Tentang Rasa

Tentang Rasa
APA YANG KAMU LAKUKAN?


__ADS_3

Dengan cepat dia beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Dia mengejar Max yang sudah pergi duluan lewat tangga darurat.


" Mana Max?" tanya Netta pada Joko yang melongo melihat Bossnya masuk ke dalam pantry.


" Eh, bukannya pergi beli nasi campur, Boss?" jawab Joko.


" Arghhh! Kemana dia!" kata Netta marah.


Netta menghubungi Aris agar mencari Max bersama security. Sementara Netta pergi ke ruang CCTV untuk mencari Max. Pegawai bagian CCTV terkejut melihat Bossnya yang tiba-tiba datang ke ruangan mereka.


" Cari Pak Max!" kata Netta.


" Siap, Boss!" jawab mereka yang ada 3 orang sebagai pegawai bagian CCTV. Mereka mengoperasikan seluruh CCTV yang ada di kantor kecuali ruang direktur dan meeting.


" Maaf, Boss! Sepertinya Pak Max tidak ada dimana-mana!" jawab salah satu pegawai.


" Putar rekaman CCTV 10 menit yang lalu!" kata Netta.


" Baik Boss!" jawab pegawai itu.


Layar CCTV menemukan Max yang sedang menerima telpon keluar dari ruangan Netta dan naik ke atas atap. Disana ternyata telah menunggu Wenny sedang berdiri di pagar pembatas.


" Apa bisa mendengar percakapan mereka?" tanya Netta menahan amarah.


" Maaf, Boss! CCTV hanya bisa mendengar suara yang dekat saja dan mereka terlalu jauh,!" kata pegawai itu. Sial! Apa yang mereka bicarakan! batin Netta kesal.


" Apa mereka masih disitu?" tanya Netta.


" Sepertinya masih, Bos! Karena sisi tersebut memang CCTVnya sedang dalam perbaikan!" jawab pegawai itu. Netta keluar dari ruang itu dan berlari menuju ke lift miliknya.


Netta berdiri di dalam lift dengan gelisah, pikirannya telah berkelana kemana-mana. Ponselnya berbunyi, diambilnya ponsel tersebut dari dalam saku blazernya. Nama mama tertera di layar ponselnya. Aduh, ma! Nggak pas banget, sih! batin Netta.


" Halo, ma!"


" Akhirnya kamu angkat juga telpon mama!"


" Maaf, Ma! Tata hanya..."


" Apa? Tega kamu sama mama dan papa!"


" Tata janji akan pulang jika semua urusan Tata selesai!"


" Apa kamu segitu sibuknya sampai lupa sama keluarga?"


(Netta terdiam)


" Kenapa diam?"


" Aku akan meeting beberapa menit lagi!"

__ADS_1


" Ok! Tapi mama mau bilang sesuatu dan ini sangat penting, kamu harus tahu+"


" Ada apa, Ma? Apa yang terjadi? Apa Max melakukan sesuatu lagi?"


" Tidak, sayang! Papamu sehat!"


(Netta mengurungkan niatnya yang tadinya mau menyusul Max ke atas saat dia mengingat apa yang dilakukan Max pada keluarganya. Dia menekan angka lantai ruangannya.


" Ada yang harus kami ceritakan pada kamu, sayang!"


" Aku belum bisa kesana ma!"


" Bisakah kita VC sebentar?"


Sementara Max berjalan gontai memasuki rumahnya, langkahnya terhenti saat dilihatnya Pak Maman berlari kearahnya.


" Kok, sudah pulang, Tuan?" tanya Maman.


" Aku resign, Pak!" jawab Max berjalan menuju ke rumahnya dan naik ke lantai 2.


Diraihnya minuman yang ada di dalam lemari, lalu dia menegaknya dengan cepat. Matanya berkaca-kaca, hatinya terasa sakit dan tubuhnya bergetar hebat. Hujan lebat diluar sana, pikiran Max melayang beberapa tahun yang lalu, saat dia dan Netta kehujanan. Max dengan berjalan keluar menuju balkon, dinginnya air hujan membasahi seluruh tubuhnya yang masih tertutup pakaian. Max menegak kembali minumannya, dia menengadahkan kedua tangannya.


" Hahahaha! Lihatlah hidupmu, Maximiliano Smith! Sendiri, tanpa siapapun didekatmu! Ini adalah karma yang kamu terima karena telah menyakiti wanita yang sangat baik!" teriak Max dengan airmata yang keluar bersama air hujan.


