
Ella menunduk malu saat mendengar gelak tawa Kairi yang sudah berada diluar kamar.
"Dasar mesum!!" umpat Ella dengan kesal.
Lalu ia beranjak dari ranjang, dan melangkah menuju sofa. Ella duduk di sana sambil menatap tumpukan buku yang tertata rapi diatas meja. Ella meraih satu buku yang paling atas, sebuah buku tentang bisnis. Ella membukanya, dan melihat setiap lembarnya, ahh semua tentang teori bisnis, sedikit sulit untuk difahami.
Ella terus membuka setiap lembarannya hingga sampai dihalaman paling belakang, dan matanya tertuju pada tulisan tangan yang terdapat dilembaran itu.
Dalam kesendirian
Aku tenggelam didasar kenangan
Hanya angan yang kuuntai disela kerinduan
Kutengadahkan tangan
Harapkan Tuhan berikan jalan
Untuk kita bersama
Merajut kembali cinta kasih yang tertunda
"Ternyata Kairi bisa menulis puisi." ucap Ella dengan pelan.
Lalu ia kembali membaca puisi itu, dan memahami maknanya.
"Ini puisi tentang kerinduan untuk seseorang yang dicintai. Kairi menulis puisi ini untuk siapa." ucap Ella sambil meraba tulisan itu.
"Kau sedang apa sayang?" tanya Kairi yang baru saja masuk kedalam kamar, ia membawa sepiring nasi, dan segelas air putih yang kemudian diletakkan diatas meja.
"Membaca." jawab Ella dengan singkat. Entah kenapa hatinya terasa ngilu setelah membaca puisi tadi.
"Kau tertarik dengan bisnis?" tanya Kairi sambil menatap buku yang sedang dipegang Ella.
"Tidak, aku tertarik dengan sastra." jawab Ella.
"Tapi itu buku bisnis sayang, aku tidak punya buku sastra." kata Kairi.
"Tapi ini buku sastra, buktinya ada puisinya di sini, liriknya sangat menyentuh, pasti menulisnya pakai hati." ucap Ella dengan bibir yang manyun.
"Maksud kamu apa sayang? puisi apa?" tanya Kairi sambil mengernyitkan keningnya.
"Kau menulis ini untuk siapa?" tanya Ella sambil menunjukkan tulisan puisi yang tadi ia baca.
Kairi meraih buku itu, dan membaca puisinya. Kairi tersenyum hambar, ia teringat waktu lalu saat menulis puisi itu. Ia sendiri dan merasa kesepian, ia sangat menginginkan kehadiran seseorang yang sangat disayanginya.
"Jangan salah paham, ini tidak seperti yang kau fikirkan." kata Kairi sambil menutup bukunya, dan meletakkannya diatas meja.
"Untuk Angelina ya." ucap Ella sambil menatap Kairi.
"Jangan sembarangan, aku tidak pernah merindukannya." jawab Kairi sambil mengacak rambut Ella.
"Makanlah, mumpung masih hangat." kata Kairi sambil menyendok nasi dan telurnya, lalu menyuapkannya ke mulut Ella.
"Aku bisa makan sendiri." kata Ella sambil meraih piring, dan sendoknya.
"Aku suapi sayang." kata Kairi.
"Tidak usah." jawab Ella dengan kesal.
"Kamu masih marah ya?" tanya Kairi sambil menatap Ella.
"Kau tidak jujur." ucap Ella sambil mengunyah makanannya.
"Aku selalu jujur sayang, aku tidak bohong." kata Kairi.
"Jika puisi itu bukan untuk Angelina, lalu untuk siapa? dilihat dari tulisannya kau sangat merindukannya, apa itu untuk cinta pertamamu?" tanya Ella sambil melirik Kairi.
"Bukan." jawab Kairi.
"Lalu?" tanya Ella.
"Apa kamu sedang cemburu sayang, apa kamu juga mau aku buatkan puisi?" tanya Kairi menggoda Ella.
"Kau tidak lucu!" kata Ella sambil menyuap kembali makanannya. Nada bicaranya sangat datar, terlihat jelas jika ia sedang kesal.
"Kamu sungguh ingin tahu puisi itu untuk siapa?" tanya Kairi.
"Iya, kau sudah tahu banyak tentang aku, jadi tidak salah kan, jika aku juga ingin tahu tentang kamu." ucap Ella sambil menoleh menatap Kairi.
"Puisi itu untuk seseorang yang sangat aku sayangi, yang kehadirannya sangat aku rindukan. Cinta yang kumaksud, bukan cinta untuk kekasih, tetapi untuk keluarga. Gabriella, aku menulis puisi itu untuk Ibuku, saat itu aku benar-benar merindukannya." kata Kairi dengan panjang lebar.
