
Satu Minggu Kemudian.
Sang surya mulai mengintip di ufuk timur, menyorotkan cahayanya yang keemasan. Angin bertiup perlahan, menjatuhkan buliran-buliran embun pada setiap dedaunan yang diterpanya. Andra dan Bu Mirna sedang berdiri diantara bunga-bunga yang bermekaran indah di taman rumahnya.
Kondisi Bu Mirna semakin membaik, namun beliau masih diam di rumah, Andra belum mengizinkannya untuk pergi ke kantor.
"Kamu tidak ke kantor Ndra?" tanya Bu Mirna sambil sambil memetik daun bunga yang sudah menguning.
"Tidak Ma, hari ini aku akan mengantarkan Nadhira ke Malang, seminggu kedepan dia ada pemotretan di sana." jawab Andra sambil memetik bunga mawar yang berwarna putih.
"Andra jangan dipetik, biarkan saja mekar di situ!" teriak Bu Mirna sambil menatap Andra.
Bu Mirna sangat menyukai bunga, beliau sangat tidak suka jika ada yang sembarangan memetik bunganya. Dan Andra adalah satu-satunya orang yang sering memetik bunganya, dan membuangnya begitu saja.
"Cuma satu Ma." ucap Andra sambil tertawa cengengesan.
"Dasar kebiasaan!" kata Bu Mirna sambil melangkah menjauhi Andra.
"Kalau yang ini jangan sampai dipetik ya Ndra, Mama akan sangat marah kalau kamu melakukannya." ucap Bu Mirna sambil menyentuh anggrek Callus Vanda warna biru yang menggantung disudut taman.
"Iya Ma." jawab Andra dengan santainya.
"Mama serius Ndra." kata Bu Mirna sambil melotot menatap Andra.
"Aku juga serius Ma." jawab Andra sambil menaruh bunga mawarnya diatas kursi.
"Tuh kan cuma dicampakkan begitu saja, seharusnya biarkan saja tetap mekar di sana, dipandang jadi lebih indah kan." kata Bu Mirna mengomeli Andra.
"Sudah terlanjur Ma." ucap Andra sambil tersenyum.
"Sekarang sini bantu Mama!" kata Bu Mirna sambil menatap Andra.
"Bantu apa Ma?" tanya Andra sambil mendekati Bu Mirna.
"Memindahkan bunga-bunga ini kedalam pot." jawab Bu Mirna sambil menunjuk bunga mawar warna biru yang tumbuh diatas tanah.
"Untuk apa Ma, sudah bagus di situ, tidak usah dipindah." ucap Andra dengan kesal. Mengurus bunga adalah salah satu hal yang tidak disukainya.
"Lebih bagus kalau ditanam di sini Ndra." kata Bu Mirna sambil meraih pot bunga warna hitam yang berada didekatnya.
"Aku tidak mau Ma, biar Bik Surti saja yang melakukannya." kata Andra.
"Mama ingin melakukannya sendiri, dan sebagai hukuman karena kamu telah memetik bunganya Mama, jadi sekarang kamu harus membantu Mama." kata Bu Mirna tidak mau dibantah lagi.
Andra duduk berjongkok didepan Ibunya, bibirnya manyun, terlihat jelas jika ia sangat kesal.
"Isi pot ini dengan tanah!" perintah Bu Mirna sambil menyodorkan potnya kepada Andra.
"Kotor Ma." gerutu Andra sambil meraih potnya.
"Lakukan saja dan jangan banyak bicara, ini adalah salah satu cara untuk menghargai seseorang yang telah memberikan bibitnya kepada Mama." kata Bu Mirna sambil mengisikan tanah kedalam pot.
"Memangnya bibit bunga ini dari siapa?" tanya Andra.
"Ella." jawab Bu Mirna.
"Hah!!" teriak Andra. Entah kenapa tiba-tiba hatinya langsung berdebar keras. Ada apa dengan dirinya?
"Kamu kenapa?" tanya Bu Mirna sambil mengernyit heran.
"Tidak apa-apa, kapan Ella memberikannya untuk Mama?" tanya Andra dengan gugup.
"Dulu waktu kamu ada masalah dengan Suci. Ella pernah datang kesini mencari kamu, dan dia membawakan bibit bunga ini untuk Mama." jawab Bu Mirna.
"Ohh." ucap Andra. Meskipun ia menjawab ucapan Ibunya dengan singkat, namun fikirannya menerawang jauh. Ia kembali teringat akan sahabatnya.
