
Ella mengerjapkan matanya dengan pelan, ia melirik jarum jam yang menggantung di dinding kamarnya. Sudah jam 05.00 pagi. Ella menggeliat pelan, dan ketika ia hendak beranjak dari tidurnya, tiba-tiba ada tangan kekar yang merengkuh pinggangnya.
Awalnya Ella tersentak kaget, namun setelah kesadarannya pulih total, ia menghela nafas panjang. Dirinya sudah menikah, bukan hal yang aneh, jika Kairi tidur sambil memeluknya seposesif itu.
Ella menoleh, menatap Kairi yang masih terlelap dalam mimpinya. Perlahan ia mengangkat tangannya, dan membelai rahang Kairi. Ella tersenyum, rasanya masih belum percaya, kalau ia benar-benar menikah dengan Kairi. Lelaki tampan dengan kepribadian yang nyaris sempurna itu, kini sudah menjadi imamnya. Setiap pagi, saat ia terjaga dari tidurnya. Ia akan menatap wajah tampan yang sedang terlelap. Oh Tuhan ini sungguh anugerah terindah dalam hidup Ella.
Perlahan tangan Ella mulai turun, membelai dada Kairi yang juga ditumbuhi rambut-rambut halus. Kulitnya begitu putih, dan lembut. Terbersit rasa malu dalam hati Ella, dia yang wanita saja kulitnya tidak seputih itu, juga tidak selembut itu.
"Kamu menggodaku sepagi ini sayang." kata Kairi sambil membuka matanya.
Ella tersentak kaget, ia hendak menarik tangannya, namun Kairi mengenggamnya, dan menahannya dengan erat. Pipi Ella memerah, dan jantungnya mulai berdetak dengan cepat. Kenapa Kairi sudah bangun? Bukankah tadi ia masih terlelap dalam mimpinya?
"Apakah kau terpesona sayang?" goda Kairi sambil menaikkan alisnya.
"Lepaskan Kai." ucap Ella sambil menunduk, ia tak berani menatap wajah Kairi.
"Belai saja sayang, aku tidak akan marah. Nanti ganti aku yang membelai kamu." goda Kairi sambil mengusap-usap tangan Ella.
"Aku harus ke kamar mandi Kai." teriak Ella sambil menarik tangannya dengan cepat. Lalu ia beranjak dari tidurnya, dan bergegas keluar dari kamarnya.
Kairi menatap kepergian Ella dengan tertawa renyah.
"Semalam aku masih melepaskan kamu sayang, tapi aku tidak berjanji untuk nanti malam." ucap Kairi sambil tersenyum miring.
Cukup lama Ella pergi ke kamar mandi, entah apa saja yang dilakukannya di sana. Kairi menunggunya sambil sesekali menghembuskan nafas kasar. Lalu Kairi beranjak dari tidurnya, ia duduk sambil memeluk bantal. Pandangan matanya tak pernah lepas dari daun pintu yang masih tertutup rapat.
"Kamu kemana sih sayang." gumam Kairi dengan pelan.
Dan tak lama kemudian, pintu kamar sudah terbuka. Ella melangkah masuk, sambil mengusap-usap wajahnya dengan handuk. Kairi menatapnya tanpa kedip, wajah Ella terlihat sangat segar dengan titik-titik air yang menetes dari ujung rambutnya.
Lehernya terpampang dengan jelas, karena rambutnya digulung ke atas. Aroma sabun mandi yang wangi menyeruak kedalam hidung Kairi, membuat tubuhnya menjadi panas dingin karenanya.
Kairi turun dari ranjang, ia menghampiri Ella yang saat itu sedang berdiri didepan didepan meja riasnya. Kairi memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
"Kau sangat wangi sayang." ucap Kairi sambil menciumi leher Ella, dan meninggalkan beberapa bekas kemerahan di sana.
Ella menunduk sambil menggigit bibirnya, ia merasa sangat malu. Ingin rasanya ia menolak perlakuan Kairi, namun itu tidak mungkin, lelaki itu sudah sah menjadi suaminya.
"Lihatlah! Kau sangat cantik Gabriella." ucap Kairi sambil menatap pantulannya didalam cermin.
"Aku malu Kai." kata Ella dengan pelan.
"Kita sudah sah menjadi suami istri, kau tidak perlu malu lagi padaku." ucap Kairi sambil meraba-raba perut Ella yang ramping.
"Kai." ucap Ella dengan tetap menunduk.
"Hmmm." gumam Kairi sambil melepaskan pelukannya. Ia membalikkan tubuh Ella, dan kemudian mencium keningnya.
