
Pukul 04.00 pagi waktu London.
Ella sedang memasukkan beberapa barangnya kedalam koper, hari ini dia dan Kairi akan terbang ke Indonesia. Ella menatap sejenak cincin yang melingkar indah di jari manisnya.
"Ibu aku akan pulang, aku membawa calon suami. Meskipun dia kaya, tapi orangnya sangat baik. Ibu berikan kita reatu ya, doakan semoga apa yang kami rencanakan bisa berjalan dengan lancar. Aku sangat mencintainya Bu." ucap Ella sambil mencium cincin di jari manisnya.
"Kau sudah selesai sayang?" tanya Kairi yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Sudah, tinggal ganti baju saja." jawab Ella sambil tersenyum.
"Dimas sudah dalam perjalanan kesini, sebentar lagi dia akan sampai. Kau bersiaplah, aku tunggu diluar." kata Kairi sambil melangkah keluar.
Kairi meminta Dimas untuk mengantarnya sampai ke bandara.
"Iya." jawab Ella.
Kemudian ia melepas dressnya, dan menggantinya dengan celana jeans panjang, dengan atasan pendek yang dipadu dengan blazer.
Lalu Ella duduk didepan cermin, ia menyisir rambutnya, dan memoleskan make up di wajahnya. Setelah merasa cukup, Ella memasukkan peralatan make upnya kedalam tas kecil. Ella hendak beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata Gilang yang menelfonnya.
"Hallo Assalamu'alaikum Mas Gilang." sapa Ella.
"Waalaikumsalam El, kau sekarang dimana? jadi pulang kan?" tanya Gilang.
"Jadi Mas, tapi ini masih siap-siap sebentar lagi berangkat." jawab Ella.
"Ahh syukurlah, kita semua sudah merindukanmu El." ucap Gilang.
"Aku juga rindu Mas, rasanya bahagia sekali sebentar lagi bisa bertemu sama Ibu." kata Ella.
"Iya El, dari kemarin Ibu selalu menanyakan kamu, sudah berangkat atau belum." ucap Gilang.
"Hari ini aku berangkat Mas, tolong sampaikan pada Ibu ya." kata Ella.
"Iya, Ibu pasti akan sangat senang El setelah tahu kau sudah dalam perjalanan pulang." ucap Gilang.
"Tapi tolong sampaikan juga ya pada Ibu, aku mampir sebentar di Jakarta, teman kuliahku ada yang menikah, aku harus menghadiri resepsinya Mas." kata Ella.
"Iya nanti aku sampaikan, cuma sebentar kan, tidak sampai berhari-hari." kata Gilang.
"Tidak Mas cuma semalam." jawab Ella.
"Oh ya El, pacar kamu jadi ikut kan?" tanya Gilang.
"Jadi Mas, tolong direstui ya." jawab Ella sambil tertawa.
"Tentu saja El, asal dia lelaki yang baik yang benar-benar mencintai kamu, tentu saja kita semua akan memberikan restu." kata Gilang.
"Dia sangat baik Mas, dan kita juga saling mencintai. Hmmm Mas sudah dulu ya, nanti lagi aku telfon, jemputannya sudah datang, aku harus berangkat sekarang." ucap Ella.
"Iya El, hati-hati ya, jangan lupa untuk mengirimkan pesan kau sudah sampai dimana, agar kita tidak khawatir." kata Gilang.
"Iya Mas, nanti aku akan sering memberi kabar kok." jawab Ella.
"Ya sudah tutup telfonnya kalau begitu." ucap Gilang.
"Iya Mas, aku tutup ya, Assalamu'alaikum." kata Ella.
"Waalaikumsalam." jawab Gilang.
Lalu Ella beranjak dari duduknya, tas kecilnya sudah ia selempangkan di bahu. Ella melangkah sambil menyeret kopernya, ia menuju ke ruang tamu, di sana sudah ada Dimas dan Kairi yang sedang menunggunya.
"Sudah sayang?" tanya Kairi sambil menatap Ella yang berjalan mendekatinya.
"Sudah." jawab Ella sambil tersenyum.
"Aku hanya mengantarmu sampai bandara, setelah itu hati-hati ya, semoga perjalanan kamu ke Indonesia berjalan dengan lancar." ucap Dimas sambil menatap Ella.
"Iya Kak terima kasih ya, berkat Kak Dimas aku bisa lulus kuliah, dan menjadi arsitek." jawab Ella sambil tersenyum.
