Tentang Rasa

Tentang Rasa
Tiba Di Bandara Juanda


__ADS_3

Lelaki itu berjalan semakin mendekatinya, dan akhirnya Ella benar-benar yakin, jika itu adalah sosok yang sangat ia kenal.


"Riky!" panggil Ella.


Lelaki itu menoleh, dan menatap Ella lekat-lekat. Ia memandangnya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, memastikan jika wanita yang berdiri dihadapannya, adalah wanita yang dulu pernah menjadi temannya.


"Kamu Ella kan?" tanya Riky memastikan.


"Iya." jawab Ella sambil tersenyum.


"Sudah lama kita tidak bertemu, kau semakin cantik saja." teriak Riky sambil memeluk Ella dengan erat. Rasanya tidak percaya jika Ella tiba-tiba berdiri di sini, karena dari kabar yang ia dengar, sejak lulus SMA Ella pergi ke London.


"Eggheem... Eggheem...!!" Kairi berdehem dengan keras, dan menatap Riky dengan tajam.


Sontak Riky langsung melepaskan pelukannya. Nyalinya menciut saat melihat tatapan Kairi yang seakan-akan menelannya hidup-hidup.


"Dia siapa El, kekasih kamu?" tanya Riky dengan pelan.


"Iya." jawab Ella sambil mengangguk.


"Kamu yakin El menjalin hubungan sama dia, soal wajah sih memang tampan. Tapi tatapannya itu lho, mengerikan. Kamu tidak takut mati muda El, punya pasangan seseram dia." kata Riky sambil melirik Kairi.


"Jangan sembarangan bicara, kita saling mencintai Rik." ucap Ella.


"Kau tidak cocok sama dia El, kau..." belum sempat Riky meneruskan kalimatnya, tiba-tiba kerah kemejanya sudah dicekal oleh Kairi.


"Kau berani bicara lagi, aku pastikan kepalan tangan ini akan merontokkan gigimu!" bentak Kairi sambil mengepalkan tangannya didepan wajah Riky.


Tubuh Riky gemetaran, Kairi sedang mencekal kerahnya hingga ia tidak bisa lari. Dan Kairi juga menatapnya dengan sangat tajam, juga kepalan tangan yang sudah berada didekat wajahnya. Bagaimana jika lelaki ini benar-benar mendaratkan kepalannya di giginya, ahh membayangkannya saja rasanya sudah ngilu.


"Wajahnya bule, tapi kenapa dia bisa bahasa Indonesia. El kamu bertemu bule gila seperti ini dimana sih, seram sekali, apa jangan-jangan dia ini mafia ya." batin Riky dalam hatinya.


"Kai lepaskan dia." kata Ella dengan pelan sambil menurunkan tangan Kairi yang sudah mengepal.


Dan dengan gerakan cepat, Kairi melepaskan kerah kemeja Riky.


"Dia Riky, temanku waktu di SMA dulu." kata Ella sambil menatap Kairi.


"Aku tidak peduli siapa namanya." sahut Kairi dengan cepat.


Dan belum sempat Ella ataupun Riky menjawab ucapan Kairi, tiba-tiba Varrel sudah datang mendekati mereka.


"Kalian saling kenal?" tanya Varrel sambil menatap Ella dan Riky.


"Iya, dulu kita teman waktu di SMA." jawab Ella.


"Teman? Apa dia sahabat yang kamu ceritakan waktu itu?" tanya Varrel dengan ragu-ragu. Mungkinkah sahabat yang pernah dicintai Ella itu adalah sepupunya?


"Benarkah dia sahabat kamu sayang, dia jelek dan juga tidak punya sopan santun. Apa yang kau lihat darinya?" batin Kairi sambil menatap Riky.


"Bukan, kita hanya teman." jawab Ella.


"El kamu kenal sama Varrel?" tanya Riky sambil melirik Kairi, takut jika bule itu akan kembali menyerangnya.


"Tentu saja, dulu kita kuliah di Universitas yang sama." jawab Ella.


"Benarkah? Wah kau sangat beruntung Rel. Kau tahu Ella ini sangat cerdas, otaknya melebihi komputer, dari SMP sampai SMA dia selalu meraih peringkat pertama, keren kan." kata Riky sambil menatap Varrel.


"Jangan bicara soal kecerdasan didepan dia Rik, aku jadi malu. Kau tahu waktu ujian masuk dulu, dia meraih peringkat ke-4, dan aku meraih peringkat ke-98. Sekarang kau tahu kan kecerdasan dia setinggi apa." sahut Ella sambil terkekeh.


