
"Ma, papa kemana sih?" tanya Rena yang tak melihat Tio sejak ia datang.
Rena sedang di rumah orang tuanya. Ratna menelepon saat Cindy masih di kantor Rena. Dan memaksa Rena untuk pulang juga karena Ratna sudah rindu. Rena pun mengiyakan kemauan mamanya dengan pulang lebih awal.
Saat ini Rena dan Ratna sedang duduk di ruang tv. Menonton drama kesukaan Ratna.
"Papa menghadiri pengajian untuk walimatul khitan cucunya pak Baron," jawab mama Ratna tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
"Wah bakalan ada nasi kotak nih." Tiba-tiba Cindy datang dari dapur membawa cemilan. Cindy bergabung dengan kakak dan mamanya di ruang tv.
"Kamu tuh masih kaya anak kecil," seru Rena sambil mengambil cemilan yang dibawa Cindy.
"Biasanya nih kak, nasi kotak dari pengajian itu rasanya beda. Jadi lebih enak gitu," sahut Cindy.
"Iya karena gratis, makanya enak," celetuk Rena.
"Ish… bukan karena itu juga kali kak. Sensasinya tuh beda. Awas aja kalau kakak minta nanti," ucap Cindy mencebik.
"Kalian tuh ya berisik deh, ganggu mama aja. Lagian belum tentu papa dapat nasi kotak." Ratna kesal karena suara drama yang ia tonton jadi beradu dengan suara mereka.
"Dih mama, tadi aja maksa-maksa kak Rena disuruh pulang. Giliran pulang aja di cuekin demi sinetron lebay," ucap Cindy mencibir.
"Bukan gitu sayang, ini tuh lagi seru-serunya," sahut mama Ratna.
Cindy memutar bola matanya malas. Sedangkan Rena hanya tertawa saja. "Kenapa jadi kalian yang bertengkar?" tanya Rena terkekeh.
Ceklek
"Assalamualaikum." Terdengar suara Tio mengucapkan salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," sahut mereka bersamaan.
Kemudian Tio muncul dari balik tembok yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang tv. "Eh, ada Rena."
Ratna dan kedua anaknya pun mencium tangan Tio takzim. Tio mendudukan dirinya di sebelah Rena.
"Iya pa, tadi katanya mama kangen banget sama aku," ucap Rena.
"Bilang sih kangen pa. Tapi dicuekin dari tadi. Malah mama asik nonton drama," celetuk Cindy.
"Ga gitu ih… mama kan udah bilang tadi. Ini tuh lagi seru-serunya," ucap mama Ratna membela diri tapi tetap fokus menonton tv.
"Begitulah bidadari papa Ren. Hampir setiap malam papa diduakan sama drama itu," ucap Papa Tio dengan wajah dibuat-buat seperti tersakiti.
"Apa sih papa nih suka berlebihan. Mama tuh cuma nonton drama bukan lagi jalan sama cowok," sahut mama Ratna memutar bola matanya malas.
tergelak mendengar perdebatan mereka.
"O iya pa, nasi kotaknya mana?" tanya Cindy yang baru sadar bahwa papanya tidak membawa apapun.
"Nggak ada. Pak Baron cuma siapin prasmanan nasi uduk," jawab papa Tio.
"Yah…"
"Memangnya kamu belum makan malam? Ini sudah lewat jam makan malam loh," ucap papa Tio.
"Papa kaya ga tau Cindy aja. Pecinta nasi kotak. Walaupun udah makan pasti bakalan makan lagi," celetuk mama Ratna.
Mereka pun kembali tergelak mendengar celetukan Ratna.
__ADS_1
***
"Tadi aku ketemu sama adiknya bu Rena," ucap Adrian.
Adrian dan Albian sedang berjalan untuk pulang ke apartemennya.
"Kenapa? Kamu naksir?" tanya Albian tersenyum.
"Dia memang cantik, tapi bukan berarti aku bisa langsung naksir. Masalah Lili aja masih belum benar-benar selesai." Adrian mendesah mengingat hubungannya dengan Lili. Gadis itu benar-benar sudah begitu melekat di hati dan pikirannya.
"Selesaikan urusan kamu dengan Lili. Jangan sampai berlarut-larut," ucap Albian.
Adrian mengangguk dan mendesah. "Ya, aku akan selesaikan semuanya. Ini yang terbaik untuknya."
"Gimana hubungan kamu dengan Rena?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraan.
Albian menoleh ke Adrian. Kemudian kembali menatap lurus ke depan. Ia tampak terdiam sejenak. "Saat ini yang terpenting Rena bisa lepas dari traumanya. Aku akan berusaha mendampinginya sampai dia benar-benar lepas dari traumanya."
Adrian merangkul bahu Albian. "Semangat bro."
Albian mengangguk dan terkekeh. Ia melepaskan rangkulan Adrian "Kamu juga ya semangat move on."
"Sialan kamu hahaha." umpat Adrian sambil mendorong bahu Albian.
Albian pun ikut tertawa.
"Ternyata nasib percintaan kita sama-sama tragis ya?" ucap Adrian.
"Kamu kali yang tragis. Aku sih enggak," ucap Albian mengelak. "Kan kamu yang pernah sampai babak belur," sambung Albian tertawa kemudian berlari menghindari pukulan Adrian.
__ADS_1