Tentang Rasa

Tentang Rasa
Penyesalan Andra


__ADS_3

Andra menunduk sedih, saat tubuh Ella sudah tak terlihat lagi. Dengan perasaan yang saat kacau, Andra melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Ia berpamitan pada Bu Halimah yang sedang menjaga toko, dan dengan langkah gontainya ia berjalan menuju mobilnya.


Andra menatap rumah Ella sambil mencengkeram kemudi mobil.


"Kenapa aku sebodoh ini, kenapa aku tidak pernah menyadari perasaan Ella. Dan kenapa juga baru sekarang aku menyadari perasaanku. Sekarang Ella sudah menjadi milik Kairi. Dulu dia merebut Papa, sekarang dia merebut Ella. Kenapa aku selalu kalah dari dia," ucap Andra sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


Lalu ia mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan sangat cepat. Ia tidak peduli lagi dengan keselamatannya, saat ini pikirannya benar-benar kacau.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Andra sampai di tempat tujuan. Bukan rumah, melainkan apartemennya. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri sendiri.


Setelah memarkirkan mobilnya, Andra melangkah cepat menuju apartemennya. Ia langsung masuk ke kamarnya dan duduk lesu di tepi ranjang.


Andra berusaha keras menahan air mata, hatinya benar-benar hancur setelah menyadari kenyataan.


"Kenapa harus seperti ini, Ella, aku sakit kehilangan kamu. Aku butuh kamu, aku sangat membutuhkanmu," ucap Andra sambil menunduk.


Lalu ia turun dari ranjang dan duduk di lantai sambil memegangi kepalanya.


"Kenapa selalu Kairi yang membuat aku terluka. Dulu dia merebut Papa, dan sekarang dia merebut Ella. Kenapa dia tidak mati saja," kata Andra sambil mengacak rambutnya dengan sangat kasar.


"Arrgghhh!! Seharusnya kau mati saja, agar aku bisa bahagia!" teriak Andra dengan penuh amarah. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di kedua lututnya.


Cukup lama Andra tenggelam dalam kesedihannya, mengingat masa-masa dulu saat ia masih bersahabat dengan Ella. Gadis sederhana dan polos yang selalu menemani kesehariannya. Tawanya, senyum tulusnya, dan semua kata serta canda yang dulu pernah Ella berikan untuknya, kini sudah tiada.


Sekarang Andra hanya bisa menyesali kebodohan, gadis yang sejak dulu selalu ia jaga, ternyata memendam luka akibat perbuatannya. Gadis yang dulu selalu ada saat dia sedang terpuruk, kini sudah tiada peduli lagi. Rasa sakit benar-benar menyayat hati. Berkali-kali Andra memejamkan mata, demi menahan bulir bening yang sudah menggenang di sana. Sesekali ia berteriak dan menggeram kesal demi melegakan hatinya yang sakit dan sesak.


Setelah cukup lama meratapi kenyataan, Andra beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan.


Andra membuka lacinya dan mengambil sebungkus rokok dan korek yang ia simpan di sana.


Sebenarnya Andra bukanlah seorang perokok, ia melakukannya hanya saat kacau saja. Dulu pertama kali ia merokok saat ayahnya memutuskan pergi meninggalkan ia dan ibunya. Lalu ia mengulanginya saat ia dikeluarkan dari sekolah. Ia merasa menjadi anak yang tidak berguna, karena sudah mengecewakan ibunya.


Kini, ia kembali menyentuh benda itu karena Ella. Ternyata pengaruh Ella begitu besar dalam hidupnya.


Andra mulai menyulut rokoknya dan menghisapnya dengan pelan. Menikmati aroma nikotin yang perlahan masuk ke dalam tenggorokan. Andra menghisap rokoknya sambil duduk di dekat jendela kamar. Menatap terik mentari yang terlihat samar-samar dari balik tirai kamarnya.


Beberapa menit kemudian, rokok yang Andra hisap sudah habis tak tersisa. Namun, beban dihatinya masih belum berkurang, masih menyesakkan seperti sedia kala. Lalu Andra beranjak dari duduknya dan melangkah mengambil ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Andra menelepon seseorang, dan tak lama kemudian orang yang diteleponnya datang sambil membawa beberapa botol vodka. Andra menerimanya dan mempersilakan orang itu untuk pergi.


"Sudah lima tahun aku tidak pernah menyentuh benda ini, Ella. Tapi sekarang, aku kembali menyentuhnya. Kau yang membuatku melakukan ini, Ella," ucap Andra sambil memandang botol yang sedang di genggamnya.