Dengan tangan yang masih berlumuran tanah, Andra merogoh saku celananya, dan mengambil ponselnya. Andra teringat ucapan Nadhira waktu di rumah sakit kala itu. Nadhira bilang Ella mengunggah fotonya waktu di bandara. Karena kondisi Ibunya yang tiba-tiba memburuk, Andra lupa belum melihat postingan yang dimaksud Nadhira.
Setelah beberapa menit Andra mengotak atik ponselnya, ia mengernyit bingung, kenapa ia tidak bisa melihat postingannya Ella? Andra berdecak kesal, dan kemudian ia menatap Ibunya.
"Ponsel Mama dimana?" tanya Andra.
"Di kamar, kenapa?" Bu Mirna balik bertanya.
"Andra pinjam sebentar Ma." kata Andra sambil beranjak dari duduknya, dan berlari masuk kedalam rumah.
"Andra tunggu, selesaikan dulu pekerjaan kamu!" teriak Bu Mirna. Namun teriakannya sama sekali tak dihiraukan oleh Andra.
"Dasar anak nakal." ucap Bu Mirna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dengan langkah cepat Andra berjalan masuk ke kamar Ibunya. Ia meraih ponsel Ibunya yang tergeletak diatas meja. Andra membuka akun instagram milik Ibunya, dan ia mencari postingannya Ella. Dan tak berapa lama kemudian, ia menemukan postingan terakhirnya Ella. Sebuah foto saat ia berada di bandara.
"Ternyata kamu memblokir akunku, kenapa El?" ucap Andra sambil meraba foto Ella didalam ponsel Ibunya.
Andra menatap foto itu cukup lama, Ella sedang berada di bandara, tapi entah bandara mana Andra juga tidak tahu. Dua tangannya direntangkan kesamping, itu artinya ada orang lain yang mengambil fotonya, tapi siapa?
Andra menatap wajah Ella yang sedang tersenyum manis, tidak ada yang berubah dari dirinya, tetap cantik dan sederhana. Dalam foto itu Ella terlihat sedang memakai celana jeans panjang, dan atasan warna hitam yang dipadukan dengan blazer warna merah. Rambut panjangnya digerai begitu saja, tanpa poni depan. Andra ikut tersenyum kala menatap kalung dengan liontin menara eiffel yang masih menggantung indah di lehernya.
"Terima kasih, kau sudah menjaganya sampai saat ini El." ucap Andra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tapi kenapa kau memblokir akunku? dan sepertinya kau sengaja menjauhiku, kenapa El?" ucap Andra sambil menghela nafas panjang.
"Sebenarnya kau ini di bandara mana? benarkah kau sudah datang ke Paris?" lagi-lagi Andra berbicara seorang diri.
"Kamu kenapa Ndra?" tanya Bu Mirna yang baru saja masuk kedalam kamar. Bu Mirna menghampiri Andra, dan duduk disebelahnya.
"Itu foto Ella kan?" tanya Bu Mirna saat menatap ponselnya yang sedang digenggam Andra.
"Iya Ma." jawab Andra.
"Kamu menatapnya seperti itu, kenapa Ndra?" tanya Bu Mirna sambil memegang bahu Andra.
"Aku kecewa Ma, ternyata Ella memblokir akunku. Ahh entahlah, kurasa dia memang berniat menjauhiku." kata Andra sambil tersenyum kecut.
"Tapi kenapa Ella melakukan itu? kalian pernah bertengkar?" tanya Bu Mirna sambil menatap Andra.
"Kita memang pernah bertengkar, tapi itu terjadi saat Ella sudah menjaga jarak denganku." jawab Andra.
"Kenapa Ella menjaga jarak, tidak mungkin dia melakukan itu tanpa alasan." ucap Bu Mirna.
Andra terdiam, ia mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya sebelum Ella menjaga jarak. Namun tak berapa lama kemudian, Andra menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku juga tidak tahu Ma, sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apa-apa, tapi tiba-tiba dia menjauhiku begitu saja." ucap Andra sambil menatap Bu Mirna.
"Ya sudahlah jangan terlalu difikiran, suatu saat nanti Ella kan pulang, kau langsung tanyakan saja padanya kenapa dia menjauhimu, setelah kesalah pahamannya kelar, kalian bisa berteman lagi. Untuk sekarang, fokus dulu dengan Nadhira, sebentar lagi kalian akan tunangan." kata Bu Mirna sambil menepuk bahu Andra dan tersenyum.
