Tentang Rasa

Tentang Rasa
Keputusan Nadhira


__ADS_3

Disebuah kursi, didekat kolam renang, dibelakang rumahnya. Nadhira sedang duduk bersama dengan kedua orang tuanya. Mereka menikmati secangkir teh hangat, sambil menatap sang surya yang hendak merangkak ke peraduannya.


"Nadhira!" panggil Pak Ramdan sambil menatap anak gadisnya.


"Iya Pa." jawab Nadhira sambil menoleh.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu ini? Pernikahan bukanlah mainan Nadhira, fikirkanlah dengan matang-matang. Kau baru saja gagal dalam menjalin hubungan dengan Andra, dan sekarang kau menjalin hubungan dengan Vino. Apa kau yakin dengan pilihanmu ini?


Dua tahun lebih kau menjalin huhungan dengan Andra, dan ternyata berakhir kandas. Dan sekarang belum ada seminggu kau menjalin hubungan dengan Vino, kau sudah berencana untuk menikah." kata Pak Ramdan sambil menatap Nadhira yang sedang menunduk.


"Jangan hanya karena rasa malu, kamu mengorbankan masa depanmu Nadhira. Mama tahu kau kecewa dengan gagalnya pertunangan ini, kau merasa malu karena sudah banyak yang mengetahui rencana ini. Tapi juga bukan berarti kamu harus menikah dengan sembarang orang Nadhira." sahut Bu Yuni sambil memegang bahu anaknya.


Setelah kedua orang tuanya selesai berbicara, Nadhira mengangkat wajahnya. Menatap daun pucuk merah yang bergerak-gerak, karena tertiup angin.


"Aku melakukan ini, bukan karena rasa malu Ma. Aku memutuskan untuk menikah dengan Vino, karena aku ingin masa depanku bahagia. Aku harap Mama, dan Papa bisa merestui niatku." ucap Nadhira dengan pelan.


"Mencintai membuat aku sakit Ma, jadi tidak salahkan jika sekarang aku memilih untuk dicintai." batin Nadhira dalam hatinya.


"Apa kamu mencintai Vino?" tanya Pak Ramdan.


Nadhira menggeleng, dan itu membuat kedua orang tuanya mengernyit heran.


"Kamu tidak mencintainya, tapi kamu berencana menikah dengannya. Apa maksud kamu Nadhira?" tanya Bu Yuni.


"Dulu aku mencintai Darren Ma, tapi ternyata dia mengkhianatiku. Lalu aku mencintai Andra, aku selalu mengalah demi dia, aku berusaha mempertahankan hubungan kami. Tapi nyatanya apa Ma, dengan mudahnya hubungan ini juga kandas." kata Nadhira. Ia menggigit bibirnya, dadanya terasa sesak setiap kali mengingat tentang masa lalunya.


Ia mengalihkan pandangan matanya pada beningnya air kolam yang sedikit beriak, karena hembusan angin sore.


"Tidak salah kan Ma, jika sekarang aku lebih memilih untuk dicintai. Vino mencintaiku sejak lama, sejak kami masih duduk dibangku SMA. Begitu tulus perasaan dia Ma, aku yakin dia tidak akan pernah menyakitiku, dia berbeda, tidak seperti lelaki lain yang pernah aku kenal." sambung Nadhira.


"Apa kau menjadikan dia sebagai pelarian Nadhira?" tanya Bu Yuni.


"Tidak Ma." jawab Nadhira sambil menggeleng.


"Aku akan belajar mencintai dia. Aku yakin, hanya dia yang bisa membahagiakan aku Ma." sambung Nadhira sambil menatap Ibunya.


"Jika kau sudah yakin dengan keputusanmu, baiklah. Papa dan Mama akan merestui kamu untuk menikah dengan Vino. Kapan dia akan datang menemui Papa?" tanya Pak Ramdan.


"Nanti malam Pa, dia akan datang kesini bersama orang tuanya." jawab Nadhira.


"Bagus, Papa akan menunggunya." ucap Pak Ramdan sambil tersenyum.


"Iya Pa, kalau begitu aku masuk dulu ya sekarang." kata Nadhira sambil beranjak dari duduknya.


"Iya." jawab Pak Ramdan, dan Bu Yuni secara bersamaan.


Bu Yuni menatap kepergian Nadhira dengan raut wajah yang sedikit sendu.


"Mas!" panggil Bu Yuni sambil menatap suaminya.


"Ada apa Ma?"


