
"Untuk apa kau datang kesini?" tanya Andra tanpa menoleh. Karena dari suaranya saja, ia sudah tahu siapa yang datang menghampirinya, Kairi.
"Untuk melihat bocah nakal yang menangis ditengah hujan." jawab Kairi sambil duduk disebelah Andra.
"Kau sekarang senang kan, bisa memiliki Papa seutuhnya." kata Andra dengan kesal.
"Tidak juga, aku lebih suka jika kebenaran ini tidak terungkap." jawab Kairi.
"Terserah apa katamu, tapi sekarang pergilah! Aku ingin sendiri!" kata Andra sambil menunduk.
"Kau tetap saja kekanak-kanakan." ucap Kairi.
"Kau tidak mengerti dengan sakit yang aku rasakan." kata Andra.
"Aku memang tidak mengerti dengan sakitmu, karena kau juga tidak mengerti dengan sakitku." ucap Kairi sambil menatap Andra.
"Apa maksudmu?" tanya Andra sambil menoleh, ia membalas tatapan Kairi.
"Kau fikir hanya kau saja yang merasa sakit, tidak Andra, aku juga merasa sakit." jawab Kairi.
"Aku hanyalah anak haram, anak yang lahir diluar pernikahan. Dan sekarang Ayahku sudah tiada, sebelum aku sempat meminta maaf padanya. Kau fikir aku tidak tenggelam dalam rasa penyesalan Kai." kata Andra dengan suara yang pelan, nyaris tak terdengar karena suara hujan yang turun semakin deras.
"Kau memang anak haram, tapi Mama dan Om Adit menerima kehadiranmu, kau ada atas dasar cinta Andra. Sementara aku, meskipun Mama dan Papa terikat pernikahan, tapi Mama sama sekali tidak mengharapkan kehadiranku, aku ada atas dasar keterpaksaan bukan cinta. Kau fikir itu tidak menyakitkan Andra." ucap Kairi sambil tetap menatap Andra.
Andra terdiam, ia tidak bisa menjawab ucapan Kairi. Ia tahu jika Kairi juga terluka, ia melihat sorot mata Kairi begitu sendu saat menatapnya. Ahh kenapa mereka harus mengalami hal sepahit ini.
"Mungkin kau benar Andra, menangis ditengah hujan pasti bisa meringankan beban." kata Kairi sambil menurunkan payungnya, dan menutupnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Andra saat melihat tubuh Kairi yang mulai basah kuyub.
"Bermain hujan-hujanan. Aku rasa dulu kita tidak pernah melakukannya." jawab Kairi dengan santainya.
"Kenapa kita mengalami hal ini Kai." ucap Andra sambil kembali menangis, ia mencengkeram gundukan tanah didepannya dengan sangat erat.
"Tuha menguji kita, karena Tuhan menyayangi kita. Kau laki-laki, kau tidak boleh cengeng seperti ini, kau pasti bisa melewati semuanya Andra." kata Kairi sambil merangkul Andra.
"Ini berat Kai." jawab Andra.
"Tidak, jika kita bersama-sama. Bangkitlah, kau pasti bisa!" kata Kairi sambil beranjak dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya pada Andra.
Andra menyambut tangan Kairi sambil tersenyum, lalu ia juga ikut bangkit dari duduknya. Dengan air mata yang masih mengalir, Andra menjatuhkan tubuhnya dipelukan Kairi. Pelukan seorang kakak, yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Andra semakin terisak saat Kairi membalas pelukannya. Lelaki yang selama ini dia benci, ternyata menjadi orang pertama yang datang padanya, saat ia sedang terpuruk.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Tapi kau harus berjanji, tidak akan menangis lagi setelah ini." kata Kairi sambil mengusap punggung Andra.
"Meskipun hari ini aku mendapatkan luka, tapi aku juga mendapatkan kembali Mama dan adikku. Rasa bahagia ini mengalahkan rasa sakit yang tadi sempat singgah." batin Kairi dalam hatinya.
"Ayo kita pulang, sebentar lagi sudah senja." kata Kairi.
"Ayo." jawab Andra sambil melepaskan pelukannya. Mereka saling berpandangan, dan kemudian mereka saling tersenyum.
"Kau bawa mobil?" tanya Andra sambil melangkah meninggalkan pemakaman.
"Tidak, aku tadi naik taxi." jawab Kairi sambil mengikuti langkah Andra.
"Dari mana kau tahu kalau aku ada di sini?" tanya Andra.
"Aku cerdas, tidak seperti dirimu yang hanya mengandalkan emosi." jawab Kairi.
