Tentang Rasa

Tentang Rasa
Tentang Luka


__ADS_3

Kairi berjalan memasuki pintu rumahnya dengan langkah gontai. Jujur sebenarnya hatinya juga sakit, dan tidak rela jika harus berpisah dengan Ella. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Adiknya mencintai Ella, dan hanya Ella yang bisa mengembalikan semangat hidupnya. Sekian lama hubungan keluarganya cukup buruk, dan kini sudah mulai membaik, Andra juga sudah menjalani kehidupannya seperti biasa. Kairi tidak ingin hubungan keluarga ini kembali canggung, dan Andra kembali terluka. Ia rela mengalah demi kebahagiaan keluarganya.


Andra bukanlah lelaki tegar seperti dirinya, Andra sangat rapuh saat menghadapi masalah. Selama ini jalan hidupnya sudah cukup berantakan, dan Kairi yakin, hanya Ella yang bisa mengubah Andra menjadi pribadi yang lebih baik.


Kairi berhenti sejenak saat tiba didepan pintu kamarnya, ia menoleh, menatap pintu kamar Andra yang sudah tertutup rapat.


"Aku akan kembali ke London, aku akan menyimpan lukaku ini sendiri, aku harap kau bisa menjaga dia." ucap Kairi sambil menghela nafas panjang. Lalu ia melangkah masuk kedalam kamarnya.


Kairi duduk di kursi didekat jendela kamarnya, ia menyibak tirainya, dan menatap rembulan yang sedikit tertutup awan.


"Semoga keputusanku ini sudah benar. Maafkan aku Gabriella, bukannya aku tidak peduli dengan perasaan kamu. Aku melakukan semua ini, karena aku tidak bisa melihat adikku kembali terluka. Kaulah satu-satunya orang yang bisa membawanya kedalam kebaikan. Aku yakin kau masih menyimpan perasaan untuk dia, walaupun itu cuma sedikit, tapi itu sudah cukup untuk membuatmu bahagia bersamanya." ucap Kairi sambil menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya.


Lalu Kairi mengambil ponselnya, ia menatap foto Ella yang sedang tersenyum manis. Kairi mengusapnya dengan pelan.


"Tetaplah tersenyum, meskipun aku sudah tidak ada disamping kamu. Gabriella, aku tidak mengingkari janjiku, aku akan tetap mencintai kamu. Hanya saja, keadaan yang memaksaku untuk melepasmu. Kau yang selalu ada dihatiku, selamanya." ucap Kairi sambil mendekap erat ponselnya. Ia memejamkan matanya, dan membayangkan Ella yang berada dalam dekapannya.


***


Kairi membuka matanya dengan pelan, kala sinar surya mulai menerpa wajahnya. Rupanya semalam ia lupa menutup tirainya, sehingga sekarang sinar surya bisa menyeruak masuk kedalam kamarnya. Kairi melirik jarum jam yang menggantung diatas meja, sudah jam sembilan. Semalam ia terus terjaga, dan selepas subuh ia baru bisa memejamkan matanya.


Kairi bukan lelaki seperti Andra, yang butuh pelarian saat sedang ada masalah. Kairi hanya akan menyimpan lukanya sendiri, tak perlu orang lain tahu. Percuma saja ada yang tahu, tidak akan ada yang bisa mengobati lukanya. Menurut Kairi, hanya diri sendirilah yang bisa mengobati luka hati, bukan orang lain. Kairi juga pantang mengeluarkan air mata, karena sejak beranjak dewasa, ia mulai tahu. Luka akan semakin menganga, jika kita meneteskan air mata. Abaikan saja luka, kelak ia akan bosan, dan akan pergi dengan sendirinya.


Tanpa mandi ataupun mencuci muka, Kairi beranjak dari tidurnya. Perut memang tidak bisa diajak berkompromi. Meskipun hati sedang sedih, namun perut juga ngotot minta diisi. Kairi melangkah menuruni tangga, dan menuju ke meja makan. Sepi, tidak ada siapa-siapa. Kemana keluarganya, ini adalah hari Minggu, seharusnya mereka berada di rumah sekarang.


