Tentang Rasa

Tentang Rasa
LAGI?


__ADS_3

Netta hanya diam saja.


" Ayo, sayang! Bangunlah! Kita pulang!" kata Max.


Netta bergeming ditempatnya.


" Kamu bisa tidur dirumah!" kata Max lagi.


Tapi tetap masih tidak ada respon dari wanita itu.


" Sayang!" panggil Max, dia menggerakkan tubuh Netta dan betapa terkejutnya Max saat tubuh Netta terasa lemas dan hampir terjatuh kesamping.


" Arnetta! Bangun! Arnetta! Jangan bergurau! Sayang!" ucap Max panik.


Max melepas penyatuan mereka dan meletakkan Netta ke kursi samping. Betapa terkejutnya pria itu saat melihat ada darah membasahi kaki Netta.


" Ya, Tuhan, Arnetta! Kamu kenapa, sayang! Ya, Tuhan! Apa yang aku lakukan? Sayang, Kamu harus baik-baik saja, atau aku akan membencimu seumur hidupku!" teriak Max sedih.


Ditariknya tubuh Netta ke belakang lalu diambilnya sebuah handuk didalam kotak kecil di mobilnya. Disekanya tubuh Netta dan dipakaikannya kaos miliknya yang ada di kotak belakang. Setelah dia juga membersihkan diri, dia memakai pakaian dan menidurkan Netta di kursi belakang.


" Halo! Erik!"


" Max?"


" Apa lo di RS sekarang?"


" Iya!"


" Tunggu gue di depan IGD!"


Max mematikan panggilannya dan memacu mobilnya dengan cepat sambil sesekali melihat ke arah spion dalam yang menampilkan sosok Netta yang terbaring disana.


" Please, don't leave me again!" ucap Max takut.


Beberapa saat kemudian Max sampai di depan IGD, disana Erik telah siap dengan 2 orang perawat laki-laki di depan pintu. Max turun dan menyambar selimut yang ada diatas Brankar yang dibawa perawat itu. Dengan cepat dia membuka pintu mobilnya dan menutupkan selimut itu pada tubuh Netta.


" Ada apa, Max? Kenapa lo..." Erik terdiam saat dilihatnya Max menggendong seorang wanita dan meletakkannya di atas brankar.


" Lakukan semua yang lo bisa! Selamatkan dia atau..."


" Wowww, sabar, bro! Gue akan melakukan yang terbaik!" jawab Erik.


Lalu dia menyusul brankar yang sudah masuk duluan. Ponsel Netta berbunyi di dalam tas Netta yang sengaja dibawa oleh Max masuk ke rumah sakit. Max melihat nama Baby M tertera di layar ponsel. Baby...M? Apq dia putranya? Kenapa dia menamakan putranya Baby M? batin Max, diangkatnya ponsel itu.


" Mommy!"


" Mom? Is it you?"


" Hello!"


" Who...is this?"


" This is Max...your mother's employee!"


" Where is my mom?"


" She's in the hospital!"


" What? What happend? Is she alright?"


" I don't know, Doctor still examine her!"

__ADS_1


" Please, save my mom!"


" Hey, dont worry, i will take care of her!"


" Promise me you will take care of her!"


" I promise!"


Thank you! Where she is?"


" I share the location!"


Lalu dia mematikan panggilannya dan mengirim lokasinya. Apakah ini Baby...M? Max membuka galeri foto Netta. Di dalamnya terdapat banyak foto Netta saat hamil dan menggendong Axon. Lalu foto Axon saat bayi hingga sekarang. Mata Max tertuju pada Personal File. Dia mencoba membuka password yang mengunci berkas tersebut. Dia mencoba tanggal lahir Netta, tidak bisa! Tanggal lahir Baby M! Tidak bisa? Jarinya bergetar saat memasukkan tanggal lahirnya, terbuka! Max menekan berkas itu dan terlihatlah foto-foto dirinya beserta tanggalnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang saat mendengarkan video tentang Axon.


Max! Ini adalah Maxon S. Greyson! Dia adalah putra kita! Kamu nggak akan percaya, bukan? Saar aku tahu aku hamil, aku bermaksud mengatakannya padamu tepat di pesta ulang tahun perusahaanmu! Sesuai keinginanmu dulu, aku memberikan nama Maxon! Aku berharap suatu hari nanti kamu akan bisa mengenal dia dan dekat dengannya


Netta merekam dirinya di sebuah video pendek sambil menggendong Baby M Dia membuka file demi file yang berisikan tentang perkembangan putranya. Tanpa terasa airmatanya berlinang dan menetes dipipinya. Dia merasa terharu dan menyesal secara bersamaan melihat dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya sedang bersama tanpa ada dirinya disisi mereka.


