Tentang Rasa

Tentang Rasa
Bab 26


__ADS_3

Semangkuk bubur yang di siapkan mbok Marni sudah habis tak tersisa. Albian dengan sabar dan sedikit memaksa menyuapi Aruni.


"Oh ya kamu belum cerita loh tentang gadis yang kamu ajak ke tempat Julia" ucap Aruni yang membuat Albian tiba-tiba tersenyum.


"Wah sepertinya anak bunda beneran sudah mulai dewasa" seloroh Aruni.


Albian tertawa "aku sudah dewasa sejak lama bun" sahut Albian menggelengkan kepalanya dan masih menyisakan tawa di wajahnya.


"Iya tapi kan kamu sebesar ini, bunda baru pernah dengar kamu dekat dengan wanita" 


"Siapa bilang bun?. Aku dekat juga sama Fiona" bantah Albian terkekeh.


"Fiona itukan seperti adik kamu. Itu tidak masuk hitungan sayang" sahut Aruni.


"Sudah cepat ceritakan siapa gadis itu" sambung Aruni memaksa yang sudah tidak sabar ingin mendengar seperti apa gadis pujaan putranya.


Albian menceritakan semua hal tentang Rena. Tentang rentang usianya, kecantikannya,pekerjaannya dan juga dia menceritakan tentang trauma yang dialaminya.

__ADS_1


Albian menghembuskan nafas beratnya setelah ia menceritakan semua tentang Rena. Rasanya sesak mengingat itu. Albian mengakui jika ia sudah benar-benar jatuh dalam pesona Rena.


Aruni menggenggam tangan Albian dan tersenyum. "Jaga dia, selalu temani dia dalam keadaan apapun" ucap Aruni. Ia tahu bagaimana sulitnya bangkit dari keterpurukan. Aruni tidak ingin orang lain mengalami sulitnya bangkit dari keterpurukan. Terlebih lagi Rena adalah gadis pujaan putranya.


Albian mengangguk mendengar apa kata bundanya. "Aku akan selalu berusaha di sisinya bun, tapi hubungan kita belum terlalu dekat. Hubungan kita masih berstatus teman dan hubungan kerja" Albian menghela nafasnya.


"Hubungan itu berproses sayang. Tak ada hal yang mudah. Apalagi untuknya yang pernah merasa di khianati. Tumbuhkan kembali rasa percayanya. Dekati perlahan, jangan terburu-buru. Biarkan semuanya mengalir apa adanya" ucap Aruni sambil mengusap pundak Albian.


Albian hanya kembali menganggukan kepalanya. Albian mengakui apa yang dikatakan bundanya benar. 


"Bunda pengen bubur labu deh" celetuk Aruni tiba-tiba. Aruni mencoba mencairkan suasana.


"Ok, nanti aku buatkan bubur labu untuk makan siang" sahut Albian tampak kembali bersemangat. Mereka pun melanjutkan obrolannya. Membahas banyak hal.


***


Riuh suara teriakan dari orang-orang terdengar dari sana sini. Teriakan keseruan, kegembiraan dan juga ketakutan. Berbagai wahana terlihat tak sepi dari peminatnya. Dari yang paling menantang hingga yang cukup menyenangkan. Rena dan Cindy sudah menaiki beberapa wahana. Termasuk wahana yang begitu menantang Adrenalin. Rena dibuatnya lemas, lututnya seperti tak bertulang. 

__ADS_1


"Huuuh seru banget kak hahaha" seru Cindy tertawa puas.


"Seru apanya begitu, menyeramkan iya" gerutu Rena yang masih bersandar pada sebuah pohon yang ada tak jauh dari wahana tersebut. Rena melorotkan tubuhnya kebawah. Kini ia berselonjoran kaki. Kepalanya masih terasa pusing. Degup jantungnya masih terasa kencang. Tak ayal mual pun juga dirasakan.


"Ah kakak payah, gitu aja udah takut" ucap Cindy mengejek dan ikut duduk di samping Rena.


Rena memutar bola matanya malas mendengar itu. Cindy pun terbahak melihat respon kakaknya. Rena pun ikut terbahak. 


Tawa mereka perlahan menghilang. Mereka berdua hanya duduk terdiam beberapa saat. Memandang langit menikmati terik matahari yang menyentuh kulit. Melihat lalu lalang orang yang hendak pergi ke beberapa wahana.


"Kak, lain kali ajak mama papa kesini yuk" ucap Cindy. 


Rena mendorong bahu Cindy. "Ngapain?. Kamu jangan aneh-aneh ya. Kamu ingin mereka jantungan?" Protes Rena.


"Ya enggak lah. Kan wahana disini ga cuma itu. Pasti seru deh kita bernostalgia bareng saat kita masih anak-anak" ucap Cindy sambil membayangkannya.


"Iya juga sih. Sudah lama kita ga jalan-jalan bareng". Rena baru menyadari betapa lamanya itu. Terakhir yang dia ingat saat ia masih SMA. Dan cindy masih balita. Setelah masuk masa kuliah Rena begitu sibuk dengan kegiatan kuliahnya. Sehingga Rena selalu absen untuk kegiatan liburan mereka. Dan saat kuliahnya sudah selesai, ternyata Rena jauh lebih sibuk meniti karirnya.

__ADS_1


"Ayo kita jalan lagi" ajak Cindy yang kini telah berdiri mengulurkan tangannya ke arah Rena. 


Dan itu membuyarkan lamunan Rena. Ia tersenyum dan meraih tangan Cindy. Ia bangun dari duduknya kemudian menepuk bokongnya dari debu yang menempel. Mereka pun melanjutkan untuk menaiki wahana lainnya. Wahana yang aman untuk Rena tepatnya. Dia tidak mau lagi naik wahana yang menguji nyalinya.


__ADS_2