"Aku kok kasihan ya Mas sama Nadhira. Dia seperti wanita yang sudah menyerah, tidak punya semangat lagi untuk mencari cintanya. Apakah dia akan bahagia Mas menikah dengan Vino. Aku rasa dia masih mencintai Andra." ucap Bu Yuni sambil menghela nafas panjang.


"Menikah dengan lelaki seperti Vino, itu jauh lebih baik Ma. Daripada tetap mencintai lelaki berengsek seperti Andra. Nadhira sudah dewasa, kita harus percaya padanya. Dia pasti sudah betul-betul memikirkannya, sebelum memutuskan untuk menikah. Lagi pula Vino juga lelaki yang baik, Papa kenal dengan orang tuanya." kata Pak Ramdan sambil menatap istrinya.


"Begitukah Mas?"


Pak Ramdan menanggapi pertanyaan istrinya, dengan anggukan dan senyuman.


Sementara itu, Nadhira berdiri termenung didekat jendela kamarnya. Menatap sang surya yang semakin meredup, di ufuk barat. Membiarkan sang angin memainkan rambutnya, yang saat itu hanya digerai begitu saja.


"Keputusan ini pasti akan membuatku bahagia. Aku lelah mencintai, karena selalu berakhir dengan luka. Vin, aku mempercayakan hidupku padamu, semoga kamu tidak mengecewakan aku. Aku akan selalu belajar, dan burusaha untuk mencintai kamu. Semoga kamu menjadi lelaki terakhir dalam hidupku Vin." ucap Nadhira seorang diri.


Nadhira mengangkat wajahnya, menatap mega-mega putih yang mulai berwarna jingga. Dulu ia sering sekali menikmati suasana senja bersama Andra, lelaki yang sangat dicintainya, yang pernah menjadi kekasihnya.


"Tidak heran kamu menyukai senja Ndra, karena kau sendiri juga ibarat senja. Meskipun teramat indah, namun kehadiranmu hanya sekejap saja. Kau memadamkan cahaya cinta dalam hatiku Ndra. Sama seperti senja, yang memadamkan siang menjadi malam." ucap Nadhira sambil menatap semburat sinar jingga yang tampak indah, dan mempesona. Namun menyisakan luka tersendiri dalam diri Nadhira.


Disaat Nadhira sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba ponsel diatas mejanya berdering. Nadhira melangkah, dan mengambil ponselnya. Ternyata Vino yang sedang menelfonnya, Nadhira tersenyum sambil meraih ponsel itu.


"Kau memang selalu ada untukku Vin. Terima kasih atas semua perasaanmu untukku, aku berjanji tidak akan pernah melukai kamu. Karena aku tahu betapa sakitnya terluka, karena cinta." ucap Nadhira dengan pelan.


"Hallo Vin." sapa Nadhira.


"Hallo Nadhira, kamu sedang apa?" tanya Vino dari seberanh sana.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya diam didalam kamar." jawab Nadhira.


"Tidak melamun kan?" tanya Vino.


"Tidak. Lagipula kalaupun aku melamun, itu juga melamunkan kamu Vin." ucap Nadhira sambil menahan seyumannya.


"Sejak kapan kau pandai menggoda?" tanya Vino sambil tertawa.


"Sejak menjalin hubungan dengan kamu." jawab Nadhira.


"Sepertinya kau salah makan Nad."


"Bukan salah makan Vin, tapi kebanyakan makan." ucap Nadhira.


"Memangnya kamu makan apa?" tanya Vino dengan serius.


"Makan cinta dari kamu." jawab Nadhira.


"Oh My God, kamu demam ya Nad." kata Vino.


"Iya, mau dilamar seseorang aku jadi demam Vin." ucap Nadhira.


"Bukan dilamar Nad."


"Lalu?"


"Dinikahi."


"Belum ya, nanti malam itu cuma melamar." ucap Nadhira.


"Nikahnya besok pagi sayang." kata Vino.


"Jangan aneh-aneh Vin. Ini pernikahan, jangan disamakan dengan beli kopi." ucap Nadhira.


"Ada kemiripannya Nadhira, sama-sama mencari kehangatan. Aku benar kan?" goda Vino.


"Oh jadi kamu mau menikahi aku cuma karena itu ya." sindir Nadhira.


"Tentu saja, tapi kamu jangan salah, maksudku itu kehangatan dalam hubungan dua keluarga. Fikiranmu jangan kemana-mana ya."


"Sialan kamu Vin." gerutu Nadhira.


"Tidak ada." jawab Nadhira dengan cepat.


