Tentang Rasa

Tentang Rasa
Ella Dan Kairi


__ADS_3

Pukul 07.30 waktu Paris.


Ella menatap pantulan dirinya dicermin. Rambut panjangnya digerai, sebagian meriap menutupi bahunya. Tubuh mungilnya dibalut dress selutut warna putih.


Bibir ranumnya mengukir senyum, sungguh tak pernah ia bayangkan, jika ia akan menemukan cintanya disebuah kota yang selalu ada dalam khayalannya.


"Semoga aku, dan Kairi bisa bersama selamanya." gumam Ella sambil menggenggam liontin kalungnya.


Fikirannya kembali mengingat tentang semalam, Kairi melamarnya, dan berjanji akan segera menikahinya.


Disaat Ella sedang melamun, sambil tersenyum, tiba tiba ada suara yang mengagetkannya.


"Apa kau sedang memikirkan aku sayang." goda Kairi yang tiba tiba saja sudah berdiri dibelakang Ella.


"Jangan memanggilku sayang." ucap Ella sambil tertunduk malu. Entah kenapa hanya kata sayang saja, bisa membuat pipinya merona. Apa karena ia sangat mencintai Kairi, atau karena ini pertama kalinya, ada seseorang yang memanggilnya sayang.


"Kenapa, kau kan calon istriku." jawab Kairi sambil memeluk Ella dari belakang.


"Kai, jangan seperti ini." ucap Ella dalam pelukan Kairi.


"Sebentar saja." jawab Kairi sambil mengeratkan pelukannya. Ia menaruh kepalanya diceruk leher Ella. Dan tingkahnya itu membuat gadisnya semakin gugup.


"Kai, lepas." gumam Ella dengan pelan. Ia merasa tubuhnya panas dingin saat hangatnya nafas Kairi menyapu dilehernya. Belum lagi tangan Kairi yang merengkuh pinggangnya dengan erat. Ahh seperti inikah rasanya dipeluk kekasih.


"Aku sangat mencintaimu Gabriella." ucap Kairi sambil mengecup pipi Ella.


Ella merasakan tubuhnya bagai disengat listrik, saat bibir Kairi menyentuh pipinya.


"Ayo kita sarapan, aku sudah memasak makanan yang istimewa untukmu." sambung Kairi sambil melepaskan pelukannya.


Lalu ia membalikkan tubuh Ella, dan meminta gadis itu untuk menatapnya.


"Kenapa?" tanya Kairi saat melihat Ella terdiam.


"Aku tidak apa apa." jawab Ella sambil tersenyum. Jantungnya masih berdetak dengan cepat, ia merasa malu saat Kairi menciumnya. Memang hanya dipipi, tapi itu adalah hal pertama bagi Ella.


"Apa kau malu?" goda Kairi sambil tersenyum.


"Jangan tanyakan itu." jawab Ella dengan cepat.


"Aku bahagia bisa memilikimu Gabriella." ucap Kairi sambil memeluk Ella.


Ella menyembunyikan senyumannya dalam pelukan Kairi. Tingginya yang hanya sebatas bahu, membuat Kairi harus menunduk saat ingin mengecup puncak kepalanya.


Ella memejamkan matanya, aroma parfum Kairi yang menyeruak dihidungnya, membuat Ella merasa nyaman, dan enggan untuk melepaskan pelukannya.


Dan pelan pelan Ella mulai melingkarkan tangannya dipinggang Kairi. Kairi tersenyum menyadari hal itu, dan ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Kai...." panggil Ella.


"Hemmm." gumam Kairi sambil mengusap usap punggung Ella.


"Tolong jangan nodai kepercayaanku." ucap Ella.


"Tidak akan pernah. Aku berjanji akan selalu menjagamu, dan membuatmu bahagia. Aku sangat mencintaimu Gabriella." jawab Kairi dengan tegas.


"Aku juga mencintaimu Kai." ucap Ella. Ia sudah membuka hatinya untuk lelaki ini, dan dia juga sudah membulatkan niatnya untuk memilih lelaki ini. Semoga takdir tidak mengecewakannya.


"Ayo sarapan!" ajak Kairi sambil melepaskan pelukannya.


"Tunggu sebentar, aku siap siap dulu." jawab Ella sambil tersenyum.


"Apa kau suka dengan kamar ini?" tanya Kairi sambil duduk diranjang. Ia menunggu Ella yang sedang memasukkan beberapa barang kedalam tasnya.


Setelah sarapan mereka akan langsung pergi ke rumahnya Kairi, untuk meneruskan desain yang belum diselesaikan.