"Aku akan mandi, buatkan aku kopi ya." kata Kairi sambil tersenyum.
"A...apa..."
"Atau kau menginginkan yang lain sayang?" goda Kairi sambil tersenyun miring.
"Tidak, aku akan membuatkanmu kopi. I...iya aku akan membuat kopi." ucap Ella dengan gugup. Lalu ia langsung melangkah pergi meninggalkan Kairi.
"Aku senang melihatmu malu seperti itu sayang. Ahh rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu nanti malam." kata Kairi sambil tersenyum. Lalu ia menyambar handuknya Ella, dan bergegas menuju ke kamar mandi.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Ella dan Kairi baru saja menghabiskan sarapan paginya. Kini mereka sedang bersiap untuk pergi. Kemarin Kairi tidak membawa baju ganti, sehingga hari ini mereka berencana untuk pulang ke rumah Bu Mirna, sekaligus menginap di sana. Namun sebelum itu, Ella mengajak Kairi untuk berziarah ke makam Ayahnya. Ella terlihat sangat cantik dengan balutan dress panjang warna maroon. Sedangkan Kairi, ia tetap memakai celana, dan kemeja yang ia pakai kemarin.
"Kalian sudah mau berangkat?" tanya Bu Halimah sambil menghampiri mereka.
"Iya Bu." jawab Kairi, dan Ella bersamaan.
"Kalian nanti menginap?" tanya Bu Halimah.
"Iya Bu." jawab Ella.
"Tidak apa-apa kan Bu kita menginap di rumah?" sahut Kairi.
"Tentu saja tidak nak. Di sini, atau di sana itu sama saja. Asalkan kalian tetap rukun seperti ini." ucap Bu Halimah.
"Terima kasih Bu, kita akan tetap rukun, dan saya akan selalu menjaga Gabriella. Kalau begitu kami berangkat dulu ya Bu." kata Kairi sambil menyalami tangan Bu Halimah.
"Iya nak. Hati-hati ya." jawab Bu Halimah.
"Kami berangkat ya Bu." ucap Ella sambil memeluk Ibunya.
__ADS_1
"Iya, hati-hati ya." jawab Bu Halimah.
"Iya Bu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Bu Halimah menatap kepergian Kairi, dan Kairi sambil menyunggingkan senyumannya.
"Semoga kau selalu bahagia nak, meskipun kau tidak lagi tinggal bersama Ibu, namun doa Ibu akan selalu menyertaimu." ucap Bu Halimah.
***
Kairi menghentikan mobilnya didepan pintu masuk TPU Kota Surabaya. Ia melepaskan sabuk pengamannya, dan kemudian turun dari mobil. Lalu Kairi melangkah, dan membuka pintu mobil disamping Ella.
"Aku bisa sendiri Kai." ucap Ella sambil tersenyum.
"Aku ingin melakukannya untukmu." jawab Kairi.
Ella semakin melebarkan senyumannya, ahh bersama Kairi selalu saja membuat hatinya berbunga-bunga. Ella memakai kerudung hitam yang tadi sempat ia bawa. Lalu ia meraih seikat bunga mawar yang ia bawa dari rumah. Kemudian ia turun, dan melangkah bersama Kairi menuju ke pemakaman Ayahnya.
Mereka terus berjalan beriringan, sesekali semilir angin yang berhembus perlahan menerpa tubuh mereka. Ella menghentikan langkahnya setelah sampai di pemakaman Ayahnya. Ia duduk berjongkok, dan Kairi juga mengikutinya.
Ella mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Ayahnya, dan tak terasa pandangan matanya mulai memburam. Setiap kali datang ke tempat ini, Ella selalu saja menitikkan air matanya. Mengingat masa kecilnya, ia sangat menyayangi Ayahnya, ia sangat dekat dengan Ayahnya. Namun ternyata takdir tak mengizinkan mereka bersama terlalu lama, hanya 9 tahun saja Ella ditemani sosok seorang Ayah.
Ella menunduk, membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya. Kejadian waktu itu kembali melintas dalam ingatannya. Dirinya menangis meraung-raung saat menatap Ayahnya yang sudah terbaring tanpa nyawa di ranjang rumah sakit. Untuk terakhir kalinya ia menatap wajah Ayahnya yang pucat pasi.
"Ayah..." panggil Ella dengan pelan, sambil meletakkan bunga mawar diatas pusarannya.
"Sayang, jangan menangis. Ayah akan sedih jika melihatmu menangis." kata Kairi sambil merangkul Ella dari samping.