"Tidak apa-apa kamu memikirkannya Nad, itu malah bagus. Anggap saja belajar, biar nanti tidak terlalu kaku." kata Vino dengan santainya.


"Apa maksud kamu?" bentak Nadhira.


"Yang aku maksud, sama dengan yang kamu fikirkan." jawab Vino sambil terkekeh.


"Vino, diam!" bentak Nadhira.


Dan Vino tidak menjawab, ia hanya menanggapinya dengan tawa kerasnya.


"Cepat mandi, dan segera dandan. Nanti aku sampai sana, kau harus sudah cantik." kata Vino.


"Aku selalu cantik." jawab Nadhira.


"Iya aku percaya, itu sebabnya aku ingin segera menikahi kamu. Nadhira, tidak sampai satu bulan, hubungan kita akan halal." ucap Vino dengan serius.


"Iya Vin, aku menunggu hari itu." jawab Nadhira.


Dan tak lama kemudian, sambungan telfon terputus. Nadhira menatap layar ponselnya sambil tersenyum.


"Aku percayakan hatiku padamu Vin." ucap Nadhira sambil mengusap layar ponselnya.


***


Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Ella sedang berdiri di dapur, membantu Bik Surti yang sedang menyiapkan makan malam. Semua masakan sudah siap, hanya tinggal membuat minuman, dan menyajikannya saja.


"Saya senang sekali, Mbak Ella bisa menjadi bagian dari keluarga ini." ucap Bik Surti sambil menyeduh teh, dan kopi.


"Saya juga senang Bik." jawab Ella sambil menunduk. Tangannya masih setia mengupas mentimun, dan kemudian memotongnya tipis-tipis.


"Ella!" panggil Bu Mirna yang baru saja muncul di ruangan dapur.

__ADS_1


"Mama." jawab Ella sambil menoleh. Ia menatap Ibu mertuanya sambil tersenyum.


"Apa yang masih kurang, biar Mama bantu. Setelah itu kita makan malam bersama, mereka sudah menunggu di meja makan." kata Bu Mirna sambil mendekati Ella.


"Sudah selesai Ma. Tinggal membawa kesana saja." jawab Ella.


"Baiklah kalau begitu biar Mama bantu ya." ucap Bu Mirna.


"Iya Ma." jawab Ella.


"Iya Nyonya." jawab Bik Surti.


Kemudian mereka bertiga membawa semua makanannya ke meja makan. Tak lupa teh, kopi, dan air putih juga mereka siapkan di meja makan. Bu Mirna duduk disamping Pak Luois. Sedangkan Ella, ia duduk disamping Kairi, didepan Andra.


Andra kembali gelisah, saat matanya menatap sosok Ella. Ia kembali teringat dengan bekas merah di leher Ella. Dan bermacam-macam bayangan konyol, mulai mengacaukan fikirannya.


"Bisa gila aku kalau setiap hari seperti ini. Melihat wanita yang kucintai menjadi kakak iparku, itu rasanya sudah sakit. Apalagi membayangkan yang lainnya, sakitnya lebih gila El. Ahh ternyata semua ini tidak semudah yang kubayangkan. Kenapa sih El, kamu bisa menyukai dia. Tampan memang iya, tapi dia lemah seperti itu, apa yang bisa dibanggakan darinya." batin Andra dalam hatinya.


"Makan yang banyak sayang, biar sehat." ucap Kairi sambil menatap istrinya.


"Sudah banyak Kai." jawab Ella sambil menyuap makanannya. Saat itu dia memang mengambil nasinya lebih sedikit, sudah menjadi kebiasaannya untuk mengurangi porsi makannya, saat dimalam hari.


"Iya Ella, kalau badan sehat bisa cepat dapat momongan. Ahh sudah tidak sabar untuk menggendong cucu, benarkan Mas?" sahut Bu Mirna sambil menatap suaminya.


"Terserah mereka sajalah Ma, jangan memaksa. Kalau mereka inginnya berdua dulu, ya kita harus menghargainya. Mereka kan belum lama pacaran. Tapi kalau mereka inginnya cepat punya momongan, ya kita ucapkan saja Alhamdulillah." ucap Pak Louis sambil tertawa.


Ella menunduk sambil tetap mengunyah makanannya. Membahas tentang momongan membuat pipi Ella terasa panas. Ia kembali teringat tentang ucapan Kairi tadi siang, "dan nanti malam, aku akan lebih menyebalkan" aduh apa yang akan dilakukan Kairi padanya. Bukan hal yang salah, jika Kairi mengambil haknya, tapi rasanya Ella belum siap, malunya rasanya sampai ke ubun-ubun.