Kairi duduk disalah satu kursi, ia membuka tutup saji yang berada diatas meja. Lalu ia mengambil piring, dan mulai mengambil sarapannya. Kairi menyantap makanannya dengan lahap, rupanya kesedihan dihatinya tidak berpengaruh pada perutnya.


"Kai!" panggil Bu Mirna sambil melangkah mendekati Kairi, dan duduk didepannya.


"Itu apa Ma?" tanya Kairi sambil menatap buku yang sedang dipegang Ibunya.


"Mama sedang melihat-lihat dekor pernikahan, tidak apa-apa kan jika Mama ikut memilihnya." jawab Bu Mirna sambil tersenyum.


Kairi menghentikan kunyahannya, dekor pernikahan. Bagaimana caranya ia menjelaskan pada Ibunya, bahwa ia sudah berpisah dengan Ella.


"Boleh saja Ma, tapi nanti sore aku akan terbang ke London." kata Kairi sambil kembali menyuap makanannya.


Bu Mirna tersentak kaget, spontan ia langsung menutup bukunya, dan menatap Kairi lekat-lekat.


"Ada apa Kai, kenapa kamu tiba-tiba kembali ke London?" tanya Bu Mirna.


"Siapa yang akan ke London Ma?" tanya Andra yang baru saja muncul diantara mereka.


"Ada urusan kerja yang tidak bisa ditunda Ma, jadi aku harus kesana. Tidak lama, hanya sebentar." ucap Kairi sambil terus mengunyah makanannya.


"Maafkan aku Ma, aku belum bisa jujur sama Mama." batin Kairi dalam hatinya.


"Kau serius ini hanya soal pekerjaan?" tanya Andra.


"Serius, aku tidak lama kok di sana." jawab Kairi tanpa menoleh.


"Ya sudah kalau begitu, kalau bisa jangan lama-lama ya. Bukankah kau dan Ella sudah merencanakan pernikahan, tidak baik jika punya rencana, tapi ditunda-tunda." kata Bu Mirna.


"Iya Ma, hanya sebentar saja." jawab Kairi sambil menengguk segelas air putih yang ada dihadapannya.


"Aku ke kamar dulu ya Ma." ucap Kairi sambil beranjak dari duduknya, lalu ia melangkah menaiki anak tangga.


Andra menatap Kairi sambil mengernyitkan keningnya, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kairi, tapi apa?


"Aku ke kamar dulu ya Ma!" teriak Andra sambil berlari mengikuti Kairi.


Bu Mirna hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Andra.


"Tunggu Kai!" teriak Andra saat melihat Kairi sudah membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Kairi sambil menatap Andra.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau sembunyikan?" Andra balik bertanya.


"Apa maksudmu, aku tidak menyembunyikan apa-apa." jawab Kairi.


"Kenapa kau tiba-tiba ke London?" tanya Andra.


"Ada urusan bisnis yang tidak bisa ditunda, dan tidak bisa diwakilkan." jawab Kairi.


"Kau yakin hanya itu, wajahmu terlihat kusut Kai, apa kau sedang ada masalah?" tanya Andra sambil menatap Kairi.


"Tidak, wajahku kusut karena aku belum mandi."


"Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu aku ke kamar dulu." ucap Andra sambil melangkahkan kakinya.


"Tunggu Ndra!" kata Kairi.


"Ada apa?"


"Nanti saat aku tidak ada, tolong jaga Gabriella ya." ucap Kairi sambil menatap Andra.


"Kau bilang kau hanya pergi sebentar." kata Andra.


"Iya, tapi tolong jaga dia, jangan sampai terjadi apa-apa padanya, dan jangan sampai menyakiti dia." ucap Kairi.


