasti akan memaafkan kamu." kata Kairi sambil menepuk bahu Andra.
"Dulu Mama selalu menuntutku untuk menjadi yang terhebat, agar aku tidak kalah dengan Kairi. Tapi nyatanya, aku malah berbeda jauh dengan dia. Aku yang seburuk ini, sedangkan dia sebaik itu, bahkan nyaris tidak ada cela dalam dirinya. Mama pasti sangat kecewa padaku." ucap Andra dalam hatinya.
"Terima kasih, nanti aku akan bicara lagi dengan Mama." ucap Andra sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah meninggalkan Ella, dan Kairi. Ia terus berjalan menuju ke kamarnya.
"Apakah ini yang dulu membuat Andra dikeluarkan dari sekolah?" tanya Kairi sambil mengibaskan lembaran kertas yang sedang dipegangnya.
"Iya, dulu aku tidak menyangka jika dia separah itu. Andai saja aku tahu, kalau anak itu benar-benar anaknya Andra, aku pasti akan membuatnya bertanggungjawab." kata Ella sambil menatap Kairi.
"Dulu kau mencintainya, jadi semua yang ada padanya kau anggap baik." goda Kairi sambil terkekeh. Melihat wajah istrinya yang cemberut, Kairi sangat gatal untuk menggodanya.
"Aku tidak ingin bercanda Kai. Apalagi candaan yang tidak lucu." gerutu Ella dengan kesal.
"Kau semakin cantik, jika sedang kesal seperti ini." ucap Kairi sambil merangkul istrinya.
"Semakin hari kau semakin pandai merayu Kai." kata Ella tanpa menoleh.
"Hanya padamu sayang." bisik Kairi tepat di telinga Ella.
"Jangan seperti ini Kai, geli." ucap Ella saat tangan Kairi turun ke pinggangnya, dan mengusapnya dengan lembut.
"Aku menginginkannya sayang, ke kamar yuk." bisik Kairi sambil menciumi leher Ella.
"Kai, suasana sedang genting, kau malah mengajakku melakukannya. Sekarang semuanya sedang panik, dan kacau Kai." ucap Ella sambil menahan tangan Kairi yang hendak kemana-mana.
"Kita juga panik sayang, dan ini adalah caraku untuk menenangkan kepanikanmu. Lihatlah, sekarang kau sedang cemberut. Aku harus berusaha membuatmu tersenyum." kata Kairi sambil mendekatkan wajahnya. Kini jarak mereka sudah terkikis habis, nafas mereka saling menghangat menyapu wajah masing-masing.
"Kai, jangan seperti ini di sini." ucap Ella berusaha menghindari Kairi yang hendak mencium bibirnya.
"Ke kamar ya." kata Kairi sambil tersenyum.
Ella menjawabnya dengan anggukan. Dan Kairi semakin melebarkan senyumannya, saat Ella sudah menyetujui keinginannya.
"Kau jalan sendiri, atau naik dalam gendonganku?" goda Kairi sambil mengusap pipi Ella.
"Minggirlah! Aku bisa berjalan sendiri!" gerutu Ella sambil beranjak dari duduknya, ia melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat.
"Kau sudah tidak sabar sayang, lihatlah, bahkan sekarang kau sudah meninggalkan aku." kata Kairi dari belakang Ella.
"Diam atau aku berubah fikiran!" bentak Ella sambil membalikkan badannya.
"Baiklah aku akan diam." jawab Kairi sambil terkekeh.
Ella menatapnya dengan sangat kesal.
"Tersenyumlah, aku akan memberikan sesuatu yang manis untukmu." ucap Kairi sambil merengkuh pinggang Ella, dan mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.
"Aku tidak suka yang manis." sahut Ella masih tanpa senyuman.
"Aku tahu, karena kau lebih suka yang panas kan." goda Kairi sambil melepaskan rengkuhannya. Ia melangkah meninggalkan Ella sambil tertawa.
