
Sang surya mulai menyemburatkan cahaya jingganya di ufuk timur. Semilir angin berhembus perlahan, menggoyangkan setiap dedaunan yang diterpanya. Buliran demi buliran embun yang sebening ktistal, mulai menetes dan pecah menguarkan aroma basah. Melukiskan suasana pagi yang masih sunyi, dan sepi. Banyak insan yang masih terlena dalam tidurnya, dan masih berkelana dalam dunia mimpi.
Namun semua itu tidak berlaku bagi keluarga Bu Mirna, dan kekuarga Ella. Mereka sudah terjaga sejak fajar belum menyingsing. Hari ini adalah hari dimana Kairi, dan Ella akan melangsungkan pesta pernikahannya. Keluarganya Ella ikut berkumpul di rumah Bu Mirna, mereka datang untuk membantu persiapan acara nanti malam.
Saat ini di rumah Bu Mirna terlihat sangat ramai, beberapa orang sedang memasang dekorasi pernikahan, eksterior dan juga interior. Dan di ruangan dapur, beberapa wanita sedang berkumpul menyiapkan makanan untuk hidangan nanti malam.
Diantara banyaknya orang, salah satunya adalah Andra. Dia sedang membantu memasang lampu kristal yang sangat besar. Sejak kejadian lima hari yang lalu, Andra sudah banyak berubah. Ia lebih mendekatkan diri pada sang Illahi. Meskipun Andra masih kesulitan dalam membaca doanya, namun sejak saat itu ia tak pernah meninggalkan shalatnya.
Tak terkecuali hari ini, ia bangun sebelum adzan subuh. Ia melaksanakan shalat terlebih dahulu, lalu setelah itu ia ikut bergabung mempersiapkan segala sesuatu, untuk acara resepsi nanti malam. Dan untuk Suci, sejak hari itu Andra lebih sering menghubungi Suci. Meskipun ia belum bisa mencintai Suci, namun ia berusaha selalu ada untuk Suci. Ia ingin menjaga wanita itu, dan ia ingin menebus semua kesalahannya dimasa lalu.
"Kairi dimana Ndra?" tanya Ella sambil mendekati Andra. Ia baru saja keluar dari ruangan dapur, ia celingukan mencari keberadaan suaminya.
"Didepan mungkin El, tadi katanya mau membantu memasang foto." jawab Andra sambil menatap Ella sekilas. Sekuat tenaga Andra berusaha menepis semua perasaannya untuk Ella. Wanita itu bukanlah jodohnya, dia sudah menjadi istri kakaknya. Dan sekarang, Andra juga punya wanita yang harus dijaga. Dan setiap saat ia harus belajar untuk mencintainya.
"Oh, kalau begitu aku kesana dulu ya." ucap Ella sambil melangkah pergi.
Ella terus berjalan menuju ke pelataran rumah, dan benar saja. Ternyata Kairi sedang memasang hiasan untuk pigura foto yang akan dipajang di pintu masuk.
"Kai!" panggil Ella sambil mendekati Kairi.
"Hmmm." jawab Kairi sambil menoleh, ia menatap Ella sambil tersenyum.
Ella juga ikut tersenyum, ia menatap foto yang berada dihadapannya dengan cukup lama.
Dalam foto itu terlihat jelas, Kairi sedang memeluknya dari belakang sambil membawa kotak cincin yang indah. Ella ingat itu adalah foto yang diambil saat mereka sedang berada di Paris. Didalam foto yang lain, tampak Kairi sedang merangkulnya dari samping. Mereka terlihat sedang berjalan beriringan, dengan latar belakang menara eiffel yang yang bercahaya terang. Didalam foto yang terakhir, tampak Kairi, dan Ella sedang duduk berhadapan disebuah kursi panjang. Mereka saling menatap, dengan tangan yang saling menggenggam. Romantis, itulah satu kata yang tepat untuk menggambarkan ketiga foto itu.
"Kenapa sayang?" tanya Kairi saat menatap Ella tersenyum sendiri.
"Aku tidak menyangka kau mengambil foto kita saat itu." ucap Ella sambil menatap Kairi.