Ella mengusap air matanya, ia berusaha menyunggingkan senyum di bibir ranumnya.
"Aku sudah dewasa Yah, aku sudah menikah. Aku membawa suamiku kesini untuk menemui Ayah." ucap Ella sambil mengusap-usap batu nisan itu dengan pelan.
"Ayah, maafkan aku, karena baru sekarang aku datang. Di sini aku berjanji pada Ayah, aku akan selalu menjaga Gabriella, dan membahagiakan dia, sampai ujung usiaku nanti. Maafkan aku Ayah, aku memang pernah menyakiti Gabriella, tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Itu adalah yang pertama, dan juga yang terakhir." ucap Kairi dalam hatinya.
Kemudian mereka membaca beberapa doa yang ditujukan untuk Pak Prasetyo. Dan setelah selesai, mereka beranjak dari duduknya, dan kembali melangkah menuju mobilnya.
"Biar aku pakaikan." kata Kairi sambil memakaikan sabuk pengamannya untuk Ella.
"Aku bisa sendiri Kai." kata Ella sambil tertawa.
"Wanita itu kodratnya memang mudah mengeluarkan air mata, jadi aku tidak bisa berjanji Kai." kata Ella sambil tertawa renyah.
Sebenarnya ucapan Ella memang benar adanya, ia adalah gadis yang tegar, namun ia sangat mudah meneteskan air matanya. Ia seringkali menangis, walaupun tidak ada yang tahu. Karena ia adalah pribadi yang tertutup, tak mudah baginya untuk berbagi luka dengan orang lain, meskipun itu keluarga, ataupun sahabatnya. Ia lebih senang menyimpan lukanya untuk dirinya sendiri.
"Seperti itukah?"
"Iya." jawab Ella masih dengan tawanya.
Lalu Kairi mendekatkan wajahnya, dan tanpa banyak kata, ia langsung mencium bibir Ella. Ia memainkannya dengan lembut, dan pelan. Cukup lama Kairi mencium bibir Ella, hingga rasanya Ella sampai kehabisan nafas. Ella mendorong dada Kairi, dan memaksa lelaki itu untuk melepaskan ciumannya.
"Aku tidak bisa bernafas Kai." ucap Ella sambil menunduk. Lalu ia menghirup udara banyak-banyak, mencoba menenangkan jantungnya yang sudah berdetak tanpa aturan.
"Rasanya sangat manis, aku kesulitan untuk menyudahinya." jawab Kairi dengan santainya.
"Diam!" teriak Ella.
"Kita sudah menikah sayang, kau harus terbiasa dengan hal itu. Bahkan, hal yang lebih dari itu." ucap Kairi sambil tersenyum miring.
"Diam Kai!" bentak Ella. Pipinya sudah semerah tomat, saat mendengar ucapan Kairi yang sedikit vulgar menurutnya.
"Jangan menunduk terus." goda Kairi sambil mengusap pipi Ella.
"Apa sih Kai." gerutu Ella.
"Angkat wajahmu, atau aku akan kembali menciummu." kata Kairi.
"Kau menyebalkan Kai!" teriak Ella sambil menatap Kairi.
Kairi tersenyum, lalu ia kembali mendekatkan wajahnya. Tangannya meraih dagu Ella, agar wanita itu tetap mengangkat wajahnya, dan menatap matanya.
"Jika kodratnya wanita itu mudah menangis, anggap saja kodratnya lelaki itu mudah mencium." kata Kairi.
"Tidak ada kodrat seperti itu Kai." bantah Ella.
"Ada." jawab Kairi.
"Hanya kamu yang menganggap ada." ucap Ella.
__ADS_1
"Mungkin." jawab Kairi sambil terkekeh.
"Kau menyebalkan Kai!" teriak Ella.
"Hanya padamu sayang, tidak pada wanita lain." kata Kairi sambil menghidupkan mesin mobilnya. Ella tidak menjawab perkataan Kairi, ia hanya memanyunkan bibirnya, sambil melirik suaminya.
"Dan nanti malam, aku akan lebih menyebalkan." bisik Kairi tepat di telinga Ella. Lalu ia mulai melajukan mobilnya. Tanpa peduli pada Ella yang sudah panas dingin, karena mendengar bisikannya.
***
Tepat pukul 10.00 pagi Ella dan Kairi sudah tiba di rumah Bu Mirna. Mereka turun dari mobil, dan melangkah masuk kedalam rumah. Sepi, tidak ada siapa-siapa. Kemana orang tuanya, kemana Andra, kemana Bik Surti? Seperti rumah kosong saja, tidak ada suara sama sekali.