Dia sangat mirip denganmu! Kalau makan telur bulet nggak mau yang kuningnya, tapi kalau telur mata sapi nggak mau yang putihnya


Sekali lagi Max tertawa melihat vidio Axon sedang makan telur saat mereka jalan-jalan di taman. Saat Max sedang menikmati kebahagiaan kecil dalam vidio itu, datang seseorang memanggilnya.


" Max!" panggil orang itu.


Max melihat ke arah orang tersebut. Bug! Sebuah pukulan mendarat di wajah tampan Max.


" Mikeee!" teriak Diana.


" What?" sahut Mike marah.


" Dimana Netta?" tanya Diana pada Max yang terhuyung ke belakang akibat pukulan keras Mike. Sudut bibirnya terasa perih akibat sobek dan berdarah.


" Di dalam!" jawab Max yang mengerti kenapa Mike melakukan itu.


Max tidak mungkin menceritakan semuanya dengan jelas.


" Hanya sedikit kecelakaan saja!" jawab Max, tiba-tiba matanya tertuju pada sosok kecil yang berdiri disamping Diana.


Ya, Tuhan! Apa dia...! batin Max menerka-nerka. Wajahnya sangat mirip denganku saat kecil dulu! batin Max lagi. Tiba-tiba anak tersebut memberikan sebuah sapu tangan padanya. Max menerima sapu tangan tersebut dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


" Menjauh dari orang itu, A...Boy!" kata Mike marah.


Axon menuruti Mike dan menjauh dari Max. Max kesal dengan apa yang dilakukan Mike, tapi dia harus sadar jika Mike lah yang selama ini menjaga mereka berdua.


" Max!" panggil Erik.


" Bagaimana keadaannya?" tanya Max berlari mendekati Erik diikuti Diana dan Mike.


" Bisa kita bicara berdua?" tanya Erik.


" Kenapa berdua? Aku mantan suaminya!" kata Mike dan membuat Diana cemberut.


" Maksudku kami adalah keluarganya!" ralat Mike saat melihat wajah kesal istrinya, dia menyadari kesalahannya.


" Nyonya Netta tidak apa-apa, kami sudah memindahkan ke ruang VVIP!" kata Erik.


" Apa aku bisa kesana melihat mommy?" tanya Axon.


Erik menatap Axon dengan wajah terkejut.


" Kamu..."

__ADS_1


" Ayo kita bicara!" potong Max.


" Suster! Antar mereka ke ruang Nyonya Netta!" kata Erik pada seorang perawat yang keluar dari ruang IGD.


" Iya, Dok! Mari, silahkan!" kata perawat itu.


" Hei! Kalian..."


" Mike Banner!" panggil Diana gemas pada suaminya.


Mike langsung diam dan menunduk takut.


" Ayo, sus!" ajak Diana.


Mike menggendong Axon dan berjalan mengikuti Diana.


Setelah mereka pergi, Erik berjalan menuju ke ruangannya, diikuti oleh Max.


" Apa ada yang serius?" tanya Max takut.


" Apa lo kena penyakit Raja Singa?" tanya Erik.


" Apa? Apa lo gila? Tentu saja tidak!" jawab Max emosi.


" Kenapa dia bisa sampai pendarahan saat kalian berhubungan?" tanya Erik langsung.


" Lo...tahu?" tanya Max malu.


" Gue dokter! Tentu saja gue tahu!" jawab Erik kesal.


" Jadi lo melihat milik dia? Dasar brengsek!" kata Max marah.


Bugh! Dia memukul wajah Erik.


" Are you crazy? Gue dokternya, bodoh! Kalo nggak dilihat gimana gue tahu?" teriak Erik yang marah dan kesakitan akibat pukulan di wajahnya.


" Dasar dokter mesum..."


Max sudah hampir memukul Erik lagi jika dokter itu tidak membela diri.


" Bukan gue yang liat! Tapi Vivian!" kata Erik.


" Jangan lagi bikin gue marah!" kata Max kesal.


"Sorry, bro! Gue tadi bercanda!" kata Erik tersenyum kecut.


" Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Max khawatir.


" Mereka baik-baik saja! Asal kamu puasa dulu selama sebulan penuh!" jawab Erik.


" Apa? Puasa apa?" tanya Max.


" Tunggu! Me...reka?" tanya Max mengerutkan keningnya.


" Iya! Netta hamil 4 minggu lebih! Dan lo harus puasa sampe dia pulih kembali!" kata Erik.


" A...apa?" tanya Max tidak tahu harus bicara apa.


Untuk sesaat dia tertegun, lalu dia tersenyum sambil meneteskan airmata.


" Gue akan jadi ayah...lagi?" tanya Max yang jatuh bersimpuh.

__ADS_1


" Max?!" panggil Erik kaget.


__ADS_2