"Aku butuh bantuan tiga orang untuk melakukannya sayang. Aku tahu kau sangat menyukai Paris, jadi aku mengambil foto kita untuk dijadikan kenang-kenangan." kata Kairi sambil tersenyum.
Kemudian Ella duduk disebelah Kairi. Ia menatap Kairi yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku bahagia mendapatkan kamu Kai." ucap Ella dengan pelan, sambil tangannya mengusap lengan Kairi.
"Kau merayuku sepagi ini sayang, apa kau ingin mengulang yang semalam." bisik Kairi sambil tersenyum miring.
"Kau selalu saja merusak suasana Kai!" gerutu Ella dengan kesal.
"Aku tidak melakukannya." ucap Kairi sambik terkekeh.
"Kau melakukannya! Seharusnya ini menjadi suasana yang romantis, duduk berdua sambil menikmati sinar surya yang menghangat. Merasakan semilir angin yang berhembus dengan pelan. Sambil berpegangan tangan, kita menatap foto kita yang sangat manis. Mengenang kembali saat kamu sedang melamarku. Romantis Kai, tapi kau merusaknya dengan kemesumanmu." gerutu Ella sambil memanyunkan bibirnya.
"Ini biasa saja sayang, yang romantis itu didalam kamar, kamu mau mencobanya." goda Kairi.
"Tidak. Sudahlah aku mau pergi saja!" kata Ella sambil beranjak dari duduknya.
"Sayang jangan pergi!" teriak Kairi sambil terkekeh.
"Kau menyebalkan!" bentak Ella sambil melotot tajam.
Dan Kairi menanggapinya dengan tawa yang semakin keras.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Rumah Bu Mirna sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang mewah, dan romantis. Didepan pintu masuk, para tamu akan disambut dengan hiasan bunga bak sakura yang melengkung, dipadu dengan cahaya lampu yang berpendar berwarna warni. Tak jauh dari pintu masuk, tiga pigura foto yang cukup besar dipajang dengan hiasan bunga, dan lampu lampu kecil. Pose yang sederhana, namun terlihat sangat romantis. Membuat beberapa pasang mata, menatapnya dengan perasaan iri.
__ADS_1
Setelah masuk, mereka akan dimanjakan dengan hiasan kain renda yang menyelimuti seluruh pelataran rumah. Lampu lampu kristal yang banyak bergantungan, menyorotkan cahaya terangnya, dan turut menjadi hiasan dalam acara pernikahan. Meja makan yang berwarna putih, lengkap dengan beberapa kursi yang dihiasi kain renda. Beberapa rangkaian bunga, serta lilin lilin kecil yang diletakkan diatas meja, menjadikan suasana tampak lebih manis, dan romantis.
Didalam rumah juga tidak kalah indahnya. Ruang tamu yang sangat luas itu kini sudah dipenuhi dengan lampu kristal, serta rangkaian bunga yang sangat menawan. Sebuah panggung didirikan didekat ruang tengah, dihiasi karpet merah, serta lampu kristal yang cukup besar, juga beberapa lampu hias yang berpendar berwarna warni.
Meskipun acara akan dimulai satu jam lagi, namun sudah ada beberapa tamu yang hadir, mereka adalah kerabat dan saudara yang cukup dekat. Pak Louis, dan Bu Mirna menyambut mereka dengan ramah. Tak lama kemudian Bu Halimah juga ikut bergabung dengan Bu Mirna, beliau ikut menyambut para tamu yang sudah mulai hadir satu persatu.
Sedangkan Ella, ia masih berada didalam kamar. Ia duduk di kursi, bersama MUA profesional yang sedang merias wajahnya. Gaun pengantin yang berwarna putih, dan bertabur permata sudah melekat di tubuhnya, lengkap dengan sarung tangan berenda yang sudah ia pasang di kedua tangannya.
Tak lama kemudian wajah Ella sudah selesai dirias, dan kini MUA itu sedang memasangkan kerudung putih di kepalanya. Kerudung panjang berenda dengan hiasan beberapa permata warna putih. Dan sentuhan terakhirnya adalah sebuah mahkota kecil yang dilengkapi dengan permata warna biru muda.