"Baiklah." jawab Andra sambil mengangguk. Sebenarnya ia tidak terlalu faham dengan maksud Kairi, kenapa dirinya disuruh menjaga Ella. Bukankah Kairi tahu kalau dirinya mencintai Ella, memangnya tidak cemburu. Andra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Meskipun bingung tapi ia menyimpannya sendirian, karena Kairi sudah masuk kedalam kamarnya. Andra sudah tidak bisa bertanya lagi padanya. Dan tidak punya pilihan lain, akhirnya Andra juga masuk kedalam kamarnya.


***


Ella duduk termenung didekat jendela kamarnya, menatap cahaya keemasan dari sang mentari yang menyinari bumi. Ella sudah terjaga sejak fajar belum menyingsing, namun hingga mentari sudah beranjak tinggi, ia belum juga keluar dari kamarnya.


Sejak tadi Ella duduk di sana, dari hari masih dingin, dan gelap hingga hari sudah mulai memanas. Air matanya tak lagi menetes, namun pandangannya tampak kosong tanpa arah. Berpisah dengan Kairi benar-benar membuat hatinya terguncang. Ia sangat mencintai lelaki itu, ia sangat bahagia dengan hubungannya, ia merasa menjadi wanita yang paling sempurna. Namun kini semuanya hanya tinggal kenangan, Kairi telah menjatuhkan dirinya dalam luka yang paling dalam.


Ella menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia meraba cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Sejak semalam ia mencoba melepaskan cincin itu, namun tak bisa. Hatinya selalu saja menjerit sakit, setiap kali ia mencoba melepasnya. Tidak semudah dulu, sewaktu ia melepaskan kalung, dan gelang pemberiannya Andra. Rupanya cintanya untuk Kairi jauh lebih besar, daripada cintanya untuk Andra dimasa lalu.


Ella menunduk, membiarkan rambutnya berjuntaian menutupi wajahnya. Ia tidak pernah menyangka, jika Kairi akan meragukan perasaannya. Selama ini ia telah mencintai Kairi dengan sepenuh hati, namun entah kenapa lelaki itu tak bisa mengerti.


Tak berapa lama kemudian, Ella keluar dari kamar mandi. Dan benar saja, rasa dingin yang menggigil bisa sedikit meringankan beban dihatinya. Ella membalut tubuhnya dengan celana selutut, dan kaos pendek warna merah. Rambutnya yang masih basah ia biarkan tergerai begitu saja.


Ella keluar dari kamarnya, ia melangkah menghampiri Ibunya yang sedang berada di toko. Pengunjung cukup ramai, bahkan tiga karyawan yang membantu Ibunya, terlihat sedikit kewalahan melayani pembeli.


"Ibu!" panggil Ella sambil mendekati Ibunya.


"Kamu siang sekali bangunnya El." tegur Bu Halimah. Memang tidak biasanya Ella keluar dari kamar sesiang ini.


"Sedikit lelah Bu." jawab Ella. Dia adalah pribadi yang tertutup, tidak mudah menceritakan tentang masalahnya, bahkan pada Ibunya sendiri.


"Ini mau dikirim Bu?" tanya Ella saat melihat Ibunya menata kue kedalam kardus.


"Iya, tapi masih menunggu Masmu." jawab Bu Halimah.


"Mas Gilang kemana?" tanya Ella.


"Mengirim pesanan, tapi yang ini tidak searah. Jadi tidak dibawa sama Masmu." jawab Bu Halimah.


"Ini kan cuma sedikit, apa aku saja Bu yang mengantar." kata Ella sambil menatap Ibunya yang sedang memasukkan kardusanya kedalam kantong.


"Ibu terserah saja, kalau kamu mau juga tidak apa-apa." ucap Bu Halimah.


"Mengantar pesanan sambil jalan-jalan sebentar, mungkin bisa membantuku melupakan luka ini, ya walaupun hanya sejenak." batin Ella sambil tersenyum.


"Kalau begitu aku antar ya Bu." kata Ella sambil membawa kantongnya, dan menyambar kunci motornya.


"Iya, hati-hati El." ucap Bu Halimah.