"Apa?" gumam Ella dengan pelan, ia meletakkan sendok yang sedang dipegangnya. Ella meraih tangan Kairi dan menggenggamnya dengan erat.
"Maaf, seharusnya aku tidak mengungkitnya Kai." kata Ella sambil menatap Kairi.
"Tidak apa-apa, aku juga senang menjelaskannya, dengan begini kamu tidak salah paham lagi kan." ucap Kairi sambil tersenyum.
"Merindukan seseorang yang tak mungkin kembali lagi memang sakit Kai, aku juga pernah merasakannya waktu merindukan Ayah. Tapi aku sadar, ini adalah jalan yang ditakdirkan Tuhan untuk kita, aku yakin pasti ada hikmah disetiap musibah." kata Ella sambil tersenyum.
__ADS_1
"Merindukan Ayah." gumam Kairi. sambil mengernyitkan keningnya.
"Iya, Ayahku juga sudah tiada. Aku pernah menceritakannya kan padamu." kata Ella.
"Iya, tapi aku..." ucap Kairi.
"Bersyukurlah, meskipun kau sudah tidak punya Ibu, tapi setidaknya kau masih punya Ayah. Jadi jangan bersedih lagi ya." kata Kairi sambil menatap Kairi.
"Hmmm iya." jawab Kairi sambil tersenyum.
Ella juga tersenyum, kemudian ia kembali melanjutkan makannya.
Kairi menatap Ella sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya kau sudah salah paham sayang, tapi bagaimana ya, mau menjelaskan sekarang juga terlalu rumit. Ahh, nanti saja aku akan menjelaskannya padamu." batin Kairi dalam hatinya.
"Sekarang minumlah ini!" kata Kairi sambil menyodorkan vitaminnya, saat Ella baru saja menghabiskan makanannya.
"Apa tadi kau membawaku ke rumah sakit?" tanya Ella sambil meraih vitaminnya.
"Tidak, dokternya yang datang kesini. Dia adalah Jacub, dulu teman dekatku waktu kuliah di Perancis." jawab Kairi.
"Kuliah di Perancis, jadi setelah SMA Kairi kembali lagi ke Perancis. Sebenarnya berapa lama Kairi tinggal di Indonesia." batin Ella sambil menatap Kairi.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Kairi saat melihat Ella terdiam.
"Tidak, tidak apa-apa." jawab Ella dengan gugup.
"Besok kamu hubungi ya pemilik kontrakannya, bilang kalau mau pidahan. Nanti biar Rey yang membawa barang-barangmu kesini." kata Kairi.
"Apa!! aku tidak mau tinggal di sini Kai." teriak Ella.
"Lalu?" tanya Kairi sambil menaikkan alisnya.
"Aku akan tetap tinggal di sana, aku tidak bisa tinggal satu atap dengan kamu." ucap Ella dengan cepat.
"Tidak boleh, aku tidak mau terjadi hal buruk lagi padamu. Kau harus tinggal di sini, agar aku bisa selalu menjagamu." kata Kairi dengan tegas.
"Tapi aku tidak bisa Kai, aku tidak mau tinggal satu atap dengan kamu. Kita belum halal Kai." kata Ella.
"Kalau begitu besok kita pulang ke Indonesia, meminta restu dari Ibu kamu dan kita menikah. Jadi kamu bisa bebas tinggal di sini." ucap Kairi tak mau kalah.
"Tapi aku masih ingin kerja, beri aku waktu satu atau dua bulan lagi. Menikah tidak semudah itu Kai." kata Ella.
"Aku bisa memberimu waktu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu tinggal sendirian diluar sana. Jadi, menikah atau tidak, kamu harus tetap tinggal di sini." ucap Kairi tak mau dibantah lagi.
Ella menghembuskan nafasnya dengan kasar.
***
Seorang wanita paruh baya sedang berdiri didekat jendela kamarnya. Menatap sang fajar yang mulai menyingsing diufuk timur. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengingat tentang seseorang yang telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa.
"Mas Adit." ucap Bu Mirna dengan pelan, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Bulir bening mulai menetes membasahi pipinya, sakit, hatinya benar-benar sakit, kala mengingat kepergian Pak Adit yang begitu mendadak.
"Kenapa kau pergi secepat itu Mas, aku masih butuh kamu." ucap Bu Mirna dengan deraian air matanya.
Lalu Bu Mirna menutup kembali tirai kamarnya, ia melangkah menjauhi jendela, dan duduk di sofa. Badannya masih sedikit lemas, baru tadi malam beliau keluar dari rumah sakit.
