
" Sayang! Jangan lari-lari dalam keadaan perut besar begitu!" kata Ken pada Vina. Mereka menikah 3 tahun yang lalu dan Vina sedang hamil anak ke 2.
Max melepaskan Vina yang disekapnya di pulaunya dan menjelaskan semua yang terjadi kemudian meminta maaf pada keluarga Vina, meskipun pada akhirnya papa Vina memukulnya.
Ken akhirnya mengatakan semua yang terjadi pada kedua keluarga hingga Ken juga dihajar oleh papa Vina setelah menerima lamaran Ken. Dave dan Eva marah juga kecewa pada putranya, karena menyimpan rahasia sebesar ini. Tapi karena semua telah terjadi, mereka merestui Ken dan Vina untuk menikah resmi. Arnetta belum mengetahui semuanya, karena dia merasa takut jika orang tuanya akan mengusirnya.
Selama meeting pikiran Netta berkelana kemana-mana, dia masih belum merasa puas membuat Max seperti itu. Dia ingin sekali pria itu benar-benar hancur dan menyesal karena pernah meninggalkannya.
" Boss!" panggil Aris.
" Ta!" panggil Mike yang mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Netta.
" Saya pikir Boss kalian setuju! Jadi laporan rapat hari ini harus ada di meja direktur pada 3 hari ke depan!" kata Mike.
Semua bernafas lega, karena masih diberi waktu 3 hari. Semua meninggalkan ruang meeting, tapi Netta belum menyadari itu semua.
" Apa kamu masih akan memikirkan dia?" tanya Mike sambil memegang tangan Netta.
Netta tersentak, dia menarik tangannya dan melihat ke sekeliling.
" Mereka sudah bubar! Karena Bossnya tidak fokus hari ini!" kata Mike.
Ponsel Netta berbunyi lalu mati, begitu juga dengan milik Mike, tapi langsung diangkat.
" Halo! Bas?"
" Maaf, Boss! Terjadi sesuatu pada Tuan Muda!"
" Apa? Kenapa dengan Axon?"
" Tuan Muda jatuh dari tangga!"
" Ya Tuhan! Bagaimana keadaannya?"
" Dokter masih menangani, Boss!"
" Kirim Rumah Sakitnya!"
Lalu Mike menutup panggilannya dan menggandwng Netta berlari menuju ke Rumah Sakit seperti yang dikirim oleh Bastian.
" Diana!" panggil Netta saat mereka sampai di depan IGD.
" Netta!" sahut Diana memeluk sahabatnya itu.
" Bagaimana keadaan Axon?" tanya Netta khawatir.
" Dia masih di periksa dokter, kamu sabar ya!" kata Diana.
" Bagaimana dia bisa terjatuh?" tanya Netta pada Diana.
" Dia mengejar Mikaela tapi kata Mikaela anak itu tiba-tiba naik ke atas!" kata Diana.
Seorang Dokter keluar dari dalam ruang IGD.
" Dokter! Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Netta.
" Diana!" sapa dokter itu.
" Mark!" balas Diana.
__ADS_1
" Bagaimana putraku?" tanya Diana.
" Dia mengalami cedera di kepala tapi tidak seberapa parah! Hanya saja dia mengalami sedikit retak di siku langannya hingga harus kami gips" kata dokter itu.
" Ya, Tuhan?!" Netta dan Diana terkejut hingga membuka mulutnya.
" Lakukan yang terbaik, dokter!" kata Mike.
Netta dan Diana sudah berpelukan menangis, karena tidak bisa membayangkan anaknya akan digips.
" Sudah! Axon seorang anak yang kuat!" kata Mike menenangkan Netta.
Sementara itu di dalam IGD, Axon menangis karena tangannya yang sakit.
" Mommy! I want my mom!" rengek Axon.
" Hei! Why you cry?" tanya seorang pria di sebelahnya yang tidak tega mendengar tangisan anak itu.
" I want my mom!" jawab Axon.
" If you keep crying, your mother will be sad!" kata pria itu.
" Really?" tanya Axon.
" Yes! If you're a great kid, you should make your mother proud!" kata pria itu lagi.
" You think so?" tanya Axon.
" Yes! You love her don't you?" tanya pria itu.
" I love her so much!" jawab Axon.
" Ok!" jawab Axon
" I proud of you, boy!" kata pria itu.
Axon akhirnya berhenti menangis, dia hanya sebentar-sebentar meringis menahan rasa sakitnya.
" Permisi, Pak! Saya Dr. Putu Raka, yang akan menangani penyakit Bapak!" kata Putu.
" Apa yang terjadi pada saya?" tanya pria itu.