"Benar Rel? Aku tidak menyangka kau secerdas itu, ahh dari dulu memang hanya aku yang berotak payah." kata Riky sambil menggaruk kepalanya.


"Aku biasa saja, tidak secerdas itu." sahut Varrel sambil tersenyum.


"Oh ya Rik, sejak kapan kau berada di Jakarta? Dan kulihat hubunganmu dengan Varrel cukup dekat, kalian sudah lama saling mengenal?" tanya Ella sambil menatap Riky.


"Sejak lulus SMA aku tinggal di Jakarta El, aku kuliah di sini. Dan Varrel, dia adalah sepupuku, sejak kecil kita sudah saling mengenal." jawab Riky sambil tersenyum.


"Oh begitu ya, dulu aku langsung pergi ke London, jadi aku tidak tahu teman-temanku kuliah dimana. Yang aku tahu hanya Vino, dia tetap kuliah di Surabaya." ucap Ella.


"Iya, sekarang dia sudah menjadi pengacara hebat, orang tuanya mulai membanggakan dia." kata Riky.


"Wah syukurlah, dulu waktu pesta kelulusan, dia berjanji akan menjadi orang hebat saat aku kembali, tidak kusangka ternyata dia menepati janjinya." ucap Ella sambil tersenyum.


Ia teringat saat pesta kelulusan waktu itu, Vino adalah satu-satunya orang yang memberikan semangat untuknya.


"Vino, kedengarannya kamu punya hubungan dekat dengan dia. Apakah dia sahabat kamu Gabriella." batin Kairi sambil menatap Ella.


"Kariernya cukup bagus El, tapi kisah cintanya yang tidak bagus. Kau tahu sampai sekarang dia masih sendiri, belum punya pasangan." kata Riky.


Dan belum sempat Ella menjawab, tiba-tiba Kairi sudah menyahutnya lebih dulu.


"Sayang kamu masih ingat kan, kalau aku masih ada disebelah kamu." sahut Kairi dengan kesal.

__ADS_1


"Jangan merajuk, aku hanya bertemu dengan teman lama Kai, maaf ya sudah mengabaikan kamu." ucap Ella sambil menggenggam tangan Kairi.


"Aku haus, kita mengambil minum yuk!" ajak Kairi.


"Ayo." jawab Ella.


"Tuan Aliensky kita permisi dulu." ucap Kairi sambil menatap Varrel.


"Iya, silakan dinikmati hidangannya." jawab Varrel sambil tersenyum.


"Varrel, Riky, aku permisi dulu ya." kata Ella.


"Iya." jawab Varrel dan Riky bersamaan.


Varrel menatap kepergian Ella dan Kairi, Kairi merangkul pinggang Ella dengan mesra, ahh mereka memang pasangan yang serasi. Ella begitu cantik, dan Kairi juga begitu tampan. Varrel tersenyum hambar saat mengingat tentang masa itu, ia menemani Ella mencari hadiah dan gaun untuk pesta pernikahannya Dimas. Meskipun lelah, namun Varrel merasa sangat bahagia saat melihat Ella memakai gaun warna biru muda yang sangat indah. Dan sekarang gaun itu sedang dipakainya.


"Rik!" panggil Varrel sambil menatap Riky.


"Ada apa?" tanya Riky.


"Vino yang kalian bicarakan tadi, apakah dia sahabatnya Ella?" tanya Varrel.


"Bukan, Vino dan Ella hanya berteman. Tapi Rel, kok kamu bisa tahu kalau Ella punya sahabat, hubungan kalian cukup dekat ya?" Riky balik bertanya.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti kita dekat atau tidak. Kau tahu lebih dari lima kali Ella menolak cintaku." jawab Varrel sambil tertawa.


"Kau serius?" tanya Riky.


"Iya, dulu alasannya karena dia ingin fokus kuliah. Tapi akhirnya ia jujur, jika sebenarnya dia mencintai orang lain, dan itu adalah sahabatnya. Aku masih mengejar dia, karena kufikir sahabatnya ada di Indonesia jadi aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan cintanya. Tapi kemudian, Kairi datang mendekati Ella, dan aku mundur karena Kairi terlalu sempurna untuk menjadi sainganku." kata Varrel dengan panjang lebar.


"Ella menyukai sahabatnya?" tanya Riky sambil menoleh menatap Varrel.


"Iya, kenapa?" Riky balik bertanya.