" Max!" panggil seseorang.


" Hahaha! Arnetta? Bahkan saat ini Engkau membuatku bisa melihatnya!" tawa Max.


" Aku pasti sudah terlalu banyak minum!" kata Max lagi melempar botolnya ke dinding balkon.


Max memutar tubuhnya dan berdiri menengadah ke atas langit. Dia jatuh luruh di lantai dengan kedua kaki bersimpuh.


" Maafkan aku!" ucap Max lirih.


" Masuklah! Kamu bisa sakit!" kata Netta.


" Pergilah! Aku bahkan tidak pantas berhalusinasi tentangmu!" kata Max.


" Aku nyata, Maxy!" kata Netta yang kemudian menarik tangan Max ditengah hujan hingga dia ikut kehujanan.


Max tidak percaya dengan apa yang dirasakannya saat ini. Tapi tangan itu terasa sangat nyata menyentuh kulitnya. Suara itu, wajah itu, tubuh itu...kenapa... sangat nyata? batin Max ketika mengangkat wajahnya dan melihat Netta.


" Lihatlah! Kau seperti anak kecil yang tidak pernah bermain hujan-hujan!" kata Netta.


Max menyentuh pipinya dan mencubitnya.


" Auw!" teriak Max.


" Aku nyata, Maxy! Ini benar-benar aku!" kata Netta lagi.

__ADS_1


Tapi menatap nyalang pada Netta. Netranya berkaca-kaca melihat soaok Netta yang benar-benar ada di depannya. Tapi Max takut jika wanita itu hanya akan mengolok dan mempermainkannya saja.


" Untuk apa kamu kemari?" tanya Max yang masuk dan menuju mini barnya. Tetesan air membasahi lantai 2 miliknya. Diraihnya sebotol wisky dari dalam lemari minumannya.


" Hentikan! Apa kamu mau masuk RS lagi?" tanya Netta marah dan merampas minuman itu dari tangan Max.


" Bukankah kamu sangat membenciku? Kamu sudah tidak ingin melihat wajahku lagi! Apa kamu baru merasa puas jika aku mati? Atau kamu mau membunuhku sendiri? Atau .....!"


Belum sempat Max mengatakan, Netta menutup bibir Max dengan jari tangannya.


Deg..deg! Deg..deg! Kedua mata mereka saling mengunci, jantung mereka berdua berdetak sangat kencang.


" Jangan bicara seperti itu!" ucap Netta lembut, lalu melepaskan tangannya dari bibir Max.


" Mandilah dulu, kita akan bicara lagi setelah kamu sadar sepenuhnya!" kata Netta yang melihat Max sangat berantakan tapi tidak menghilangkan sedikitpun wajah tampan pria bodoh itu. Max hanya menundukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke kamarnya untuk mandi. Dia memang tidak pernah bisa membantah semua perkataan Netta sejak dia merasa jatuh dalam cinta yang dalam pada wanita itu. Netta menatap tubuh besar itu dengan tatapan nanar. Netta turun ke lantai bawah dan melihat Murni yang sedang memasak di dapur.


" Mbok!" sapa Netta.


Murni memutar tubuhnya.


" Ya, Nyonya Muda?" jawab Murni.


" Apa Max selalu minum?" tanya Netta pada Marni.


" Iya, Nyonya! Tiap malam selalu banyak botol berserakan dilantai atas!" jawab Murni.


" Tolong buatkan air jahe, ya, mbok!" kata Netta.


" Iya, Nyonya Muda!" jawab Murni.


Murni melihat tubuh basah majikannya.


" Apa nggak sebaiknya Nyonya ganti baju?" tanya Murni.


" Aku tidak membawa baju!" jawab Netta.


" Dikamar Tuan Muda ada baju-baju wanita, Nyonya!" jawab Murni.


Deg! Dada Netta mendadak terasa sesak.


" Kemana istrinya? Kok, saya tidak melihatnya dari tadi?" tanya Netta dengan tangan bergetar sambil mengeringkan rambut, menahan rasa cemburunya.


" Siapa maksud Nyonya?" tanya Murni heran.


" Kak Vina! Apa Max menikah dengan orang lain selain dia?" tanya Netta datar.


" Tuan Muda tidak pernah membawa siapa-siapa sejak pindah kesini!" jawab Murni.


" Apa?" kata Netta terkejut, gerakan tangannya terhenti dan matanya menatap tajam wanita setengah baya didepannya itu.

__ADS_1


__ADS_2