Diluar ruangan IGD ada beberapa orang yang sedang menunggu keluarganya yang berada di dalam ruang IGD. Netta berdiri dan ikut berjalan mondar-mandir di situ karena Diana dan Mike menjemput Mikaela. Matanya terhenti pada sosok pria setengah baya yang sedang duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas. Bukannya itu Pak Maman? Iya, aku masih ingat itu Pak Maman sopir kantor...Max! batin Netta.
" Pak Maman!" panggil Netta.
Maman mengalihkan pandangannya pada Netta.
" Nona...Netta?" tanya Pak Maman.
" Iya, Pak! Bapak sedang apa?" tanya Netta.
" E, anu, Non Netta..."
" Bapak nggak perlu lagi memanggil saya Nona! Karena saya bukan siapa-siapa!" kata Netta.
Maman menghembuskan nafasnya, dia hanya terdiam.
" Siapa yang sakit, Pak?" tanya Netta.
__ADS_1
" Eh! Tuan Max, Nona, eh, mbak!" jawab Maman bingung harus manggil apa.
" Panggil Mbak aja, Pak!" kata Netta.
" Tapi saya sudah terbiasa manggil Non! Gak apa-apa, ya, Non!" kata Maman.
" Terserah Pak Maman aja!" jawab Netta tersenyum.
" Tuan Muda yang sakit, Nona! Tuan Muda tadi hampir pingsan dikantor!" kata Maman.
Max? Pingsan? Tadi pagi dia baik-baik saja! Apa ini hanya akal-akalan dia saja supaya aku nggak memecatnya? Dasar pembohong! Batin Netta menahan amarah.
" Sakit apa memangnya, Pak?" tanya Netta pura-pura khawatir.
Maman melihat sebentar ke arah wanita yang pernah dekat dengan Bossnya itu.
" Saya juga tidak tahu, Nona! Tapi sepertinya serius!" kata Maman.
" O, ya? Mudah-mudahan nggak, ya, Pak!" kata Netta basa-basi.
" Iya, Non! Dia tadi sangat kesakitan, dia tidak pernah seperti itu walau sesakit apapun!" jawab Maman khawatir.
Deg! Apa seserius itu? Pak Maman nggak mungkin berbohong, dia orang lugu! Tapi bisa saja Max menyuruhnya untuk bicara seperti itu! Dasar pria brengsek tetep aja brengsek! Batin Netta yang telah diselimuti dendam.
" Apa ada yang bernama Pak Maman?" tanya seorang perawat yang keluar dari dalam ruang IGD.
" Pak! Jangan katakan pada Max jika bapak bertemu saya!" kata Netta.
" Iya, Non! Saya mana berani bicara jika tidak ditanya, Non! Permisi!" kata Maman menganggukkan kepalanya pada Netta lalu berjalan mendekati perawat itu.
" Saya Maman, suster!" jawab Maman.
" Pak Max meminta saya untuk memberikan ini pada bapak!" kata perawat itu sambil memberikan selembar kertas pada Maman.
" Terima kasih, Suster!" jawab Maman.
" Iya, Pak!" kata perawat itu kemudian masuk lagi ke dalam.
Netta yang curiga akan kenojongan Max, mengikuti gerak-gerik Maman. Maman membuka kertas tersebut dan membacanya.
Pak Maman pulang saja
Saya nggak papa
Jangan bilang siapa-siapa kalo saya disini terutama mama
Saya nggak mau mama sampe tahu saya sakit
Maman melipat kembali surat tersebut dan melihat kearah Netta yang segera memalingkam wajahnya ke ponselnya, pura-pura tidak melihat. Apa aku harus mengatakan pada Non Netta? Tapi sepertinya Non Netta memang sudah tidak perduli pada Tuan Muda! Biar besok Marni aku ajak kesini saja! batin Maman, yang melihat Netta sejenak, lalu dia memasukkan surat itu ke dalam kantong celananya.
" Anak Maxon S Greyson!" panggil seorang perawat.
" Ya, Suster! Bagaimana putraku?" tanya Netta dengan cepat berlari mendekat.
" Dia sudah dibawa ke ruang operasi di lantai 2! Silahkan ibu kesana!" kata perawat itu.
" Ayo, Di!" kata Netta berjalan bersama Diana menuju lift.
Sementara Max masih meringis kesakitan memegangi perutnya. Dokter telah memberikannya obat, tapi sakitnya memang cukup parah kali ini. Dia dibawa ke ruang perawatan yang berisi 4 orang pasien karena dia tidak memiliki uang untuk membayar dokter spesialis dan juga ruang VVIP. Obatnya yang begitu mahal harus ditebusnya 3 hari sekali.
__ADS_1
Dan itu berbanding terbalik dengan Axon, putranya itu tidur di ruang VVIP Rumah Sakit sesuai permintaan Netta.