
Dia takut jika itu adalah seorang pembunuh bayaran apalagi setelah peristiwa beberapa bulan yang lalu. Deg! Apa dia...Max? batin wanita itu, yang melihat Max sedang duduk diatas motor dengan memakai seragam OB kantor Netta dibonceng tukang ojol yang berwajah brewok. My God! Aku tidak percaya dengan semua ini! Tega sekali Netta menjadikan papa putranya seorang OB! batin wanita itu.
" No, dear! It's just a coincidence! Not everyone's hairy is a criminal! " jawab wanita itu. Kenapa tu lampu nggak hijau-hijau, sih! batin wanita itu melihat ke arah lampu lalin yang masih merah. Anak itu tidak berhenti menatap sopir ojol itu. Ada sesuatu pada orang itu yang membuatnya tertarik.
" Om! Om!" panggil Axon.
Max menggerakkan kepalanya, karena ada yang memanggil-manggil, begitu juga dengan sopir ojol itu. Tapi ternyata lampu berubah menjadi hijau dan motor Maxpun langsung pergi meninggalkan jalan tersebut. Diana bernafas lega saat mereka sudah pergi. Max masih bisa melihat sekilas wajah Axon dan mengingat-ingat wajah Axon yang mirip dengan seseorang.
" Aku mau makan nasi campur, Mom Di!" kata Axon.
" Baik, sayang! Pak, kita ke restoran biasanya!" kata Diana pada sopirnya.
" Baik, Nyonya!" jawab sopir tersebut. Mobil yang mereka tumpangi memutar balik arah karena jalan menuju restoran yang telah terlewati.
Max sedang duduk di ruang tunggu khusus untuk pembeli yang membeli makanan untuk dibawa pulang. Tidak lama kemudian dia pergi ke toilet karena ingin buang air saat Diana keluar dari mobil dengan menggandeng putrinya, sementara Axon berjalan sendiri di samping Diana. Mereka bertiga masuk ke dalam resto.
" You stay here with your brother! Mommy going to talk with the manager!" kata Diana yang menyuruh kedua anak tersebut untuk duduk di ruang tunggu pembeli yang makan di tempat.
" Yes, Mommy!" jawab Ella.
Diana pergi menemui manager di resto tersebut yang merupakan teman dari Mike. Max berjalan keluar dari toilet setelah selesai buang air kecil, lalu dia kembali ke tempat duduknya. Ponsel Max berbunyi, nama Mama tertera dilayar ponselnya.
" Halo, Ma!"
" Apa kabar sayang?"
" Baik, Ma! Mama gimana?"
" Mama merindukanmu, sayang!"
" Ma! Mama harus melupakan aku! Jika papa tahu, dia akan marah!"
" Mama bisa mati Max jika tidak ketemu kamu lagi!"
( Mama Max menangis tertahan, Max menghembuskan nafasnya panjang)
" Aku harus pergi, Ma! Ada meeting sebentar lagi!"
" Apa bisa kita bertemu dikantormu sebentar?"
" Jangan, ma! Maksudku, jangan di kantor! Nanti akan aku beritahu tempatnya!"
" Baiklah, sayang! Mama sayang kamu, nak!"
" Aku juga sangat menyayangi mama!"
Mama Max mematikan panggilannya dan mata Max berkaca-kaca mendengar ucapan mamanya.
Sebuah tangan kecil menyodorkan tissue ke hadapan Max. Max mengangkat kepalanya, sebuah senyum terbentuk diwajah kecil tersebut.
" Kata kakakku laki-laki tidak boleh menangis!" kata anak tersebut.
Max mengambil tissue ditangan anak perempuan tersebut dan menghapus airmatanya lalu tersenyum pada anak tersebut.
" Kakak kamu benar! Mana dia?" tanya Max.
" Itu!" kata anak tersebut menunjuk ke arah seorang anak yang di sebrang Max dengan wajah yang asyik menatap ponselnya.
" Dia pasti kakak yang hebat!" kata Max.
__ADS_1
" Tentu saja! Dia selalu menjagaku!" kata anak itu lagi.
" Siapa namamu?" tanya Max.
" Mikaela! Dan itu kakakku..."
" Pesanan dengan nomer 1357!" panggil waiter di tempat bagian pengambilan makanan.
" Sebentar ya, sayang!" kata Max lalu berdiri dan berjalan mendekati meja bagian pengambilan makanan.
" Nomor 1357?" tanya waiter itu.
" Ya,bak!" jawab Max.
" Ini pesanannya!" jawab waiter.
" Trima kasih!" jawab Max.
Dia mengambil bungkusannya lalu kembali mendekati Ella.
" Om pergi dulu, ya! Salam pada kakakmu! Bilang padanya jika di pasti akan menjadi pria yang hebat!" kata Max.
Ella menganggukkan kepalanya.
" Nama Om siapa?" tanya Ella.
" Maximiliano Smith! Panggil saja Om Max!" kata Max, lalu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ella.