"Kau tetap menyebalkan!" bentak Andra.
"Dan kau tetap kekanak-kanakan!" jawab Kairi dengan santainya.
Lalu mereka berdua masuk kedalam mobil Andra.
Andra duduk didepan kemudi, sedangkan Kairi, ia duduk disebelahnya.
***
__ADS_1
Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 malam. Kairi duduk ditepi ranjang, didalam kamarnya. Bukan kamar apartemen, melainkan kamar rumahnya. Tadi sore ia pulang bersama Andra, dan disaat ia berpamitan untuk pulang ke apartemennya, Bu Mirna menahannya. Bu Mirna bersikeras agar Kairi tetap tinggal di sini, dan alhasil disinilah Kairi sekarang. Didalam kamar yang dulu pernah ia tempati hingga 18 tahun lamanya.
Satu jam yang lalu, Kairi bersama Bu Mirna dan Pak Louis makan malam bersama di meja makan. Hubungan keluarga yang lumayan hangat menurut Kairi, karena selama ini ia tidak pernah merasakan duduk bersama dengan kedua orang tuanya. Setelah makan malam selesai, Pak Louis berpamitan pulang ke apartemen. Kairi tak menahannya, karena ia tahu hubungan kedua orang tuanya masih belum membaik.
Sedangkan Andra, sejak tiba di rumah sore tadi, ia langsung masuk kedalam kamarnya, tanpa mengatakan sepatah katapun. Bahkan saat Bik Surti memanggilnya untuk makan malam pun Andra menolaknya, ia mengurung dirinya di kamar hingga saat ini.
Kairi merebahkan tubuhnya diatas ranjang, ia memandangi langit kamarnya sambil fikirannya menerawang jauh, mengingat waktu demi waktu yang telah ia lalui selama ini. Kala ia kecil, kala ia remaja, dan kini kala ia sudah dewasa. Begitu banyak hal pahit dan manis yang ia rasakan selama ini.
Kairi menghela nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar. Ia memejamkan matanya, dan mencoba menepis semua bayangan tentang segala hal yang telah berlalu. Kairi meraih ponselnya yang tergeletak disampingnya, ia mengetik pesan ucapan selamat malam, dan selamat tidur untuk Ella. Tanpa menunggu balasan dari Ella, Kairi meletakkan kembali ponselnya. Ia memejamkan matanya, dan bersiap mengarungi dunia mimpi.
Diwaktu yang sama, ditempat yang berbeda. Andra duduk termenung di sofa, didalam kamarnya. Matanya menatap nanar pada sebuah foto yang terletak diatas meja, foto dirinya dan Ella waktu masih sekolah dulu.
Andra kembali mengingat sahabatnya, selama ini jika dia berada dalam masalah, sahabatnya itulah yang selalu datang dan memberinya dukungan. Tapi sekarang, saat ia dihadapkan pada masalah yang sangat berat, sahabatnya itu sudah tidak ada disampingnya. Lalu bagaimana caranya dia menghadapi semua ini, jika tak ada lagi orang yang berdiri disampingnya.
Andra hanya diam sambil mengusap-usap foto yang baru saja diraihnya. Sahabatnya telah pergi, Ayahnya telah tiada, dan Ibunya juga sudah membuatnya kecewa. Andra merasa terjatuh dalam posisi yang paling sulit. Ia terlalu larut dalam masalah yang menimpanya, hingga matanya tetap terjaga hingga hampir dini hari.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Kairi menguap sambil merenggangkan otot-ototnya. Tubuhnya terasa pegal akibat kehujanan kemarin. Kairi bangkit dari tidurnya, dan bergegas menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mencuci mukanya, ia keluar dari kamar mandi, dan melangkah keluar dari kamarnya. Perutnya terasa melilit sakit, karena lapar.
Dengan langkah yang sedikit cepat, Kairi berjalan menuruni anak tangga. Namun belum sampai ia menginjakkan kakinya dianak tangga yang terakhir, tiba-tiba ia sudah dikejutkan oleh suara wanita yang sedang berbicara dengan Ibunya.
"Maaf Tante tapi saya tidak punya pilihan lain." ucap wanita itu pada Bu Mirna.
Kairi menghentikan langkahnya, dan mencuri dengar apa sedang mereka bicarakan.
"Tidak bisakah diperbaiki lagi Nadhira, tidak bisakah kamu memaafkan Andra?" tanya Bu Mirna.
"Saya memaafkan dia Tante, tapi saya tidak bisa memperbaiki hubungan ini. Dia mencintai wanita lain, mana mungkin saya bisa tetap bertahan Tante." jawab Nadhira.