"Tidak." jawab Ella tanpa menoleh.


"Kamar ini bagus sayang, kamu bisa melihat menara dengan jelas, hanya dengan menyingkapkan tirainya saja." ucap Kairi.


"Tapi aku tidak suka." kata Ella masih belum menoleh.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Kairi dengan heran, bisa bisanya Ella mengatakan 'tidak suka' dengan semudah itu.


"Karena aku lebih suka dengan pemiliknya." jawab Ella sambil menoleh, dan tersenyum.


"Oh begitu ya." gumam Kairi sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah mendekati Ella, sambil menatapnya lekat lekat.


"Kamu mau apa?" tanya Ella sambil melangkah mundur. Ekspresi Kairi sangat sulit diartikan, apa yang akan dilakukannya.


"Kau berani menggodaku sayang." ucap Kairi sambil tersenyum, ia semakin mendekati Ella yang sudah tidak bisa mundur lagi.


"Kai jangan macam macam, jangan menakutiku Kai." ucap Ella sambil menatap Kairi. Ia sudah tidak bisa kemana kemana, tubuhnya sudah merapat di dinding, dan Kairi sudah berdiri dihadapannya.


Lelaki itu meraih pinggangnya dengan erat, dan semakin mendekatkan wajahnya, hingga Ella bisa merasakan nafas Kairi yang menghangat di wajahnya.


Tubuh Ella gemetaran, meskipun ia mencintai Kairi, namun ia tidak ingin melakukan hal lebih saat hubungan mereka belum halal. Keringat Ella mulai mengucur, dan jantungnya berdetak semakin cepat, saat tangan Kairi mulai membelai pipinya.


"Ekspresimu sangat lucu sayang." ucap Kairi sambil terkekeh.


"Ap...Apa maksudmu?" tanya Ella tidak mengerti.


"Kau tadi menggodaku, tapi sekarang kau sangat ketakutan saat aku menggodamu." jawab Kairi masih dengan kekehannya.


"Menggoda, kau hanya menggoda?" gumam Ella.


"Tentu saja, apa kau berharap aku benar benar melakukannya?" tanya Kairi sambil menaikkan alisnya.


"Tidak." jawab Ella dengan cepat.


Kairi tertawa keras, sambil melepaskan tangannya, "Aku menghargaimu Gabriella, aku tidak akan meminta macam macam darimu. Aku akan menjaga ini, sampai aku menghalalkanmu." ucap Kairi sambil menyentuh bibir Ella.


Wajah Ella memanas, mungkin sekarang sudah semerah tomat, lelaki dihadapannya ini sangat pintar dalam mengaduk aduk perasaannya.


"Kau serius?" tanya Ella dengan pelan.


"Tentu saja. Tapi aku bisa berubah fikiran, saat kau yang berinisiatif untuk memeberinya." jawab Kairi sambil tersenyum jahil.


"Kairi...." teriak Ella sambil mendorong tubuh Kairi. Dengan bibir yang manyun Ella menyambar tasnya, dan melangkah pergi.


"Kai, apa yang kau lakukan?" teriak Ella, saat mereka sudah berbaring diranjang.


"Kau harus menyukai kamarku, karena saat kita sudah menikah nanti, aku akan membawamu kesini. Kita akan melewati malam yang indah ditempat ini." ucap Kairi sambil memeluk Ella dari belakang.


"Diam, lepaskan aku!" bentak Ella. Posisi seperti ini benar benar membuatnya gugup.


"Katakan dulu, jika kau menyukai kamarku." ucap Kairi.


"Ya." jawab Ella singkat.


"Ya apa?" goda Kairi.


"Aku menyukai kamarmu." jawab Ella dengan suara yang masih tinggi.


"Benarkah?"


"Ya. Sekarang cepat lepaskan aku!" bentak Ella.


"Apa kau suka jika bulan madunya nanti disini?" tanya Kairi.


"Tidak." jawab Ella.


"Lalu dimana?, kau punya rekomendasi tempat untuk bulan madu yang lebih romantis?" tanya Kairi sambil tertawa.


"Tidak. Aku tidak ingin menikah denganmu, lepaskan aku sekarang." teriak Ella sambil mencoba melepaskan tangan Kairi yang sedang merengkuhnya.


"Ternyata kau sangat ketus sayang. Kau terus membentakku sejak tadi." gumam Kairi.


"Itu karena kamu." bentak Ella.


"Aku kenapa?" tanya Kairi dengan gaya polosnya.


"Kau mesum." teriak Kairi.