"Iya Bu." jawab Ella sambil melangkah pergi.

__ADS_1


Ia mulai menaiki motornya, ia tersenyum kala mengingat tentang dulu. Motor inilah yang menjadi temannya dalam mencari recehan. Meskipun butut, tapi bagi Ella ini adalah benda paling berharga, dan paling berjasa dalam hidupnya.


Ella mulai melajukan motornya, menyusuri jalanan yang cukup padat. Ella mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, karena alamat yang ia tuju tidak terlalu jauh, jadi ia tidak perlu terburu-buru.


Beberapa menit kemudian Ella sudah sampai ditempat tujuan, ia memberikan kue pesanannya, dan berbincang sebentar dengan pelanggan. Kemudian Ella kembali melajukan motornya. Namun ia tidak pulang, melainkan menuju ke taman yang dulu sering ia kunjungi.


Sesampainya di sana, Ella duduk disalah satu kursi dibawah pohon rindang. Menatap beberapa orang yang sedang bersantai di sana, ada yang bersama teman-temannya, ada yang bersama keluarganya, dan juga ada yang bersama pasangannya.


Ella menunduk, menatap satu cup matcha latte dingin yang sedang digenggamnya. Lagi-lagi bayangan tentang Kairi kembali melintas dalam ingatannya. Di London ia pernah menghabiskan waktunya bersama Kairi di taman. Romantis, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana waktu itu. Ahh tapi apa gunanya romantis, kalau sekarang hanya tinggal kenangan. Semua tentang Kairi kini telah semu, hanya ada dalam bayangan saja, tidak lagi menjelma dalam nyata.


"Kenapa Kairi membuatku selemah ini. Aku tidak pernah menduga, diriku akan rapuh hanya karena cinta." ucap Ella sambil menggigit bibirnya.


Suara tawa dan teriakan dari anak kecil yang sedang bermain dengan orang tuanya, membuat Ella mendongakkan wajahnya. Ia menatap anak itu, lucu dan menggemaskan. Usianya sekitar lima tahun, ia bermain bola dengan ayah, dan ibunya. Mereka tertawa bahagia, terlihat jelas jika hubungan mereka sangat harmonis.


Ella kembali menunduk, bahkan kini sambil memegangi kepalanya. Impiannya untuk menikah dengan Kairi sekarang sudah kandas. Ia tak bisa lagi membangun rumah tangga yang bahagia bersama kekasihnya.


"Kau sangat berharga dalam hidupku Kai, kau sudah menempati semua ruang dalam hatiku. Kekecewaanku padamu, ternyata tak mampu memudarkan rasa cintaku. Meskipun aku pergi, namun aku tetap membawa rasa cinta ini. Meskipun nanti aku menikah dengan yang lainnya, namun seseorang yang kucintai tetaplah kau Kairi." ucap Ella sambil memejamkan matanya. Berharap bayangan Kairi akan menghilang dalam ingatannya.


Ella menyesap minumannya, menikmati sensasi rasa dingin yang mulai membasahi tenggorokannya. Ella menghela nafas panjang, mencoba menguatkan hatinya yang mulai rapuh.


"Dia sudah ragu dengan perasaanku, dia sudah melepaskan aku, dan dia juga sudah mengecewakan aku, tapi kenapa aku masih mencintainya. Seharusnya aku bisa melupakan dia, karena dia sudah tidak mengharapkan aku lagi. Tapi kenapa aku tidak bisa, kenapa sekarang aku selemah ini." ucap Ella dengan pelan.


"Ella!" panggil seseorang dibelakang Ella.


Ella tertegun mendengar suara itu, untuk apa dia datang kesini?


"Andra." kata Ella sambil menoleh menatap Andra yang sudah duduk disebelahnya.


"Kau kenapa duduk sendirian di sini?" tanya Andra.


"Tidak apa-apa, hanya ingin duduk saja." jawab Ella singkat.


"Oh begitu." ucap Andra.


