Tentang Rasa

Tentang Rasa
Tiba Di Paris


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore. Ella, dan Kairi sudah menyiapkan kopernya di ruang tamu, mereka akan berangkat ke Bandara Juanda. Bu Halimah, dan Gilang ikut berkumpul di rumah Bu Mirna, mereka akan ikut mengantarkan Ella ke bandara. Bu Halimah menatap anak gadisnya dengan perasaan yang tidak menentu. Disisi lain beliau bahagia melihat Ella menikah dengan orang yang dicintainya, namun disisi lain beliau juga merasa sedih, karena harus tinggal berjauhan dengan Ella. Perancis dan Indonesia adalah dua negara yang berbeda benua, tentu saja akan sangat sulit bila ingin berjumpa.


"Ibu kenapa?" tanya Ella sambil mendekati Ibunya.


"Tidak apa-apa nak." jawab Bu Halimah sambil tersenyum.


"Pasti Mbak Halimah merasa sedih, begitu juga dengan Mama El. Kami sebenarnya lebih senang jika kau, dan Kairi tinggal di Indonesia. Tapi mau bagaimana lagi, rumah di sana kosong, dan Kairi juga ingin mengurus bisnis yang ada di sana. Jadi mau tidak mau, kami harus mengizinkan kalian tinggal di sana." sahut Bu Mirna sambil duduk disebelah Ella.


"Yang penting kita selalu bertukar kabar Ma, nanti aku dan Gabriella akan sering pulang. Tidak apa-apa kan Bu, saya bawa Gabriella ke Paris?" tanya Kairi sambil ikut duduk disebelah Ibunya.


"Tentu saja tidak, dia istrimu sudah seharusnya dia ikut bersamamu. Tapi Ibu berpesan ya, tolong jaga dia, dan tolong maklumi dia, jika kadangkala sikapnya sedikit manja." jawab Bu Halimah sambil tersenyum.


"Aku tidak pernah manja Bu." sahut Ella.


"Iya, Gabriella tidak pernah manja Bu. Dia sangat mandiri, sangat sangat mandiri." ucap Kairi sambil terkekeh.


"Aku memang tidak pernah manja Kai." sahut Ella dengan kesal.


"Aku kan juga bilang begitu sayang." ucap Kairi.


"Kau tidak ikhlas saat mengatakannya." kata Ella.


"Aku ikhlas sayang, tapi aku juga sedikit heran, kenapa akhir-akhir ini kau sering sekali merajuk." ucap Kairi sambil menatap Ella.


"Karena kau menyebalkan!" sahut Ella.


"Sudah jangan ribut, ayo dimasukkan ke mobil barang-barangnya. Itu Papa sudah siap." kata Bu Mirna sambil menunjuk Pak Louis yang baru saja datang mendekati mereka.


"Andra mana? Katanya dia mau ikut ke bandara." tanya Pak Louis.


"Aku sudah siap Pa." sahut Andra sambil berjalan menuruni tangga.


"Kalau begitu ayo berangkat sekarang!" kata Pak Louis.


"Iya Pa." jawab Kairi sambil mengangkat kopernya, dan membawanya ke mobil.


Gilang, dan Andra ikut membantu Kairi membawa barang-barangnya kedalam mobil. Setelah semua barang dimasukkan, mereka semua naik kedalam mobil. Pak Luois, Bu Mirna, dan Andra naik di mobilnya Andra. Sedangkan Ella dan Kairi, mereka naik kedalam mobilnya Gilang. Kairi duduk didepan, disebelah Gilang. Sedangkan Ella, ia duduk dibelakang disebelah Ibunya.


Mobil perlahan mulai melaju meninggalkan rumah Bu Mirna. Menyusuri jalanan yang cukup padat, mereka melaju dengan kecepatan sedang. Ella menyandarkan kepalanya di bahu Ibunya, sebentar lagi dia akan tinggal berjauhan dengan Ibunya. Terbersit rasa gelisah dalam hatinya, namun mau bagaimana lagi, sejak ia memutuskan untuk memilih Kairi, dia harus siap dengan konsekuensinya. Dia dan Ibunya harus tinggal di negara yang berbeda.


"Peluk lebih erat dong Bu." ucap Ella sambil mendongak, menatap Ibunya.


"Kamu ini jangan manja, malu dilihat suami kamu." kata Bu Halimah sambil memeluk anaknya lebih erat.