Ella menatap pantulan dirinya di cermin, seakan tak percaya jika itu adalah dirinya. Didalam cermin tampak seorang wanita bak boneka sedang berdiri sambil tersenyum. Ella melirik Kairi lewat pantulan cermin. Saat itu Kairi sedang duduk dibelakangnya, dia terlihat menawan dengan balutan kemeja putih, dan jas hitam. pandangan mata mereka bertemu, Kairi menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
"Sudah selasai Nona Ella, saya tinggal dulu ya, ini high hellsnya." ucap MUA itu sambil meletakkan high hells diatas kursi.
"Iya Mbak, terima kasih ya." jawab Ella dengan sedikit gugup. Menatap high hells yang sangat tinggi membuat Ella bergidik ngeri. Gaunnya cukup panjang, dan nanti juga harus menuruni tangga. Mungkinkah ia bisa menggunakannya?
Setelah MUA itu melangkah pergi, Kairi beranjak dari duduknya. Ia mendekati Ella dan merengkuh pinggangnya dari belakang.
"Kau sangat cantik Gabriella, kau seperti bidadari yang baru saja turun ke bumi." ucap Kairi sambil menatap bayangannya di cermin.
"Aku tidak suka kau memujiku seperti itu Kai." kata Ella.
"Kenapa?"
"Kau memuji saat aku sedang memakai make up Kai." jawab Ella.
"Lalu kenapa?" tanya Kairi.
"Aku lebih suka dipuji saat aku sedang polos, tidak memakai make up. Karena itu wajah naturalku yang sebenarnya." jawab Ella.
Kairi tersenyum, tangannya beralih menggenggam tangan Ella.
"Kau kembali menyebalkan Kai! Kau selalu saja merusak suasana." bentak Ella dengan kesal.
"Aku bicara apa adanya sayang. Kau tahu, saat ini aku ingin sekali membaringkanmu di ranjang, dan mengulang kembali apa yang kita lakukan semalam." ucap Kairi dengan santainya.
Belum sempat Ella menjawab, tiba-tiba pintu kamar sudah terbuka. Ternyata Andra yang datang.
"Oh sorry, aku datang tidak tepat waktu ya." goda Andra sambil tertawa.
Sebenarnya ia juga sedikit kaget. Melihat Kairi dan Ella sedang berpelukan mesra, jujur ada perasaan perih yang sedikit menyayat dalam hatinya. Namun ia mencoba menyimpannya dalam-dalam. Banyak hati yang harus ia jaga, jadi cukup dirinya saja yang tahu, tentang rasa yang masih bersemayam dalam hatinya.
"Lain kali belajarlah mengetuk pintu!" kata Kairi sambil melepaskan tubuh Ella. Ia menatap Andra yang sedang berdiri diambang pintu.
"Aku tidak sengaja." jawab Andra dengan asal. Namun matanya menatap Ella dengan lekat-lekat, wanita itu terlihat begitu cantik dengan balutan gaun pengantin. Lalu Andra mengusap wajahnya sambil menghela nafas panjang. Sekarang bukanlah saatnya untuk mengagumi wajah Ella, dia adalah kakak iparnya, dosa Andra, dosa.
"Ada apa?" tanya Kairi.
"Ada apa katamu Kai, lihatlah sekarang sudah jam berapa. Cepat turun, sudah banyak tamu yang hadir, turunlah dan sambut mereka." kata Andra sambil menatap Kairi.
Kairi melirik jarum jam yang melingkar di tangannya, sudah jam 07.40, sebentar lagi acara akan dimulai. Kairi mendekati Ella yang sedang memasang high hells di kakinya.
"Kau yakin akan memakainya?" tanya Kairi sambil menatap Ella.
"Tidak ada pilihan." jawab Ella.
"Itu terlalu tinggi El, kau tidak akan bisa." sahut Andra. Ia tahu Ella akan kesulitan memakai high hells setinggi itu.
__ADS_1
"Pakai yang lain saja." ucap Kairi.
"Tidak ada Kai, hihg hellsku masih ada di rumah Ibu. Lagipula kau kenapa memesan yang setinggi ini, kau tahu kan biasanya aku memakai yang sedikit pendek. gerutu Ella.
