Tentang Rasa

Tentang Rasa
Persiapan Ke Paris


__ADS_3

Paris.


Salah satu tempat yang sangat ingin Ella kunjungi. Ia bermimipi bisa melihat menara eiffel yang sebenarnya. Ella sangat bahagia, jika bisa pergi kesana.


Tapi kalau perginya bersama Kairi, apa itu aman ?


Laki laki dan perempuan, pergi keluar negeri berdua saja. Ella merasa ragu, terlebih lagi mengingat Perancis adalah negara asalnya Kairi.


Ella jadi teringat kata kata Andra waktu itu, dia berjanji akan mengajak Ella pergi ke Paris, dan melihat menara eiffel.


Mungkin memang lebih aman pergi bersama Andra, daripada bersama Kairi. Secara Ella sudah mengenal Andra jauh lebih lama, sebelum mengenal Kairi. Dan selama ini Andra juga selalu melindungi Ella. Tapi lelaki itu sudah merencanakan pertunangan.


Mungkinkah masih mengingat janjinya ?


Ahh pasti jika pergi ke Paris, Andra akan mengajak Nadhira, tidak mungkin mengajak Ella.


"Kenapa kamu memandangku seperti itu ?" tanya Kairi saat melihat Ella menatapnya tanpa kedip.


"Untuk apa ke Paris ?" jawab Ella balik bertanya.


"Kamu lihat ini." ucap Kairi sambil mendekati Ella, dan menunjukkan layar ponselnya.


"Klien kita sangat suka dengan desain cincin kamu. Dan dia berharap kamu juga bisa mendesain rumahnya." sambung Kairi sambil ikut duduk di kasur.


"Memangnya dia orang mana ?" tanya Ella.


"Paris." jawab Kairi singkat.


Ella diam, tidak tahu harus menjawab apa.


"Kita kesana untuk urusan kerja. Memangnya kamu tidak percaya padaku ?" tanya Kairi, karena Ella masih terdiam.


"Aku ragu." gumam Ella pelan.


"Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya Gabriella ?. Agar kamu bisa percaya jika aku ini orang baik baik, aku tidak pernah punya maksud jahat sama kamu." ucap Kairi sambil menatap Ella.


"Bukan tidak percaya, tapi aku merasa tidak nyaman saja. Masa sih kita harus pergi ke luar negeri berdua." jawab Ella pelan.


Kairi menghembuskan nafas dengan kasar, "Kita ada urusan kerja Gabriella. Lagi pula kamu dulu pergi kesini, juga hanya berdua dengan Dimas kan ?" tanya Kairi.


Lagi lagi Ella terdiam. Kata kata Kairi memang benar adanya. Meskipun Ella sudah menganggapnya seperti kakak sendiri, tetapi tetap saja, Dimas adalah orang lain, tanpa ada hubungan saudara.


"Gabriella..." panggil Kairi.


"Bagaimana bisa kau masuk ke rumahku ?" tanya Ella mengalihkan pembicaraan.


"Aku mengetuk pintu berkali kali, tapi tidak ada jawaban. Lalu ada ibu ibu paruh baya yang menghampiriku, katanya dia pemilik rumah ini. Aku bilang, jika aku adalah teman kerjamu, lalu ibu itu memberikan kunci cadangan, dia tidak bisa ikut menemuimu, karena harus menjemput anaknya yang pulang sekolah. Aku khawatir dengan kedaan kamu, sudah lewat jam sepuluh, kau belum ada kabar. Apalagi aku ingat, semalam kau ada masalah." jawab Kairi menjelaskan dengan panjang lebar.


"Terima kasih, sudah peduli padaku." ucap Ella.


"Tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya kita saling peduli." kata Kairi sambil tersenyum.


Dan Ella juga ikut tersenyum.

__ADS_1


"Kau mau ya ?" tanya Kairi tiba tiba.


"Mau apa ?" Ella balik bertanya.


"Ke Paris." jawab Kairi.


"Baiklah." ucap Ella setelah jeda beberapa detik. Positive thinking saja lah, semoga Kairi memang orang baik baik. Semoga tujuannya kesana memang untuk urusan kerja.


"Kalau begitu bersiap siaplah.'' kata Kairi, yang sontak membuat Ella kaget.


"Maksud kamu ?" tanya Ella spontan.


"Kita berangkat sekarang, jam empat sore kita sudah terbang." jawab Kairi dengan santainya.


"Kamu jangan sembarangan. Masa harus pergi mendadak begini." ptotes Ella.


"Memangnya kenapa ?, pergi sekarang atau lusa juga sama saja kan. Aku sudah pesan tiketnya, kamu siap siap saja, tidak usah membawa baju terlalu banyak, kita tidak lama disana." jawab Kairi.


"Orang kaya memang aneh ya." gumam Ella sangat pelan.


"Kamu mengatakan sesuatu Gabriella ?" tanya Kairi sambil menahan senyumannya.


"Tidak, kamu keluarlah, aku akan bersiap siap." jawab Ella.


"Baik, aku tunggu diluar ya." kata Kairi sambil beranjak dari duduknya, lalu ia melangkah keluar, meninggalkan Ella sendirian.