"Aku malah tidak tahu, jika Ella menyukai sahabatnya. Dulu memang banyak yang menyukainya, dan Ella tidak pernah menanggapinya. Aku kira karena dia ingin fokus dengan sekolahnya, jadi ternyata karena dia menyukai sahabatnya." ucap Riky.


Dia teringat akan kata-kata Vino dulu, Vino selalu berpendapat jika Ella dan Andra sebenarnya sama-sama menyimpan rasa.


Dan sekarang terbukti, jika dulu Ella memang mencintai Andra. Lalu bagaimana dengan Andra, mungkinkah dia juga pernah mencintai Ella?


"Seperti apa sahabatnya Ella?" tanya Varrel.


"Soal wajah memang tampan, tidak kalah dari bule tadi. Tapi kepribadiannya jauh dari kata baik, rasanya aneh jika Ella bisa menyukainya, mengingat kepribadian Ella yang sebaik itu." jawab Riky.


"Tentu saja aku kenal, namanya Andra dulu dia juga menjadi sahabatku. Sekarang dia sudah menjadi direktur di perusahaan Ibunya, dan dari kabar terakhir yang aku dengar, katanya sebentar lagi dia akan tunangan." ucap Riky.


"Oh begitu ya." kata Varrel sambil mengangguk-angguk.


"Kenapa dulu kau tidak bilang padaku, jika kau menyukai Ella. Tahu begitu kan aku bisa membantumu, daripada dia punya kekasih bule yang mengerikan seperti itu." kata Riky sambil menatap Varrel.


"Kau jangan sembarangan, kita hanya butiran debu, jika dibandingkan dengan dia. Kau lihat wajahnya ganteng maksimal, dan asal kau tahu kekayaannya setinggi langit. Perusahaan Ayahnya cukup berpengaruh di Benua Eropa, dan dia adalah anak tunggal, sekarang kau bisa bayangkan secerah apa masa depannya." ucap Varrel.


"Begitu ya, pantas saja tatapannya tajam dan menyeramkan, ternyata dia dari golongan atas ya." kata Riky sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu sebabnya aku memilih mundur, karena tidak mungkin bisa menang kalau bersaing dengan dia. Tapi aku mundur ada hikmahnya juga Rik, buktinya sekarang aku bisa menikah dengan Callista, wanita yang tidak kalah sempurnanya dengan Ella." ucap Varrel sambil tersenyum.


"Iya kau sangat beruntung bisa mendapatkan bule secantik Callista, tidak seperti aku yang sampai sekarang masih remang-remang." kata Riky sambil tertawa.


"Memangnya Felisya tidak cocok?" tanya Varrel.


"Kalau aku sih cocok saja, tapi entahlah kalau dia." jawab Riky sambil tersenyum nyengir.


"Kamu belum pernah mengungkapkan perasaan kamu?" Varrel kembali bertanya.


"Belum, takut ditolak." jawab Riky.


"Ahh payah, jadi lelaki itu harus pemberani. Yang penting harus diungkapkan, masalah ditolak atau diterima percayakan saja pada takdir." kata Varrel sambil tertawa.


"Aku bukan kamu, yang tidak punya malu meskipun ditolak sampai lima kali." sindir Riky.


Varrel menanggapinya dengan tawa yang semakin keras.


***


Ella mengerjapkan matanya dengan perlahan, ia menguap sambil menggeliat pelan. Tubuhnya masih enggan untuk diajak bangkit meninggalkan ranjang. Dan akhirnya ia hanya membalikkan badannya dan kembali memeluk guling. Namun beberapa detik kemudian suara dering dari ponselnya memaksa Ella untuk membuka matanya, dan beranjak dari tidurnya.


Dengan malas Ella duduk, dan meraih ponselnya yang berada diatas meja.


"Hallo." sapa Ella dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia langsung mengangkatnya, tanpa melihat dulu siapa penelfonnya.


"Sayang kamu baik-baik saja kan, dari tadi aku mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari kamu." kata seseorang yang menelfonnya, yang ternyata adalah Kairi.


"Tunggu sebentar." ucap Ella sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah mendekati pintu, dan membukanya.

__ADS_1


Kairi sedang berdiri didepan pintu kamarnya sambil membawa nampan berisi makanan.


"Masuklah!" kata Ella sambil mengucek matanya.


"Kamu baru bangn?" tanya Kairi sambil melangkah masuk, dan meletakkan nampannya diatas meja.


"Aku masih ngantuk Kai, rasanya tubuhku sangat lelah." ucap Ella sambil menguap.


Kairi menatap Ella yang sedang duduk di sofa, gaun yang dipakainya semalam, sekarang masih melekat di tubuhnya.