Kemudian Andra membuka botol itu dan mulai meneguk isinya.


"Hanya ini yang bisa membantuku melupakan kamu, El," ucap Andra sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Lalu ia kembali meneguk minumannya hingga tandas.


***


Kairi duduk sendiri di meja makan sambil menyesap secangkir kopi hitam yang baru saja dibuatnya.


Ia mencoba merilekskan hati dan fikirannya, yang sempat kacau setelah tahu bahwa sahabatnya Ella adalah adiknya sendiri.


Kairi menghembuskan nafasnya dengan kasar, takdir yang sungguh lucu, fikirnya kala itu.


"Ternyata dunia ini tak selebar yang aku kira. Gabriella, ternyata bagian dari masa lalumu adalah bagian dari masa laluku juga." ucap Kairi sambil menopang dagunya.


"Kau pernah mencintai Andra cukup lama, aku takut sekarang giliran Andra yang mencintaimu Gabriella. Ahh semoga saja itu tidak terjadi, tapi...melihat tatapan Andra semalam, aku benar-benar takut Gabriella." kata Kairi seorang diri.


Lalu ia kembali menyesap kopinya hingga tandas, kepalanya terasa sangat gatal mengingat hubungannya dengan Ella dan Andra, sebuah hubungan yang cukup rumit menurutnya.


"Semoga saja takdir selalu berpihak padaku." ucap Kairi sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Lalu ia beranjak dari duduknya, saat melirik jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 01.00 siang. Ia harus segera pergi ke Bandara Juanda untuk menjemput Ayahnya yang datang dari Perancis.


Kairi menyambar kunci mobilnya, dan melangkah keluar dari apartemennya.


Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya Kairi sampai di Bandara Juanda. Ia menunggu Ayahnya sambil berdiri didekat mobilnya.


Dan tak lama kemudian, Pak Louis datang menghampirinya.


"Papa." sapa Kairi sambil memeluk Ayahnya.


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Pak Louis sambil menepuk punggung Kairi.


"Aku baik Pa, Papa juga baik kan?" Kairi balik bertanya sambil melepaskan pelukannya.


"Aku juga baik." jawab Pak Louis.


Lalu mereka berdua masuk kedalam mobil, dan mulai melaju meninggalkan bandara.

__ADS_1


"Kamu sudah menemui Ibumu?" tanya Pak Louis sambil menatap Kairi yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.


"Sudah." jawab Kairi singkat, ia kembali mengingat tentang masa lalu Ella.


"Bagaimana kabar Ibumu?" tanya Pak Louis.


"Tanpa aku Mama selalu baik." jawab Kairi.


"Apa maksudmu Kai, apa Ibumu masih bersikap kasar padamu?" tanya Pak Louis.


"Tidak Pa. Hanya saja jawabannya memang seperti itu, waktu aku menanyakan bagaimana kabarnya." jawab Kairi sambil menatap Ayahnya sekilas.


"Sabarlah nak, ada saatnya nanti Ibumu pasti akan berubah." ucap Pak Louis sambil menepuk bahu Kairi.


"Aku tidak terlalu berharap Pa, karena selama ini aku sudah punya Papa yang selalu menyayangiku." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Maafkan Papa Kai, sesungguhnya Papalah yang menyebabkan Ibumu bersikap seperti itu padamu. Maafkan kesalahan Papa Kairi." batin Pak Louis sambil melirik ankanya.


"Kau sudah menemui Ibunya Gabriella?" tanya Pak Louis mengalihkan pembicaraan.


"Sudah." jawab Kairi singkat.


"Bagaimana?" tanya Pak Louis.


"Apanya?" Kairi balik bertanya.


"Direstui kan." kata Pak Louis.


"Iya." jawab Kairi.


"Kau terlihat lesu, kenapa? Semuanya berjalan lancar kan Kai?" tanya Pak Louis sambil menatap Kairi. Beliau merasa ada yang tidak beres dengan anaknya.


"Lancar Pa, tapi juga tidak." jawab Kairi sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Kenapa Kairi? Ibumu tidak memberikan restu? Ibumu tidak menerima Gabriella?" tanya Pak Louis dengan serius.


"Mama memberikan restu, dan Mama juga menerima Gabriella." jawab Kairi.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Pak Louis sambil mengernyitkan keningnya.


"Mama menerima Gabriella, karena sebelumnya mereka sudah saling mengenal. Gabriella juga mengenal Andra Pa." ucap Kairi tanpa menoleh, ia fokus dengan jalanan yang ada didepannya.


