Tentang Rasa

Tentang Rasa
Manisnya Cinta


__ADS_3

"Ndra, kamu serius dengan ucapan kamu, atau kau hanya ingin menyenangkan aku?" tanya Suci sambil menatap Andra.


"Aku serius, sangat serius. Aku mencintai kamu, dan aku ingin menikah denganmu." jawab Andra sambil tersenyum.


"Tapi Ndra, aku...aku tidak bisa." ucap Suci dengan gugup.


"Kenapa? Kau masih mencintaiku kan?" tanya Andra sambil mengernyitkan keningnya. Menurut dugaannya, Suci akan tersenyum, dan menghambur dalam pelukannya. Tapi kenapa Suci malah berkata tidak bisa.


"Aku memang mencintai kamu. Tapi kamu lihat sendiri kan Ndra, bagaimana keadaan aku sekarang. Aku sakit, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Aku tidak secantik dulu, tubuhnya kurus kering seperti ini. Dan aku mungkin juga tidak bisa memberikan keturunan untuk kamu, lalu apa yang kau dapatkan dari pernikahan ini Ndra?" jawab Suci sambil menatap mata Andra.


Andra menggigit bibirnya, ternyata itu alasannya, kenapa Suci menjawab tidak bisa. Hati Andra semakin teriris sakit, ia sudah menghancurkan hidup Suci, namun wanita itu masih memikirkan kebahagiaannya.


"Bagiku kau tetap cantik, sama seperti dulu. Dan untuk keturunan, aku tidak akan menuntutmu. Aku menerima semua yang ada dalam diri kamu Suci, aku mencintai kamu, tolong izinkan aku untuk membahagiakan kamu." ucap Andra, seraya tangannya mengusap rambut Suci yang kusut.


"Pernikahan tidak sesederhana itu Ndra, kau tidak bisa memutuskan sendiri tanpa persetujuan dari keluarga kamu. Dengan keadaanku yang seperti ini, mungkinkah keluargamu akan merestui niatmu? Fikirkanlah baik-baik Ndra, jangan gegabah dalam mengambil keputusan untuk masa depanmu." kata Suci sambil mengusap tangan Andra yang berada di pangkuannya.


"Mama, dan Papa sudah merestui kita. Mereka sangat menantikan kehadiran kamu sebagai pasangan hidupku." ucap Andra dengan tegas.


Andra tidak berbohong, ia berbicara apa adanya. Bu Mirna, dan Pak Louis memang sangat menginginkan Suci sebagai menantunya. Tak lain, dan tak bukan itu semua karena kesalahan Andra dimasa lalu. Mereka tidak ingin anaknya terus tumbuh menjadi lelaki yang pengecut.


"Apa yang kau katakan itu benar Andra?" tanya Suci sambil mengernyitkan keningnya, sedikit ragu untuk mempercayai ucapan Andra.


"Tentu saja benar, aku tidak bisa lagi berbohong padamu Suci." jawab Andra sambil tersenyum.


Suci tidak menjawab, ia hanya menunduk sambil menyembunyikan senyumannya. Cinta didalam hatinya kembali tumbuh, dan mekar dengan begitu indah. Seindah bunga-bunga yang berjajar rapi di sekitarnya.


Andra menangkup kedua pipi Suci, dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.


"Sekarang cepatlah sembuh, setelah itu aku akan menemui orang tuamu. Aku akan meminta restu dari mereka untuk menikahimu." ucap Andra sambil tersenyum.


Suci menggigit bibirnya, dan matanya mulai berkaca-kaca. Andra menatapnya lekat-lekat, sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi antara Suci, dan orang tuanya.


"Sekarang aku tidak punya orang tua Ndra." jawab Suci dengan sangat pelan.


"Maksud kamu?"


"Mereka bukan orang tua kandungku. Aku hanya anak angkat, yang mereka asuh sejak kecil. Orang tua kandungku, mereka tiada karena mengalami kecelakaan, itu terjadi saat aku masih bayi. Lalu aku hidup di panti asuhan, dan saat usiaku genap 5 tahun, aku diadopsi oleh Mama, dan Papa. Awalnya Mama, dan Papa sangat menyayangiku, namun setelah keadaanku seperti ini, mereka tidak lagi menganggap aku sebagai anak." jawab Suci dengan panjang lebar.


Andra terpaku seketika saat mendengar penjelasan dari Suci. Ternyata sejauh ini ia menghancurkan hidup Suci. Andra mengepalkan tangannya, ia merasa marah dengan dirinya sendiri.


"Sekarang kau sudah tahu siapa aku Ndra, masihkah kau menginginkan aku?" tanya Suci.


"Siapapun kamu, aku selalu mencintai kamu. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu. Tersenyumlah, dan jangan menangis! Saat ini air matamu adalah luka bagiku." kata Andra seraya mengusap air mata Suci yang mulai menetes.


Suci tersenyum, ia menggenggam tangan Andra yang masih menempel di pipinya.


"Terima kasih Andra." ucap Suci sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih Ya Allah, engkau masih memberikan kebahagiaan, meskipun aku sudah berlumur dosa. Aku bersyukur masih bisa tersenyum disaat-saat terakhirku. Ya Allah jika saja boleh meminta lebih, aku sangat ingin menjadi istri Andra untuk waktu yang lama." ucap Suci dalam hatinya.


***


Rembulan malam tampak menggantung indah di angkasa raya. Ditemani ribuan bintang, dan mega-mega kelabu yang ikut menghiasi langit luas, suasana malam yang sangat mempesona.


Ditambah terang benderangnya lampu kota, serta kelap kelip lampu kendaraan yang memadati jalan. Paris masih tidak berubah, tetap menjadi kota fashion, dan kota yang nyaris tak pernah tidur.


Ella sedang melangkahkan kakinya di pinggir jalan, dengan kedua tangannya yang mendorong kursi roda tempat Kairi duduk. Mereka tampak berbincang, dan sesekali tertawa bersama. Malam ini Ella mengajak Kairi jalan-jalan. Tujuannya masih sama seperti dulu, taman dibawah Menara Eiffel. Sebuah tempat indah, dan romantis yang menjadi awal kisah cintanya.


"Kai beli crepes dulu ya." ucap Ella sambil mencondongkan tubuhnya, dan menatap Kairi yang duduk di depannya.


"Boleh, coklat strawberry." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Iya, tunggu sebentar ya."


Ella mendorong Kairi, dan mengajaknya berhenti di depan pedagang crepes. Ella memesan dua porsi crepes rasa coklat strawberry.


Tak lama kemudian, abang penjual mengulurkan pesanan Ella. Ella menerimanya, dan membayarnya dengan beberapa lembar uang. Ella menyerahkan crepes itu kepada Kairi, dan kemudian ia kembali mendorongnya.


Tiga menit kemudian, mereka telah tiba di taman dibawah menara. Ella mengukir senyuman di bibir ranumnya. Rasanya masih seperti mimpi, bisa kembali datang ke tempat ini bersama lelaki yang dicintainya.


"Rasanya sudah lama kita tidak ke tempat ini sayang." ucap Kairi sambil melirik Ella yang berdiri di sampingnya.


"Terakhir kali aku kesini, itu bertepatan dengan hari lahirnya Billa. Aku terpuruk, dan aku meminta Andra untuk menemaniku kesini. Tapi tak kusangka, perutku malah sakit, dan ternyata aku akan melahirkan." kata Ella sambil meraih crepes yang diulurkan Kairi padanya.


"Kau jalan-jalan dengan Andra sayang?"


"Lalu saat perutmu sakit, apa yang dia lakukan?" tanya Kairi ditengah kunyahannya.


"Dia...dia menggendongku." jawab Ella dengan gugup.


"Kenapa tadi aku bicara seperti itu, kalau Kairi salah paham bagaimana." ucap Ella dalam hatinya.


"Digendong!"


"Kau jangan salah paham Kai, dia panik. Aku mengajak dia kesini, karena aku ingat kamu. Aku menceritakan padanya tentang kisah kita. Cinta kita diawali ditempat ini, dan diakhiri ditempat ini juga." ucap Ella.


"Diakhiri, cinta kita belum berakhir sayang." sahut Kairi.


"Waktu itu aku hampir putus asa Kai, tidak ada kabar sama sekali tentang dirimu." ucap Ella.


"Tapi kenapa kau bilang berakhirnya di sini? Aku kecelakaan saat aku akan menuju Pulau Reunion kan?" tanya Kairi.


"Iya, tapi apa kau tidak ingat, sehari sebelum kau pergi, kita menghabiskan waktu di sini cukup lama Kai." jawab Ella.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Ternyata kau melupakannya."


"Itu sudah lama sayang."


"Tapi aku selalu mengingatnya, bahkan yang jauh lebih lama, sewaktu kita masih di London, aku juga masih ingat." kata Ella dengan cepat.


"Oh ya, apa saja yang kau ingat? kau bahkan tidak mengenaliku waktu itu." goda Kairi.


"Kapan?" tanya Ella sambil mengernyitkan keningnya.


"Saat presentasi tender, kau tidak mengenaliku sama sekali. Padahal waktu di bandara kau sangat terpesona padaku." ucap Kairi sambil tersenyum miring.


"Aku tidak pernah terpesona!" teriak Ella.


"Begitukah, lalu kenapa sekarang pipimu merah?" goda Kairi sambil mencubit pipi Ella.


"Tidak!" jawab Ella sambil memalingkan wajahnya.


"Kau dulu juga menganggap aku sangat ganteng, bahkan kau sampai mengatakannya secara langsung padaku. Kau lumayan agresif Gabriella." kata Kairi dengan kekehannya.


"Kairi diam!" bentak Ella sambil menoleh, ia menatap Kairi dengan pelototan tajam.


"Kemarilah! Biarkan aku melihat wajah merahmu!" kata Kairi seraya menarik tangan Ella, dan memaksanya untuk mendekat.


"Lepas Kai!" sahut Ella dengan bibir yang manyun.


Tanpa basa basi Kairi malah mendekatkan wajahnya, dan mencium bibir Ella sekilas. Ia tersenyum saat melihat Ella menatapnya dengan tajam.


"Jangan manyun, ataukah itu salah satu caramu untuk menggodaku?"


"Malu dilihat orang Kai!" teriak Ella.


"Kita suami istri, bebas sayang."


"Kau menyebalkan! Meskipun kita suami istri, seharusnya kau punya malu. Kau sudah punya anak, jangan sembarangan bertingkah!" kata Ella.


"Tapi anak kita tidak ada di sini, dia sedang tidur nyenyak bersama neneknya." jawab Kairi dengan santainya.


"Capek bicara denganmu Kai." gerutu Ella dengan kesal.


"Aku tahu apa yang tidak membuatku capek." ucap Kairi sambil kembali mendekatkan wajahnya.


Dengan tangan yang digenggam erat, Ella tak bisa menghindar. Ia hanya bisa pasrah saat Kairi kembali menciumnya, dan memainkan bibirnya.


Bersambung......


Terima kasih untuk kakak semua yang masih setia dengan novel Tentang Rasa. Dukungan dan apresiasi kalian, yang membuat aku bisa berkarya hingga saat ini. Saat ini aku sedang mencoba merilis novel lain yang berjudul "Kesucian Cinta Yang Ternoda" terbit hari ini dinoveltoon/mangatoon. Yang berkenan silakan mampir, aku tunggu saran dan dukungannya. Novel yang menceritakan tentang kisah cinta antara Fajar, dan Senja. Matahari terbit, dan matahari terbenam, dua hal yang diciptakan untuk saling melengkapi.

__ADS_1


Terima kasih



__ADS_2