"Soal momongan aku terserah saja Ma. Cepat diberi juga Alhamdulillah, tidak juga tidak apa-apa. Yang penting aku selalu berusaha membuatnya. Dan...aw...sakit sayang!" teriak Kairi saat kaki kanannya diinjak dengan keras oleh Ella.


Ella menoleh, menatap Kairi yang sedang meringis kesakitan. Bisa-bisanya Kairi berbicara seperti itu. Didepan orang tuanya, didepan Andra, rasanya Ella sudah tidak punya muka, karena ucapan Kairi.


"Maaf sayang aku hanya bercanda." ucap Kairi sambil tertawa nyengir.


"Tidak lucu!" bentak Ella sambil melotot, lalu ia kembali meneruskan makannya.


Pak Louis, dan Bu Mirna menatap mereka sambil tersenyum lebar. Mereka tahu, jika menantunya adalah wanita yang sangat pemalu. Namun lain halnya dengan Andra, ia menatap mereka sambil larut dalam fikirannya sendiri.


"Benar kan dugaanku, Kairi itu memang lemah. Buktinya dia masih ragu, bisa cepat mendapatkan momongan, atau tidak. Ahh kamu Kai, seharusnya bicara saja padaku, tidak usah malu, aku pasti akan mengajarimu sampai andal. Atau kalau tidak, kau juga bisa meminjamku semalam saja, aku jamin pasti langsung jadi." batin Andra sambil melirik Ella, dan Kairi secara bergantian.


***


Seusai makan malam, Kairi dan Ella kembali ke kamarnya. Sedangkan Andra, ia masih menonton tv di ruang tengah bersama Pak Louis, dan Bu Mirna. Kairi duduk di sofa sambil memeriksa ponselnya, ada beberapa pesan penting seputar bisnisnya di London. Lalu Kairi menghubungi Reymond, tangan kanan sekaligus temannya, yang menjadi orang kepercayaannya di London. Kairi memberikan beberapa tugas pada Reymond. Setelah selesai, ia meletakkan kembali ponselnya diatas meja. Ia menoleh, menatap Ella yang sedang duduk ditepi ranjang.


"Sudah saatnya sayang. Kali ini aku tidak akan melepaskan kamu lagi." batin Kairi sambil menyunggingkan senyumannya.


"Sayang!" panggil Kairi sambil melangkah mendekati Ella.


"Kenapa Kai?" tanya Ella sambil mendongak.


"Kau belum ngantuk, tidak ingin tidur?" tanya Kairi sambil duduk disebelah Ella.


"Jika aku menjawab ngantuk, pasti Kairi akan mengajakku tidur bersama, aku takut nanti tidak akan benar-benar tidur." batin Ella dalam hatinya.


"Belum Kai." jawab Ella.


"Itu bagus." kata Kairi.


"Hah!"


"Karena belum ngantuk, jadi kau bisa menemaniku bekerja sayang. Kau mau kan?" tanya Kairi.


"Tentu saja mau, bekerjalah, dan aku akan menunggumu." jawab Ella sambil tersenyum.


"Sepertinya malam ini masih aman." batin Ella.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa bekerja sendirian, harus berdua denganmu. Karena aku akan bekerja membuat bayi lucu sayang." bisik Kairi tepat di telinga Ella. Sambil tangannya merengkuh pinggang Ella, dan mengusapnya dengan lembut.


"Ta...tapi Kai." ucap Ella dengan gugup.


"Buang rasa malumu, dan buang rasa gugupmu. Aku suamimu sayang, aku akan menyenangkanmu, dan kau harus terbiasa dengan ini." ucap Kairi sambil menarik tubuh Ella, dan membaringkannya di ranjang.


Jantung Ella berdetak semakin cepat, saat tubuh Kairi berada diatas tubuhnya dengan jarak yang begitu dekat. Mungkin malam ini, dia memang harus melepaskan kesuciannya untuk suaminya.


"Jangan takut, percaya saja padaku, ini tidak akan apa-apa." ucap Kairi sambil mengusap leher Ella. Ella memejamkan matanya, sentuhan tangan Kairi, memberikan rasa panas, dan rasa aneh yang menjalar diseluruh tubuhnya.

__ADS_1


Rasa panas yang semakin lama semakin menguasai tubuhnya. Hingga ia tak kuasa lagi untuk menolak apapun yang Kairi lakukan padanya.


Bersambung.......


__ADS_2