"Nadhira!" panggil Bu Mirna dengan pelan.
"Maaf Tante, keputusan saya sudah bulat. Pertunangan saya dan Andra akan batal, dan saya kesini untuk mengembalikan cincin ini." kata Nadhira.
"Tante benar-benar minta maaf Nadhira, Tante sangat menyayangkan sikap Andra. Tapi..." ucap Bu Mirna.
"I..iya hati-hati." ucap Bu Mirna dengan pelan. Beliau benar-benar kaget mendengar penjelasan dari Nadhira.
"Siapa wanita yang dicintai Andra, mungkinkah itu Ella. Jika memang benar, lalu akan seperti apa nantinya, Kairi dan Ella saling mencintai." batin Bu Mirna sambil memandang kepergian Nadhira.
"Siapa Ma?" tanya Kairi yang tiba-tiba datang mendekati Bu Mirna.
Bu Mirna sedikit tersentak, lalu beliau menoleh, dan menatap Kairi.
"Calon tunangannya Andra, tapi tadi dia datang kesini untuk mengembalikan ini." jawab Bu Mirna sambil menunjukkan kotak cincin yang sedang digenggamnya.
"Maksudnya?" tanya Kairi sambil menatap Ibunya, ia ingin memastikan jika pendengarannya tadi tidaklah salah.
"Tunangannya batal, karena Andra mencintai wanita lain. Entahlah ini benar atau tidak, Mama benar-benar pusing, Mama harus bertanya langsung sama Andra." kata Bu Mirna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ternyata apa yang aku dengar tadi memang benar, siapa ya wanita yang dicintai Andra. Semoga saja tidak seperti dugaanku." batin Kairi dalam hatinya.
"Mama ingin bicara sama Andra?" tanya Kairi.
"Iya." jawab Bu Mirna sambil mengangguk.
"Kalau begitu biar aku panggilkan ya Ma, sekalian nanti kita sarapan bersama." kata Kairi sambil tersenyum.
"Iya." jawab Bu Mirna sambil tersenyum.
Kairi kembali melangkah menaiki tangga, ia berjalan menuju kamar Andra yang terletak disebelah kamarnya.
Sampai di sana, Kairi mengetuk pintunya berkali-kali, namun tidak ada jawaban dari dalam. Kemana Andra?
Lalu Kairi mencoba membuka pintu kamar itu, yang ternyata tidak dikunci. Kemudian Kairi membukanya lebih lebar, dan matanya menatap sosok Andra yang sedang tertidur di sofa, dengan kepala yang ia telungkupkan di meja. Sambil mengernyit heran, Kairi melangkah mendekati Andra yang masih terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Satu benda yang pertama kali mencuri perhatian Kairi adalah sebingkai foto yang terletak diatas meja. Foto Andra dan Ella yang sedang tertawa bersama, tangan Andra merangkul bahu Ella dari samping, terlihat sangat akrab. Melihat pasir putih yang sedang mereka pijak, Kairi menebak jika saat itu mereka sedang berada di pantai.
Kairi tersenyum kecut saat menatap foto itu, entah kenapa hatinya tiba-tiba gelisah, dan tidak nyaman. Sambil menghela nafas panjang, Kairi menatap setiap jengkal ruangan itu, namun ia tidak menemukan hal menarik lainnya.
Lalu Kairi menatap Andra yang masih terlelap, dan tiba-tiba matanya menatap bingkai foto yang sedang digenggam Andra. Kairi penasaran, dan dengan pelan ia mencoba mengambil foto itu.
Kairi terpaku seketika saat menatap foto itu, foto Andra dan Ella yang sedang memakai seragam SMA. Tangan Andra tampak sedang mengusap rambut Ella, dan senyuman lebar terukir di bibir keduanya.
Kairi duduk ditepi ranjang, sambil tetap membawa foto itu. Ia memandangnya cukup lama, sambil mengusapnya dengan pelan. Tujuh tahun Ella mencintai Andra, Ella memendam perasaan yang begitu tulus dalam waktu yang cukup lama. Dan sekarang, sepertinya keadaan mulai terbalik.
"Apa kau memang mencintai Gabriella." ucap Kairi dengan pelan sambil menatap Andra yang masih belum terjaga.
"Apa aku salah sudah hadir diantara kalian." ucap Kairi sambil kembali menatap foto itu.
Senyuman Ella dalam foto itu benar-benar mengganggu hatinya, senyuman yang terlihat begitu tulus, pasti Ella sangat bahagia saat itu.
