
Setelah makan siang Rena dan Albian melanjutkan kembali menonton film. Entah sudah film yang keberapa yang mereka tonton.
Suasananya sangat hening. Rena tak benar-benar fokus menonton. Begitu pula dengan Albian. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Aku bukanlah anak kandung papaku saat ini" ucap Rena tiba-tiba membuat Albian menoleh.
"Sejak aku berusia 5 tahun, aku terbiasa melihat papa kandungku bercumbu dengan wanita lain" Rena kemudian menatap Albian yang juga menatapnya.
"Mama hanya bisa menangis di kamar. Puncaknya saat usiaku 10 tahun. Papa sudah mulai kasar. Mama selalu babak belur dipukuli papa. Disaat itulah mama memutuskan bercerai. Dan 7 tahun lalu aku menjadi wanita yang telah merebut seorang gadis kecil"
Rena menghela nafasnya dengan pandangannya lurus ke depan menerawang jauh.
"Hampir 3 tahun aku berhubungan dengannya, aku benar-benar tidak tahu kalau dia sudah memiliki keluarga. Kita merajut mimpi bersama untuk memiliki rumah tangga. Hingga saat malam itu aku mengetahui semuanya". Tangan Rena mulai tremor dan berkeringat dingin. Rena memejamkan matanya.
Albian memeluk Rena dan mengusap punggungnya. Cukup lama mereka berpelukan tanpa mengatakan apapun.
Setelah merasa lebih baik Rena melepaskan pelukan Albian.
"Sorry .."
"Ga apa-apa" ucap Albian tersenyum.
"Keluar yuk"
"Mau keluar kemana?" Tanya Rena.
"Aku tau suatu tempat yang pasti kamu suka" ucap Albian.
Rena mengernyitkan dahi nya. " Yakin aku bakalan suka?"
"Yakin banget. Ajak Cindy sekalian" sahut Albian.
"Sebentar aku telp Cindy dulu, mungkin dia masih di kampus"
__ADS_1
Albian mengangguk kemudian merapikan meja yang tadi dipenuhi oleh makanan sembari menunggu Rena menelpon Cindy.
Mereka bersiap setelah menelpon Cindy. Mereka janjian untuk ketemu di tempat langsung karena Cindy masih ada kuliah.
Mereka menempuh perjalanan yang cukup lama menggunakan sepeda motor Albian. Hampir 1 jam lamanya mereka di perjalanan. Obrolan ringan mereka membuat perjalanan mereka terasa cepat.
Sesampainya di tujuan Albian memarkirkan motornya. Rena kemudian turun dan membuka helmnya.
"Waaaah" rasa kagum yang ia rasakan saat melihat tempat itu.
Sebuah restoran kecil yang berada di pinggiran kota. Halaman yang indah di isi dengan berbagai jenis tanaman. Dan di dalamnya pun tak kalah banyaknya tanaman. Sungguh terasa menenangkan.
Mereka berdua pun masuk ke restoran itu. Tak banyak pengunjung pada saat itu.
"Nak Albian" sapa seorang wanita paruh baya yang berada di dapur.
Restoran tersebut memiliki dapur yang terbuka. Sehingga pelanggan dapat melihat proses memasaknya.
"Apa kabar Bi?" Tanya Albian setelah mereka berpelukan.
"Seperti yang terlihat" jawab Julia tersenyum. Pandangan Julia kini beralih ke Rena kemudian kembali menoleh ke Albian.
"Perkenalkan ini Rena salah satu bos aku di restoran tempatku bekerja sekarang" ucap Albian.
Rena menepuk pundak Albian.
"Memang kamu atasan aku kan?" Tanya Albian dengan wajah sok polosnya.
Rena memutar bola matanya malas menanggapi Albian. Kemudian Rena bersalaman dengan Julia sambil menundukan sedikit kepalanya.
"Cantiknya…" puji Julia.
Pujian itu membuat pipi putih Rena merona.
__ADS_1
"Terima kasih. Bibi juga sangat cantik" sayut Rena.
Memang Julia benar-benar cantik di usianya yang tidak muda lagi.
"Terima kasih. Rasanya bosan mendengar pujian itu"
Merek pun tertawa menanggapi ucapan Rena.
Kemudian Rena dn Albian duduk di salah satu sudut di dekat jendela.
"Bibi Julia itu siapa?" Tanya Rena.
"Teman bundaku"
Rena membulatkan bibirnya kemudian mengangguk angguk.
"Kamu mau makan dulu atau mau lihat pemandangan disini dulu?" Tanya Albian.
"Kita lihat-lihat pemandangan dulu yuk" sahut Rena.
"Ayo, di belakang ada kebun bunga dan kebun herba" ujar Albian.
Mereka pun beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana kalian?" Tanya Julia yang melihat Albian dan Rena sedang berjalan.
"Mau ke belakang sebentar Bi" jawab Albian.
" Ga mau minum dulu?"
"Nanti aja Bi, nanti aku buat sendiri. Bibi tenang aja" Jawab Albian tersenyum.
"Baiklah" sahut Julia kemudian kembali ke dapur dan mereka kembali berjalan ke halaman belakang.
__ADS_1