"Aku tidak manja Bu, aku hanya ingin dipeluk." ucap Ella.


Kairi melirik Ella yang sedang bermanja dengan Ibundanya. Ia menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Ternyata kau bisa juga bermanja sayang. Tapi aku merasa lebih senang, daripada seperti dulu, kau sangat tertutup dan tidak mau berbagi beban. Tapi sekarang kau jadi ketus, dan sering merajuk. Kau kenapa sayang?" ucap Kairi dalam hatinya.


Sekitar empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di Bandara Juanda. Mereka semua turun dari mobil, dan mulai mengeluarkan barang bawaannya.


Lima belas menit lagi pesawat akan lepas landas. Kairi dan Ella mulai bersiap untuk berangkat.


"Hati-hati ya nak, jangan terlalu merepotkan suamimu di sana." kata Bu Halimah sambil memeluk Ella.


"Iya Bu, Ibu juga baik-baik ya di rumah. Jaga kesehatan, jangan terlalu lelah, dan jangan sampai telat makan." jawab Ella sambil mengusap punggung Ibunya. Lalu tak lama kemudian ia melepaskan pelukannya.


"Titip Ibu ya Mas." ucap Ella sambil menatap Gilang.


"Iya, aku akan selalu menjaga Ibu." jawab Gilang sambil memeluk Ella sekilas.


"Jaga diri baik-baik ya El, sering-seringlah menelfon Mama." ucap Bu Mirna sambil memeluk Ella.


"Iya Ma, Mama juga baik-baik ya di rumah." jawab Ella sambil membalas pelukan Ibu mertuanya. Dan tak lama kemudian mereka melepaskan pelukannya, Ella berjalan mendekati Pak Louis dan Andra


"Hati-hati ya Gabriella, bilang saja pada Papa jika Kairi berbuat macam-macam." ucap Pak Louis sambil mengusap bahu Ella.


"Iya Pa." jawab Ella sambil tersenyum.

__ADS_1


Dan Ella tersentak kaget, ketika Andra tiba-tiba memeluknya tanpa permisi. Andra memeluknya dengan erat, sambil berbisik di telinganya.


"Terima kasih untuk semua hal yang telah kau ajarkan padaku El. Aku berjanji akan berusaha menjadi orang yang baik. Dan aku akan berusaha menghapus perasaanku untukmu. Berjanjilah padaku untuk selalu bahagia." bisik Andra dengan pelan.


"Terima kasih untuk semua kebaikanmu Ndra. Kau pasti bisa, kau adalah lelaki yang hebat. Meskipun aku tidak bisa menerima perasaanmu, tapi kau tetaplah berharga dalam hidupku. Kau adalah sahabat terbaikku Ndra." jawab Ella juga dengan bisikan.


Lalu Andra melepaskan pelukannya, ia tersenyum saat menatap Ella yang sedang tersenyum padanya. Tak lama kemudian Kairi menghampiri Andra, ia memeluk adiknya sekilas.


"Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, aku percaya nanti kau bisa memegang bisnis di London." kata Kairi sambil menepuk punggung Andra.


"Aku akan berusaha." jawab Andra.


Lalu Kairi menghampiri Ibu, dan Ayahnya. Ia memeluk mereka sekilas.


"Jaga istrimu dengan baik." kata Bu Mirna sambil mengusap lengan Kairi. Dan Kairi menanggapinya dengan anggukan.


"Ibu titip Ella ya nak." ucap Bu Halimah sambil memeluk Kairi.


"Iya Bu, aku pasti akan selalu menjaganya." jawab Kairi sambil tersenyum.


Lalu Ella dan Kairi mulai berjalan meninggalkan mereka. Bu Halimah dan Bu Mirna menatap kepergian mereka dengan rasa haru. Mereka saling merangkul dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sedih ya Mbak melepaskan mereka pergi, tapi ini juga demi kebahagiaan mereka." ucap Bu Mirna.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka Bu." jawab Bu Halimah.


"Iya Mbak."


Andra memandang kepergian Ella dan Kairi dengan tatapan nanar. Seakan ada sesuatu yang hilang dari lubuk hatinya, yang meninggalkan lubang luka yang menganga. Andra menghela nafas panjang, mencoba menerima kenyataan ini dengan lapang dada.