"Dasar manusia aneh, mengajak ke luar negeri seperti mengajak ke warung kopi saja. Tapi difikir fikir lebih aneh lagi aku, mau maunya menurut sama dia. Tapi aku kan memang butuh uang." gerutu Ella sambil memasukkan beberapa baju kedalam tasnya.


Lalu tak lama kemudian Ella keluar sambil membawa handuk, dan baju ganti. Ia melihat Kairi sedang menyiapkan sarapan di ruang tamu.


"Kamu beli ?" tanya Ella sambil mendekati Kairi. Hemm aroma dari sop, dan ayam goreng dihadapannya sangat menggugah selera.


"Iya, di warung depan. Sarapan yuk." jawab Kairi.


Ella tersenyum sambil duduk didepan Kairi, lalu mereka berdua makan bersama.


"Kamu berapa kali punya pasangan Gabriella ?" tanya Kairi saat mereka sudah menyelesaikan sarapannya.


Ella menatap Kairi lekat lekat, untuk apa dia menanyakan masalah pribadinya.


"Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh." sambung Kairi, karena takut jika Ella kembali salah paham.


"Aku belum pernah punya pasangan." ucap Ella sambil menggigit bibirnya. Ahh masa lalunya memang menyedihkan, mencintai tanpa ada balasan, hingga tujuh tahun lamanya. Wow luar biasa kan.


"Kamu serius ?" tanya Kairi sedikit ragu. Ia yakin kalung yang waktu itu, bukan Ella sendiri yang membelinya.


"Aku serius." jawab Ella dengan sungguh sungguh.


"Lalu kalung waktu itu ?" tanya Kairi penasaran.


"Itu dari sahabatku." jawab Ella. Raut wajahnya mulai berubah saat mengucapkan kata sahabat.


Dan Kairi menyadari akan hal itu.

__ADS_1


"Apa dia sahabat yang sangat berharga Gabriella ?" tanya Kairi.


"Mungkin, tapi itu dulu, tidak untuk sekarang." jawab Ella.


"Oh, lalu lelaki yang bersamamu waktu dipesta, apakah dia juga teman ?" lagi lagi Kairi bertanya.


"Iya, dia teman kuliahku." jawab Ella sambil mengangguk.


Kairi tersenyum, meskipun hatinya sedikit ragu, tapi ia bahagia mendengar Ella mengatakan, jika ia belum pernah punya pasangan.


Mudah mudahan dirinya bisa menjadi pasangan yang pertama, dan terakhir untuk Ella.


"Kamu mandi saja, ini biar aku yang membersihkannya." kata Kairi saat melihat Ella hendak membawa piring kotor ke dapur.


"Tidak apa apa, aku saja." jawab Ella.


"Gabriella, mandilah." kata Kairi sambil menatap Ella.


Lalu Ella meletakkan kembali piringnya, dan bergegas pergi ke kamar mandi. Ahh tatapan itu, selalu saja membuat Ella menurut.


*****


Pukul 11.30 waktu Indonesia.


Andra masih berkutat dengan pekerjaannya.


Sejak seminggu terakhir, pekerjaannya sangat menumpuk, karena Pak Adit sedang dirawat di rumah sakit, karena penyakit jantungnya sedang kambuh.


Saat ia sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba tiba pintu ruangannya terbuka, menampakkan sosok wanita cantik yang sedang tersenyum padanya.


"Sayang, aku buatkan makan siang untuk kamu." ucap wanita itu sambil mendekati Andra, dan duduk didepannya.


Wanita itu adalah Nadhira.


"Terima kasih ya sayang, disela sela kesibukan kamu, kamu masih perhatian sama aku." jawab Andra sambil tersenyum.


"Jangan berlebihan, itu cuma makan siang." kata Nadhira sambil tersenyum manis.


"Oh ya Ndra, pesta pertunangan kita, tinggal satu bulan lagi. Kapan kamu ada waktu untuk cari cincin, dan bajunya ?" tanya Nadhira dengan hati hati.


Mereka akan tunangan, tapi segala sesuatunya hanya Nadhira yang mengurus. Sedangkan Andra, dia selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Bahkan untuk mencari cincin, dan baju saja, sampai saat ini Andra belum ada waktu.


"Jadwalku sangat padat sayang, untuk seminggu kedepan aku masih belum bisa." kata Andra.


"Lalu kapan ?, tinggal satu bulan lagi lho Ndra." ucap Nadhira.


Andra memijit pelipisnya, "Atau begini saja, kamu cari sendiri cincin, dan bajunya. Kalau kamu suka, aku pasti juga suka. Selera kita kan sama, benar kan ?" kata Andra sambil memegang tangan Nadhira.


Meskipun Andra tersenyum, tapi tidak dengan Nadhira.


Dia merasa hanya dirinya yang menginginkan tunangan ini. Andra seperti tidak tertarik sama sekali, meluangkan waktunya sedikit saja, ia tidak mau.

__ADS_1


Apa dalam hubungan ini, memang hanya Ndhira yang punya cinta ?


Bersambung.....


__ADS_2