__ADS_1
"Kau menyebalkan Kai!" teriak Ella sambil mengejar Kairi yang sudah berjalan menaiki tangga.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai didalam kamar. Kairi masih dengan tawanya, sedangkan Ella, ia menatap suaminya dengan bibir yang semakin manyun.
"Tidak lucu Kai!" bentak Ella sambil duduk di sofa.
"Lucu sayang."
"Terserah kamu." kata Ella dengan kesal.
Kairi tidak menjawab, namun ia mendekati istrinya yang sedang duduk sambil melipat tangannya. Kairi duduk disebelahnya, dan ia meraih wajah istrinya. Kini mereka saling berhadapan, dengan jarak yang sangat dekat. Dan Kairi malah semakin mendekatkan wajahnya, hingga tak ada lagi jeda diantara keduanya.
"Sepertinya kita belum pernah melakukannya di sofa sayang, bagaimana kalau kita mencobanya sekarang." ucap Kairi sambil tersenyum miring. Tangannya sudah mengusap kemana-mana, membuat Ella tak bisa lagi menolak keinginan suaminya.
Ella memejamkan matanya, saat Kairi mulai memainkan bibirnya. Tangannya mencengkeram lengan Kairi dengan erat, ahh lelaki ini selalu saja berhasil membuatnya tak berdaya. Dan tak lama kemudian, wajah Ella terasa memanas saat Kairi membisikkan sesuatu di telinganya.
"Aku ingin bermanja sebentar, sayang kau yang diatas ya." bisik Kairi.
"Kairi..." teriak Ella dalam hatinya.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Bu Mirna dan Pak Louis masih berada di kamarnya. Bu Mirna menangis sesenggukan, entah sudah berapa banyak tisu yang dihabiskan untuk mengusap air matanya. Bu Mirna larut dalam penyesalannya. Kehadiran Andra karena sebuah kesalahan, anak itu ada karena hubungan terlarang. Dan setelah tumbuh dewasa, Andra menjelma menjadi ujian terbesar dalam hidupnya.
"Apakah ini karma untukku. Dulu aku menodai pernikahanku, dengan menjalin hubungan terlarang dengan pria lain. Sekarang Andra menjadi ujian dalam hidupku. Dia menelantarkan darah dagingnya, dan kini darah dagingnya sudah tiada. Ya Allah semoga engkau mengampuni dosa-dosanya, juga dosa-dosaku. Ampuni hamba Ya Allah." ucap Bu Mirna dalam hatinya.
"Ma sudahlah, jangan menangis terus. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya." kata Pak Louis sambil mengusap lengan Bu Mirna.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku." ucap Bu Mirna sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Tidak perlu meminta maaf Ma, Andra juga anakku." kata Pak Louis sambil memeluk Bu Mirna dengan erat.
"Rasanya aku tidak bisa memaafkan dia Mas." ucap Bu Mirna sambil tetap menangis.
"Jangan berbicara seperti itu, dia anakmu, darah daging kamu. Kamu harus bisa memaafkan dia, sebesar apapun kesalahannya. Ingat Mirna tidak semua pendosa, tidak memiliki masa depan. Beri dia dukungan, dan beri dia kepercayaan. Seiring berjalannya waktu, dia pasti akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Percayalah padaku." kata Pak Louis sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku salah telah mengkhianatimu Mas, aku tidak tahu jika kau sebaik ini. Andai saja dulu aku bisa menerimamu, dan kita bisa menjalin rumah tangga yang baik. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini, anak-anakku tidak akan menjadi korban, mereka akan tumbuh dengan penuh kasih sayang. Dan Andra, mungkin dia juga tidak akan menjadi lelaki seburuk ini." batin Bu Mirna sambil memegangi dadanya.
Diwaktu yang sama, ditempat yang berbeda. Andra duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Ia menyandarkan punggungnya di ranjang. Tatapan matanya tampak kosong, dan datar.
