Tentang Rasa

Tentang Rasa
Bab 30


__ADS_3

Sepulang Cindy menemui Rena. Cindy ingin memastikan keadaan kakaknya. Cindy berjalan sambil bertukar pesan dengan teman.


Bruk…


"Aduuh." Cindy mengadu akibat tubuhnya tertabrak Adrian yang baru saja keluar dari ruangan Albian. Untung saja ponselnya tidak terjatuh.


"Maaf… maaf," seru Adrian.


"Enggak apa-apa. Ini salah aku juga kok, jalan sambil main hp," ucap Cindy.


"Permisi, aku harus ke ruangan bu Rena." Namun belum sempat berjalan. Tiba-tiba Rena keluar dari ruangan.


"Loh Cin, kamu sudah sampai?" tanya Rena.


"Iya kak," jawab Cindy.


"Ini adik bu Rena?" tanya Adrian.


"Ah iya, perkenalkan ini Cindy adikku," ucap Rena.


Adrian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dan disambut oleh Cindy.


"Saya Adrian."


Cindy hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Yang tadi sorry ya?"


"Loh ada apa?" tanya Rena.


"Tadi aku ga sengaja nabrak dia kak," ucap Cindy.


"Pasti kamu sibuk main hp deh," sahut Rena. 


Cindy hanya tersenyum lebar memamerkan giginya ya rata itu.

__ADS_1


"Kalau gitu saya permisi bu." Adrian teringat ada tugas dari Albian yang harus diselesaikan.


"Oh iya silahkan," ucap Rena.


Seperginya Adrian mereka masuk ke ruangan Rena. Mereka duduk di sofa yang berada di depan meja kerja Rena.


"Gimana keadaan kakak?" tanya Cindy sambil memegang tangan Rena.


Rena mengangguk. "Kakak sudah lebih baik."


"Syukurlah," ucap Cindy lega. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menengadahkan kepala keatas.


Cindy teringat dengan laki- laki yang menabraknya tadi. "Kak yang tadi siapa?"


"Dia sous chef disini," jawab Rena.


"Oh…"


"Apa sih kak? Aku kan cuma tanya." Cindy memutar bola matanya malas.


Rena tertawa melihat ekspresi Cindy yang menggemaskan.


"Papa mama gimana?" tanya Rena.


"Aman, mereka ga tau kakak ngedrop. Kalau sampai tau. Jangan harap kakak ada di ruangan ini," seru Cindy.


"Apa gunanya kamu kalau mama papa sampai tau?" celetuk Rena.


"Iih kebiasan nih kakak selalu ngeremehin aku," gerutu Cindy tak terima.


Rena mengedikkan bahunya dan berdiri. "Nyatanya keseringan kamu ga bisa jaga rahasia." 


"Itu aku masih kecil, sekarang aku tuh udah jadi seorang gadis yang bisa dipercaya," ucap Cindy menegaskan kalimatnya. 

__ADS_1


Rena tertawa. "Ya… ya… kakak terpaksa percaya deh kamu bisa diandalkan."


"Ya ampun kakak. Kenapa mesti pakai terpaksa juga," keluh Cindy.


Rena kembali tertawa. Lalu Rena berjalan menuju meja kerjanya kembali. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya sambil mengobrol dengan Cindy. 


****


Albian sedang bersiap untuk kembali ke dapur. Namun ia teringat belum mendapatkan kabar dari bundanya. Albian memutuskan untuk menelepon ibunya terlebih dahulu. Tak menunggu lama panggilannya terjawab.


"Halo bun," sapa Albian.


"Halo sayang."


"Bagaimana keadaan bunda hari ini? Sudah makan kah?" tanya Albian.


"Bunda sudah sehat kok, dan bunda sudah makan dua mangkuk bubur" 


"Beneran bunda sudah sehat? Kemarin aja bunda masih keliatan lemes banget."


"Kan kemarin sudah dibuatkan bubur spesial sama putra kesayangan bunda"


"Hmmm bunda bisa aja," sahut Albian terkekeh.


"Bagaimana keadaan Rena sayang?"


Albian kemudian menceritakan bagaimana keadaan Rena sekarang. Ia juga menceritakan kejadian yang menyebabkan drop nya Rena.


Albian mengatakan agar Rena dapat menemui Aruni. Menurutnya dengan bertemu dengan Aruni dan teman sharingnya mungkin Rena akan jadi lebih baik. Aruni pun menyambut gembira saran Albian. Ia dengan senang hati menerima Rena. Terlebih Rena adalah pujaan hati putranya.


Albian mengakhiri panggilannya ketika ada bunyi telepon yang ada di mejanya. Ia bergegas ke dapur setelah Yanto mengatakan ada pelanggan VIP datang di telepon tadi.


Kebanyakkan pelanggan VIP La Pasta akan langsung dilayani oleh head chef.

__ADS_1


__ADS_2