"Sekedar kenal." jawab Kairi. Tidak mungkin ia menjawab, Ella pernah mencintai Andra selama tujuh tahun.


"Jika sekedar kenal, bukankah itu tidak menjadi masalah Kai." kata Pak Louis.


"Iya Pa, hanya saja aku tidak menyangka, jika wanita yang aku pilih ternyata mengenal keluargaku." ucap Kairi sambil berusaha tersenyum. Ia tidak ingin Ayahnya menjadi curiga, jika ia tetap memasang wajah lesunya.


Pak Louis tidak menjawab, beliau hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Kairi, memberikan semangat dan dukungan untuk anaknya.


"Besok ikut Papa ya." kata Pak Louis setelah mereka saling diam beberapa detik lamanya.


"Kemana?" tanya Kairi.


"Menemui Ibumu." jawab Pak Louis.


"Untuk apa?" tanya Kairi.


"Ada hal yang ingin Papa bicarakan dengannya. Ini cukup penting, kau dan Andra juga harus tahu." jawab Pak louis dengan tegas.


Kairi sedikit heran mendengar jawaban Ayahnya, kira-kira hal penting apa?


Kairi ingin bertanya, namun ia mengurungkan niatnya, karena Ayahnya mengangkat telfon dari rekan bisnisnya.


Tak berapa lama kemudian, Pak Louis sudah mengakhiri panggilan telefonnya. Beliau memandang Kairi dengan tatapan sendu.


"Kau dan Andra sudah dewasa, sudah saatnya kalian tahu tentang kebenarannya. Mungkin ini menyakitkan untuk kalian, tapi bagaimanapun juga kalian harus tahu, agar kalian tidak salah paham lagi dengan sikap kita yang tidak adil." batin Pak Louis dalam hatinya.


***


Senja sudah jauh berlalu, sang surya sudah kembali ke peraduannya bersama sinar jingganya. Kini yang terlihat adalah kelap kelip bintang, yang bertabur indah di langit luas. Bu Halimah duduk sendiri di kursi, didalam tokonya. Pandangannya tertuju pada jalanan yang ada didepan rumahnya. Beliau sedang menanti putranya yang pergi berbelanja untuk keperluan esok hari.


Bu Halimah duduk sambil menopang dagunya, hatinya sedikit gelisah. Mengingat tadi pagi Andra berkunjung ke rumahnya dengan raut wajah yang bahagia, namun tak lama kemudian Andra pamit pulang dengan raut wajah yang lesu, dan sendu. Lalu setelah itu, Ella mengurung dirinya di kamar, seharian ia tidak keluar sama sekali. Apa yang terjadi, mungkinkah mereka bertengkar?


"Bu!" panggil seseorang yang tiba-tiba berdiri didekatnya, ternyata Gilang. Rupanya Bu Halimah terlalu larut dalam lamunannya, hingga tidak menyadari jika putranya sudah kembali.


"Ibu kenapa?" tanya Gilang saat melihat Ibunya tersentak kaget kala ia memanggilnya.


"Ibu tidak apa-apa, hanya sedikit lelah saja." jawab Bu Halimah.

__ADS_1


"Kalau begitu Ibu istirahat saja, biar aku yang menjaga toko." kata Gilang.


"Baiklah, terima kasih ya nak." ucap Bu Halimah sambil tersenyum.


"Iya Bu." jawab Gilang.


Lalu Bu Halimah beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju rumahnya. Beliau tidak pergi ke kamarnya, melainkan pergi ke kamar Ella. Bu Halimah mengintip Ella dari celah pintu yang kebetulan sedikit terbuka. Beliau melihat anak gadisnya sedang duduk termenung di kursi, didekat jendela kamarnya.


"Sepertinya memang ada masalah." batin Bu Halimah sambil membuka pintunya.


"El!" panggil Bu Halimah.


"Eh Ibu." jawab Ella sedikit kaget.


"Boleh Ibu masuk?" tanya Bu Halimah yang saat itu masih berdiri diambang pintu.


"Tentu saja boleh Bu." jawab Ella sambil tersenyum.


Kemudian Bu Halimah melangkah masuk, dan duduk ditepi ranjang.


Ella juga ikut duduk ditepi ranjang, disebelah Ibunya.


"Kamu kenapa?" tanya Bu Halimah sambil mengusap rambut Ella.


"Aku tidak apa-apa Bu." jawab Ella.


"Jangan bohong sama Ibu, Ibu tahu kamu sedang ada masalah. Ayo cerita sama Ibu, jangan dipendam sendirian." kata Bu Halimah sambil menatap anaknya.