Andra memegangi kepalanya, rasanya otaknya sudah penuh dengan bayangan tentang masa lalu. Betapa buruknya dia, juga betapa bejatnya dia. Andra menjambak rambutnya dengan kasar, hatinya hancur berkeping-keping mendapati kenyataan yang menyakitkan.
Semua terjadi karena ia terlalu menuruti hawa nafsunya. Syetan benar-benar berhasil menjerumuskannya dalam kesesatan. Ia kini tenggelam dalam kubangan dosa yang entah dimana dasarnya.
Andra beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju ke kamar mandi. Ia membasuh mukanya yang kusut. Lalu ia mengambil air wudhu. Meskipun ia tidak hafal dengan doanya, namun ia benar-benar berniat untuk bersuci, dan akan menghadap pada sang Illahi.
Setelah selesai berwudhu Andra keluar dari kamar mandi. Ia membuka almarinya, dan mengambil sajadah yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia sentuh. Andra menggelar sajadah itu di lantai, lalu ia mulai menghadap pada sang pencipta.
Dirakaat yang terakhir, Andra bersujud cukup lama. Air matanya kembali berlinang, untuk pertama kalinya ia menumpahkan tangisnya dihadapan Tuhan.
Setelah selesai melaksanakan shalatnya, Andra duduk bersimpuh. Kedua tangannya menengadah, dengan air mata yang tetap berlinang. Andra masih belum bisa mengucapkan sepatah katapun, hatinya masih kalut, terlalu banyak dosa yang menyelimuti dirinya.
Diluar hujan turun dengan derasnya, disertai petir yang sesekali terdengar menggelegar. Seakan alam juga ikur merasakan, betapa hancurnya hati Andra saat itu. Andra menunduk, dengan bibir yang bergetar Andra mulai mengucapkan sepatah demi sepatah kata, yang ia rangkai menjadi sebait doa untuk dipanjatkan pada Yang Kuasa.
"Ya Allah ampunilah hambaMu yang berlumur dosa ini, ampunilah semua kesalahan yang pernah hamba lakukan. Berikanlah kesempatan pada hamba, untuk memperbaiki diri hamba Ya Allah. Berikanlah petunjuk, dan hidayah untuk menuntun hamba menempuh jalan yang benar. Ampunilah hamba Ya Allah." ucap Andra disela-sela isakannya.
Disaat Andra masih menangis dalam doanya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata yang datang adalah Bu Mirna, dan Pak Louis. Bu Mirna menutup mulutnya saat menatap Andra yang sedang duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangannya.
Bu Mirna melihat tubuh Andra bergetar, beliau tahu jika anaknya sedang menangis. Andra tidak menyadari kedatangan orang tuanya, karena ia sedang menghadap ke barat, sedangkan pintu kamarnya berada disebelah timur.
"Mas!" ucap Bu Mirna pelan sambil menatap suaminya yang berdiri disebelahnya.
"Kau lihat kan dia juga bisa berubah." kata Pak Louis sambil menunjuk Andra.
Bu Mirna tidak menjawab, beliau hanya tetap menatap Pak Louis. Selang beberapa detik Pak Louis mengangguk, lalu Bu Mirna mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar Andra. Dengan pelan Bu Mirna mulai mendekati Andra, beliau duduk disebelah Andra sambil menyentuh bahunya.
"Mama." ucap Andra sambil menoleh.
__ADS_1
Bu Mirna terdiam, melihat wajah anaknya yang sudah basah dengan air mata, membuat hatinya teriris sakit. Bu Mirna merasa, jika dirinya benar-benar gagal menjadi Ibu yang baik.
"Maafkan aku Ma, Mama harus kembali menangis karena aku. Aku benar-benar anak yang buruk, aku selalu mengecewakan Mama. Jangan menangis lagi ya Ma, aku sedih melihat Mama menangis." ucap Andra sambil mengusap air mata Ibunya.
Bu Mirna menggenggam tangan Andra, beliau menatap anaknya lekat-lekat.
