
Rasa canggung menyelimuti Rena dan Albian. Setelah beberapa saat tadi Rena menyadari bahwa dia dalam pelukan Albian.
"Cindy dimana?" Rena tak melihat adiknya itu. Bukankah harusnya Cindy yang menemaninya bukan Albian. Dan bagaimana bisa Albian ada disini?.
"Tadi bilangnya sih ke toilet. Tapi dari tadi belum kembali," jawab Albian.
Rena menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?" Tanya Albian, sorot matanya masih tersirat kekhawatiran.
"Aku sudah merasa lebih baik," sahut Rena yang merasa lebih tenang. "Oia bukankah pacar kamu sedang sakit ya?. Kok kamu ada disini?" Sambung Rena.
Albian mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Rena tentang pacar. Pacar yang mana? Dan siapa mengatakan kalau pacarnya ini sakit? Sedangkan dirinya adalah jomblo sejati dari lahir.
"Pacar?" Tanya Albian.
"Iya tadi pagi Adrian bilang kamu pergi menemui wanita yang kamu cintai yang sedang sakit," jawab Rena.
Albian ingin sekali tertawa mendengar itu. Tapi ia sadar sedang ada di klinik. Dia berusaha untuk menahan ketawanya. Rena merasa heran dengan respon Albian.
"Dia sudah lebih baik," sahut Albian setelah berhasil meredakan rasa ingin tertawanya. "Cindy menghubungiku sambil menangis. Jadi aku memutuskan untuk datang," jelas Albian.
"Maaf ya merepotkanmu. Jadi ganggu waktu kamu sama dia," ucap Rena.
"Enggak kok. Sungguh kamu nggak merepotkan ataupun mengganggu. Yang terpenting sekarang kamu sudah baik-baik saja," sahut Albian menyakinkan.
Rena mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih" ucapnya lirih.
"Iya… sama-sama," sahut Albian.
Kemudian Rena celingukan, seperti sedang mencari sesuatu."Ada apa?" tanya Albian.
"Tasku dimana ya?Aku mau ambil ponselku untuk menghubungi Cindy. Dia sudah terlalu lama keluar kurasa," sahut Rena.
"Gunakan ponselku saja" ucap Albian sambil mengambil ponselnya di saku celananya. Lalu membuka ponselnya dan langsung memanggilkan ke nomor Cindy. Setelah panggilannya terangkat Albian memberikan ponselnya pada Rena.
"Halo kak Al," jawab Cindy
"Halo Cin. Ini kakak kamu dimana?"
"Kakak sudah bangun, syukurlah. Tunggu ya kak aku kesana." Alih-alih menjawab pertanyaan Rena ia malah berpura-pura baru lega karena baru mengetahui Rena telah sadar. Cindy langsung mematikan panggilan ponselnya.
__ADS_1
Setelah Cindy kembali ke ruang dimana Rena di rawat. Dokter dan perawat tak lama datang untuk memeriksa kembali. Menurut hasil pemeriksaan dokter Rena sudah lebih stabil dan sudah diperbolehkan pulang.
"Cin kok kamu hubungi Albian sih?" Tanya Rena setelah Albian pergi dari ruangan itu mengurus administrasi.
"Habis aku panik ka, aku bingung mau hubungi siapa. Papa mama kan di luar kota. Hanya kak Albian yang terlintas di pikiranku," jawab Cindy merasa tak enak.
Rena menghembuskan nafasnya berat. "Yasudah tidak apa-apa. Maaf ya acara kita jadi berantakan gara-gara kakak," ucap Rena menyesal.
"Lain kali kita bisa pergi lagi kok. Kakak yakin sudah baik-baik saja?" Tanya Cindy masih merasa khawatir dengan kakaknya.
"Entahlah. Mungkin secara fisik aku lebih baik," jawab Rena lirih.
"Ayo!" Tiba-tiba Albian datang.
"Loh kok cepat sekali kak?" Tanya Cindy.
"Kebetulan tidak ada antrian jadi cepat. Ayo kita pulang," sahut Albian.
Mereka bertiga pun bersiap pulang. Albian memapah Rena dengan memegang bahunya. "Al… aku masih bisa jalan sendiri kok," ucap Rena merasa canggung dengan apa yang dilakukan Albian.
"Kamu masih lemah. Tidak usah protes, ini tidak berat kok," sahut Albian.