"Iya Ma." jawab Andra sambil membalas senyuman Ibunya.
"Ya sudah, cepat mandi sana, katanya mau mengantarkan Nadhira." kata Bu Mirna.
"Menanam bunganya bagaimana?" tanya Andra.
"Sudah selesai." jawab Bu Mirna.
"Hah! secepat itu Ma." teriak Andra tidak percaya.
"Bukan Mama yang menanamnya terlalu cepat, tapi kamu yang ngelamunnya terlalu lama." sindir Bu Mirna.
"Maaf Ma." ucap Andra tersenyum nyengir.
"Ahh dasar kamu, laki-laki kok kebanyakan galau." cibir Bu Mirna.
"Belajar dari Mama." jawab Andra sambil beranjak dari duduknya.
"Apa kamu bilang?" teriak Bu Mirna sambil melotot menatap Andra.
"Bapaknya baik, dewasa, tidak pernah macam-macam, tapi kenapa anaknya seperti itu ya." ucap Bu Mirna sambil menatap kepergian Andra.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 04.00 sore, Andra dan Nadhira sudah menginjakkan kakinya dihalaman hotel Sangrilla, Malang Raya. Andra menggandeng tangan Nadhira, dan mengajaknya masuk.
Andra sudah memesan kamarnya sejak tadi pagi, jadi sekarang mereka tinggal mengambil kuncinya, dan masuk kedalam kamarnya.
Mereka masuk ke kamar nomor 55, Andra meletakkan kopernya disudut ruangan, kemudian ia menghampiri Nadhira yang sedang melepaskan jaketnya.
"Sayang." panggil Andra sambil memeluk Nadhira dari belakang.
"Hmmm." gumam Nadhira.
"Sebentar lagi kita tunangan, bolehkah aku memintanya sekarang?" tanya Andra sambil menciumi leher Nadhira, dan meninggalkan beberapa bekas kemerahan.
"Jangan Ndra, aku belum siap." ucap Nadhira sambil menahan tangan Andra yang hendak kemana-mana.
"Kenapa? Sebentar lagi kita tunangan sayang, kalaupun kamu hamil aku pasti bertanggung jawab, aku pasti akan menikahi kamu." kata Andra dengan nafas yang memburu.
"Jangan Ndra, aku mau melakukannya saat kita sudah menikah." ucap Nadhira.
"Tapi aku menginginkannya sekarang, boleh ya sayang sebentar saja. Aku janji akan melakukannya dengan lembut." kata Andra sambil melepaskan pelukannya, dan membalikkan tubuh Nadhira. Kini mereka berdiri saling berhadapan, dengan jarak yang sangat dekat.
"Tidak Ndra, aku tidak bisa." ucap Nadhira sambil menunduk.
"Ayolah! Aku tidak bisa menahannya lagi sayang, aku benar-benar menginginkannya." kata Andra sambil lebih mendekatkan wajahnya.
Jantung Nadhira berdetak dengan cepat, tubuhnya gemetaran, haruskah ia merelakannya detik ini juga?
"Andra maaf aku..." belum sempat Nadhira meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Andra sudah lebih dulu mengecup bibirnya.
Mata Nadhira berkaca-kaca, saat merasakan sentuhan tangan Andra sudah mulai berani.
Dan dalam hitungan detik saja, bulir air matanya mulai menetes. Mungkinkah Andra akan mengambilnya saat ini juga?
Andra menghentikan gerakannya, saat menyadari jika kekasihnya menangis. Ia menjauhkan wajahnya, dan menatap Nadhira lekat-lekat.
"Kenapa kau menangis?" tanya Andra sambil air mata Nadhira.
"Aku tidak bisa Ndra." ucap Nadhira dengan pelan.
"Kenapa? Kau tidak percaya padaku?" tanya Andra.
__ADS_1
"Bukan seperti itu Ndra, aku percaya sama kamu, tapi aku tidak bisa melakukannya saat kita belum halal." jawab Nadhira.
"Baiklah, aku mengerti." kata Andra sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kau marah?" tanya Nadhira dengan hati-hati.
"Tidak, asal kamu mau menolongku." jawab Nadhira sambil menatap Nadhira.
"Apa yang bisa kutolong?" tanya Nadhira.
