
"Kamu ga takut dipecat karena bolos kerja?" Tanya Rena.
Albian terkekeh mendengar pertanyaan Rena.
"Kayanya ga sih, lagian aku kan bolos buat temenin orang yang bisa pecat aku" jawab Albian.
"Ck… aku ga nyuruh kamu buat nemenin"
"Tapi aku ingin. Aku rela dipecat demi kamu" sahut Albian.
Rena memutar kedua bola matanya malas.
Rena hari ini memutuskan untuk tidak bekerja. Matanya yang sembab menjadi alasan terbesar untuknya.
Albian juga akhirnya memilih untuk tak bekerja juga. Hatinya tidak tenang meninggalkan Rena saat ini.
Saat ini mereka hanya menonton tv sambil menikmati coklat hangat.
Sesekali Rena memperhatikan Albian.
"Aku ganteng ya dilihatin terus?" Tanya Albian yang pandangannya masih ke televisi.
"Ck… kepedean kamu" wajah Rena merona karena terpergok memperhatikannya.
Albian kini menoleh dan menatap Rena.
"Nyatanya kamu dari tadi memandangi aku terus"
"Bukan berarti ya kamu tuh ganteng"
"Tapi banyak wanita yang bilang aku ganteng loh"
Rena memutar bola matanya. Rasanya malas sekali menanggapi kenarsisan Albian yang baru dia ketahui.
"Tapi aku bukan salah satu wanita itu" sahutnya tegas.
"Yakin kamu ga mengagumi ketampanan aku?"
"Ga"
"Tapi kok aku malah merasa kamu sudah jatuh hati sama aku" ucap Albian dengan pedenya.
__ADS_1
Rena melempar bantal sofa ke arah Albian. "Sok tau kamu"
Albian menangkap bantal itu sambil terkekeh.
"Bercanda Bu Serena, tapi kalau beneran juga ga apa-apa"
"Albiaaaaaan…."
"Hahaha…." Albian tertawa dan Rena pun ikut tertawa.
Albian tampak mengontrol tawanya lalu menatap Rena.
"Kamu cantik kalau tersenyum" ujarnya yang membuat pipi Rena merona dan salah tingkah.
"Bukannya aku cantik dalam keadaan apapun" ucap Rena sambil beranjak ke dapur untuk menghindar. Malu rasanya jika Albian melihat rona di pipinya.
"Iya, memang kamu cantik dalam keadaan apapun" sahut Albian menghampiri Rena ke dapur.
"Mau ngapain kamu?" Tanya Albian yang melihat Rena sibuk mengeluarkan buah.
"Kupas buah aja buat camilan" jawab Rena yang mulai mengupas buahnya.
"Ga usah biar aku aja" ucap Rena
"Biar aku aja" ucap Albian dengan nada suara yang tidak mau dibantah.
Rena menghela nafasnya dan duduk di meja makan "Ok kalau itu mau kamu. Aku jadi enak, tinggal makan doang"
Albian terkekeh mendengar jawaban Rena.
….
Sementara di La Pasta tanpa kehadiran dua sosok penting di restoran itu cukup membuat mereka sibuk. Sibuk bergosip pastinya. Bagian dapur harus di ambil alih sous chef. Dan semua berjalan sebagaimana mestinya.
"Bu Rena sama chef Albian hari ga kerja barengan" ucap salah satu staf di sela-sela senggangnya restoran.
"Wah jangan-jangan mereka lagi berantem gara-gara kemarin Bu Rena kedatangan cowok ganteng" sahut staf yang lain.
"Ngawur aja kamu. Mereka tuh ga ada hubungan apa-apa, gimana ceritanya mereka berantem?" Kepala pelayan menyahuti pembicaraan mereka.
"Atau jangan-jangan chef Albian patah hati makanya ga masuk kerja. Dan mungkin sekarang Bu Rena lagi kencan sama cowok ganteng yang kemarin" ucap staf yang tadi.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan bergosip aja. Lebih baik kalian bersiap sebentar lagi waktunya restoran ramai" ucap kepala pelayan membubarkan aksi gosip mereka.
"Apa iya chef Albian patah hati?" Gumam kepala pelayan.
…
Ratna sejak semalam merasa gelisah. Dia mengira karena Cindy belum pulang itu yang menyebabkan dia gelisah. Nyatanya setelah Cindy pulang rasa gelisah tanpa sebabnya masih terus ada hingga pagi harinya.
"Pa, temenin mama yuk ke apartemen Rena" ajak Ratna pada suaminya yang tengah membaca buku.
"Mama mau ngapain ke tempat kak Rena?" Belum sempat Tio menjawab ajakan istrinya Cindy sudah menyela dengan pertanyaan.
"Perasaan mama tuh ga enak dari semalam. Mama kira tuh karena Cindy yang belum pulang semalam. Tapi sampai sekarang perasaan mama masih ga enak. Rena tuh mama telpon juga ga di angkat" ucap Ratna.
"Mama kecapean kali makanya begitu" sahut Cindy. Dia berusaha mengalihkan mamanya agar tak jadi ke apartemen Rena. Bisa bahaya jika Ratna melihat bagaimana Rena dan disana masih ada Albian.
"Benar tuh kata Cindy. Bidadari papa ini mungkin terlalu capek makanya seperti itu" sahut Tio yang beralih menghampiri Ratna setelah menutup bukunya.
"Masa sih?" Tanya Ratna masih tidak yakin dengan dugaan mereka.
"Lagian tuh ma, sekarang kak Rena pasti kerja makanya ga angkat telp mama. Tau sendiri kan mama, kalau kak Rena kerja ga suka diganggu. Kalau ada apa-apa pasti ngabarin kita" Ucap Cindy masih berusaha menenangkan mama nya.
"Iya juga sih" ucap Ratna lesu.
"Mending kita masuk kamar" ajak Tio.
"Mau ngapain?" Tanya Ratna mengerutkan keningnya.
"Mau pijatin mama lah. Biar mama bisa kembali segar nanti papa kasih plus-plus" ucap Tio menaik turunkan alisnya.
"Masih siang pa, malu ada Cindy" ucap Ratna yang sudah tersipu.
"Anggap aja Cindy hiasan dinding ma" ucap Cindy yang berlalu pergi sambil tertawa.
Cindy bersyukur akhirnya Ratna tidak jadi ke apartemen Rena.
"Jadi bagaimana bidadariku, mau di pijat tidak?" Tanya Tio tersenyum nakal lalu menggendong Ratna ala bridal style.
"Aaa…." Ratna sedikit terkejut ketika Tio menggendongnya dan memukul pelan dada suaminya itu yang tengah berjalan memasuki kamar.
Dan entah apa yang terjadi di dalam kamar itu.
__ADS_1