" Kamu melambaikan tangan pada siapa, sayang?" tanya Diana yang tiba-tiba datang dan melihat tingkah Ella.
" Hanya pada orang lewat!" kata Ella.
" Ah, sayang! Jangan berbuat itu lagi, ya! Nanti dikira mereka kamu mengenal mereka dan yang memiliki niat jahat akan membawamu, sayang!" tutur Diana dengan raut wajah takut.
" Ayo kita makan! Kakakmu?" tanya Diana.
" Aku disini, Mom Di!" kata Axon yang telah berjalan mendekati Diana dan Ella. Mereka bertiga duduk di ruang VIP seperti biasa dan makan dengan tenang.
" Siapa namanya?" tanya Ella saat Diana keluar untuk ke toilet.
" Tunggu, Kak! Aku'kan masih kecil jadi sedikit susah mengingat!" kata Ella.
" Huh! Dasar IQ kamu saja yang biasa-biasa aja!" kata Axon kesal.
" Maxi..."
" Ayo, Ella! Nanti Mom Di keburu datang!" kata Axon tidak sabar.
" Sabar, Kak! Maxi...li...no...Smith! Seperti itu deh!" kata Ella malas.
" Aku tahu aku tidak bisa mengandalkanmu!" kata Axon sedikit kesal pada adiknya itu.
" Kakak jahat! Aku sudah berusaha! Huuuuuu..."
" Diamlah! Nanti Mom Di tahu! Iya aku minta maaf!" kata Axon lalu mencium hidung adiknya itu seperti biasa jika dia ngambek atau marah padanya.
Ella langsung berubah menjadi ceria lagi dan memakan makanannya.
Max langsung pergi ke ruangan Netta saat tiba dari resto. Semua orang yang melihatnya langsung berbisik-bisik, tapi Max tidak perduli pada yang mereka katakan.
__ADS_1
" Pak Max?" sapa Ayu.
" Boss ada?" tanya Max.
" Apa itu untuknya?" tanya Ayu.
" Iya!" jawab Max.
" Boss lagi ada tamu!" kata Ayu.
" Apa saya tunggu saja?" tanya Max lagi.
" Terserah Pak Max!" jawab Ayu dengan senyum, dia senang jika Max mau duduk dengannya.
Max ragu, dia takut jika nanti Nette akan marah dan memecatnya lagi. Tanpa bertanya lagi, Max berjalan mendekati pintu ruangan Netta.
Tok! Tok! Tok!
" Masuk!" jawab Netta saat mendengar suara pintunya diketuk.
Max membuka pintu ruangan Netta dan melihat Netta sedang duduk di dekat...Dr. Dewa.
" Maaf, Boss! Saya tidak tahu jika ada tamu!" kata Max dengan perasaan cemburu.
Dia melihat mereka berdua. Apakah begini rasanya jika kita melihat orang yang kita cintai bersama orang lain? Apakah ini yang dirasakan Netta dulu? Batin Max.
" Pak Max!" sapa Dewa.
" Dokter!" balas Max.
" Kesehatan Pak Max bagaimana?" tanya Dewa lagi.
" Baik, Dok!" jawab Max malas.
" Letakkan disini!" kata Netta menunjuk meja di depannya dengan sengaja.
Max berjalan dengan jantung berdetak kencang menatap Netta dengan penuh kecemburuan. Dengan tangan bergetar Max meletakkan bungkusan itu dan segera berbalik dengan memutar tubuhnya.
" Buatkan Dr. Dewa kopi! Kamu biasa minum kopi apa?" tanya Netta dengan lembut.
Dewa tersenyum dan menatap Netta.
" Apapun, Nyonya!" jawab Dewa.
" Apa kamu tidak memiliki sikap sopan santun?" kata Netta pada Max yang masih membelakangi mereka.
" Maaf!" kata Max lalu memutar kembali tubuhnya untuk menghadap pada Netta.
Netta memegang tangan Dewa dengan sengaja sehingga membuat Dewa terkejut. Max mengepalkan tangannya melihat adegan itu, sementara Netta menatap Dewa dengan santai.
" Buatkan kopi pahit!" kata Netta dengan cepat.
Tapi Max bergeming, dia melihat ke arah tangan Dewa dan Netta.
" Tunggu apa lagi?!" tanya Netta yang kesal melihat Max tidak kunjung pergi meninggalkan mereka.
" Apa anda ingin melihat kami bermesraan, Pak Max?" tanya Netta tanpa melihat Max, membuat Dewa semakin bertanya-tanya. Wajah Max menggelap, tapi dia cukup tahu diri, dia bukan siapa-siapa lagi bagi Netta.
" Permisi!" kata Max lalu memutar tubuhnya dan berjalan kearah pintu. Ponselnya berdering saat akan membuka pintu ruangan Netta. Max mengambilnya dan melihat nama Wenny dilayar ponselnya.
__ADS_1
" Ya, Wen? Ada apa?"
Netta sekilas mendengar ucapan Max yang menyebut nama Wenny, wajahnya menampakkan aura kemarahan.