"Berjanjilah untuk berubah Ndra, Mama sangat menyayangimu. Tolong Ndra, tolong perbaiki diri kamu. Mama percaya kamu bisa, untuk kedepannya tolong jangan kecewakan Mama lagi." kata Bu Mirna dengan pelan.
"Aku akan berusaha Ma, aku akan sangat berusaha." jawab Andra sambil menatap Ibunya.
Lalu Bu Mirna memeluk Andra dengan sangat erat.
Diambang pintu, Pak Louis menatap mereka sambil tersenyum. Senang rasanya melihat istrinya bisa memaafkan anaknya.
"Papa." panggil Kairi yang tiba-tiba berdiri disebelah Pak Louis.
"Kamu mau kemana?" tanya Pak Louis sambil menatap Kairi. Melihat Kairi yang hanya memakai celana pendek, dan bertelanjang dada, sepertinya tidak mungkin jika dia benar-benar ingin ke kamarnya Andra.
"Mengambil minum Pa." jawab Kairi sambil tersenyum nyengir.
"Perempuan ya Kai." kata Pak Louis sambil terkekeh.
"Laki-laki atau perempuan yang penting jadi Pa." jawab Kairi sambil ikut terkekeh.
Lalu ia menatap Ibunya, dan Andra yang sedang berpelukan. Kairi mengernyit heran saat melihat Andra yang bersimpuh diatas sajadah.
"Andra shalat Pa?" tanya Kairi dengan pelan.
"Sepertinya begitu." jawab Pak Louis.
"Syukurlah, semoga dia benar-benar berubah. Pa aku ambil minum dulu ya." kata Kairi sambil tersenyum.
"Iya."
Kairi berjalan menuju kulkas yang berada disudut ruangan. Lalu ia mengambil sebotol air mineral, dan membawanya kedalam kamar.
Kairi tersenyum sambil melangkah mendekati ranjang. Ia duduk disebelah Ella yang sedang berbaring memeluk guling.
"Minumlah!" ucap Kairi sambil menyodorkan minumannya kepada Ella.
"Kau lama." gerutu Ella sambil bangkit dari tidurnya, ia tetap memeluk selimut coklat yang membungkus tubuhnya. Ella meraih botol itu, dan kemudian menengguknya hingga hampir tandas.
"Kau sangat haus sayang." goda Kairi sambil menatap Ella.
"Gara-gara kamu." sahut Ella dengan cepat.
Kairi terkekeh, lalu ia berbaring dipangkuan istrinya.
"Aku lelah Kai, dan kepalamu ini sangat berat. Minggirlah!" kata Ella sambil menatap Kairi.
"Aku juga lelah sayang, diamlah, sebentar saja." jawab Kairi sambil memeluk tangan Ella. Ia terlihat seperti bocah kecil yang sedang bermanja pada ibundanya.
"Kau tahu tidak, aku tadi melihat apa?" kata Kairi mengawali percakapannya.
"Kau mesum!" bentak Ella.
"Hai apa maksudmu, bukan itu yang ingin kubicarakan." kata Kairi sambil tertawa.
"Lalu apa?" tanya Ella dengan kesal.
"Hal lain, tapi tak kusangaka fikiranmu malah kemana-mana sayang." jawab Kairi.
"Kamu tidak lucu, minggirlah aku mau tidur." kata Ella sambil berusaha mendorong kepala Kairi.
"Diamlah, sebentar saja. Kau tahu, aku tadi melihat Andra bersimpuh diatas sajadah, dia baru saja shalat." kata Kairi dengan serius.
"Benarkah?" tanya Ella sambil mengernyit heran. Sejak pertama kali ia mengenal Andra, belum pernah sekalipun ia melihat Andra shalat. Meskipun sudah ribuan kali ia menasihati Andra, namun lelaki itu belum pernah sekalipun punya niatan untuk menghadap pada Tuhannya.
__ADS_1
Bersambung.......