Lalu Kairi mendekati Ella, dan duduk disebelahnya.


"Mau aku pijat?" tanya Kairi sambil merapikan rambut Ella yang masih berantakan.


"Tidak!" jawab Ella dengan cepat.


"Kenapa?" tanya Kairi.


"Kau mesum." jawab Ella.


"Hei jangan sembarangan, aku tidak macam-macam. Aku hanya ingin memijatmu, karena kulihat kau sangat lelah." kata Kairi sambil menatap Ella.


"Tidak." jawab Ella.


"Ya sudah, kalau begitu makanlah!" kata Kairi sambil beranjak dari duduknya, dan melangkah mengambil nampan yang tadi ia bawa.


"Aku cuci muka dulu Kai." ucap Ella saat Kairi menyodorkan nampannya.


"Makan saja dulu, setelah itu langsung mandi. Kita tidak punya banyak waktu sayang. Penerbangan kita tinggal dua jam lagi." kata Kairi.


"Hah!! Memangnya sekarang jam berapa?" teriak Ella.


"Jam 7 sayang, dan penerbangan kita jam 9." jawab Kairi.


"Aduh kenapa aku bisa bangun sesiang ini. Gara-gara kamu Kai, semalam mengajakku pulang larut." ucap Ella sambil menyuap makanannya.


"Kamu tidak salah sayang, bukannya semalam kamu ya yang keasyikan ngobrol dengan Callista sampai lupa waktu." kata Kairi sambil menaikkan alisnya.


"Hehehe maaf." ucap Ella sambil tertawa.


"Ya sudah makanlah, setelah itu bersiap-siap, aku tunggu di kamar." kata Kairi.


"Kau tidak makan?" tanya Ella.


"Aku sudah kenyang sayang, dan aku juga sudah mandi, kamu lihat kan aku sudah tampan." goda Kairi.


"Tetap jelek." kata Ella dengan cepat.


"Tidak apa-apa jelek, asalkan bisa membuatmu merona." ucap Kairi.


"Apa maksud kamu?" teriak Ella.


"Tidak ada, hanya saja aku melihat pipimu mulai memerah." kata Kairi sambil melangkah menjauhi Ella.


"Kairi!" teriak Ella.


Dan Kairi menanggapinya dengan tawa kerasnya.


***


Tepat pukul 09.00 Ella dan Kairi sudah duduk didalam pesawat yang akan membawanya ke Bandara Juanda. Jantung Ella berdetak semakin cepat saat pesawat mulai lepas landas. Hanya dalam hitungan menit dia akan sampai di Surabaya, sebuah kota yang menjadi tanah kelahirannya. Sebuah kota yang di sana ada keluarganya, teman-teman lamanya, sahabatnya, dan juga cinta pertama kekasihnya.


Ella menunduk menatap kakinya yang saat itu sedang memakai sepatu warna putih. Perasaan gelisah kembali menyeruak direlung hatinya.


Disebelahnya, Kairi juga menunduk, ia larut dalam fikirannya sendiri.


Beberapa menit lagi dia akan menginjakkan kakinya di kota yang pernah memberikan luka mendalam dihatinya. Luka yang bahkan sampai saat ini pun masih menganga.


"Aku datang kembali, mungkin hanya dalam hitungan jam kita akan bertemu lagi. Dan kuharap dengan pertemuan kita kali ini, hubungan kita bisa membaik." batin Kairi didalam hatinya.


Tak terasa detik dan menit bergulir begitu cepat, pesawat yang membawa Ella dan Kairi kini sudah mendarat di Bandara Juanda.


Ella merasa terharu saat kakinya sudah melangkah keluar dari pesawat. Ia teringat kala itu, ditempat ini ia menangis memeluk Ibunya saat hendak berangkat ke London. Kini ia sudah kembali lagi dengan membawa keberhasilan, ia sudah menjadi arsitek, dan bisa membangunkan toko untuk Ibunya, cita-citanya benar-benar terwujud.


"Apa kau senang sayang?" tanya Kairi sambil menggandeng tangan Ella.


"Aku terharu Kai." jawab Ella sambil mengusap air matanya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu." ucap Kairi sambil memeluk Ella.


"Karena aku juga merasakan hal yang sama. Tapi bedanya, kedatanganmu disambut dengan baik, sedangkan aku, entahlah...


Aku tidak berani berangan-angan, aku takut kembali terluka." batin Kairi sambil memejamkan matanya. Berusaha menepis semua luka yang kembali melintas diingatannya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2