Tentang Rasa

Tentang Rasa
Fakta Mengejutkan


__ADS_3

"Sayang kamu kenapa ?" tanya Andra sambil menatap Nadhira. Karena kekasihnya itu hanya diam, dan menunduk.


"Aku tidak apa apa.'' jawab Nadhira dengan datar. Kenapa Andra tidak pernah peka dengan perasaannya.


"Lalu kenapa diam saja ?" tanya Andra sambil mengusap pipi Nadhira.


Nadhira menatap Andra, betapa ia sangat mencintai lelaki dihadapannya ini. Tapi semakin kesini, Nadhira merasa hubungan mereka semakin hambar. Seolah Andra tidak punya perasaan lagi untuk dirinya.


"Sayang, katakan ada apa ?, kau terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Apa ada yang mengganggu fikiranmu ?" tanya Andra saat melihat kekasihnya masih tetap diam.


"Apa kau masih mencintaiku ?" tanya Nadhira dengan pelan.


Andra mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan pertanyaan Nadhira.


"Apa maksudmu ?, tentu saja aku mencintaimu sayang." jawab Andra.


"Tapi kamu seperti tidak peduli dengan pertunangan ini. Semua sudah aku urus sendiri Ndra. Hanya tinggal cincin, dan baju, aku ingin mencarinya bersamamu, dan kamu masih tidak bisa meluangkan waktu untuk itu. Kamu anggap tunangan ini penting, atau tidak sih Ndra ?" tanya Nadhira dengan mata yang berkaca kaca. Rasanya sudah lelah ia menghadapi sikap Andra.


"Sayang jangan bicara sembarangan. Aku sangat menantikan hari itu, aku sangat bahagia bisa tunangan sama kamu. Bukannya aku tidak mau, tapi kamu tahu sendiri kan, pekerjaanku menumpuk seperti itu. Om Adit masih di rumah sakit, aku harus mengurus semuanya sendirian sayang." ucap Andra menjelaskan. Ia memegang tangan kekasihnya, dan menatap matanya dengan lembut. Berharap Nadhira mau mengerti betapa sibuknya ia akhir akhir ini.


"Aku hanya minta waktu satu hari saja Ndra. Atau kalau memang tidak bisa, setengah hari saja, itu sudah cukup. Kamu tahu, aku sudah membatalkan beberapa kali pemotretan, untuk mengurus acara ini. Karena apa, karena aku menganggap tunangan ini penting Ndra, jauh lebih penting daripada karierku. Kita tidak akan jatuh miskin, hanya karena cuti beberapa hari saja." kata Nadhira sambil menangis.


"Maaf ya, aku sudah mengecewakan kamu. Aku sudah membuat kamu menangis. Begini saja, kita akan mencarinya bersama sama, tapi tidak sekarang. Beri aku waktu satu minggu, aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku. Setelah itu aku janji, akan menemanimu mencari cincin, dan baju." kata Andra sambil mengusap air mata Nadhira, dan kemudian memeluknya.


"Aku mencintai kamu Ndra, jangan tinggalkan aku ya." ucap Nadhira disela isakannya. Mengingat perasaan Andra yang sepertinya mulai memudar, Nadhira merasa takut, jika suatu saat Andra akan pergi dari sisinya.


"Aku juga mencintaimu, aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu. Kita akan tetap bersama, membangun rumah tangga yang bahagia." jawab Andra sambil mengusap punggung Nadhira dengan lembut.


"Kenapa rasanya hatiku malah gelisah ya, setelah aku mengucapkan janji pada Nadhira. Ada apa dengan diriku ?. Sayang, doakan ya, semoga aku bisa menepati janjiku padamu." gumam Andra didalam hatinya.


****

__ADS_1


Pukul 21.00 waktu Indonesia.


Andra baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia kini sedang berkemas untuk pulang.


Andra melangkahkan kakinya dengan terburu buru. Pasalnya, malam ini dia akan mengunjungi Pak Adit di rumah sakit.


Pria paruh baya itu hidup sebatang kara, orang tuanya sudah tiada sejak lama. Sedangkan keluarga, beliau tidak punya. Dulu pernah menikah, tetapi baru setahun mereka sudah berpisah, dan mereka belum sempat mempunyai anak. Jadi sekarang Pak Adit hidup seorang diri, beliau tinggal di rumah sederhana, yang tidak jauh dari kantornya Andra. Sudah bertahun tahun Pak Adit bekerja pada keluarganya Andra, hingga hubungan mereka terjalin seperti saudara. Jadi saat Pak Adit berada dalam kesulitan, Andra, dan Ibunyalah yang selalu ada, dan memberikan bantuan.


Andra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan terlalu ramai untuk berkendara dengan cepat. Kelap kelip lampu yang berpendar disepanjang jalan, membuat Andra teringat dengan seseorang.