"Bukan karena aku El, semua itu berkat kerja kerasmu sendiri. Karena kegigihanmu, akhirnya kau bisa meraih cita-cita kamu." ucap Dimas sambil membalas senyuman Ella.
"Dimas waktu kita tidak banyak, kita harus secepatnya sampai di bandara, tidak lucu jika kita ketinggalan pesawat." kata Kairi sambil menyeret kedua kopernya, dan membawanya keluar dari apartemen.
Dimas dan Ella mengikutinya dibelakang, tak lupa Ella menutup pintu apartemennya sebelum ia melangkah menuju lift.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dimas, Kairi, dan Ella, mereka sudah sampai di Bandara Heathrow, pesawat akan lepas landas pada pukul 06.15.
Kairi sengaja memesan tiket yang paling awal, agar ia bisa secepatnya sampai di Indonesia.
"Hati-hati ya El, titip salam untuk Bu Halimah." ucap Dimas sambil menatap Ella.
"Iya Kak, terima kasih ya sudah mengantarkan kita sampai di sini." jawab Ella.
"Ini bukan apa-apa El. Tuan Da Vinci, saya titip Ella, tolong jaga dia dengan baik." kata Dimas sambil menatap Kairi.
"Tanpa kamu beritahu pun saya pasti akan menjaganya." sahut Kairi dengan cepat.
"Kai!" panggil Ella sambil menatap Kairi. Jujur sebenarnya ia kurang nyaman, jika melihat Kairi bicara sedikit kasar pada Dimas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa El. Ya sudah aku pergi dulu ya." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Iya Kak, sekali lagi terima kasih ya." jawab Ella.
"Iya, Tuan Da Vinci saya permisi dulu." kata Dimas.
"Iya." jawab Kairi dengan singkat.
Lalu ia mengajak Ella untuk bersiap, karena beberapa menit lagi pesawat akan lepas landas.
Sepuluh menit kemudian Ella dan Kairi sudah duduk di bangku, didalam pesawat. Jantung Ella berdetak lebih cepat saat ia merasakan getaran pesawat yang mulai lepas landas.
"Meskipun London bukanlah tanah kelahiranku, tapi negara ini sudah menjadi bagian dari cerita hidupku. Di negara inilah aku meraih cita-citaku, dan di negara inilah aku menemukan cintaku. Cinta yang sekarang aku bawa pulang ke kampung halaman. Tidak banyak yang aku harapkan, aku hanya ingin tetap bersamanya sampai ujung usia." batin Ella sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kairi.
Kairi tersenyum, lalu ia mengusap rambut Ella dengan lembut.
"Tidurlah jika kau lelah, perjalanan kita masih panjang." ucap Kairi sambil mengecup puncak kepala Ella.
"Aku tidak ingin tidur Kai, aku hanya ingin bersandar di bahumu." jawab Ella.
"Bersandarlah sepuasmu, aku senang jika kau mau bermanja denganku." ucap Kairi.
"Kau tidak lelah?" tanya Ella.
"Bersamamu aku tidak akan pernah lelah." jawab Kairi.
"Kau sangat pandai merayu Kai." cibir Ella.
"Hanya kepadamu." jawab Kairi sambil mengusap pipi Ella.
Ella tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menunduk, pipinya mulai merona. Sikap Kairi selalu saja membuat hatinya berbunga-bunga.
***
Setelah hampir 20 jam penerbangan dengan dua kali transit, akhirnya Ella dan Kairi sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Kairi menuntun Ella yang sedikit kelelahan, jarak London dan Jakarta tidaklah dekat, mereka menghabiskan waktu hampir sehari semalam, jadi wajar saja jika Ella merasa lelah.
Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 pagi waktu Indonesia.
Ella tersenyum senang saat merasakan hangatnya sinar mentari yang menerpanya.
"Udara Indonesia Kai." ucap Ella sambil menghela nafas panjang.
"Hangat ya, sehangat cinta kamu." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Tidak lucu." sahut Ella dengan cepat.
Kairi tertawa keras mendengar ucapan Ella.
"Tidak usah, biar aku saja." jawab Kairi sambil menahan kopernya.
Mereka berdua berjalan menuju taxi yang sudah dipesannya.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba didekat taxi. Kairi memasukkan kedua kopernya kedalam bagasi, lalu mereka naik dan duduk dibelakang kemudi.
"Hotel High Land ya Pak." kata Ella pada supir taxi.
"Baik Non." jawab supir taxi sambil menghidupkan mesinnya.
Perlahan taxi mulai melaju meninggalkan bandara. Mereka menuju Hotel High Land, sebuah hotel bintang lima, yang letaknya tidak jauh dari alamat rumahnya Varrel.