"Aku butuh tangan kamu." jawab Andra sambil meraih tangan Nadhira.
Nadhira tersentak kaget saat menyadari apa yang dimaksud Andra. Nadhira hendak melangkah pergi, namun dengan cepat Andra menahannya. Dan tidak ada pilihan lain, akhirnya Nadhira menuruti keinginan Andra.
***
Nadhira termenung sendiri didalam kamarnya, Andra sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Nadhira memejamkan matanya, dan menghela nafas panjang. Hatinya resah, dan gelisah mengingat apa yang baru saja ia lakukan. Nadhira membuka matanya perlahan, ia menatap tangannya yang berada diatas pangkuannya.
"Meskipun aku tidak kehilangan kesucianku, dan Andra tidak melihat tubuhku, tapi hatiku rasanya tidak nyaman. Andra kenapa kamu memaksaku untuk melakukannya." ucap Nadhira dalam kesendirian.
Nadhira menatap pantulan dirinya dicermin. Tangannya meraba lehernya yang penuh dengan bekas kemerahan. Nadhira menggigit bibirnya, bulir bening kembali menetes membasahi pipinya.
"Dari awal aku sudah tahu kalau Andra sangat menyukai hal itu. Seharusnya aku sudah memikirkan apa konsekuensinya, saat memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya." ucap Nadhira sambil menautkan kedua tangannya.
Sedih, resah, gelisah, dan entah perasaan apa lagi yang bercampur didalam hatinya, yang jelas perasaan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Nadhira menatap gelang jam yang melingkar di tangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Nadhira beranjak dari duduknya, dan melangkah menyambar jaketnya. Ia memutuskan untuk mencari angin segar, agar fikirannya tidak terlalu kacau.
Nadhira melangkah keluar meninggalkan kamarnya, ia berjalan sambil memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya.
"Nadhira!" panggil seseorang yang sedang berjalan kearahnya.
Nadhira tersentak kaget, ia mendongak menatap seseorang yang memanggil namanya.
"Vino, kok kamu ada di sini?" tanya Nadhira dengan sedikit gugup. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Vino ditempat ini.
"Aku ada klien di sini, aku sudah sejak kemarin. Kamu sendiri kenapa ada di sini?" Vino balik bertanya.
"Aku ada pemotretan di sini." jawab Nadhira sambil tersenyum.
"Oh begitu, kamu tinggal di kamar nomor berapa?" tanya Vino.
"Nomor 55." jawab Nadhira.
"Serius?" tanya Vino sedikit kaget.
"Iya, kenapa?" Nadhira balik bertanya.
"Ternyata kita bersebelahan, kamarku nomor 54." jawab Vino.
"Benarkah?" tanya Nadhira.
Vino menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.
"Kamu sendirian, atau bersama Andra?" tanya Vino sambil menatap Nadhira.
Nadhira termenung sejenak, mendengar nama Andra disebut, hatinya kembali resah.
"Nadhira!" panggil Vino karena hingga beberapa detik lamanya, Nadhira tetap terdiam.
"Tadi Andra mengantarku, tapi dia sudah pulang sekitar satu jam yang lalu." ucap Nadhira sambil berusaha tersenyum.
"Kau terlihat sedih Nad, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" batin Vino sambil menatap Nadhira.
"Kau mau kemana?" tanya Vino.
"Jalan-jalan mencari udara segar." jawab Nadhira.
"Mau aku temani?" tanya Vino.
"Tidah usah, kau baru saja bekerja, pasti lelah." jawab Nadhira sambil tersenyum.
"Tunggu di sini sebentar, aku ganti baju dulu." kata Vino sambil melangkah menjauhi Nadhira.
Nadhira menghela nafas panjang, ia menoleh menatap punggung Vino yang berjalan semakin menjauh.
"Ya sudahlah, biarkan saja dia menemaniku." batin Nadhira sambil tersenyum.
Beberapa menit kamudian, Vino datang dengan balutan celana jeans panjang, dan baju pendek warna putih.
Vino berjalan mendekati Nadhira sambil tersenyum lebar.
Namun senyuman itu tak bertahan lama, hanya dalam hitungan detik saja. Vino menatap bekas kemerahan di leher Nadhira, yang sedikit terlihat dari balik jaketnya.
Apa ini ada hubungannya dengan raut wajah Nadhira yang terlihat murung?
Apa yang telah dilakukan Andra padanya?
Bersambung.....
__ADS_1