"Kalau kamu masih protes nanti aku gendong sekalian deh," ucap Albian memotong.
Rena pun pasrah akan apa yang dilakukan Albian. Dari pada dia harus di gendong oleh Albian. Meski sepanjang jalan menuju parkiran rasa canggung menghinggapi dirinya.
Sesampainya di parkiran Albian dengan cepat membuka pintu mobilnya. Mempersilahkan Rena masuk. Tanpa menunggu Cindy membuka pintu mobil sendiri dan memasuki mobil.
"Kirain nunggu aku bukain juga Cin?" ucap Albian.
"Ga perlu kak, kelamaan hehe," jawab Cindy terkekeh.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Rena hanya memandang keluar jendela.
****
Setelah hampir satu jam lamanya mereka sampai di apartemen Rena. Sebelumnya di klinik Rena dan Cindy sempat berdebat harus pulang kemana. Rena memilih pulang ke apartemennya. Tapi Cindy menyarankan untuk pulang ke rumah. Akhirnya tetap pilihan Rena yang dipilih. Karena malam ini orang tuanya kembali dari luar kota. Kalau melihat Rena dalam keadaan seperti ini takut kedua orang tuanya syok. Mereka pasti lelah dan tidak ingin orang tuanya khawatir. Setidaknya ada Albian yang menjaga Rena, karena Cindy harus pulang menyambut kedua orang tuanya.
Cindy langsung pulang tanpa mengantar Rena masuk ke unitnya. Mamanya sudah mengabari kalau mereka sudah sampai di bandara. Jadi ia harus segera sampai di rumah.
Kini Albian dan Rena memasuki unit Rena. Mereka langsung menuju kamar Rena agar ia bisa istirahat. Albian membantu merapikan selimut setelah Rena sudah berbaring di ranjang.
__ADS_1
"Terima kasih ya Al," ucap Rena.
Albian mengangguk dan tersenyum.
"Kamu bisa pulang sekarang. Aku sudah tidak apa-apa sendiri," kata Rena.
"Kamu yakin?" Tanya Albian yang khawatir Rena akan kembali terpuruk.
Rena hanya diam tak menjawab. Ia sendiri sebenarnya tidak yakin.
"Aku akan tidur di ruang tamu saja, kalau ada apa-apa jadi lebih mudah," putus Albian karena tak mendapat jawaban dari Rena.
"Tapi…"
"Sudah tidak apa-apa. Tidak usah khawatir aku juga tidak apa-apain kamu kok," ucap Albian.
"Ck.. bukan karena itu. Aku tahu kamu tidak akan macam-macam," decak Rena.
Albian terkekeh. " Yasudah, aku akan kembali ke unitku sebentar untuk ganti baju.'"
Rena mengangguk "iya.."
Albian kemudian beranjak pergi ke unitnya. Sesampainya di unit apartemennya dia mendapati Adrian sedang menonton tv.
"Loh kok pulang? ga nginep di rumah tante Aruni?" tanya Adrian.
"Bunda sudah membaik jadi aku bisa tinggalkan. Aku akan menginap di unit Rena malam ini," sahut Albian.
"Hah ngapain?" tanya Adrian kaget.
"Lain waktu aku ceritakan. Aku harus cepat kembali ke unit Rena," ucap Albian lalu bergegas mandi. Ia mandi dengan cepat. Setelah memakai bajunya dia kembali ke unit apartemen Rena.
"Ingat anak orang jangan di apa-apain," celetuk Adrian saat Albian ingin membuka pintu unitnya.
"Sialan kamu, aku bukan penjahat wanita seperti kamu," kemudian Albian keluar dari unitnya. Adrian tertawa dan kembali melanjutkan menonton tv.
Albian masuk ke unit apartemen Rena. Ia sudah mengetahui saat tadi pulang dari klinik membantu membukakan pintu unitnya. Kemudian Albian masuk kemar Rena dan mengecek keadaan Rena. Tampak Rena sedang tertidur.
Albian menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya Rena bisa beristirahat. Semoga Rena benar-benar tidur nyenyak hingga pagi.
Albian kembali ke ruang tamu dan merebahkan dirinya di sofa berbantalkan lengannya. Ia sempatkan mengirim pesan mengabari bundanya kalau dia sudah di apartemen dan Rena sudah lebih stabil. Tubuhnya yang juga lelah membuat Albian dengan cepat terlelap.
__ADS_1