Ella menunduk, ia sedikit ragu untuk menceritakan tentang masalah yang sedang dihadapinya. Tapi ia juga tidak mungkin bisa menyembunyikan hal ini selamanya.


"Kamu bertengkar ya sama Andra, Ibu tadi melihat dia lesu sekali. Ada apa Ella?" Bu Halimah kembali bertanya, karena Ella masih diam tanpa kata.


"Ibu, ternyata..." ucap Ella.


"Ternyata apa?" tanya Bu Halimah, karena Ella hanya menggantungkan kalimatnya.


"Ternyata Kairi adalah kakaknya Andra." jawab Ella dengan suara yang sangat pelan.


"Lho kok bisa? Bukankah Kairi itu orang Perancis?" tanya Bu Halimah sambil menatap Ella lekat-lekat. Beliau kaget mendengar jawaban Ella.


"Iya Bu, karena Kairi ikut Ayahnya yang orang Perancis, dan Andra ikut Ibunya yang orang Indonesia. Orang tua mereka cerai Bu, jadi mereka hidup terpisah." jawab Ella sambil menatap Ibunya.


"Oh begitu ya, terus sekarang yang sedang kamu fikirkan apa? Kamu sudah mengenal Bu Mirna, bukankah itu malah bagus, jadi hubungan kalian bisa cepat akrab." kata Bu Halimah.


"Seharusnya begitu Bu, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Hubungan Kairi dan Andra cukup buruk, begitu pula dengan Tante Mirna. Dan Kairi juga tahu, jika dulu aku pernah bersahabat dengan Andra, dan pernah mencintainya." ucap Ella sambil menunduk.


"Kau pernah mencintai Andra, kenapa Ibu tidak menyadari hal itu Ella!" teriak Bu Halimah, beliau sangat kaget mendengar penjelasan Ella.


"Maafkan Ibu nak, selama ini Ibu selalu sibuk dengan pekerjaan, sampai tidak tahu apa yang sedang kamu rasakan. Seharusnya Ibu bisa menjadi tempat untuk kamu berkeluh kesah, tapi kenyataannya Ibu tidak pernah punya waktu untuk kamu." kata Bu Halimah sambil memeluk Ella dengan erat.


"Ibu tidak salah, wajar jika Ibu tidak tahu, karena aku memang tidak pernah menceritakannya pada Ibu. Aku malu untuk mengakuinya Bu." ucap Ella sambil membalas pelukan Ibunya.


"Ella, apa Kairi tidak bisa menerima masa lalu kamu?" tanya Bu Halimah sambil melepaskan pelukannya, beliau menatap Ella dengan lekat-lekat.


"Kairi bisa menerima Bu, tapi...tadi Andra kesini, dan bilang jika selama ini dia mencintaiku, hanya saja ia terlambat menyadari perasaannya. Aku takut jika Kairi tahu Bu, aku takut itu akan berakibat buruk pada hubungan kita." jawab Ella sambil menunduk.


"Ella, kenapa jadi serumit ini!" ucap Bu Halimah sambil kembali memeluk Ella.


"Aku juga tidak mengerti Bu." kata Ella dengan pelan.


"Ya Allah berikanlah jalan yang terbaik untuk anakku." ucap Bu Halimah dalam hatinya.


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, namun Andra belum juga pulang, ia masih berada di apartemennya. Ia duduk di sofa sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan pening. Entah sudah berapa botol, vodka yang ia habiskan. Botol kosongnya terlihat bergeletakan begitu saja di lantai.


Sambil memejamkan matanya, Andra meraba, mencoba meraih botol vodka yang berada diatas meja. Setelah ia berhasil meraihnya, ia kembali menengguknya hingga tandas, dan melemparkan botolnya begitu saja. Andra tidak peduli entah botol itu akan pecah atau tidak.


Dalam keadaan setengah sadar setengah mabuk, samar-samar Andra mendengar suara wanita yang sedang memanggil namanya. Suaranya sama persis dengan suara Ella, Andra menajamkan pendengarannya, mencari tahu ini hanya ilusi atau memang nyata.


Dan tak berapa lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Tampak di sana seorang wanita cantik memakai dress biru muda sedang berdiri sambil menatapnya.


Andra tersentak kaget, ternyata ini nyata bukan ilusi. Dengan sempoyongan ia beranjak dari duduknya, dan berusaha melangkah mendekati wanita itu.


"Andra, apa yang kau lakukan?"


"Ella, ternyata itu benar-benar kau." kata Andra sambil tersenyum.


Ia melangkah lebih dekat, dan berusaha untuk menyentuhnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2