"Aku harus sembuh secepatnya, kasihan Andra, tunangannya tertunda karena kondisiku." ucap Bu Mirna sambil menuangkan air putih kedalam gelasnya. Lalu Bu Mirna menengguknya hingga tandas, dan kemudian ia mengusap air matanya.
Bu Mirna beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar kamar, ia pergi ke dapur dan melihat Bik Surti yang sedang memasak.
"Nyonya kenapa di sini, Nyonya istirahat saja di kamar." kata Bik Surti saat melihat Bu Mirna datang menghampirinya.
"Aku bosan Bik." jawab Bu Mirna.
"Tapi jangan di sini Nyonya, nanti Tuan Andra marah. Nyonya nonton tv saja di ruang tengah, atau duduk saja di meja makan, nanti saya akan membuatkan minum untuk Nyonya." kata Bik Surti.
"Tidak Bik, saya di sini saja melihat Bik Surti masak." ucap Bu Mirna sambil duduk di kursi dapur.
"Baiklah Nyonya." kata Bik Surti sambil menggaruk kepalanya, kemudian beliau kembali malanjutkan pekerjaannya.
Bik Surti juga membuatkan teh hangat untuk Bu Mirna.
Tak lama kemudian, Andra datang masih dengan piyama tidurnya. Ia mengernyit heran saat melihat Ibunya sedang minum teh di kursi dapur.
"Mama!" panggil Andra.
"Eh Andra, kamu sudah bangun nak." kata Bu Mirna sambil tersenyum.
"Mama kenapa di sini, seharusnya Mama istirahat saja di kamar." ucap Andra sambil menghampiri Ibunya.
"Mama bosan Ndra, lagipula Mama cuma duduk kok di sini, tidak melakukan apa-apa." jawab Bu Mirna.
"Janji ya Mama cuma duduk, aku tidak mau kalau Mama melakukan hal yang berat-berat. Kondisi Mama belum pulih total, Mama harus banyak istirahat." ucap Andra sambil berjongkok didepan Ibunya.
"Iya, kamu tenang saja, Mama tidak melakukan apapun." kata Bu Mirna sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku hanya ingin Mama cepat sembuh." ucap Andra sambil membalas senyuman Ibunya.
"Kamu sudah tidak sabar untuk tunangan dengan Nadhira ya." goda Bu Mirna sambil mengusap kepala Andra.
"Bukan begitu Ma, aku itu tidak tega kalau melihat Mama sakit terus. Lihat deh tubuh Mama sekarang, jadi kurus kan." kata Andra sambil menatap Ibunya.
"Itu hanya perasaan kamu saja Ndra, tubuh Mama tetap kok, tidak kurus." ucap Bu Mirna sambil mengangkat tangannya, dan menunjukkannya pada Andra.
"Tapi menurut Andra kurus Ma." kata Andra.
"Ahh sudahlah terserah kamu. Oh ya Ndra, terus rencananya kapan kamu tunangan?" tanya Bu Mirna.
"Mungkin bulan depan Ma, sambil menunggu kesehatannya Mama pulih total." jawab Andra.
"Mama sudah sehat Ndra." ucap Bu Mirna.
"Belum, fisik Mama masih lemah, aku harus menunggu sampai kondisi Mama pulih seperti dulu. Lagipula akhir-akhir ini pekerjaan di kantor masih menumpuk Ma, dan minggu depan Nadhira juga ada pemotretan diluar kota. Jadi kita merencanakannya bulan depan saja." kata Andra menjelaskan.
"Ya sudah kalau begitu, Mama doakan yang terbaik buat kalian." ucap Bu Mirna.
"Terima kasih ya Ma." kata Andra sambil tersenyum.
Bu Mirna membalas senyuman anaknya sambil mengangguk.
Bik Surti melihat mereka sambil tersenyum.
"Aku turut bahagia, melihat hubungan Nyonya dan Tuan Andra seharmonis ini. Semoga saja hubungan mereka tetap seperti ini, dan semoga keluarga ini bisa kembali utuh seperti dulu." batin Bik Surti sambil tersenyum lebar.
***
Dimas menggeram kesal sambil membanting ponselnya. Dia yang baru saja pulang dari Oxford, tiba-tiba mendapatkan telfon dari kepolisian. Istrinya, Yura Esterina Collin harus ditahan, karena kasus penculikan dan penganiayaan terhadap Gabriella Tamara.
"Apa yang kamu lakukan Yura!" teriak Dimas sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Lalu dengan cepat ia menyambar kunci mobilnya, dan kembali pergi meninggalkan rumah. Ia melajukan mobilnya dengan cepat, berharap segera sampai di kantor polisi, dan segera bertemu dengan istrinya.