"Lebih nyaman kan, kalau berkendara dengan pelan. Kita bisa menikmati kelap kelip lampu yang berpendar indah. Tidak usah emosi walaupun ada yang mendahului kita. Sejauh apapun perjalanan kita, akan terasa menyenangkan, jika kita bisa menikmatinya. Sama halnya seperti jalan hidup Ndra. Sesulit apapun, jika kita nikmati, dan kita syukuri, semua akan terasa lebih indah. Jangan merasa iri jika ada orang lain yang lebih baik dari kita. Semua orang punya jalan hidupnya masing masing. Punya kelebihan, dan kekurangannya sendiri sendiri. Jadi jangan bandingkan diri kita dengan orang lain." ucap Ella kala itu sambil tersenyum riang.


Andra tersenyum mengingat hari itu, Ella memang selalu berfikiran positif. Ia selalu ceria, seolah tidak menyimpan beban apapun. Padahal Andra juga tahu, jalan hidupnya tidaklah mudah, namun Ella selalu tegar, dan tidak pernah berputus asa.


"Kau gadis yang hebat Ella." gumam Andra dengan pelan. Tapi ngomong ngomong bagaimana ya kabarnya Ella sekarang. Rasanya sudah lama mereka tidak berhubungan. Ahh semoga dia selalu baik baik saja.


Dan tak lama kemudian Andra sudah sampai di rumah sakit. Ia turun dari mobilnya, dan langsung menuju ruangan, tempat Pak Adit dirawat. Saat Andra sudah sampai didepan pintu, ia tersentak kaget melihat sesuatu yang janggal dihadapannya.


Andra melihat Ibunya sedang menggenggam tangan Pak Adit, dan menempelkannya dipipi. Sedangkan Pak Adit, beliau menatap Ibunya sambil tersenyum mesra. Ada hubungan apa mereka ?


Andra tidak pernah curiga dengan kedekatan mereka, karena Pak Adit sudah bekerja lama untuk Ibunya, jadi wajar jika mereka bisa akrab. Tapi melihat mereka seperti sekarang, sepertinya itu bukanlah hubungan antara atasan, dan bawahan, namun lebih terlihat seperti dua orang yang saling mencintai.


Sejak kapan mereka punya hubungan ?


Keakraban mereka sudah sangat lama, mungkinkah mereka menjalin hubungan juga sejak lama ?


Deggg.....


Apakah ini alasannya, kenapa dulu Ayahnya memilih pergi, dan meninggalkan mereka berdua. Mungkinkah Ayahnya sudah tahu tentang hubungan Ibunya, dan Pak Adit.


Andra merasakan sesak didadanya. Selama ini ia membenci Ayahnya, karena beliau tidak pernah menyayanginya, dan akhirnya malah pergi meninggalkannya, tapi Andra tidak pernah tahu, apa alasan dibalik sikap Ayahnya yang seperti itu.

__ADS_1


Kalau saja semua itu disebabkan oleh penghianatan Ibunya, lalu siapa yang pantas untuk disalahkan ?


Ahh sudahlah, tidak peduli siapa yang salah, yang jelas korbannya adalah dirinya.


Tanpa banyak berkata, Andra membalikkan tubuhnya, dan pergi membawa emosi. Ia tidak mau lagi melihat pemandangan yang membuat matanya panas.


****


Kairi dan Ella sudah berada di bandara Heathrow, sebentar lagi mereka akan terbang ke Perancis.


Sejak turun dari mobil, Kairi tak melepaskan tangan Ella sedetik pun. Ia selalu menggandenganya, seakan takut, jika gadis itu akan menghilang diantara kerumunan orang yang berlalu lalang.


Beberapa menit kemudian mereka masuk, dan duduk dikursi didalam pesawat. Ella merasa takut, dan cemas. Pergi keluar negeri, berdua dengan pria yang belum lama dikenalnya. Ahh semoga saja ini bukan kesalahan. Mencoba untuk tetap yakin, jika Tuhan akan selalu melindunginya.


Dan tak lama kemudian, jantung Ella berdetak semakin keras, saat pesawat mulai lepas landas.


"Jangan takut Gabriella, ada aku disini." ucap Kairi sambil menatap Ella dengan senyuman.


Ella membalas senyuman Kairi dengan ragu ragu.


"Justru karena ada kamu, aku merasa takut. Andai saja aku ke Perancis seorang diri, mungkin aku tidak segugup ini. Aku hanya bisa berharap, semoga kamu tidak mengecewakan aku Kairi." ucap Ella didalam hatinya.


"Hei, kenapa kau diam saja ?" tanya Kairi.


"Aku tidak apa apa." jawab Ella pelan.


"Tidurlah jika kamu lelah. Nanti aku akan membangunkanmu.'' ucap Kairi sambil meraih kepala Ella, dan menyandarkan didadanya.


Ella tidak menjawab, tapi juga tidak menolaknya. Samar samar ia mencium aroma parfum yang dipakai Kairi, dan ia juga bisa mendengarkan detak jantungnya Kairi. Meskipun hatinya merasa takut, tapi nyatanya Ella menikmati posisi ini. Sangat nyaman menurutnya.


" Oh Tuhan, bolehkah selamanya aku bersandar didada lelaki ini." gumam Ella didalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2