"Kau benar-benar telah pergi El, dan aku harus benar-benar menghapuskan perasaanku padamu. Doakan semoga aku bisa. Aku ingin mencintai Suci, seperti aku mencintai kamu. Ini sulit, namun aku harus bisa." ucap Andra dalam hatinya.


***


Ella dan Kairi sedang duduk bersama di bangku, didalam pesawat. Sudah hampir setengah jam mereka berada didalam burung besi yang membawanya terbang diatas awan.


"Kenapa sayang?"


"Aku lelah." jawab Ella.


"Tidurlah, aku akan menjagamu." ucap Kairi sambil merangkul tubuh Ella, dan membawanya kedalam dekapannya.


"Tapi seperti ini tidak nyaman Kai." kata Ella sambil mendongak, menatap suaminya.


"Lalu?"


Tanpa memberikan jawaban, Ella melepaskan pelukan Kairi. Ia berbaring, dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Kairi. Ia meraih tangan Kairi, dan mendekapnya di dada.


"Kamu jangan tidur ya Kai." ucap Ella.


"Tidak, aku akan menjagamu." jawab Kairi sambil tersenyum.


Kairi menunduk, menatap wajah istrinya yang mulai terlelap. Kairi membelai rambutnya dengan lembut, rasa bahagia didalam hatinya sudah tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ia sangat mencintai Ella, gadis sederhana dengan kepribadian yang sangat sempurna. Ella adalah wanita pertama yang berhasil membuatnya menyatakan cinta. Meskipun Ella bukanlah wanita pertama yang menjalin hubungan dengannya, namun Ella adalah satu-satunya wanita yang pernah disentuhnya.


"Aku akan selalu mencintaimu, hingga batas umurku." ucap Kairi dengan pelan, sambil mencium kening istrinya cukup lama. Ia tak peduli meskipun ada penumpang lain yang menatapnya, Ella adalah istrinya, dan dia hanya mencium keningnya saja.


***


Setelah hampir 24 jam perjalanan. Akhirnya Ella dan Kairi sudah mendarat di Paris Charles De Gaulle Airport. Mereka berjalan menuju mobil yang menjemputnya sambil menyeret kopernya. Meskipun Ella sangat kelelahan, namun ia merasa sangat bahagia. Ia sudah sampai di kota impiannya, sebuah kota yang menjadi saksi awal kisah cintanya. Ella tersenyum sendiri saat mengingat malam itu, Kairi melamarnya dibawah menara. Menara besi yang kokoh, dan menjulang tinggi dengan cahayanya yang sangat terang. Dia dan Kairi akan tinggal di sini, akan ada banyak waktu untuk mengukir romansa cintanya dibawah menara itu.


"Kau tersenyum sendiri, ada apa?" tanya Kairi sambil menatap istrinya.


"Ingat masa lalu." jawab Ella dengan santainya.


"Masa lalu apa?" tanya Kairi dengan cepat, mendengar kata masa lalu, fikirannya langsung membayangkan sosok Andra.


"Kau kenapa kaget?" bukannya menjawab, Ella malah balik bertanya.


"Aku tidak kaget, hanya penasaran saja. Masa lalumu terlalu indah ya, sampai-sampai kau tersenyum sendiri saat mengingatnya." jawab Kairi sambil tersenyum hambar.

__ADS_1


"Sepertinya kau salah paham Kai." ucap Ella sambil tertawa.


"Apa maksudmu?" tanya Kairi.


"Aku tersenyum saat mengingat kau melamarku dibawah menara. Itu masa lalu yang kumaksud Kai, memangnya yang kau fikirkan masa lalu apa." jawab Ella masih dengan tawanya.


"Aku fikir Andra." ucap Kairi sambil menggaruk kepalanya.


"Jangan sembarangan Kai." jawab Ella.


Tak lama kemudian, mereka telah sampai didekat mobil yang menjemputnya. Kairi memasukkan barang-barangnya kedalam bagasi. Dan kemudian mereka berdua naik kedalam mobil, dan duduk di bangku belakang.


"Apakah kita pulang ke rumah Tuan?" tanya Pak Anton, pria paruh baya yang sudah lama bekerja dengan Pak Louis. Beliau adalah salah satu orang kepercayaannya Pak Louis.


"Tidak, kita ke apartemen saja." jawab Kairi.


"Baik Tuan." jawab Pak Anton sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Dan perlahan mobil mulai melaju, meninggalkan lokasi bandara yang dipenuhi dengan banyak orang yang berlalu lalang.