"Kita tidak mampir sebentar sayang?" tanya Kairi sambil menatap Ella.
"Mampir kemana?" Ella balik bertanya.
"Mencari gaun untuk acara nanti malam." jawab Kairi.
"Tidak usah Kai, aku sudah punya gaun." ucap Ella sambil tersenyum.
"Yakin tidak mau yang baru?" tanya Kairi.
"Tidak usah Kai." jawab Ella.
"Kenapa ditolak Non, jarang-jarang lho ada pacar yang perhatian begitu." ucap supir taxi sambil terkekeh.
"Hemat Pak." jawab Ella dengan cepat.
"Oh begitu ya, ngomong-ngomong Nona dan Tuan ini darimana?" tanya supir taxi.
"Dari London." jawab Ella.
"Wah jauh juga ya Non." kata supir taxi.
"Iya Pak." jawab Ella.
Taxi terus melaju membelah jalanan yang sangat padat.
Dan sekitar satu jam kemudian, mereka tiba dihalaman Hotel High Land. Ella dan Kairi turun dari taxi, dan melangkah masuk kedalam hotel sambil menyeret kopernya.
Kairi sudah memesan kamarnya lebih awal, jadi sekarang mereka tinggal mengambil kuncinya saja.
Kairi memesan kamar yang berada di lantai bawah, karena mereka menginap tidak sampai sehari semalam, akan lebih lelah jika memesan kamar yang berada di lantai atas.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju kamar nomor 9 dan 10. Meskipun kamarnya cukup luas, tapi Kairi yakin Ella tidak akan mau, jika mereka tinggal satu kamar. Itu sebabnya dia memesan dua kamar.
"Kamu pilih yang mana?" tanya Kairi saat mereka sudah sampai didepan pintu kamar.
"Terserah Kai." jawab Ella.
"Ya sudah kalau begitu kamu yang ini ya, aku yang sebelah." kata Kairi sambil membuka pintu nomor 9.
"Iya." jawab Ella sambil mengangguk.
Lalu ia mengikuti Kairi yang masuk kedalam kamarnya.
"Kopernya aku letakkan di sini ya." kata Kairi sambil meletakkan kopernya didekat ranjang.
"Iya, terima kasih ya Kai." ucap Ella sambil tersenyum.
"Iya. Beristirahatlah sekarang, nanti malam kita ada acara, aku tidak mau jika kau lelah." kata Kairi sambil memeluk Ella dan mengecup keningnya.
"Kau juga istirahat ya." ucap Ella sambil menatap kairi.
"Iya." jawab Kairi sambil mengangguk.
Lalu ia melangkah keluar dari kamar Ella. Ia menyeret kopernya dan membawanya masuk kedalam kamarnya.
Ella merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, merenggangkan otot-ototnya yang terasa lelah, karena menempuh perjalanan yang panjang. Ella meraih ponselnya, dan mengirimkan pesan untuk Gilang. Ia memberitahu kakaknya, jika saat ini ia sudah berada di Jakarta.
Ella tertegun sejenak saat menatap layar ponselnya, sudah lama sekali ia tak pernah berhubungan dengan sahabatnya.
"Sekarang aku sudah kembali ke Indonesia Ndra, bagaimana ya reaksi kamu saat kita bertemu lagi. Mungkinkah kau tetap menganggapku sahabat? Ah mungkin saja tidak, kau sudah punya Nadhira, dan aku sudah punya Kairi. Demi menghargai pasangan kita masing-masing, mungkin persahabatan kita akan merenggang." ucap Ella seorang diri.
Lalu ia meletakkan kembali ponselnya, tanpa memberi kabar pada Andra bahwa ia sudah berada di Indonesia. Kemudian Ella membalikkan badannya dan memeluk guling, dalam hitungan menit matanya mulai terpejam, dan ia sudah larut dalam dunia mimpi.
Diwaktu yang sama, di kamar yang berbeda. Kairi duduk termenung diatas ranjang. Ia memandangi layar ponselnya cukup lama. Tatapannya terlihat sendu, tampak jelas jika ia sedang memendam kesedihan.
"Setelah sekian lama aku pergi, akhirnya aku kembali menginjakkan kakiku di negara ini. Sebentar lagi kita akan bertemu, aku sangat merindukanmu." ucap Kairi sambil meraba foto wanita didalam ponselnya.
