Tentang Rasa

Tentang Rasa
M A L U


__ADS_3

" Aku...minta maaf!" ucap Netta.


Deg! Max memutar tubuhnya lalu duduk dikursi kerjanya.


" Untuk apa? Aku yang bejat disini! Aku yang bajingan! Aku yang..."


" Tidak! Kamu tidak seperti itu!" Netta mengusap airmatanya dan berjalan mendekati Max. Dia mendorong kursi pria itu dan duduk di meja kerjanya.


" Look at me!" kata Netta menangkup wajah Max yang menunduk dan mengangkatnya sehingga melihat padanya.


" I am so sorry! Aku sudah tahu semuanya! Aku tahu apa yang terjadi selama ini! Aku yang minta maaf karena tidak mau mendengar ucapan Mike. Karena aku sangat marah dan dendam padamu!" kata Netta panjang lebar.


Max menatap mata sayu Netta, dia melihat ke dalam mata wanita itu. Maxhanya melnemukan ketulusan di dapamnya.


" Aku...hancur, Arnetta! Aku hanya pria miskin sekarang! Aku tidak memiliki apa-apa lagi! Pergilah! Carilah pria yang sepadan denganmu!" ucap Max lemah.


" No! Kamu masih Max ku yang dulu! Semua perusahaanmu hanya dibekukan oleh Mike, itu karena aku yang menyuruhnya!" kata Netta.


Wajah Max berubah jadi menggelap dan memalingkan ke kanan, tapi Netta mengembalikannya ke hadapannya.


" Apa kamu cemburu?" goda Netta.


" Aku cemburu pada siapa saja yang dekat denganmu! Apalagi menyentuhmu!" kata Max pelan.


" Tidak ada yang menyentuhku, Max!" kata Netta, Max menatap tidak percaya.


" Aku tidak percaya! Kamu sangat cantik, Arnetta dan kamu sangat..."


" Mike yang mencintaiku! Bukan aku!" kata Netta kesal.


" Aku memang sangat menyukai itu. Dan Dewa, dia..."


Cup!


Bibir Max mencium bibir wanita itu, membuat Netta kaget.


" Aku tidak mau ada bekas pria lain di tubuhmu!" kata Max kesal.

__ADS_1


Netta menghela nafasnya.


" Pakailah ini!" kata Max melepaskan kaosnya dan meletakkan di atas sofa. Netta menoleh pada pria itu lalu turun dari meja dan memakai kaos Max yang kebesaran. Dia bisa mencium kembali bau parfum Max dikaos itu. Masih harum yang sama! Aroma maskulin yang selalu bisa menenangkannya. Netta menyusul Max yang keluar kamar tanpa memakai kaosnya.


" Tuan Muda?" panggil Murni.


" Buatkan saya kopi, letakkan saja di ruang kerjaku, Mbok!" kata Max.


" No! No more coffee! Air putih saja, Mbok!" sahut Netta.


Max hanya menatap kesal pada Netta. Ckkk! Kenapa aku harus jatuh cinta pada wanita bawel ini! Batin Max memicingkan matanya.


" Hentikan umpatanmu, Max!" ucap Netta yang seakan tahu isi hati Max.


" Apa kamu sudah beralih profesi menjadi dukun?" balas Max lalu berjalan menuju keluar rumah.


Netta hanya tersenyum sambil terus mengikuti Max. Pria itu pergi keluar rumah untuk mengambil sesuatu di mobilnya.


" Max! Kamu mau kemana?" tanya Netta penasaran.


" Apa tidak ada payung dirumah ini?" tanya Netta ambigu.


" Apa ada payung, Mbok?" tanya Netta.


" Sepertinya ada di lemari deket pintu utama, Nyonya!" kata Marni.


Netta berlari lagi menuju ke ruang tamu, dia melihat sebuah pintu dan mendekatinya. Dibukanya pintu tersebut, terdapat sebuah ruangan untuk menyimpan sepatu, mantel dan payung. Netta meraih payung itu dan keluar. Dilihatnya Max menutup pintu mobil, dengan cepat Netta berlari ke arah Max dan memayungi pria itu. Max mengambil alih payung itu lalu memeluk pundak Netta untuk membawanya masuk ke rumah.