"Aku memesannya hanya dari gambar sayang, dan kemarin kamu tidak mau ikut melihatnya. Kau hanya bilang yang tinggi, karena akan dipadukan dengan gaun. Aku tidak mengerti harus membeli yang berapa centi." ucap Kairi sambil menatap Ella.
"Aku tidak suka belanja online Kai, aku lebih suka belanja langsung ke tokonya. Jadi bisa tahu pas atau tidak, nyaman atau tidak." kata Ella.
"Aku sudah mengajakmu sayang, tapi kau tidak mau pergi." ucap Kairi.
"Kau selalu saja membuatku lelah, mana bisa aku pergi belanja." kata Ella masih tidak mau kalah.
Kairi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, yang diucapkan Ella memang ada benarnya. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga pengantin baru.
"Apa sih yang kalian ributkan, masih ada aku di sini!" sahut Andra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudahlah pakai saja seadanya sayang." ucap Kairi sambil menggenggam tangan Ella.
"Adanya sandal jepit Kai." jawab Ella.
"Tidak apa-apa, tidak akan kelihatan, gaunnya panjang kan." ucap Kairi.
"Ahh ya sudahlah, gara-gara kamu ini Kai." gerutu Ella.
"Gara-gara kamu juga sayang, kamu terlalu manis jadi aku selalu ingin mengulanginya." ucap Kairi.
"Kamu yang tidak normal!" kata Ella sambil menatap Kairi dengan tajam.
"Justru aku ini sangat normal sayang, kalau tidak normal aku tidak akan tertarik dengan kamu." jawab Kairi sambil terkekeh.
"El cepat pakai sandalnya, dan ajak Kairi turun. Aku pergi dulu, capek mendengarkan kalian ribut terus." sahut Andra sambil melangkah pergi.
"Melihat kamu ribut, aku jadi teringat masa lalu El. Dulu aku yang menjadi teman ribut kamu. Aduh El, kalau kamu belum pergi rasanya aku belum bisa menghapus perasaan ini." gerutu Andra dalam hatinya.
Andra melangkah menuruni tangga, ia menunggu seseorang yang katanya sudah dalam perjalanan. Orang yang ditunggunya adalah Suci, dia bilang dia sudah dalam perjalanan menuju kesini. Tiba di ruang tamu, Andra menatap sosok lelaki yang sangat familiar. Andra tersenyum lebar, sahabatnya yang sekian lama tanpa kabar, kini hadir dihadapannya.
"Riky!" sapa Andra sambil menepuk bahu Riky.
"Hai Ndra, apa kabar, lama kita tidak bertemu." jawab Riky sambil memeluk Andra sekilas.
Varrel yang saat itu berdiri disebelah Riky, mengernyit heran kala memdengar Riky memanggil lelaki itu dengan sebutan Ndra. Mungkinkah dia Andra, sahabatnya Ella?
"Aku baik, kamu selama ini kemana saja? Tak pernah ada kabar, sudah lupa dengan sahabat lama?" goda Andra sambil menatap Riky.
"Aku di Jakarta Ndra. Otakku diperas habis di sana, tidak ada waktu sama sekali untuk bersantai." jawab Riky sambil tertawa.
"Gaya." cibir Andra.
"Ndra sejak kapan kamu punya kakak, aku fikir dulu kamu anak tunggal. Dan lagi, kakakmu tiba-tiba menikah dengan Ella, bagaimana ceritanya?" tanya Riky dengan cepat, dari dulu ia tidak berubah, tetap banyak bicara.
"Panjang ceritanya." jawab Andra sambil menghela nafas panjang.
"Terus sebenarnya hubunganmu dengan Nadhira itu bagaimana. Waktu itu kudengar kau akan tunangan dengannya, tapi tiba-tiba dia akan menikah dengan Vino. Apa yang terjadi Ndra?" tanya Riky.
Andra terpaku, ia menunduk sambil menata hatinya.
"Banyak hal telah terjadi padaku Rik, dan kurasa kau tidak perlu tahu. Maaf, bukannya aku tidak menganggapmu sahabat, tapi semua ini terlalu pahit untuk kubagikan dengan orang lain. Aku berusaha keras melupakan semua itu, aku tidak ingin mengungkitnya lagi." ucap Andra dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung......