
Sementara itu, Max jenuh di dalam kamar, dia ingin berjalan-jalan keluar. Dia bangun dari tidurnya dan akan turun dari brankar.
" Ahhh!" rintih Max merasakan perutnya yang sedikit sakit.
Dia turunkan kakinya dan berjalan pelan sambil membawa tiang infusnya, membuka gorden yang menutup ruangannya.
" Mau kemana, Pak?" tanya seorang wanita yang sepertinya sedang menunggu suaminya.
" Mau keluar sebentar, Bu! Capek tiduran terus!" kata Max tersenyum.
" Oh! Hati-hati, Pak!" kata wanita itu lagi.
" Trima kasih, Bu!" jawab Max.
Di bagian pojok terlihat sedikit ramai, mungkin ada beberapa orang anggota keluarganya yang datang menjenguk. Max membuka pintu kamar tersebut dan melangkah keluar. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, ada beberapa orang sedang duduk di kursi tunggu dan ada juga yang menggelar karpet untuk duduk dan tidur disitu. Dia berjalan kembali ke arah kanan melewati lift.
Ting! Lift berdenting dan pintu lift terbuka. 2 orang pria dengan jaket warna hitam keluar dan berdiri di pojok pagar pembatas RS. Max berjalan mendekati mereka, karena dia merasa gerak gerik mereka sangat mencurigakan. Max berjalan dan menemukan sebuah tembok yang menjorok sedikit hingga bisa dijadikan tempat untuk bersembunyi.
" Mana kamarnya? Yang itu?" tanya salah satu pria sambil kepalanya digerakkan sebagai tanda menunjuk ke arah sebuah kamar di bawah sana.
" Iya, nama kamarnya Anggrek 1!" kata satunya.
" Lo yakin itu kamarnya?" tanya pria itu.
" Iya! Jangan khawatir tadi siang aku lewat beberapa kali disana!" jawab satunya.
" Kau cari cara mengalihkan perhatian pengasuhnya dan aku akan menculik anaknya!" kata pria yang pertama bicara.
" Ok! Aku lihat keadaan dibawah dulu!" kata pria yang satu.
" Ok!" jawab yang pertama.
Salah satu dari mereka turun kembali dan berjalan di ruang anak VVIP. Pria itu mengangkat ponselnya yang sepertinya bergetar.
" Halo!"
" Hanya ada pengasuhnya!"
" Ok! Yang lain gimana?"
__ADS_1
" Anak buah kita sudah siap ditempatnya masing-masing!"
" Bagus! Ayo!"
Pria itu mematikan panggilannya dan turun melalui tangga dengan pelan agar tidak mencurigakan. Sepertinya mereka tidak mau tertangkap kamera CCTV di tempat yang sama dalam pakaian yang sama lagi. Setelah mereka menghilang dibalik dinding, Max langsung berjalan menuju ke arah lift yang kebetulan berhenti di lantai 2 karena ada yang keluar. Max masuk ke dalam lift setelah mencabut jarum infusnya sebelumnya.
" Arghhh!" Max meringis.
Darah keluar dari bekas jarum yang dicabutnya. Max merobek ujung kaosnya dan dipakainya untuk membalut bekas jarum tersebut. Rasa sakit di perutnya kembali hadir saat dia berjalan dengan cepat ke arah Ruang Anggrek. Di salah satu tanaman yang tumbuh di Taman depan ruang Anggrek tersebut, Max bersembunyi dan mengamati sekitar. Entah siapa yang merencanakan penculikan tersebut, Max melihat beberapa pria yang terlihat mencurigakan. Dikeluarkannya ponsel miliknya, lalu dia menghubungi pihak kepolisian sambil mengirimkan percakapan 2 pria yang di lantai atas tadi.
Max mematikan panggipannya saat melihat seorang pria masuk ke dalam kamar rawat inap anak yang akan mereka culik. Max segera menyusul berlari masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan rasa sakitnya. Dilihatnya penculik itu menodongkan sebuah pisau pada pengasuh anak itu, dengan cepat Max yang membawa tempat sampah diluar kamar memukulkan tempat sampah itu.
" Awas!" teriak pengasuh itu.
Pria itu menoleh ke belakang, tapi kalah cepat dengan Max, pria itu terjatuh dengan kepala yang mengeluarkan darah.
" Kamu tidak apa-apa? Siapa namamu?" tanya Max khawatir.
" Saya tidak apa-apa! Saya Susi dan dia Axon!" jawab pengasuh itu.
Max menggendong Axon yang terlelap itu dibahunya tanpa melihat wajahnya.
Susi berjalan mendahului Max dan membuka pintu, tapi perhitungan Max meleset, karena ada seorang wanita, komplotan mereka yang melihat Max masuk lalu melaporkan pada temannya.
" Mau dibawa kemana anak itu?" tanya seorang pria dengan menodongkan pistol ke arah pengasuh itu, Max terkejut dan diam ditempatnya.
" Tenang, Bro! Kami hanya ingin mencari udara segar!" jawab Max.
" Letakkan dia!" kata pria itu tanpa menurunkan senjatanya pada Susi.
" Ok! Tapi jangan sakiti dia!" kata Max. Max meletakkan Axon kembali ke brankar dan melihat ada pisau buah di atas nakas. Dengan cepat diambilnya pisau itu dan dilemparkannya ke arah pria itu.
" Akhhhhh!" teriak pria itu dengan tangan berdarah akibat pisau Max yang menancap di pergelangan tangannya hingga membuat pistolnya terjatuh. Dengan cepat Max berlari akan mengambil pistol tersebut, tapi dia terkejut melihat apa yang terjadi dihadapannya.
" Kamu?" ucap Max tidak percaya.
" Ya! Anda terlalu banyak ikut campur!" kata Susi yang menodongkan pistol ke arah Max lalu mengambil pistol yang terjatuh tadi kemudian memberikannya pada pria itu.
" Kamu juga seorang wanita dan aoan menjadi ibu suatu hari!" ucap Max marah.
__ADS_1
Tapi Susi hanya diam saja.
" Brengsek!" ucap pria dengan pisau tertancap tadi.
Bug! Dia memukul wajah Max hingga berdarah dan terjatuh.
" Bawa dia cepat!" kata pria itu sambil menodongkan pistolnya pada Max. Susi menggendong Axon dan berjalan ke arah pintu kamar. Tapi sebelum dia keluar, di depan pintu telah berdiri Netta, Diana dan Mike.
" Susi?" ucap Netta.
Max yang sempat melihat wajah Netta, dengan cepat dia berteriak.
" Arnetta awas dia membawa pistol!"
Dengan cepat Mike merampas pistol dari Susi dan memutar tangan Susi ke belakang.
" Auchhh! Sakit, Tuan!" kata Susi yang menyebabkan Axon terbangun dan langsung diambil oleh Netta. Sementara Max yang tadi berteriak dipukul lagi oleh pria itu di bagian wajahnya dengan pistol hingga keningnya berdarah. Pria itu menodongkan pisgolnya ke kening Max. Netta menghadapkan kepala Axon kebelakang agar tidak melihat adegan keras itu. Dia melihat apa yang ada di depannya dengan hati yang kacau.
" Menyerahlah! Kamu sudah terkepung!" kata Max.
" Diam!" teriak pria itu gugup.
" Dia benar! Sebaiknya kamu menyerah saja! Teman-temanmu sudah tertangkap polisi diluar sana!" kata Mike dengan tegas.
Dia perlahan mendekat ke arah pria bersenjata itu.
" Berhenti! Atau aku akan meledakkan kepalanya!" kata pria itu.
" Pergilah, Tuan! Bawa Netta dan anak kalian pergi!" kata Max.
" Diam! Apa kamu mau kepalamu meledak?" tanya pria itu semakin gugup.
" Tembak saja! Aku tidak memiliki siapa-siapa didunia ini! Kematianku tidak akan ada yang menangisi!" kata Max pasrah.
" Aku akan benar-benar menembakmu!" kata pria itu.
Dorrrr! Max memejamkan matanya, dia tersenyum sambil mengingat wajah Netta di pikirannya. Arnetta! Terima kasih pernah hadir dalam hidupku, terima kasih pernah mencintai pria brengsek sepertiku, aku berharap semoga kamu bahagia selalu bersama dengan suami dan anak kalian! Batin Max dengan tersenyum.
" Maxxxx!" teriak Netta sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Selamat Tinggal Arnetta! Kenapa aku tidak merasakan sakit di kepalaku? batin Max lalu membuka matanya kembali.
__ADS_1