"Pak Anton!" panggi Kairi.


"Iya Tuan." jawab Pak Anton.


"Papa akan menetap di Indonesia, dan yang mengurusi pekerjaan di sini adalah aku. Aku harap Pak Anton bisa membantuku." kata Kairi dengan tegas.


"Tentu saja Tuan. Kemarin Tuan Louis juga sudah membicarakan hal ini pada saya." ucap Pak Anton.


"Bagus kalau begitu." jawab Kairi.


"Apa aku juga boleh bekerja Kai?" tanya Ella.


"Kau ingin bekerja?" Kairi balik bertanya, dan Ella menjawabnya dengan anggukan.


"Kenapa kau menginginkan hal itu, aku akan memenuhi semua kebutuhan kamu." kata Kairi sambil menatap Ella.


"Diam di rumah bosan Kai, aku ingin bekerja. Bekerja dengan kamu, dan menjadi sekertaris kamu. Seperti waktu itu, pasti romantis Kai." ucap Ella sambil tersenyum lebar.


"Baiklah, kita bicarakan lagi nanti." jawab Kairi sambil menggaruk kepalanya. Istrinya ingin menjadi sekertarisnya, permintaan yang sedikit aneh menurut Kairi.


Dan sekitar setengah jam kemudian, Pak Anton menghentikan mobilnya di halaman apartemen. Beliau turun dari mobil, dan membantu Kairi membawa barang-barangnya kedalam apartemen. Ella tersenyum senang saat matanya menatap Menara Eiffel yang tetap berdiri kokoh dengan sejuta pesonanya. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti pertama kali ia melihatnya.


Ella mulai melangkahkan kakinya, mengikuti langkah Kairi yang mulai berjalan menuju lift. Dan tak lama kemudian, lift berhenti di lantai tujuh, mereka mulai berjalan menuju apartemennya Kairi. Mereka tiba diambang pintu, dan Kairi langsung membuka pintu apartemennya. Pak Anton pamit undur diri setelah meletakkan barang-barangnya di sudut ruangan. Selama tinggal di sini, Ella tidak mau ditemani pelayan, ia ingin tinggal berdua saja dengan suaminya.


Ella dan Kairi masuk kedalam kamar. Ella meletakkan tas selempangnya diatas meja, lalu ia berjalan mendekati jendela. Ella menyibak tirainya dengan lebar, ia memejamkan matanya, dan menghirup nafas dalam-dalam.


"Udara Paris Kai." ucap Ella sambil merentangkan tangannya.


Kairi tersenyum melihat sikap Ella, rupanya istrinya itu sangat menyukai Kota Paris. Kairi berjalan mendekati Ella, dan memeluknya dari belakang. Ia mencium leher Ella yang sedikit tertutup rambut.


"Aku lebih suka menghirup aroma tubuhmu sayang." kata Kairi sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku serius Kai, lihatlah menara itu! Sangat indah kan." ucap Ella sambil mengusap tangan Kairi yang melingkar di pinggangnya.


"Bagiku tidak ada yang lebih indah selain dirimu sayang." kata Kairi sambil mencium leher Ella, dan menggigitnya dengan pelan.


Ella merenggangkan pelukan Kairi, ia membalikkan badannya, dan menatap suaminya. Ella tersenyum sambil mengalungkan tangannya di leher Kairi.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Kairi sambil menatap Ella.


"Aku melakukan sesuatu yang ingin kau lakukan." jawab Ella sambil tangannya mengusap rahang Kairi, lalu turun ke lehernya, dan kemudian turun ke dadanya.


"Kau menginginkannya?" tanya Kairi sambil menggenggam tangan Ella yang berada di dadanya. Tangan sebelahnya lagi, masih merengkuh pinggang Ella dengan erat.


"Apa kau masih butuh jawaban Kai." jawab Ella sambil tersenyum.


"Kau mulai nakal sayang." ucap Kairi sambil mendekatkan wajahnya. Ia meraih tengkuk Ella, dan mulai mencium bibirnya.


Ella merasakan tubuhnya mulai memanas. Dan rasa panas itu semakin lama semakin menjalar diseluruh tubuhnya, mengalahkan rasa lelah akibat perjalanan panjangnya. Semakin lama rasa panas itu mulai menguasai dirinya, dan membuatnya hanyut terbuai dalam dekapan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2