Kairi mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia beranjak dari duduknya, dan meletakkan kembali foto itu keatas meja. Ia menngguncang tubuh Andra, dan mencoba membangunkannya.
"Ndra! Bangun Ndra!" panggil Kairi.
Namun Andra hanya menggeliat pelan, dengan tetap memejamkan matanya.
"Andra!" teriak Bu Mirna yang tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu.
"Masih tidur?" tanya Bu Mirna sambil menatap Kairi.
"Iya Ma." jawab Kairi sambil melirik Andra.
Lalu Bu Mirna melangkah mendekati Andra, mencoba membangunkannya dengan pelan. Namun Andra tak bergeming, ia tetap terlelap dalam tidurnya.
"Andra!!" teriak Bu Mirna tepat di telinga Andra.
Andra tersentak kaget, dan spontan ia langsung melompat dari duduknya.
"Mama." ucap Andra sambil mendengus kesal.
"Mama mau bicara sama kamu." kata Bu Mirna sambil menatap Andra.
"Bicara apa?" tanya Andra dengan pelan.
"Apa yang kamu lakukan Andra, tadi Nadhira datang kesini dan mengembalikan cincin ini. Dia bilang pertunangan kalian batal, karena kamu mencintai wanita lain. Apa maksudnya ini Andra?" tanya Bu Mirna dengan suara yang sedikit tinggi.
Andra terpaku mendengar perkataan Ibunya, Nadhira sudah benar-benar meninggalkannya.
"Maafkan aku sudah mengecewakan kamu Nadhira." batin Andra dalam hatinya.
"Andra! Kamu jawab pertanyaan Mama, jangan diam saja!" bentak Bu Mirna.
"Aku memang tidak mencintainya Ma, jadi lebih baik batal saja. Daripada dipaksakan, nanti ujung-ujungnya saling membenci, dan berpisah. Terus yang jadi korban anaknya, seperti keluarga ini!" kata Andra juga dengan nada tinggi. Emosinya mulai tersulut, ia benar-benar lelah menjalani hidupnya, yang menurutnya sangat tidak adil.
"Jaga ucapan kamu Andra!" bentak Bu Mirna sambil menampar pipi Andra dengan keras.
"Tampar saja Ma, tampar atau pukul lebih keras, biar aku mati sekalian, biar aku bisa bertemu dengan Ayah. Dari dulu memang Mama yang selalu benar, dan aku yang selalu salah. Bahkan saat Mama menyembunyikan semua ini, Mama juga masih merasa benar. Tanpa pernah memikirkan perasaan aku yang sakit dan hancur. Aku tahu siapa Ayahku, disaat beliau sudah meninggal. Dan aku cuma bisa meminta maaf pada kuburannya, apakah menurut Mama semua itu lucu!" teriak Andra dengan nafas yang memburu. Otaknya sudah panas, ia tak bisa lagi berfikir dengan jernih. Hati dan fikirannya sudah dikuasai oleh amarah.
"Andra tenanglah! Jangan bicara seperti itu pada Mama!" kata Kairi sambil mendekati Andra. Ia mencoba menenangkan adiknya, karena Ibunya sudah menangis sambil memegangi dadanya.
"Aku bicara tentang kenyataan Kairi. Keegoisan Mama dan Papa membuat kita merasa sakit. Andai saja keluargaku harmonis, aku tidak akan butuh pelarian, aku tidak akan salah mengambil jalan. Andai saja aku bisa menjadi lelaki baik, aku tidak akan kehilangan orang yang kucintai." ucap Andra dengan pelan, Kairi bisa melihat jelas jika mata adiknya mulai berkaca-kaca.
"Siapa yang kau cintai?" tanya Kairi dengan jantung yang berdetak cepat.
"Kau tidak perlu tahu." jawab Andra dengan cepat.
"Aku perlu tahu Andra." kata Kairi.
"Kau yakin ingin tahu?" tanya Andra.
"Iya." jawab Kairi sambil mengangguk.
__ADS_1
"Yang kucintai adalah Ella, wanita yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparku. Sekarang kau puas, karena sudah tahu jawabannya. Tapi kau tenang saja Kai, aku tidak akan merebutnya. Aku yang terlalu bodoh, baru menyadari perasaan ini saat semuanya sudah sangat terlambat. Aku bahagia melihat dia bahagia, jadi berjanjilah padaku untuk selalu membahagiakan dia." ucap Andra sambil menepuk bahu Kairi. Lalu ia melangkah keluar dari kamarnya. Ia tidak peduli dengan Ibu dan Kakaknya yang terpaku saat mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya.
Bersambung......