"Sepertinya memang ada masalah, Ella terlihat muram, dan Kairi tiba-tiba ingin kembali ke London. Ada apa sebenarnya, aku harus mencari tahu." batin Andra sambil menatap Ella yang sedang menunduk.


"Kau kenapa kesini?" tanya Ella tanpa menoleh.


"Sebenarnya aku tadi hanya lewat, dan tidak sengaja melihatmu duduk sendiri. Jadi aku menghampirimu, karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." jawab Andra.


"Andra ingin membicarakan apa, terakhir kali dia menemuiku, dia membicarakan tentang perasaannya. Mungkinkah sekarang juga sama, Kairi baru saja melepaskan aku, dan sekarang tiba-tiba Andra menemuiku. Ternyata Andra yang membuat Kairi melepaskan aku." batin Ella dalam hatinya.


"Aku harus pulang sekarang Ndra." kata Ella sambil beranjak dari duduknya. Untuk apa berbicara dengan lelaki egois seperti Andra. Saat terpuruk Ella peduli pada Andra, tapi Andra malah menyalahgunakan kebaikannya, dan menyebabkan Ella berpisah dengan Kairi.


"El tunggu, aku harus bicara denganmu, ini penting El. Ini tentang..." ucap Andra sambil ikut berdiri, dan menahan tangan Ella.


"Tentang apa!" teriak Ella sambil menepiskan tangan Andra.


"Aku tidak menyangka kau setega ini Ndra. Kemarin kau terpuruk, aku datang menemuimu, dan peduli denganmu, karena aku masih menganggap kamu sebagai sahabatku. Tapi apa balasan kamu, kamu memanfaatkan kepedulianku, dan membuat Kairi salah paham denganku!" kata Ella dengan nada tinggi.


"Apa maksud kamu El?" tanya Andra sambil mengernyit heran, salah paham seperti apa yang Ella maksud, ia benar-benar tidak mengerti.


"Apa belum cukup kamu menyakiti aku dimasa lalu, tujuh tahun kamu menyakiti aku Ndra. Dan sekarang saat aku sudah bahagia, kamu datang dengan perasaan kamu, dan kamu mengusik kebahagiaanku. Apa kamu memang ditakdirkan untuk menjadi luka dalam hidupku Ndra, apa kamu memang diciptakan untuk merenggut kebahagiaanku. Apa memang seperti itu Andra!" teriak Ella sambil menangis. Ia tak bisa lagi menahan emosinya, ia harus melampiaskan, kesedihan, dan juga kekecewaannya.


"El dengarkan aku dulu, aku bisa menjelaskannya, aku tidak..." kata Andra sambil mencoba menenangkan Ella.


"Cukup! Aku tidak butuh penjelasan dari kamu. Jika memang kau belum puas menyakitiku, kenapa tidak kau bunuh saja aku Ndra. Itu akan lebih baik, daripada kau terus membuatku terluka seperti ini!" teriak Ella sambil menatap Andra dengan tajam.


"Apa maksud kamu El, aku tidak mengerti. Aku..." ucap Andra yang kalimatnya lagi-lagi hanya menggantung, karena Ella dengan cepat sudah menyahutnya.


"Asal kau tahu Ndra, hatiku sangat sakit. Kehilangan cinta itu sakit, berpisah itu sakit. Kenapa kau tidak mengerti Ndra, kenapa kau setega ini. Aku hanya ingin kau merelakan aku bersama dia, tapi kenapa kau tidak bisa melakukan itu Ndra. Kenapa kau malah membuatnya melepaskan aku." kata Ella sambil menangis pilu. Air matanya berderaian membasahi kedua pipinya.


"Melepaskan kamu, jadi Kairi melepaskan kamu. Kenapa dia melakukan ini, apa maksudnya dia." batin Andra dalam hatinya.


Ia mulai mengerti dengan pokok permasalahannya, Kairi melepaskan Ella karena dirinya. Tapi yang membuat Andra bingung, kenapa Kairi melakukan semua ini.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2