Foto wanita yang sedang mengukir senyum manisnya, senyuman yang hanya bisa Kairi nikmati lewat foto, karena didalam kehidupan nyatanya wanita itu tidak pernah sedikitpun tersenyum padanya.
Kairi menghela nafas panjang, ia ingat jika Ella adalah alumni SMA Harapan, SMA yang sama dengan dirinya dulu. Meskipun Kairi belum tahu alamat lengkapnya Ella, namun melihat dari tempat sekolahnya, Kairi yakin jika rumah Ella tidak jauh dari rumah seseorang yang telah memberikan luka padanya.
Lalu Kairi merebahkan dirinya di ranjang, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Bayang-bayang kelam tentang masa lalunya kembali melintas dalam ingatannya.
Kairi memejamkan matanya, dan bayangan tentang masa lalunya terlihat semakin jelas. Rasa sakit kembali menyesakkan dadanya, ia sangat menyayanginya, namun wanita itu tak pernah peduli dengannya. Seolah ia tidak pernah ada didalam hidupnya.
Lalu Kairi membuka matanya, dan bangkit dari tidurnya.
"Aku datang kesini bukan untuk mengenang luka, tapi untuk menjalin kebahagiaan dengan orang yang aku cinta. Aku tidak boleh bersedih, aku harus bahagia." ucap Kairi sambil melangkah menuju ke kamar mandi. Dengan guyuran air dingin, mungkin semua bayangan itu akan lenyap dari ingatannya
***
Tepat pukul 08.00 malam.
Ella dan Kairi sudah tiba di rumahnya Varrel. Kairi menggandeng tangan Ella, dan membawanya masuk kedalam. Beberapa orang memandang mereka dengan tatapan kagum. Ella terlihat sangat cantik dengan balutan gaun warna biru muda, dengan rambut yang disanggul rapi dan diberi aksesoris bak permata dibagian atasnya.
Sedangkan Kairi, ia juga terlihat sangat tampan dengan balutan jas formalnya, mata birunya terlihat sangat indah, banyak kaum hawa yang menatapnya tanpa kedip, berharap bisa berdiri disebelahnya dan menggandeng tangannya.
Ella dan Kairi terus melangkah masuk, mereka tak peduli dengan tatapan banyak mata yang kagum ataupun iri. Mereka melangkah mendekati Varrel dan Callista yang sedang menyalami beberapa tamu.
"Hai El akhirnya kau datang juga." sapa Varrel saat Ella dan Kairi sudah berdiri dihadapannya.
"Kita pasti datang, kita teman kan." sahut Kairi sambil tersenyum.
Ella dan Varrel juga tersenyum, mereka ingat awalnya Kairi marah-marah saat melihat Varrel datang ke kantornya.
"Hi Callista congrats (hai Callista selamat ya)" ucap Ella sambil menyalami Callista.
Wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin yang sangat mewah.
"Hi Ella, good to see you coming (hai Ella, senang melihat kau datang)" jawab Callista sambil tersenyum.
"Wishing you all the best in your new life, I hope you will be a happy family until you age (selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang bahagia sampai menua)" kata Ella sambil memeluk Callista.
"Thank you, when will you catch up with us (terima kasih, kapan kau akan menyusul kami)?" goda Callista sambil melepaskan pelukannya.
"The plan is also as soon as possible, pray I will run smoothly (rencananya juga secepatnya, doakan lancar ya)" jawab Ella sambil tersenyum.
"I always wish you the best Ella (aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu Ella)" ucap Callista sambil membalas senyuman Ella.
"Thank you (terima kasih)" kata Ella.
"Ella, I'am sorry I love Varrel (Ella, maaf aku mencintai Varrel)" ucap Callista sambil menunduk, ia ingat dulu Varrel sangat mencintai Ella.
"It's okay, I'am good you can love each other (tidak apa-apa, aku senang kalian bisa saling mencintai)" jawab Ella sambil tersenyum.
Callista tak menjawab ucapan Ella, namun ia langsung memeluk Ella dengan erat. Ia merasa lega karena sahabatnya tidak marah, melihat dirinya menikah dengan lelaki yang pernah mencintainya.
Lalu tak berapa lama kemudian, Callista pamit untuk menyalami tamu undangan yang baru saja datang.
Setelah Callista pergi, Ella mengajak Kairi untuk mengambil minuman. Namun baru saja beberapa langkah ia beranjak dari tempatnya berdiri, tiba-tiba matanya menatap sosok lelaki yang sangat dikenalnya. Lelaki itu sedang berjalan ke arahnya.
"Benarkah itu dia, kenapa ada di sini?" batin Ella dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung......