
Netta mematung ditempatnya.
Apa kamu bener-bener sudah nggak menginginkanku, Max? Tapi kenapa aku merasa jika kamu sangat cemburu pada Dewa? Huffttt! Sepertinya usahaku sia-sia saja! batin Netta.
" Aku pergi!" kata Netta.
Max masih saja diam ditempatnya. Perlahan Netta membuka pintu, tapi sedikitpun dia tidak mendengar ada pergerakan dari Max. Apa saat ini pesonaku sudah pudar dihadapannya? batin Netta. Netta membuka pintu ruang kerja Max dan keluar, karena tidak melihat, kaki Netta tersandung pintu.
" Auwwww!" teriak Netta sambil mengaduh kesakitan.
" Arnetta!" ucap Max lalu berlari dengan cepat mendekati Netta yang sudah terduduk di depan pintu. Dia melihat Netta memegangi kakinya sambil meringis kesakitan.
" Kamu kenapa? Apa sakit? Yang mana yang sakit? Kita ke rumah sakit, ya! Ato kamu mau kemana?" tanya Maxtanpa henti dengan berjongkok.
Netta menatap pria yang sedang panik di depannya itu dengan hati menghangat.
" Kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Max menyadarkan lamunan Netta.
" Tidak! Aku baik-baik saja! Jangan memperdulikanku! Aku akan menelpon Dewa untuk menjemputku kesini!" kata Netta kesal sekaligus ingin tahu reaksi pria itu.
" Apa? Aku tidak mau dia menginjakkan kakinya disini!" kata Max marah.
" Tapi kakiku sakit! Dan dia seorang dokter!" ucap Netta dengan sengaja.
" Aku bisa mengobatimu walau aku bukan dokter!" kata Max tegas.
Dengan cepat dia menggendong Netta ala bridal style. Netta kaget tapi juga merasa menang. Ternyata dia benar-benar berubah.
" Aku yang akan merawatmu dan nggak akan kalah sama dia!" kata Max tegas dan dengan suara seksinya yang terdwngar mengalun indah ditelinga Netta.
Apa menunggu aku kesakitan dan menyebut nama pria lain baru kamu bereaksi? Sebel! batin Netta. Dia menempelkan kepalanya di dada bidang Max yang terbuka. Max mendudukkan Netta di sofa ruang kerja. Max mengambil kotap P3K yang ada di lemari. Ujung ibu jari Netta sedikit berdarah, maka Max membersihkan dengan alkohol dan memberikan betadine lalu membungkusnya dengan hansaplast.
" Apa cukup?" tanya Max.
" Iya!" jawab Netta kesal.
" Kenapa wajahmu masih terlihat kesal?" tanya Max melihat ke arah wajah Netta.
" Kamu mau aku jujur ato bohong?" tanya Netta.
" Tentu saja jawaban jujur!" jawab Max pelan.
" Aku membenci sikapmu yang sekarang ini!" kata Netta tegas.
" Apa kamu lebih suka Dewa yang melakukannya?" tanya Max dengan nada sedikit tinggi.
Netta tahu dari dulu Max adalah tipe orang yang tidak mau ada yang lebih dari dia. Apalagi jika bersangkutan dengan Netta, karena Netta mengetahui semua titik kelemahan Max.
" Iya!" jawab Netta santai.
Lalu dia berdiri dari duduknya.
" Mau kemana?" tanya Max yang ikutan berdiri.
__ADS_1
" Menelpon Dewa!" kata Netta.
" Tidak! Kamu diam saja dan duduk disitu!" kata Max lalu mengunci pintu ruang kerjanya dan mengambil kuncinya.
" Apa yang kamu lakukan?" tanya Netta pura-pura kesal lalu berdiri.
" Aku bilang duduk!" teriak Max.
Netta tidak menuruti kata-kata Max, dia pergi ke arah pintu sambil berjalan tertatih.
" Apa suaraku kurang keras?" tanya Max kesal.
" Kamu nggak berhak menahanku disini!" kata Netta.
" Lalu siapa yang berhak? Dewa? Apa kelebihan dia dibanding denganku?" tanya Max kesal.
Netta ingin tertawa senang mendengar ucapan Max, tapi dia ingin tahu seberapa besar keinginan Max untuk bersamanya.
" Hahaha! Apa perlu aku katakan?" ucap Netta tertawa.
Max terdiam, dia lupa jika dia tidak memiliki apa-apa.
" Aku akan bekerja lebih keras lagi dan menjadi pengusaha yang besar lagi melebihi mantan suamimu! " kata Max dengan sombongnya.
" Berapa lama? Apa kamu pikir aku akan menunggumu?" tanya Netta.
Deg! Max lupa jika itu semua memang tidak akan mudah atau secepat membalikkan tangan.
" Aku tidak perduli! Jika kamu nekat menikah dengan Dewa, aku akan menculikmu!" kata Max.
" Aku akan berusaha apapun itu agar kamu tidak pergi lagi dariku!" sahut Max cepat.
" Itu tidak akan mudah!" kata Netta cepat.
" Aku tidak perduli!" sahut Max cepat.
" Kenapa kamu sangat ingin menculikku?" tanya Netta.
" Karena hanya aku yang boleh memilikimu!" jawab Max.
" Kenapa?" tanya Netta lagi.
" Karena aku mencintaimu!" jawab Max tegas, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkannya.
Netta berdiri dan mendekati Max yang berdiri di dekat sofa.
" Katakan sekali lagi!" pinta Netta sambil menangkup wajah Max.
" Tidak!" kata Max.
" Katakan atau aku akan..."
" Kau akan apa? Aku akan mengurungmu disini bersamaku jika kau berani lagi menyebut namanya!" kata Max dengan tajam.
__ADS_1
Netta tidak menunggu lama, dia mel...at bibir Max yang sedikit tebal itu. Ahhh! Setelah sekian lama, aku bisa menikmati lagi semua ini! Hal yang membuatku tergila-gila! batin Netta. Max membalas lum... Netta, dia bagaikan musafir yang mendapatkan oase dipadang pasir.
" Arnetta Johanson!...Kau membuatku...Gila!" kata Max disela-sela ciuman panas mereka. Mereka saling menikmati, melilit dan menelan saliva. Max seakan tidak puas, dia menggigit bibir Netta hingga bengkak.
" Max! Sakit!" keluh Netta melepaskan ciumannya.
" Aku sangat gemas dengan dirimu, darling!" kata Max.
" Aku akan mencukur dulu jambangmu! Itu begitu menggangguku!" kata Netta.
Max langsung merasa lemas, dia tahu jika Netta tidak suka jika dirinya berjambang atau berkumis. Netta akan menarik tubuh besar itu naik ke lantai dua, tapi dia baru ingat jika kakinya terluka.
" Gendong aku ke kamar!" bisik Netta sambil menj...t telinga Max.
" Kau..."
Netta langsung melompat ke pelukan Max. Kedua tangannya dikalungkan ke leher pria itu seperti koala lalu mencium lembur bibir Max. Max tersenyum untuk pertama kali setelah sekian lama, hatinya menghangat mendapatkan kembali wanita yang sangat dicintainya. Dengan pelan dia berjalan membawa Netta ke kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia mendudukkan Netta diatas wastafel agar bisa sejajar dengan dirinya. Netta mengambil sekaleng krim cukur lalu menyemprotkan pada rahang Max hingga terlihat seperti Sinterklas.
" Apa kamu pernah mencukur jambang, darling?" tanya Max dengan tatapan khawatir.
" Tidak! Ooppsss!" jawab Netta.
Max mendelik menatap Netta.
" Bagaimana jika kamu melukai wajah tampanku?" tanya Max bercanda.
" Siapa juga yang mau dengan pria tua sepertimu!" kata Netta kesal karena Max meremehkannya sambil memulai mencukur.
" Wenny menyukaiku!" kata Max spontan.
Shiiittt! Kenapa juga mulut ini ember! batin Max. Netta menatap kesal dan cemburu pada Max.
" Apa kamu ingin alat cukur ini menggores lehermu?" tanya Netta kesal.
" Aku hanya bercanda, darling!" kata Max menelan salivanya.
Netta masih memasang wajah kesalnya. Lalu Max mengambil sedikit cream yang menempel di wajahnya dan mengoleskannya pada hidung Netta.
" Maxxx! Apa yang kamu lakukan?" teriak Netta memejamkan matanya.
" Maaf!" kata Max tersenyum.
" Angkat wajahmu!" kata Netta lalu mencukur bagian bawah leher Max.
" Apakah kalian pernah pergi bersama?" tanya Netta kepo.
" Siapa?" tanya Max menggoda.
" Ckkk!" sahut Netta mencubit perut Max.
" Auchhh! Sakit, baby! Mana mungkin aku pergi dengan wanita lain? Tidak akan pernah!" jawab Max.
Netta tersenyum tipis, dia tidak mau jika Max melihatnya cemburu.
__ADS_1
" Finishhhh!" kata Netta tersenyum. Lalu Max melihat ke arah cermin, meraba-raba pipi dan lehernya, wajahnya terlihat lebih cerah walau sedikit agak tirus. Netta tidak berhenti memandangi Max, kenapa kamu selalu terlihat sangat tampan dimataku? Aku selalu saja lemah jika melihatmu! batin Netta.
" Apa kamu sudah puas menatapku?" tanya Max tiba-tiba.