__ADS_1


Kairi tertawa keras mendengar jawaban Ella, gadis yang menurutnya pemalu ternyata bisa mengucapkan kata itu dengan sangat keras.


"Aku hanya membicarakan tentang masa depan Gabriella, kenapa fikiranmu sejauh itu?" goda Kairi sambil melepaskan pelukannya.


"Kau menyebalkan." teriak Ella sambil beranjak dari ranjang. Ia melangkah keluar kamar, dengan langkah yang cukup cepat.


Kairi mengejar gadisnya sambil tertawa. Menggodanya rasanya sangat menyenangkan, Kairi seolah mendapatkan kembali cahaya hidupnya yang dulu sempat padam.


Kairi melihat Ella sedang berdiri diambang pitu ruang tamu. Kairi mempercepat langkahnya, dan menghampiri gadisnya.


"Maafkan aku, aku hanya senang bercanda denganmu." ucap Kairi sambil tersenyum.


"Candaanmu tidak lucu." jawab Ella dengan kesal.


"Aku memang tidak pandai membuat candaan yang lucu, tapi aku cukup bisa untuk membuat bayi yang lucu." ucap Kairi yang langsung mendapat cubitan keras dari Ella.


"Aku akan pulang, jika kau terus mengatakan hal yang seperti itu." sungut Ella.


"Pulang ke Indonesia?" tanya Kairi.


"Ya." jawab Ella singkat.


"Baiklah aku akan mengantarmu, dan aku akan meminta restu dari Ibumu. Jadi kapan kamu akan pulang?" tanya Kairi menggoda Ella.


"Tahun depan." jawab Ella dengan kesal. Sosok Kairi seolah berubah 180 derajat, dari pertama kali Ella mengenalnya. Dulu ia adalah sosok yang dewasa, berwibawa, dan sedikit bicara. Tetapi sekarang Kairi berubah menjadi sosok yang banyak bicara, dan menyebalkan.


"Aku tahu Paris memang indah, kau pasti sangat betah disini, dan tidak ingin meninggalkan tempat ini. Aku benar kan?" ucap Kairi, yang membuat Ella semakin kesal.


"Aku lapar, kapan kau akan mengajakku sarapan." kata Ella mengalihkan pembicaraan.


"Jangan cemberut, kita akan sarapan sekarang." jawab Kairi sambil mencubit pipi Ella.


Lalu Kairi menggandeng tangan Ella, dan mengajaknya masuk ke apartemen milik Ayahnya.


****


Seorang wanita cantik sedang duduk di sofa kamarnya sambil menatap layar ponselnya dengan tajam. Raut wajahnya terlihat kesal, entah apa yang sedang mengganggu hatinya.


Dia adalah Yura, istri dari Dimas Renaldi.


Yura beranjak dari duduknya, dan kembali menghubungi seseorang. Satu kali, dua kali, sampai tiga kali masih tidak ada jawaban.


Yura kembali menggeram kesal, lalu ia manaruh ponselnya, dan menengguk segelas air putih yang ada diatas meja.


Saat Yura baru saja meletakkan gelasnya, tiba tiba ponselnya berdering. Orang yang sejak tadi tidak bisa dihubungi, kini menelfonnya.


"Hallo." sapa Yura.


"Hallo Nona." jawab orang itu.


"Kamu kemana saja Johan, puluhan kali aku menelfonnmu, dan kamu tidak menjawabnya sama sekali." gerutu Yura dengan kesal.


"Maaf Nona, tadi saya sedang ada urusan." jawab Johan.


"Apa maksud pesanmu tadi, kau bilang Ella tidak ada dikontrakannya, lalu dimana dia?" tanya Yura sangat penasaran.


"Saat ini saya belum tahu Nona, tapi saya akan menyelidikinya." jawab Johan.


"Selidiki secepatnya. Aku punya rencana baru, agar Dimas benar benar membencinya. Karena aku masih sering melihatnya melamun, aku yakin dia masih memikirkan Ella." kata Yura dengan penuh emosi.


"Baik Nona."


"Lakukan sebaik mungkin, dan aku akan membayarmu dengan mahal." ucap Yura sambil tersenyum licik.


"Jadi ini yang kau sembunyikan dariku Yura." ucap seseorang yang tiba tiba muncul dibelakang Yura.


Yura seakan membeku ditempatnya, ia kenal betul dengan suara ini. Kenapa dia ada disini?


Bukankah dia sedang bekerja dikantornya?


Apa yang harus ia lakukan sekarang?

__ADS_1


__ADS_2