" Lihatlah! Tubuhmu basah!" ucap Netta terpaku pada tubuh Max yang semakin seksi saat basah seperti itu. Glekkk! Dia menelan salivanya.


" Trima kasih payungnya!" kata pria itu lalu berjalan ke lantai 2.


" Mbok! Tolong keringkan!" kata Netta yang bertemu Murni dipintu samping.


" Baik, Nyonya Muda!" jawab Netta. Dia naik menyusul Max ke kamar pria itu.


Suara shower terdengar dari luar kamar mandi. Netta menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian ganti buat Max. Dibukanya kaos kebesaran milik Max lalu dipakainya untuk mengeringkan beberapa bagian tubuhnya yang basah. Matanya melihat ke sebuah lemari besi kecil, perlahan dia mendekatinya. " Forever Love " tulisan itu ada diatas sebuah foto yang ternyata itu foto Netta yang sedang tertawa. Netta mencoba mengingat dimana dan kapan foto itu diambil. Dengan ragu Netta mencoba membukanya, dia memutar angka-angka disitu dengan memakai tanggal lahirnya.

__ADS_1


Klikkk!


Tiba-tiba lemari besi itu terbuka, wanita itu membuka pintunya dan melihat ke dalam, ada sebuah box navy yang pernah diberikannya pada Max. Netta mendengar suara pintu walk in closet digeser. Dia memutar tubuhnya dan melihat Max berdiri dengan sebuah handuk dipinggangnya.


" Kamu masih...menyimpannya?" tanya Netta datar.


" Tentu saja! Hanya itu pemberian darimu yang aku punya!" kata Max. Netta menatap nyalang pada pria itu. Dia baru sadar jika Max memakai sebuah kalung. Netta mendekat dan melihat kalung tersebut, sebuah kalung dengan bentuk pena emas kecil seperti yang diberikannya pada Max dan ada goresan tulisan FL.


" Ganti bajumu sebelum kamu sakit!" kata Max meninggalkan Netta. Max kembali ke kamar mandi dan memakai bathrobe. Netta mengganti pakaiannya di dalam wall in closet. Saat dia keluar dari kamar mandi, lampu kamar telah berganti dengan lampu dinding. Max tidak ada di kamar, Netta menebak jika Max pasti ke ruang kerjanya. Netta memakai outernya dan berjalan keluar kamar menuju ruang kerja Max. Netta membuka pintu ruang kerja pria itu. Glek! Max menelan salivanya saat melihat mantan kekasihnya mengganti lingerienya dengan yang lebih seksi. Dia sangat merindukan wanita didepannya itu.


" Apa ada yang salah denganku?" tanya Netta menggoda.


" Jangan membuatku lupa jika kamu sudah memiliki kekasih!" kata Max dingin, lalu meraih kembali dokumennya.


Netta berjalan pelan menuju dirinya.


" Kekasih? Siapa?" tanya Netta sambil menggigit bibirnya.


" Ckkk! Apa kamu amnesia? Tentu saja Dr....Dewa!" ucap Max kesal dan berganti gemas melihat tingkah Netta.


" Apa kamu mau aku bersamanya?"


" Tidak!" jawab Max cepat.


" Lalu kamu maunya aku bersama siapa?" tanya Netta membuat Max semakin gemas.


" Kalo kamu diam berati kamu mau aku bersama dengan Dewa!" kata Netta dengan sengaja, lalu dia pura-pura memutar tubuhnya dan akan keluar ruangan.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Max tidak tahu harus bagaimana.


" Pergi menemui Dr. Dewa!" jawab Netta cuek.


" Dalam keadaan...begitu?" tanya Max lagi.


" Tentu saja!" jawab Netta.


" Bukannya kamu mau aku bersama dia!" kata Netta menggoda.

__ADS_1


Max ragu, dia tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pada wanita itu.


__ADS_2