"Aku hanya ingin menebus kesalahanku dimasa lalu, tapi kenapa takdir begitu kejam padaku. Sekarang niat baikku malah menjadi petaka dalam rumah tanggaku." ucap Dimas sambil terus melajukan mobilnya.
Sekitar satu jam kemudian, Dimas sampai di kantor polisi. Ia memarkirkan mobilnya, dan bergegas masuk untuk menemui Yura.
Hati Dimas yang semula dipenuhi amarah, kini luluh dan teriris sakit, saat melihat Yura sedang duduk berlutut, sambil menangis pilu dibalik ruangan berjeruji. Kemudian seorang polisi datang, dan membuka ruangannya. Ia mempersilakan Yura keluar, dan menemui Dimas.
Yura beranjak dari duduknya, ia berjalan mendekati Dimas sambil menunduk.
"Dimas maafkan aku." kata Yura sambil memeluk Dimas, ia terisak didalam pelukan suaminya.
"Apa yang kau fikirkan? kenapa kau sampai melakukan ini?" tanya Dimas sambil membalas pelukan Yura, ia mengusap-usap punggung istrinya dengan pelan.
"Aku cemburu Dim." jawab Yura sambil tetap menangis.
Dimas memejamkan matanya, kenapa sekarang menjadi serumit ini.
"Ya Allah apa selama ini aku memang salah, apa sikapku terhadap Ella memang berlebihan. Sekarang apa yang harus aku lakukan." batin Dimas dalam hatinya.
"Tolong keluarkan aku Dim." kata Yura sambil melepaskan pelukannya.
Dimas merapikan rambut Yura yang berantakan, lalu ia mengusap air matanya.
"Ini kenapa?" tanya Dimas sambil menyentuh pipi Yura yang lebam.
"Kairi menamparku." jawab Yura.
"Seharusnya kau berfikir dulu sebelum bertindak. Sekarang kamu sendiri yang rugi, kamu kehilangan pekerjaan kamu, dan kamu harus ditahan di sini, sedangkan William sangat membutuhkan kamu." kata Dimas sambil menatap Yura.
"Kamu menyalahkan aku Dim, apa kamu tidak pernah berfikir, jika aku seperti ini juga karena kamu. Aku hanya ingin kamu menjauhi Ella, tapi kamu sama sekali tidak pernah mendengarkan aku. Kamu selalu menomor satukan wanita itu, kamu fikir aku tidak punya hati, kamu fikir aku tidak cemburu!!" teriak Yura sambil memukuli dada Dimas.
Dimas terdiam, ia bingung harus mengatakan apa. Ia tidak menyangka jika perhatiannya terhadap Ella, akan berakibat fatal seperti ini. Oh Tuhan, sekarang apa yang harus ia lakukan?
"Maafkan aku Yura, tapi aku tidak ada hubungan apa-apan dengan Ella. Sudah kubilang berkali-kali, hanya kamu wanita yang aku cintai." ucap Dimas.
"Tapi ucapan kamu tidak sesuai dengan sikap kamu Dim!" bentak Yura.
"Maafkan aku Yura." ucap Dimas.
"Aku tidak butuh maaf kamu, aku cuma ingin kamu mengeluarkan aku dari sini!" teriak Yura.
"Beri aku waktu Yura." kata Dimas sambil menghela nafas panjang.
"Aku mau sekarang Dimas, Mama dan Papa akan membantumu, aku mau sekarang juga kalian mengeluarkan aku dari sini. Aku merindukan Willi Dim." ucap Yura sambil menangis.
"Kamu tenang dulu, aku pasti akan berusaha. Tapi kamu tahu kan, Kairi Da Vinci bukan orang sembarangan, aku bukanlah tandingannya, untuk itu aku butuh sedikit waktu Yura." kata Dimas sambil memegang kedua bahu Yura.
"Kalau begitu kita cerai saja. Kamu dulu pernah mengatakan cerai kan padaku. Baik, sekarang aku meluluskan keinginan kamu, kita cerai. Aku capek punya suami seperti kamu, selalu saja membuat aku sakit hati. Jadi biarkan aku menjadi janda, aku akan mencari lelaki lain yang bisa mencintai aku sepenuhnya, yang bisa menghargai aku sebagai istrinya." kata Yura.
"Yura, apa yang kamu katakan?" teriak Dimas.
"Aku benar-benar lelah Dim." jawab Yura sambil membalikkan tubuhnya, dan pergi meninggalkan Dimas.
Dimas menatap kepergian Yura dengan mata yang berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya ia merasa menjadi lelaki yang paling bodoh.
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini?" ucap Dimas dengan pelan. Ia memijit pelipisnya, kepalanya terasa pening dan sakit.
__ADS_1
Bersambung......