Ella dan Kairi melangkah menaiki anak tangga, mereka menuju ke lantai atas, ke kamar Kairi.
"Dimana kamar Kairi, yang kuingat di lantai dua ini adalah kamar Andra." batin Ella sambil mengikuti langkah Kairi.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah tiba di lantai dua. Pandangan mereka tertuju pada sosok lelaki yang sedang duduk di sofa, sambil menyantap sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Raut wajahnya terlihat kesal, entah apa yang sedang terjadi padanya.
"Mama dan Papa kemana Ndra?" tanya Kairi sambil menatap Andra.
"Tidur." jawab Andra singkat.
"Aku tanya serius Ndra." kata Kairi.
"Aku juga serius, mereka belum keluar kamar sejak tadi pagi. Kau tahu, aku menunggu mereka untuk sarapan sampai kelaparan." kata Andra dengan kesal.
"Oh jadi itu yang membuat Andra kesal." batin Kairi sambil tersenyum.
"Kau sendiri kenapa sudah ada di sini, bukannya berdiam diri didalam kamar." gerutu Andra sambil menyuap makanannya.
"Jaga bicaramu!" kata Kairi sambil menatap Andra dengan tajam.
Lalu ia meneruskan langkahnya, dan Ella tetap mengikutinya dibelakang.
Ella sedikit terkejut, saat Kairi membuka pintu kamarnya. Ternyata kamar Kairi bersebelahan dengan kamar Andra.
"Ini kamar kamu Kai?" tanya Ella sambil melangkah masuk mengikuti Kairi.
"Iya, kenapa sayang?" Kairi balik bertanya.
"Tidak apa-apa." jawab Ella sambil menggeleng.
"Kamu kurang suka ya dengan kamarnya, perlu diganti apa gitu, katakan saja tidak apa-apa." kata Kairi sambil menatap Ella.
"Tidak usah Kai, aku suka kok dengan kamar ini." jawab Ella.
"Yakin?"
"Iya Kai."
Kemudian Kairi mulai melepaskan kancing kemejanya, tepat dihadapan Ella.
"Apa yang akan kau lakukan Kai?" tanya Ella sambil memundurkan langkahnya.
"Dari kemarin aku belum ganti baju sayang, memangnya apa yang kau fikirkan?" tanya Kairi sambil menaikkan alisnya.
"Tidak ada, aku haus Kai." ucap Ella mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum membawa minuman kesini sayang, tida apa-apa kan kalau kau mengambilnya sendiri diluar." kata Kairi.
"Baiklah, kalau begitu aku mengambil minum dulu ya." ucap Ella.
"Ini lebih baik, daripada harus melihat Kairi yang sedang ganti baju. Aduh aku malu, rasanya aku belum siap." batin Ella sambil melangkah pergi.
Ella membuka pintu kamarnya, dan kemudian melangkah keluar. Namun alangkah terkejutnya dia, saat matanya menatap Andra yang hendak masuk kedalam kamarnya.
"Hai El." sapa Andra dengan gugup. Melihat tanda merah yang terlihat samar-samar di leher Ella, membuat Andra merasa resah, dan gelisah.
"Hai." jawab Ella sambil tersenyum.
"Aku masuk dulu ya." ucap Andra sambil melangkah masuk kedalam kamarnya.
"I...iya." jawab Ella. Kemudian ia melangkah mendekati kulkas, dan mengambil sebotol air mineral.
Sementara itu Andra duduk sendiri ditepi ranjang kamarnya. Hatinya kembali kacau, mengingat Ella, wanita yang sangat dicintainya, yang sekarang sudah menjadi kakak iparnya.
"Ahh kenapa aku jadi seperti ini. Sebenarnya wajar saja mereka tidur bersama, mereka kan sudah menikah. Tapi kenapa hatiku rasanya sesak seperti ini. Ella, kenapa kau harus ikut Kairi kesini. Kenapa kau tidak tinggal di rumahmu saja, dengan begitu aku tidak perlu melihat kalian." kata Andra sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tapi Ella kok masih semangat begitu ya. Apa Kairi terlalu lemah, dan hanya mampu beberapa menit saja. Wajar sih dia tidak berpengalaman. Ahh kamu El, andai saja kamu memilih aku, pasti aku bisa menyenangkanmu sampai pagi." gerutu Andra sambil melangkah menuju ke kamar mandi. Ia butuh siraman air dingin, untuk mengontrol fikirannya yang mulai kacau.
__ADS_1
Bersambung......